ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
38 ANTARA O'ON - LELE DAN LEON - ZIOXA



Bukankah kebenaran harus di cari? Tapi mereka yang tahu semua itu hanya tutup mulut.


“Sebenarnya apa yang Zion lakukan pada Lexa?”


Mereka tetap bungkam.


Sudahlah, lebih baik cari tahu saja sendiri. Yang lebih penting sekarang adalah Lexa.


“Kenapa kamu mengingatkannya lagi dengan kejadian enam tahun yang lalu?” tanya David yang kembali diselimuti oleh emosi.


Zion berpikir, mencoba mengingat-ngingat kejadian-kejadian enam tahun yang lalu.


☆☆☆


Lexa sudah dipindahkan ke ruang ICU. Satu persatu mereka masuk untuk melihat keadaan Lexa.


Ayah dan bunda hanya bisa menangis melihat keadaan putri semata wayang mereka.


Kenapa jadi seperti ini?


Apakah menikahkan Lexa dengan Zion adalah suatu kesalahan?


Kalau benar, maka mereka akan sangat menyesal dan tidak akan memaafkan diri mereka sendiri.


Hannie masuk ke kamar Lexa. Tangannya memegang tangan sahabatnya itu.


“Cepatlah bangun sahabatku! Keponakan kamu akan sedih melihat aunty-nya seperti ini.”


Dia lalu bergantian dengan David.


David melihat keadaan Lexa yang kepalanya diperban. Beberapa tulangnya juga patah karena jatuh dari tangga setinggi itu.


Dia masih mengingat darah yang keluar dari hidung dan kepala Lexa.


Warna darah itu sama dengan warna gaunnya. David mengelap air matanya.


“Jangan takut! Aku pasti akan membalaskan dendammu. Aku dan yang lainnya akan menuntaskan dendam itu!”


David merasakan dadanya sangat sesak. Ini bahkan lebih sesak dari enam tahun yang lalu. Kenapa terulang lagi?


Tidak bisakah Lexa-nya bahagia?


Kenzo, Kenzi, Yosuke dan sahabat-sahabat Leza yang lain juga bergantian melihat Lexa.


“Kami akan selalu bersamamu!”


“Kami akan memenuhi janji kami!”


“Sadarlah. Disaat itu, lihatlah kehancurannya!”


Itulah kata-kata yang mereka ucapkan untuk Lexa.


Sebuah janji yang mereka ucapkan enam tahun yang lalu. Lexa dan Hannie yang mereka lindungi.


Sahabat-sahabat Zion juga ikut masuk. Mereka mendoakan kesembuhan Lexa. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Tapi, dilihat dari kemarahan David dan yang lain, juga kebencian Lexa pada Zion, tentunya itu adalah masalah serius.


Zion yang terakhir masuk.


Dia sebenarnya takut. Takut melihat keadaan Lexa yang terbaring tidak berdaya.


Zion memejamkan matanya. Duanianya serasa runtuh. Nafasnya tercekat. Jantungnya juga sangat terasa sakit.


Dia hanya memandangi wajah wanita itu tanpa mengatakan apapun.


Apakah ada gunanya dia berkata-kata?


Semua terasa berat baginya.


☆☆☆


Bunda Lexa mengambil beberapa barang Lexa di mansion Zion.


Lantai yang tadinya dibanjiri oleh darah sudah dibersihkan. Sudah tidak ada lagi jejak dari tragedi itu. Tragedi yang memilukan hati. Apalagi mereka melihatnya secara langsung disaat wanita itu berteriak ketakutan lalu jatuh terguling-guling seperti sebuah bola.


Membuat orang yang melihatnya merinding.


Dia menangis terisak-terisak di dalam kamar putrinya. Dia hanya memiliki satu anak tapi kini anaknya itu sedang bertarung antara hidup dan mati.


Orang tua mana yang sanggup melihat keadaan anaknya yang seperti itu? Apalagi seorang ibu yang mengandung, melahirkan, membesarkan dan mendidik.


Matanya melihat dua buah buku yang ada di atas nakas. Dia tahu salah satu buku itu. Dulu sebelum Lexa ke Jepang, dia sering menulis di buku itu. Bunda lalu mengambil buku itu dan membacanya.


☆☆☆


PLAK!


