ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
113 ARION



Para orang tua sudah tiba di rumah sakit. Bukan hanya ada mereka saja di sana. Kerabat dari korban lain juga memenuhi koridor UGD itu. Rumah sakit dipenuhi oleh sanak saudara yang ingin melihat kondisi keluarga mereka yang kecelakaan.


Wartawan juga sudah memenuhi bagian depan rumah sakit. Berita yang masih simpang siur tentang salah satu korban yang adalah Alexa Elora William masih dipertanyakan, belum ada klarifikasi dari pihak kelaurga maupun rumah sakit.


Para keluarga korban berjejer menunggu dokter keluar, berharap memberikan kabar bahwa keluarga mereka baik-baik saja.


Ada yang menjerit histeris saat perawat mengatakan bahwa sang suami ada di kamar mayat.


Ada yang langsung pingsan saat dokter menyatakan suaminya meninggal saat dalam perjalanan ke rumah sakit.


Mereka tak saling mengenal, tapi merasakan duka yang sama.


Kehilangan ... untuk selamanya ...


Bunda memeluk ayah.


Daddy menenangkan mommy.


Hannie menangis dalam pelukan Kenzo.


Sedangkan yang lain menatap Zion yang seperti sudah kehilangan nyawanya, diam tak bergeming.


Aron memeluk Zion, begitupun dengan David dan yang lain. Mereka akan saling menguatkan. Hal ini mengingatkan mereka saat Lexa terjatuh dari tangga dulu. Jika dulu mereka saling baku hantam, Zion cs vs David cs, maka kini tidak ada umpatan kasar dan tonjokan.


Dokter keluar, memberikan kabar untuk satu keluarga, entah siapa yang akan mendapat kabar ini.


"Keluarga Nyonya Heni."


"Kami Dok, bagaimana kondisi ibu saya?"


"Pasien saat ini sangat kritis, doakan yang terbaik untuk beliau. Benturan yang sangat keras di kepalanya mengakibatkan beliau menfalami pendarahan hebat dan harus segera dioperasi. Silahkan pihak keluarga mengurus administrasi agar bisa segera dikakukan tindakan selanjutnya." Dokter kembali masuk.


Rasanya ingin sekali mereka memiliki jantung cadangan. Setiap kali dokter keluar, setiap itu juga jantung mereka berpacu dengan cepat, seolah ingin keluar, merobek kulit dada mereka. Satu persatu dokter yang berbeda keluar, lalu masuk lagi setelah memnerikan informasi untuk keluarga korban. Namun hingga saat uni belum ada satu dokterpun yang keluar memberi kabar tentang Lexa.


Kenapa lama sekali? Apa yang terjadi?


"Kelaurga Pak Anwar Hidayat."


"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya ayah. Ya, Anwar Hidayat adalah sopir Lexa.


"Maaf, pasien tidak dapat diselamatkan." Dokter menunduk dalam.


Semau langsung menangis. Perasaan takut kembali menghantui. Sopir Lexa meninggal, lalu bagaimana dengsn Lexa?


Bunda langsung pingsan.


Ya Allah, jangan lagi.


Detik dan menit berlalu. Bunda sudah kembali sadar.


Pintu rusng operasi kembali terbuka.


"Keluarga nona Lexa." Mereka langsung tegang. Tidak ada yang berani bertanya 'Bagaimana?' semaunya hanya diam menunggu dokter yang berbicara.


"Mohon maaf yang sebesar-besarnya ... "


DEG


DEG


DEG


Dokter belum selesai bicara, tapi jantung lagi-lagi seperti dihantam oleh beton ... sakit dan menyesakkan.


Suara isakan mulai terdengar. Ayah memegang bunda sangat erat, takut jika tiba-tiba pingsan lagi.


"Kami tidak dapat menyelamatkan ... "


"Jaga bicaramu, b******k!" maki Zion. Dia tidak ingin mendengarkan kelanjutannya, tidak ingin mendengar apa-apa. Zion mencengkaram kerah pakain dokter itu.


"Dokter?"


"Kami tidak dapat menyelamatkan janinya, sedangkan nona Lexa sedang mengalami masa krisis."


"Arrrghhh bre****k, dasar dokter gadungan!"


Dunia sepertinya menggelap, tidak ada matahari yang menyinari.


Tidak ada bulan yang menenangkan.


Tidak ada bintang yang menentramkan.


Bahkan tidak ada cahaya lilin yang menerangi.


Kemana perginya udara yang biasa dihirup?


Kemana berlalunya angin yang biasanya berhembus dan menyejukkan?


"Aku mau dong dielus-elus, perut aku."


"Dedek bilang, dia sayang papi."


"Aku pulang dulu ya. Aku sudah capek banget."


"Ya sudah, kami pergi dulu ya."


Kata-kata itu terngiang dalam ingatan mereka. Doa yang tadi mereka ucapkan saat mengelus perut Lexa ...


Apakah ini sebuah firasat?


Sikap Lexa yang akhir-akhir ini sangat manis dan menggemaskan kepada Zion.


"Aaarrggghhh ... " Zion berteriak frustasi.


"Kapan sih aku bisa bahagianya, Mom?"


