ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
63 ASAL KAMU BAHAGIA



Zion tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Benarkah ini? Gadis yang sangat dia cintai sejak lahir ada di hadapannya. Zion menangkup kedua pipi Lexa yang sedingin es dan wajahnya pucat dengan tatapan sendu. Berkali-kali dia mencoba meyakinkan dirinya.


“Lexa, ini benar kamu kan, Sayang?”


Perlahan Lexa tersenyum dan mengangguk.


“Zion, aku kangen!”


Suara itu sangat merdu di telinga Zion. Pria itu lalu mengecup puncak kepala, kening, kedua mata, hidung, kedua pipi lalu bibir istrinya.


“Aku tidak sedang bermimpi, kan?”


Zion kembali mengecup semua bagian wajah Lexa bertubi-tubi.


“Maafkan aku, jangan pergi lagi!”


“Zion, kamu tidak akan berhenti menyayangiku, kan?”


“Tentu saja. Sejak kecil dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah berhenti menyayangi dan mencintai kamu.”


“Tapi kenapa kamu menyakiti aku?”


“Itu hanya salah paham saja Lexa. Banyak orang yang tidak menginginkan kita bersama. Aku tidak mungkin menyakiti kamu. Lebih baik aku saja yang terluka.”


Lexa mencoba menahan air matanya. Gadis itu menatap tepat di kedua mata Zion mencari kejujuran di mata itu. Mencoba meyakinkan hatinya kalau Zionnya tidak berbohong. Zionnya tetap sama seperti yang dia kenal sejak kecil.


“Zion, maafkan aku!”


“Untuk?”


“Untuk semuanya. Maafkan aku yang telah salah menilaimu. Maafkan aku atas sikap kasarku selama ini. Maafkan aku akan sikap aroganku. Maafkan aku karena sudah menjadi istri yang tidak berbakti padamu. Maafkan aku atas keraguanku padamu!”


Zion tersenyum.


“Semua itu karena kesalah pahaman saja, Lexa. Ayo kita saling memaafkan dan memulai lagi dari awal.”


Mereka kembali berpelukan. Zion sama sekali tidak ingin melepaskan pelukan itu. Dia takut kalau Lexa akan pergi lagi darinya. Tangannya mengusap lembut rambut Lexa.


“Xa, ada banyak hal yang ingin aku sampaikan padamu.”


“Aku tahu.”


“Iya. Aku tahu. Aku selalu mendengar kamu bicara padaku saat aku koma.”


“Xa, aku tidak pernah bermain-main dalam pernikahan kita. Aku tidak ingin menikahi kamu hanya untuk satu tahun saja. Tapi seumur hidup kita. Ayo kita batalkan kontrak itu! Aku ingin kita memiliki empat anak. Kita akan menua bersama. Membesarkan anak-anak dan cucu-cucu kita.”


“Zion, aku ... “


“Tolong beri aku kesempatan!”


Lexa tidak menjawab, namun hatinya bergetar.


Lexa merasa begitu dicintai.


Dalam pelukan Zion yang hangat dan menenangkan, Lexa dapat mencium aroma maskulin yang masih sama sejak mereka remaja dulu. Aroma dari cinta pertamanya.


Bagi Lexa, ini juga bagaikan mimpi. Mimpi yang indah. Dia tidak ingin terbangun dari mimpi indah ini dan mendapati dirinya dalam kegelapan dan kesakitan. Rasa sakit yang disebabkan oleh orang-orang yang tidak suka dia bahagia.


Jika benar ini mimpi, maka dia ingin terus seperti ini.


“Zion, bagaimana kalau kita tidak dapat bersama?”


Lexa bertanya dengan perasaan cemas. Jantungnya berdetak kencang. Entah mengapa dia merasa takut akan pertanyaannya sendiri.


“Jangan bicara seperti itu. Selain orang tuaku, kamulah yang selalu ada dalam setiap doaku. Aku selalu berdoa agar Allah menjodohkan kita bukan hanya di dunia, tapi juga di surga-Nya. Aku selalu bersyukur sudah dipertemukan denganmu. Menjadi bagian dari dirimu sejak kita masih sangat kecil. Aku selalu menjaga hatiku untukmu. Hanya untuk kamu. Satu-satunya dan selamanya! Aku tidak mau yang lain. Cukup kamu!”


“Terima kasih karena telah mencintaiku begitu besar. Terima kasih karena sudah sabar menghadapiku. Terima kasih karena tidak pernah melupakan aku.”


“Akulah yang seharusnya berterima kasih.”


Entah mengapa masih ada perasaan takut di hati masing-masing. Mereka saling menahan air mata yang ingin keluar.


Langit tampak kelabu disertai semilir angin yang menerbangkan rambut panjang Lexa. Dinginnya udara menusuk tulang. Membuat mereka saling mempererat pelukan untuk menghangatkan satu sama lain.


Resah itu masih ada. Namun hanya dapat dipendam dalam hati. Takut untuk mengungkapkannya. Takut kalau hal buruk akan terjadi setelah ini. Setelah penantian panjang yang diisi dengan rasa cemas dan air mata. Akankah mereka berdua dapat selalu bersama dan bahagia?


Sudah cukup selama ini mereka menderita.


Lexa dapat merasakan degup jantung Zion. Berdetak dengan sangat cepat. Pun begitu dengan dirinya. Apakah mereka merasakan hal yang sama saat ini.