Sebuah tamparan yang sangat keras lagi-lagi mendarat di wajah Zion yang sudah dipenuhi oleh memar.


“Ceraikan putriku sekarang juga. Aku tidak sudi memiliki menantu seperti kamu!”


“Sayang, ada apa? Kenapa kamu seperti ini?”


“Ada apa?”


“Ini, kalian baca saja ini!”


Diana melemparkan buku itu.


“Bacalah buku yang hijau lebih dahulu!” ucapnya.


Dia menangis, tidak pernah menyangka bahwa ini semua menimpa putri semata wayangnya.


FLASH BACK ON


“O’on tunggu aku!”


“Jangan panggil aku O’on, Lele!”


“Jangan panggil aku Lele, O’on!”


“Namaku Zion, bukan O’on!”


“Namaku Lexa, bukan Lele!”


Keempat orang tua itu tersenyum melihat tingkah putra putri mereka yang masih kecil itu.


Zion masih berumur tujuh tahun dan Lexa masih berumur lima tahun. Orang tua mereka sudah bersahabat sejak masih kecil dan hingga kini persahabatan itu masih sangat kuat.


“Zion mau punya adik seperti Lexa?” tanya Diana, bunda Lexa.


Zion menatap gadis kecil dihadalannya. Lalu dia menggeleng cepat.


“Kenapa?”


“Daripada dijadikan adik, lebih baik dijadikan istri!”


Orang tua mereka langsung membelakan mata saat mendengar anak yang masih berumur tujuh tahun itu mengatakan hal tersebut.


“Memang istri itu apa?” tanya Lexa penasaran.


“Istri itu orang yang akan memasak dan mencucikan baju untuk kamu. Menyapu, mengepel dan mengerjakan semua pekerjaan rumah.”


Lexa nampak berpikir sambil memonyongkan bibirnya yang terlihat menggemaskan.


“Berarti istri itu sama seperti pelayan?” tanyanya lagi.


Pletak!


“Aw, kenapa kamu menjitak aku?” tanya Zion pada Lexa.


“Kamu menyuruh aku menjadi pelayan kamu?”


Orang tua mereka langsung tertawa keras melihat keluguan anak-anak mereka.


Lexa melihat bunda mereka sambil lagi-lagi berpikir.


“Sudah-sudah, ayo main lagi sana!” ucap Ronald sebelum pembicaraan kedua anak kecil itu lebih ektreme lagi.


Lexa itu anak yang punya rasa penasaran yang tinggi. Dia akan terus bertanya hingga dia benar-benar mendapatkan jawabannya.


“O’on, gendong aku!”


“Kalau mau aku gendong, jangan panggil aku O’on!”


“My Hubby, gendong aku!”


“Kenapa kamu memanggilku my hubby?”


“Kata kamu istri itu seperti bunda aku. Bunda sering memanggil ayah dengan my hubby!”


Oh, astaga!


Di akhir pekan atau saat liburan, Zion dan Lexa sering menghabiskan waktu bersama, entah itu untuk bermain di mansion atau jalan-jalan ke tempat wisata.


“Papa, coba gendong anak aku sebentar!”


Zion melihat boneka barbie yang sedang dipegang oleh Lexa, lalu dia mengambilnya. Zion memegang kaki boneka itu dengan sebelah tangan.


“Jangan gendong seperti itu, nanti dia sakit. Kamu mandikan anak aku dulu!”


“Ck, kamu saja yang memandikan Zioxa!”


“Kamu saja, aku mau memakaikan Leon baju!”


Lexa lalu memakaikan Leon (robot ultraman milik Zion) baju.


“Kamu saja, aku tidak mau!”


Lexa mulai terisak. Dia lalu berlari ke arah ayah dan bundanya.


“Ayah ... Bunda! Zion tidak sayang sama Leon dan Zioxa. Aku mau cari papa baru saja buat mereka!”


Orang tua mereka terkekeh geli.


Setiap kali bertemu, Zion akan selalu menemani Lexa bermain. Entah itu bermain boneka, masak-masakan atau yang lainnya.


☆☆☆


Lexa kini sudah masuk SD. Dia melihat seorang anak perempuan yang seumuran dengannya dan seorang anak laki-laki yang menurut dia seumuran dengan Zion. Sayangnya dia dan Zion tidak satu sekolah. Jika iya, pasti akan lebih menyenangkan.


