
"Cuacanya dingin, pakai ini!"
David memasangkan mantel miliknya pada Lexa.
Sudah tiga hari mereka berada di negara ini tanpa mempedulikan orang-orang yang sibuk mencari keberadaan Lexa.
Mereka makan dengan lahap.
Tidur dengan tenang.
Berjalan-jalan dengan riang.
Seseorang yang lain juga seperti itu.
Makan dengan teratur.
Tidur dengan nyenyak.
Bekerja dengan fokus.
Seperti tidak terjadi apa-apa!
Zion yakin Lexa akan kembali, entah itu harus diseret ataupun dengan suka rela. Bukankah peperangan yang sebenarnya belum dimulai.
Apakah Lexa akan lari dari tanggung jawab?
Apakah David akan membawa kabur anak gadis orang?
Image siapa yang akan rusak jika mereka seperti itu?
Menunggu dengan santai, itulah yang dilakukan Zion. Anggap saja dia adalah seorang suami yang sedang menunggu sang istri tercinta pulang dari liburan.
Liburan dengan selingkuhan?
Orang tua merekalah yang paling cemas. Mereka sudah mencari kemana-mana tapi jejak Lexa tidak dapat ditemukan.
Mendekati hari H suasana semakin mencekam. Orang-orang sudah sangat penasaran dengan acara pernikahan itu.
Gaun sudah jadi.
Cincin pernikahan telah siap.
Undangan sudah tersebar.
Acara yang akan disiarkan secara langsung oleh semua stasiun televisi maupun media online itu tidak mungkin dibatalkan secara tiba-tiba.
Aib!
Itulah yang akan didapatkan oleh dua keluarga besar itu. Kekacauan yang dilakukan Lexa kali ini tidak main-main.
Jika Lexa tidak kembali, maka dia seperti melemparkan kotoran kepada kedua orang tuanya.
'CALON MEMPELAI WANITA MELARIKAN DIRI DENGAN KEKASIH GELAPNYA YANG SEKALIGUS MUSUH DARI CALON MEMPELAI PRIA'
Mungkin kira-kira seperti itulah headline news yang tersebar nanti.
Atau ...
'CINTA SEGI TIGA. DUA PRIA BERKUASA MEMPEREBUTKAN SATU WANITA'
Mungkin juga ...
'NAMPAKNYA PERMUSUHAN AKAN TERUS BERLANJUT HINGGA KE LIANG KUBUR!'
dan sebagainya.
Hubungan Lexa dan kedua orang tuanya yang sudah merenggang akan semakin merenggang, mungkin malah hancur. Semua itu karena keegoisan masing-masing.
Orang tua berpikir kalau mereka hanya ingin kebahagiaan untuk anak-anaknya. Padahal yang menjalaninya belum tentu benar-benar bahagia. Ini fakta, banyak yang mengalaminya. Dipaksa nikah dan berujung dengan perceraian.
Anak berpikir menjalani sesuatu yang tidak diinginkan itu akan terasa berat. Mencoba untuk ikhlas, pikiran menerima tapi hati menolak. Bukankah hati yang mengendalikan semuanya?
Cinta
Benci
Semua karena hati.
Haruskah Lexa berspekulasi bahwa hidupnya akan bahagia bersama Zion? Seperti sebuah perjudian. Menang syukur, kalah ya coba lagi kalau masih ada uangnya.
INI MASALAH HATI!
Hati yang dia jaga selama ini.
Hati yang pernah tersakiti.
Hati yang pernah berjanji kalau dia tidak akan lagi terluka.
Hati yang dia bentengi dengan jeruji dendam.
Tidak sembarang pria yang dapat mendekatinya.
Tidak sembarang pria yang bisa dia percaya.
Tidak sembarang pria yang mampu dia curahkan isi hatinya.
Tidak sembarang pria yang beruntung melihat senyum dan tawanya.
Ucapan David membuyarkan lamunan Lexa. Lexa menggelengkan kepala dan mengeratkan mantelnya. Pria itu mengusap kepala Lexa dengan lembut dan penuh perasaan.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja! Aku berjanji akan selalu menjaga kamu."
Kata-kata yang selalu David ucapkan pada Lexa.
David tahu kekhawatiran yang gadis itu rasakan. Seharusnya dia ikut bersama Lexa saat gadis itu kembali lagi ke Jakarta dulu. Dia menyesal, sangat menyesal.
