
Kue-kue tradisional tersaji dan sangat menggugah selera. Ada risol, pastel, berbagai jenis kue putu, martabak mini asin dan manis, cakwe, donat, bubur ketan dan kacang hijau.
Lengkap!
Semua jajanan pasar ada. Ibarat pasar apung yang ada di kalimantan, ini seperti pasar kue terapung yang sangat mewah. Namanya saja jajanan pasar, tapi tetap saja penyajian dan cita rasanya istimewa. Mana mungkin para chef profesional tersebut menyajikan secara asal-asalan.
Menikmati sarapan unik dibawah sinar matahari yang mulai menghangat diiringi angin laut dan gelombang kecil. Untungvsaja mereka tidak ada yang mabuk laut.
Sarapan mereka kini diiringi dengan suara harmonika.
"Ini kita mau kemana dulu, sih?"
"Keliling Indonesia dulu deh, habis itu ke Malaysia."
"Kok masih di laut saja?"
"Hmmm, biar kamu tahu, lautan itu begitu luas, namun tidak seluas cintaku padamu!"
"Jangan bikin aku muntah deh, pagi-pagi!"
Zion hanya cekikikan karena dumelan Lexs. Selesai sarapan, Zion mengajak Lexa ke perpustakaan. Ada banyak buku yang bisa dibaca.
☆☆☆
Waktu terus bergulir tanpa henti, mereka sudah mengitari pulau Indonesia dari sabang sampai merauke. Tentu saja mereka tidak hanya berdiam diri di dalam kapal. Mereka sudah singgah di berbagai kota, selain untuk berjalan-jalan, istilah jangan lupa daratan dalam arti yang sebenarnya sepertinya sangat cocok agar mereka juga tidak jenuh terlalu lama dalam kapal dan lautan.
Para pelayan juga harus menyiapkan perbekalan yang sangat fresh, melakukan perawatan dan menjaga kondisi kapal agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Lexa dan Zion juga akan menginap di hotel di kota-kota yang mereka singgahi.
Bila Lexa benar-benar berlibur, maka Zion masih tetap mengontrol perusahaannya melalui laptop dan ponsel, tetapi itu hanya dilakukan jika Lexa sedang tidur saja. Dia benar-benar ingin menikmati quality time bersama Lexa. Maka Aron lah yang harus menyesuaikan diri dengan waktu Zion.
"Xa, kamu tahu perbedaan belimbing wuluh sama kamu?"
"Ya jelas bedalah, belimbing wuluh asem, aku kan manis!"
"Eh, tumben ngejawab?"
Lexa mendengus kesal.
"Lagian seenaknya aja ngebandingin aku sama belimbing wuluh yang asem itu,gak afa manis-manisnya itu, belimbing!"
Zion hanya tertawa mendengar gerutuan Zion.
"Kamu tahu, perbedaan kamu dan duren?"
Oke, sekian lama berada satu kapal dengan Zion, otak Lexa juga sedikit terkontaminasi oleh hal-hal gesrek.
Mendengar kata-kata duren, entah mengapa Lexa jadi berpikir kotor (you know what, lah). Lexa memicingkan matanya.
"Engak tahu, enggak mau tahu, dan tidak penting."
"Ayooo ... pasti mikirin belah duren, ya kan?"
TUH KAN!
☆☆☆
Lexa melakukan perawatan tubuh di dalam kapal. Zion benar-benar memanjakan Lexa. Ruangan salon ini benar-benar lengkap. Lexa melakukan perawatan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Badannya diluluri dengan serbuk emas. Kulit yang awalnya memang sudah putih bersih dan mulus jadi bertambah kinclong.
Saat ini ada Aron yang juga ikut melakukan perjalanan bersama mereka. Bukan hanya Aron, Zion juga mengajak teman-temannya saat SMP dulu (teman futsal Zion yang juga dikenal Lexa). Tetapi mereka baru akan datang besok. Zion tidak ingin Lexa merasa kesepian, tetapi dia tidak ingin mengajak David cs. Bisa rusak rencananya untuk mendekati Lexa.
Kapal ini sudah seperti rumah bagi Zion dan Lexa. Semua kebutuhan mereka ada di dalamnya.
Malam hari mereka bertiga makan malam bersama. Setiap kali mereka makan, selalu saja diiringi dengan lagu-lagu romantis. Sesekali Zion, Lexa dan Aron juga membahas pekerjaan.