“Hai, nama aku Lexa!”


Kedua anak itu melihat Lexa dan tersenyum.


“Aku David!”


“Aku Hannie!”


“Kalian kakak beradik?”


Hannie dan David mengangguk. Lexa lalu duduk di antara mereka.


Lexa ternyata satu kelas dengan Hannie dan mereka akhirnya sebangku. Sedangkan David sudah kelas tiga.


Lexa selalu membawa bekal makanan yang dibuatkan oleh bundanya dan dia selalu membaginya dengan Hannie dan David. Dia tidak pernah malu berteman dengan mereka berdua yang berasal dari keluarga sederhana.


Hannie awalnya merasa malu berteman dengan Lexa yang berasal dari keluarga terpadang. Bisa dilihat dari sepatu dan tas yang dipakai Lexa. Apa yang dipakai Lexa (kecuali seragam sekolah) adalah yang paling bagus dan terlihat sangat mahal.


Makanan yang dibawa juga bukan makanan biasa seperti yang ibunya masak di rumah.


Hannie dan David juga selalu melihat Lexa diantar jemput dengan mobil mewah. Tapi anak itu tidak sombong. Dia tidak pernah pamer dan selalu berbagi. Entah itu makanan atau barang. Hubungan ketiganya semakin dekat.


☆☆☆


Lexa melihat seorang anak ada di halaman mansion orang tuanya.


“Hai, aku Lexa. Kamu siapa?”


Gadis itu menunduk takut.


“Ayo kita berteman!”


Lexa mengulurkan tangannya. Gadis kecil itu masih menunduk.


“Tiara, apa yang kamu lakukan?” tanya sopir pribadi bunda Lexa.


“Maaf, Non Lexa. Apa cucu saya mengganggu Nona?”


Lexa menggeleng.


“Siapa namanya? Kenapa dia tidak mau bermain dengan aku?”


“Maaf Non, cucu saya memang pemalu. Namanya Tiara.”


“Tiara, ayo kita main. Aku punya boneka!”


Lexa lalu menggandeng tangan Tiara menuju ruangan bermainnya. Mereka bermain boneka di ruangan itu. Setelah puas bermain, Lexa lalu mengajak Tiara ke kamarnya.


Tiara melihat boneka yang ada di atas tempat tidur Lexa. Lexa melihat apa yang sedang dipandang oleh Tiara.


“Kenalin, ini Leon dan Zioxa. Mereka anak aku dan Zion!”


“Leon dan Zioxa?”


“Iya, kata Zion, Leon dan Zioxa itu singkatan dari Lexa Zion dan Zion Lexa!”


Tanpa terasa mereka bermain hingga sore. Sebelum Tiara pulang, Lexa memberikan beberapa mainannya untuk Tiara bermain di rumahnya.


☆☆☆


Hannie dan David sering bermain di rumah Lexa. Hannie juga sering menginap di rumah Lexa. Begitu juga sebaliknya.


Orang tua Hannie nampak canggung setiap kali Lexa datang bermain bahkan menginap di rumah mereka.


Mereka sangat tahu siapa Lexa. Mereka khawatir orang tua Lexa akan marah kalau anaknya bermain bahkan menginap di rumah sangat sederhana itu. Tapi orang tua Lexa tidak pernah melarang.


“Ini buat kalian!”


Lexa memberikan paper bag pada David dan Hannie.


“Ini baru?”


“Iya.”


“Maaf aku tidak bisa menerimanya!” ucap Hannie.


“Kenapa? Jelek ya? Kalian tidak suka?”


“Bukan begitu. Tapi ini kan baru. Jadi buat kamu saja.”


“Ini aku belikan khusus buat kalian. Ayo ambil! Kata ayah dan bunda aku, tidak baik menolak pemberian orang.”


Lexa memberikan seperangkat permainan boneka barbie untuk Hannie dan permainan arsitektur untuk David seperti yang dimiliki oleh Zion.


.


.


.


NB: FLASH BACK-NYA PANJANG YA HINGGA BEBERAPA CHAPTER SELANJUTNYA. AKAN MENCERITAKAN KEHIDUPAN MEREKA SAAT KECIL DAN RAHASIA-RAHASIA LAINNYA. NIKMATI SAJA ALURNYA!


HAPPY READING!


TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA DAN MASIH SETIA MEMBACA ...