Tidak ada yang menjawab. Semua larut dalam kesedihan yang sama.


"Nanti kalau Lexa bangun dan menanyakan baby kami, aku harus jawab apa, Mom?"


Lagi-lagi hanya isak tangis yang menjawab pertanyaan Zion.


"Lexa tadi melarang aku mengantarnya pulang, Mom."


Ya, kalau tadi Zion mengantar Lexa pulang, mungkin akan lain lagi jalan ceritanya. Mungkin mereka berdua akan terbaring bersama. Mungkin dia akan pergi meninggalkan Lexa untuk selamanya.


Mungkin juga mereka akan melalui jalan lain atau singgah ke suatu tempat hingga terhindar dari kecelakaan maut itu.


Tapi seperti inilah takdir bekerja.


"Kamu melarang aku agar aku disini bisa menangisi kamu dan baby kita ya, Beb? Tega banget kamu sama aku."


Rasa sakit tak juga reda, malah semakin menjadi.


"Mom, Bun, aku pasti lagi mimpi, kan? Coba deh guyur aku pakai air es, biar hati aku adem dan aku langsung bangun."


"Dav, coba kamu tampol aku, kali ini aku enggak akan balas."


"Kalian juga kenapa diam saja? Pasti Lexa ngerjain kita, nih. Bikin kita gemes sama dia."


Suara Zion sudah semakin serak, akibat tangis dan terus berbicara tanpa henti.


Pintu ruangan kembali terbuka. Dua orang perawat mendorong brankar Lexa. Terlihat luka bekas benturan, dan kepalanya diperban.


Zion dapat melihat perut Lexa yang sudah kembali rata, membawa Zion kembali ke dunia nyata yang kejam.


Mereka membawa Lexa ke ruangan ICU.


Berita tentang kecelakaan maut yang menelan banyak korban jiwa tersiar di semua media.


"Sepuluh korban meninggal di lokasi kejadian. Lima orang meninggal saat dilarikan ke rumah sakit. Tujuh orang meninggal di rumah sakit, enam orang kritis dan lima belas orang luka ringan. Penyebab kecelakaan masih diselidiki oleh pihak kepolisian. Namun menurut keterangan para saksi, sebuah mobil dari arah J S yang kehilangan kendali, menabrak mini bus yang mengangkut sepuluh karyawan SS yang akan melakukan survei di daerah TG. Mini bus tersebut lalu keluar jalur dan menabrak sebuah mobil dari arah T. Salah satu saksi yang ikut evakuasi mengatakan, bahwa salah satu penumpang mobil yang ditabrak oleh mini bus tersebut adalah Alexa Elora William, yang langsung dikarikan ke rumah sakit. Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan dari pihsk keluarga maupun rumah sakit," ucap seorang wartawan di salah satu berita televisi.


Tentu saja berita tersebut mengejutkan berbagai pihak, terutama Arkan dan orang-orang yang ada di restoran tadi. Baru beberapa jam yang lalu mereka melihat Lexa dengan wajah cantiknya dan perut yang mulai besar.


Arkan yang memiliki cinta terpendam dengan Lexa ikut merasakan sakit itu. Lalu bagaimana dengan Zion yang menjadi suaminya? Bukan sakit lagi yang dia rasakan, tapi hancur.


Doa diberikan untuk para korban. Mobil-mobil ambulans membawa mayat ke kediaman keluarga mereka untuk segera dimakamkan.


Ucapan bela sungkawa bagai bisikan yang tak ada artinya, tidak dapat menghibur mereka yang ditinggalkan.


Baby Zion dan Lexa juga harus segera dimakamkan. Zion melihat bayi mungil yang usianya tujuh bulanan dalam perut Lexa. Dua bulan lagi, dua bulan lagi seharusnya mereka akan bertemu dengan cara yang indah. Bayi itu terbungkus kain putih.


"Baby papi, kenapa kamu ninggalin papi dan mami dengan cara seperti ini? Kamu enggak sayang sama papi mami? Kamu enggak mau main sama papi mami?"


Air mata Zion jatuh membasahi pipi babynya.


Mereka satu persatu memeluk Zion.


"Kita ketemu mami kamu dulu ya."


Zion membawa babynya ke ruang ICU Lexa, untuk mempertemukan mereka walau hanya sesaat.


"Beb, ini baby kita ... " Zion tak dapat lagi meneruskan kata-katanya.


"Kamu cepat bangun dong Beb, jangan tinggalin aku sendiri. Baby kita sudah pergi, kamu jangan ikut-ikutan pergi ya."


"Oya, baby kita aku yang kasih nama ya. Namanya Arion ... "


Zion meninggalkan ruangan itu dengan air mata yang masih mengalir. Mereka menatap Zion yang menggendong bebynya dengan tatapan iba.


Hannie segera mengambil alih bayi laki-laki itu.


"Tolong kalian makamkan baby Arion. Aku mau di sini saja nungguin Lexa. Aku takut nanti kalau aku pergi, Lexa marah dan ninggalin aku untuk selamanya."


Sebenarnya dia ingin ikut memakamkan anaknya, tapi dia juga takut untuk meninggalkan Lexa.


Akhirnya dia memilih melepaskan yang sudah pergi dan menjaga yang masih ada.