
"Dok, berapa lama lagi saya hidup?" tanya Lexa tanpa babibu.
Dokter memandang Zion dan yang lain.
"Begini, kondisi nona saat ini ... "
Lexa kembali terisak sebelum dokter selesai berbicara.
"Kamu baik-baik saja kok, Yang."
"Sebenarnya ... "
"Kamu lagi hamil, Yang!" putus Zion sebelum dokter berbicara. Hanya dia orang pertama yang boleh memberikan kabar bahagia ini untuk Lexa, istrinya tercinta.
Eh?
Lexa mengernyitkan keningnya, kemudian kembali terisak.
"Kamu pasti lagi bohong, kan. Mau bikin aku senang apa tambah sedih, sih? Jahat banget kamu!"
"Kalau enggak percaya coba tanya sama yang lain."
"Kalian pasti sekongkol."
"Coba kamu tanya sama dokter."
"Itu benar, saat ini Nona sedang mengandung sepuluh minggu ... "
Lexa mengerjap-ngerjapkan matanya dan menggigit bibirnya agar isak tangisnya tertahan.
"Bohong!"
"Huft, masa dokter bohong sih, Xa."
"Tapi aku kan lagi datang bulan ... sejak kecelakaan itu siklus datang bulanku memang berantakan. Kadang sebulan dua kali tapi hanya sebentar saja. Bisa dua sampai tiga hari lalu selesai. Kadang bisa sampai sepuluh hari baru selesai. Kadang darahnya hanya sedikit kadang banyak. Pernah sampai telat seminggu, sebulan, bahkan pernah selama tiga bulan berturut-turut aku tidak haid tapi tidak hamil."
Dulu saat telat datang bulan, Lexa sempat senang karena dia pikir dia hamil. Setelah melakukan pemeriksaan ternyata hasilnya negatif. Setiap kali test selalu seperti itu. Bahkan dia sampai minum susu untuk ibu yang ingin hamil. Hingga pada puncaknya, dia telat tiga bulan namun hasilnya tetap negatif. Sejak saat itu dia masa bodo mau telat berapa bulan juga jangan lagi berharap, dari pada nyesak sendiri. Dia juga berhenti meminum susu itu.
Dokter mengangguk mendengar penjelasan Lexa.
"Itu bisa saja terjadi. Kandungan Nona sangat lemah ditambah faktor stres. Untung saja kemarin segera dibawa ke sini jadi kami masih sempat menyelamatkan kandungan Anda. Faktor setres berlebih menyebabkan sirkulasi udara menjadi terhambat dan aliran darah juga tidak lancar. Untuk selanjutnya tolong jaga kesehatan Nona. Makan makanan yang sehat, istirahat yang cukup, dan yang paling penting hindari hal-hal yang bisa membuat stres, jangan terlalu banyak pikiran ... "
Dokter masih terus menjelaskan banyak hal, bukan hanya pada Lexa, tapi juga pada yang lain agar mereka bisa menjaga Lexa lebih baik lagi.
"Kalian sudah tahu kenapa tidak bilang dari tadi?" Lexa mulai kesal lagi.
"Gimana mau bilang, Beb. Kamu dari tadi motong omongan aku terus."
"Terus kenapa kalian pada nangis?"
"Ya awalnya kami terharu bercampur cemas saat dokter keluar dari ruang UGD dan mengatakan bahwa kamu sedang hami tapi kandungan kamu lemah dan hampir keguguran lagi," kata Kenzi
"Terus?"
"Terus kami nangis gara-gara kamu ngomongnya ngelantur kemana-kemana," Malvin ikut memberi komentar.
"Seharian ini kamu sudah bikin aku nangis terus, Beb."
"Tapi saya tidak merasa seperti orang hamil. Tidak merasa ngidam."
"Itu juga bisa saja terjadi. Anda harus dirawat dulu selama tiga sampai tujuh hari di sini, agar lebih mudah untuk dipantau karena kandungan Nona yang lemah. Saya sudah memberi obat penguat kandungan dan vitamin. Kalau begitu saya permisi, kalau ada apa-apa segera panggil saya. Ingat, jangan sampai stres."
Setelah dokter dan perawat keluar, Lexa kembali terisak pelan sambil memandangi Zion dan yang lain.
Mereka saling pandang, sibuk dengan pikiran masing-masing dan seketika tawa pecah memenuhi ruangan.
"Sepertinya selama ini kita ngidam menggantikan Lexa."
"Siapa yang waktu itu bilang 'Awas saja, kalau sampai aku tahu siapa yang membuat kalian seperti ini, akan aku hancurkan orang itu sampai ke akar-akarnya.'"