☆☆☆
Lexa membaringkan tubuhnya di atas kasur, tidak lama kemudian Zion keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya.
"Woi, gak malu apa pakai handuk doang?"
"Aaaarrgghhh ... aku maluuuu!" teriak Zion pura-pura syok.
Lexa berdecak kesal dan melempar bantal ke arah Zion.
"Xa, nanti kalau handuk aku jatuh gimana? Kamu mau tanggung jawab? Nanti kamu nafsu loh!"
Handuk yang di pakai ada di bagian pinggang, tapi tangan Zion malah menutup bagian dadanya dengan kedua tangannya.
Ck, apasih yang dia pikirkan?
"Hubby, kamu kok seksi banget sih?"
Jari lembut Lexa mulai menyentuh lengan kekar Zion. Zion sendiri merasa semriwing-semriwing gimana, gitu.
"Kamu wangi banget, pakai sabun apa?"
Lexa mulai mengendus aroma tubuh Zion, meletakkan kepalanya di dada Zion.
Zion mendadak blank.
Jari telunjuk Lexa bergerak lembut di leher Zion. Seperti ada aliran listrik yang membuat darahnya mengalir cepat dari kaki ke kepala.
Lexa memeluk Zion, menghembuskan nafasnya yang membuat kulit dada Zion meremang.
Sedangkan Zion masih diam tak bergeming. Mengerjap-ngerjapkan matanya dan mengatur deru nafas yang mulai memburu tak terkendali.
"Xa ... "
Lexa menggesek-gesekkan wajahnya di dada Zion. Dada yang masih terasa dingin karena mandi itu berdetak tak karuan dan Lexa tentu saja dapat merasakannya.
Zion mulai bergerak gelisah. Kekuatan imannya sedang diuji sedemikian rupa. Tapi kan Lexa istrinya, ini bukannya ujian, tetapi berkah, kan?
Tanpa sengaja bibir Lexa menyentuh dada Zion. Lagi-lagi sensasi panas dingin Zion rasakan. Zion mendadak bagai gadis polos yang digerayangi cowok mesum. Padahal selama ini kan dia sering ngegombal ke Lexa.
Ck, sepertinya semua itu hanya sebatas teori saja. Wkwkwkkwk ... !
Lexa mulai berdehem.
"Hubby ... kok kamu diam saja, sih?"
Loading lama!
Sepertinya sinyal terlambat sampai di otak Zion. Mungkin saja password yang Lexa berikan salah.
Woi Zion, ternyata kamu lemot juga, ya. Itu istri kamu di depan mata jangan disia-siakan! Mumpung dia yang ngasih sinyal.
Zion mulai tersadar.
Dia mulai menghirup aroma rambut Lexa. Mengusap rambut halus itu dan mengecupnya kepala Lexa berkali-kali.
Ini bagaikan mimpi bagi Zion, dipeluk oleh Lexa yang terkadang galak padanya. Berkali-kali Zion menggigit bibirnya sendiri. Mencoba menyadarkan dirinya sendiri apakah ini memang mimpi atau nyata.
Nafas hangat Lexa.
Pelukan erat.
Aroma shampo.
Bibir lembut yang menyentuh dadanya.
Semuanya benar-benar Zion rasakan. Jadi ini bukan mimpi, kan?"
"Honey ... " ucap Zion pelan.
Lexa melepaskan pelukannya dan memandang Zion dengan senyuman.
"Tuh, kamu jadi grogi, kan? Makanya jangan nantangin aku. Weeeee ... !"
Lexa mulai berlari keluar kamar.
"Woiiii Lexa, jangan kabur. Tanggung jawab sini!"
"Ogah, makanya jangan mesum!"
Ingin sekali Zion mengejar Lexa, tapi apa daya kini dia masih menggunakan handuk saja. Bisa-bisa nanti handuknya melorot karena kejar-kejaran dengan Lexa dan dilihat orang-orang.
Zion mengerang frustasi dan berdecak kesal. Bisa-bisanya dia dikerjai Lexa seperti ini. Tapi senyuman lah yang dia tunjukkan. Bukan kesal apalagi amarah.
Kamu benar-benar bikin aku gemas, Xa! Huuffttt ... tenang Zion, besok bikin tuh cewek baper!
Hahhh ... Lexa itu memang paling jago menerbangkan hati Zion hingga langit ketujuh, tapi langsung dihempaskan begitu saja.
Sakitnya tuh di sini ...
Poor Zion ... !