Bagaimanapun ini seperti mimpi. Mimpi indah tapi juga menakutkan. Mereka takut dipermainkan takdir. Takut jika takdir baik tidak berpihak pada mereka.


Jika memang ini mimpi, jangan bangunkan aku dulu. Aku ingin terus merasakan kehangatan ini!


Itulah yang mereka ucapkan di hati masing-masing.


Menit berganti. Lexa merasakan jantungnya berdetak semakin kencang. Tidak seperti yang sebelumnya, kali ini terasa sakit.


Tiba-tiba saja tubuhnya meluruh dalam dekapan Zion. Kali ini Zion tidak dapat lagi menghilangkan ketakutannya. Perasaan cemas yang menghantui hati itu semakin kuat.


Jangan!


Itulah yang dia katakan dalam hatinya. Dia tidak ingin lagi kehilangan Lexa. Dia tidak pernah setakut ini.


Ini mimpi, kan? Tolong bangunkan dia dari mimpi ini.


Aneh sekali, baru beberapa saat yang lalu dia berharap kalau ini bukanlah mimpi dan tidak ingin dibangunkan. Lalu sekarang? Dia membenci mimpi ini. Mimpi tidak tahu diri yang membuatnya sangat ketakutan.


“Lexa!”


“Zion, maafkan aku! Aku tidak dapat bersamamu!”


“Tapi kita tidak ditakdirkan untuk bersama.”


“Jangan bicara seperti itu, Lexa!”


“Berbahagialah Zion, meski tanpa aku!”


“Aku akan bahagia denganmu!”


Wajah Lexa semakin memucat. Pandangan matanya meredup. Terlihat jelas kalau gadis itu menahan sakit.


Begitu juga dengan Zion. Wajahnya juga pucat. Dia keringat dingin. Bukan karena sakit di fisik, tapi di hati. Rasa perih yang disebabkan oleh perempuan yang ada dalam pelukannya itu. Bukan karena benci. Tapi takut untuk ditinggalkan selamanya, seumur hidupnya.


Tolong jangan permainkan aku seperti ini!


“Tolong jangan seperti ini, Lexa. Jangan tinggalkan aku lagi!”


Suaranya tercekat. Mata dan wajahnya sudah sangat merah.


“Zion, berjanjilah untuk selalu bahagia!”


“Aku akan selalu bahagia jika bersamamu!”


“Apa kamu ingin aku bahagia?”


“Aku akan melakukan apapun asal kamu bahagia!”


“Lepaskan aku! Raihlah kebahagiaanmu!”


“Bukankah sudah jelas, kalau kamulah sumber kebahagiaanku.”


"Tapi kita tidak dapat bersama!”


Nafas Lexa semakin tersengal. Zion dapat merasakan kulit Lexa yang semakin dingin.


“Apa kamu masih marah padaku? Apa kamu tidak mau memaafkan aku makanya kamu seperti ini?”


Zion semakin mempererat dekapannya. Air matanya tidak berhenti mengalir.


Perlahan namun pasti Lexa menutup matanya, menghilangkan semua rasa sakit yang dia rasakan selama ini. Dia ingin bahagia. Jika tidak di dunia, maka di akhirat.


“Aku akan menceraikanmu kalau itu bisa membuat kamu bahagia. Tapi jangan pergi seperti ini.”


Dikatakan dengan sangat berat dan penuh rasa sakit. Melepaskan Lexa sama saja seperti dia berhenti bernafas.


“Bangun Lexa! Aku mohon bangun!”


Zion berteriak dalam tangisannya. Langit kelabu berubah semakin gelap. Rintik hujan kini tak lagi pelan. Zion membeku dalam tangisannya. Bukan karena kedinginan.


Hancur!


Itulah yang dia rasakan kini!


Tidak ada lagi Lexanya.


Gadis yang dia impikan sejak masih kecil.


Dia sanggup kehilangan apapun, tapi tidak untuk yang satu ini.


Bukan karena cintanya lebih besar daripada kepada sang pencipta.


Hanya saja, selama ini memang hanya Lexa lah yang dapat mengisi ruang kosong di hatinya.


Banyak wanita cantik dan seksi juga kaya.


Namun tetap pada Lexa hatinya tertuju dan dia ingin itu untuk seumur hidupnya.


Mungkin inilah yang dinamakan cinta sejati.


Cinta yang selalu dia perjuangkan dan berakhir menyakitkan karena takdir.


Untuk yang terakhir kalinya, Zion mengecup seluruh area wajah Lexa.


Aku mencintaimu Lexa.


Takdir seperti apa yang tercipta untuk kita? Kenapa harus sesakit ini.


Apakah aku tidak berhak bahagia denganmu?


Apakah kamu kembali hanya untuk berpamitan denganku?


Apa hanya seperti ini saja kesempatan yang kamu berikan padaku.


Aku pikir kamu akan mengembalikan senyum dan kebahagiaan untukku.


Nyatanya ...


Hadiah terakhir yang kamu berikan adalah duka dan air mata seumur hidup.


Bisakah kamu menungguku di surganya?


Tunggu aku!


Yakinkan dirimu kalau aku akan datang.


Di sana kita akan merajut mimpi yang tidak dapat kita rasakan di sini.


Tunggu aku, istriku!