Tidak masalah dia rugi dalam berbisnis.
Yang penting Lexa-nya baik-baik saja.
Hembusan angin menerbangkan rambut hitam Lexa. Pikirannya kembali melanglang buana.
Kenapa dia harus menjadi putri keluarga William?
Kenapa keluarganya harus bersahabat dengan keluarga Wilson?
Kenapa dia dijodohkan dengan pria itu?
Bukan hanya keluarga Wilson yang bersahabat dengan keluarga William, begitupun sebaliknya.
Mungkin ini memang takdir. Seperti jodoh yang tidak pernah kita duga siapa meskipun banyak banyak bertemu orang.
Mungkin sahabatmu.
Mungkin musuhmu.
Mungkin orang yang sudah bertahun-tahun kamu kenal.
Mungkin orang yang baru kamu kenal.
Hannie sering menghubunginya, memberi kata-kata penghiburaan disaat wanita itu masih berada di Jepang dan belum bisa menemui Lexa.
Hannie juga tahu betapa marahnya Lexa dengan keadaan ini. Saat ini dia hanya bisa memberikan dukungan dari jarak jauh pada Lexa.
☆☆☆
Seorang pria memijat-mijat keningnya, matanya terpejam dan kepalanya terasa sangat sakit.
Seorang wanita mengusap air matanya. Tubuhnya lemah dan hanya berbaring di kasur.
Mereka adalah orang tua Lexa.
Mereka tidak pernah menyangka kalau Lexa akan melakukan hal seperti ini. Mereka hanya menyuruhnya menikah dengan Zion, bukan mendorongnya ke neraka (bagi Lexa justru itu adalah neraka).
☆☆☆
Orang tua Zion menatap anaknya itu. Mereka heran dengan sikap Zion yang masih terlihat santai. Apa ini hanya akting, padahal sebenarnya Zion sangat cemas dan panik? Siapa yang tidak akan panik disaat calon istri menghilang.
Kaburnya Lexa sebelum hari pernikahan seharusnya dimanfaatkan oleh mereka untuk segera membatalkan pernikahan itu.
Bukankah Lexa sudah memberikan waktu yang cukup lama untuk mereka mengambil keputusan?
Bukan malah kabur tepat di hari pernikahan yang justru akan semakin mempermalukan mereka.
Itu karena mereka masih berharap. Sebelum ajal berpantang mati!
Selama berada di Belanda, Zion tidak bertemu dengan Lexa. Jangankan bertemu, melihat bayangannya saja tidak.
Itu karena Lexa dan David tidak berada di Belanda. Mereka pergi ke Korea. David dan Lexa tahu kalau Zion akan mengawasi mereka. Mereka sengaja mengatakan kalau akan pergi ke Belanda. Mengatakan kalau tiga hari lagi mereka akan pergi, padahal yang sebenarnya adalah mereka pergi ke Korea keesokan harinya. Yang satu di benua asia, yang lain di benua eropa. Bukankah jaraknya jauh?
☆☆☆
H-1 ...
Sepertinya akan ada yang terkena serangan jantung, bahkan stroke atau mungkin darah tinggi?
Akankah persahabatan dua keluarga ini akan tetap terjalin dengan baik? Apa akan terjadi permusuhan yang akan diteruskan ke anak cucu?
Persahabatan bisa diteruskan oleh para keturunan, begitu juga dengan permusuhan. Tidak ada yang pasti di dunia ini. Sahabat menjadi musuh, musuh menjadi sahabat.
Seperti cinta dan benci yang hanya berbeda tipis.
Jika mereka memiliki orang-orang terpercaya yang tersebar di seluruh negara, begitu juga dengan David dan Lexa.
Mereka juga memiliki orang-orang kepercayaan yang akan selalu setia dan melindungi mereka.
Lexa memiliki orang-orang terpercaya yang tidak ada di bawah kendali orang tuanya. Orang-orang yang hanya akan bekerja dan setia padanya dan itu sudah berlangsung lama tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Bukankah dia sangat cerdas?
Jangan menyepelekan seorang perempuan!
Tidak semua perempuan itu lemah.
Tidak selalu perempuan itu hanya menggunakan hati tanpa pikiran panjang.
Maka seperti inilah dia.
Menjadi perempuan yang tangguh.
Menjadi perempuan kuat yang dilayak diremehkan!