"Dih, yang waktu itu suudzon sama Tiara siapa, coba?" bela Lexa.
Mereka diam dan menghela nafas. Antara merasa bersalah karena telah berburuk sangka dengan orang yang tidak mereka tahu siapa karena hanya menerka-nerka, termasuk berburuk sangka dengan Tiara, tapi juga lucu karena mereka mengidam berjamaah sedangkan penyebabnya sendiri malah tidak merasakan apa-apa dan tidak menyadarinya.
"Yang setiap hari sibuk mendeteksi racun, siapa?"
"Yang bilang salut sama orang yang sudah menyebabkan kita seperti ini, siapa?"
"Jadi enaknya kita apakan nih, Lexa."
Mereka langsung mendekati Lexa dan memeluk perempuan itu. Zion mendengus kesal melihat istrinya dipeluk oleh sembilan laki-laki. Lalu mereka juga memeluk Zion. Hannie, tanpa segan juga ikut ingin ikut memeluk Zion.
Zion langsung mendekati Lexa dan mencari perlindungan disana. Mereka hanya terkekeh geli.
Setelah Lexa tidur, mereka berdiskusi dengan suara yang sangat pelan.
"Sepertinya kehamilan Lexa kali ini lebih berat."
"Benar, selain kandungannya yang lemah, dia juga sangat sensitif. Tidak seperti kehamilan yang sebelumnya."
"Kita harus lebih hati-hati dalam bersikap dan berkata."
"Kalau dia ngomong diiyakan saja."
"Han, kamu perempuan enggak sadar kalau Lexa hamil?"
"Jangankan aku, Lexa sendiri saja enggak, tadi kan dia sudah bilang sama dokter."
Kruyuk ... kruyuk ...
Suara perut dari Samuel, Malvin dan Ryu berbunyi bersamaan.
"Aish ... aku sudah lapar lagi padahal baru dua jam yang lalu kita makan."
"Lexa benar-benar hebat. Aku belum pernah mendengar atau membaca artikel tentang wanita hamil tapi 11 orang yang ikut mengidam."
"Pokoknya nanti aku yang kasih nama."
"Aku juga."
"Aku saja."
"Tidak, harus aku!"
"Aku."
"Aku."
"Aku dong, aku ini kan auntynya."
"Aku unclenya."
"Aku juga unclenya."
"Kalian pikir aku bukan unclenya."
"Stop! Aku papinya, jadi aku yang akan memberikan nama untuknya."
"Kami juga harus kasih nama."
Sepuluh orang itu tetap ngotot dan berebut. Zion menghela nafas berat.
Suka-suka merekalah. Yang penting anak dan istriku sehat selalu, dan lahir dengan selamat.
Zion tersenyum memandang sepuluh orang yang ada di haapannya kini. Ada Aron dan juga David cs. Dia tidak menyangka bahwa yang lain juga sangat antusias dengan calon anak dia dan Lexa.
Zion berdoa semoga semuanya selalu baik-baik saja. Dia memang selalu khawatir dengan semua yang menyangkut tentang Lexa.
Hidupnya memang lebih berwarna karena Lexa. Dia jadi ikut mengenal delapan pria tangguh yang menjadi sahabat istrinya itu. Dengan kelebihannya masing-masing, mereka selalu menjaga Lexa.
Siapa sangka dia dan mereka yang dulu bersaing dan ingin saling menghancurkan karena salah paham kini malah saling mendukung dan berkerja sama, bahkan saling melindungi.
Zion kini merasa memiliki kakak dan adik yang sesungguhnya. Pantas saja Lexa tidak bisa lepas dari mereka bersembilan.
Satu jam kemudian makanan pesanan datang.
Nasi uduk
Karena malam-malam seperti ini memang lebih gampang mencari nasi uduk yang ada di pinggir-pinggir jalan dengan mihun dan semur juga gorengan.
Mereka bersebelas, tapi nasi yang dibungkus sebanyak 22. Hahaha ... entah lapar atau apa itu. Belum lagi gorengan sebanyak tiga pelastik ditambah minuman wedang jahe.
"Sebelum perut Lexa membesar, sepertinya kita duluan yang lebih dulu gendut."
"Pokonya aku harus fitnes."
"Besok malam aku mau makan nasi bebek, ah."
"Ya Allah, ini belum pagi dan kita baru saja selesai makan sepuluh menit yang lalu, tapi kamu sudah merencanakan menu untuk besok malam ... ck ck ck!"
Mereka tergelatak di lantai dengan tak berdaya sambil mengelus perut yang kekenyangan.