
Lexa, Hannie dan Tiara sudah kelas satu SMA, itu berarti Zion dan David sudah kelas tiga.
Masa anak-anak itu kini berubah menjadi masa remaja. Masa yang seharusnya menyenangkan untuk semua orang tapi tidak bagi Lexa.
Saat ini Zion dan kedua orang tuanya berada di kediaman Lexa. Orang tua Zion sejak Lexa SMP memang sedang menetap di London hingga saat ini. Itulah mengapa sebabnya mereka sekarang sudah sangat jarang bertemu.
Lexa dan Tiara duduk di hadapan Zion. Lexa melihat Zion yang memandang Tiara. Lagi-lagi dia terluka.
Lexa langsung ke kamarnya dan meninggalkan Tiara dan Zion di depan kolam renang. Lexa mengambil buku hariannya dan mulai menulis.
Lexa terbangun dengan keadaan masih memegangi buku hariannya. Ternyata dia ketiduran. Lexa menyimpan buku itu ke dalam laci meja belajarnya. Dia tetap berada di dalam kamar enggan untuk keluar. Tidak tahu apakah Zion dan Tiara sudah pulang atau belum.
Dia mengirim pesan pada David dan Hannie. Hanya pada mereka dia menceritakan isi hatinya, selain menulis di buku hariannya.
Lexa sedih dengan sikap Zion. Zion yang dulu selalu baik dan perhatian padanya sekarang sudah berubah.
Sudah tidak ada lagi kehangatan. Yang ada hanya tatapan dingin dan acuh.
☆☆☆
Lexa jadi lebih sering menghabiskan waktunya bersama David dan Hannie. Lexa juga sekarang lebih sering menceritakan tentang David pada Tiara.
“David baik sekali padaku. Dia selalu menjaga aku dan tidak pernah membuat aku bersedih apalagi menangis!”
“Baikan mana, David atau Zion?”
“Tentu saja David!” jawab Lexa dengan cepat.
“David juga sangat tampan!”
Tiara tersenyum mendengar perkataan Lexa.
Tiara melihat Leon dan Zioxa yang selalu berada di tempat tidur Lexa.
“Kamu masih menyimpan boneka-boneka ini?”
Lexa melihat Leon dan Zioxa. Dia memang masih menyimpan semua pemberian Zion dengan baik.
Membuang salah satunya berarti membuang kenangannya bersama Zion dan Lexa tidak ingin melakukannya meskipun sekarang Zion sangat menyebalkan baginya.
Lexa masih terus melanjutkan ceritanya tentang David kepada Tiara.
☆☆☆
Ada yang ingin Lexa katakan pada Zion. Tadi dia sudah menghubungi Zion, mengajaknya untuk bertemu di taman. Lexa juga sudah membawa kue ulang tahun untuk Zion.
Gadis cantik itu memakai dress putih dengan motif bunga pink di bagian lengannya. Rambutnya dibiarkan tergerai. Bibirnya yang memang sudah berwarna pink hanya diberi pelembab saja.
Lexa melirik jam tangannya. Dia sudah menunggu sejak jam tujuh pagi dan sekarang sudah jam sepuluh. Sopir yang mengantarnya sudah langsung disuruhnya pulang.
Keringat membasahi wajah cantiknya. Dia masih menunggu dengan setia, menunggu dengan kegelisahan. Gelisah apakah orang yang ditunggunya itu akan datang atau tidak.
Lexa kembali melirik jam tangannya.
Sudah jam dua bekas siang.
Menunggu itu memang tidak menyenangkan.
Tapi nyatanya dia masih ada di tempat yang sama.
Panas kini berganti mendung.
Mendung berganti gerimis.
Gerimis berganti hujan.
Lexa kedinginan.
Sejak tadi dia sudah menghubungi Zion tetapi tidak di angkat-angkat. Pesan yang dia kirimkan sudah dibaca namun tidak dibalas satu pun.
Hujan yang semakin deras tidak juga membuat Lexa menyerah. Hatinya sakit tetapi dia tetap bertahan di tempat yang sama.
Langit terang kini berganti gelap.
Dia tetap seorang diri.
Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam.
“David!” ucap Lexa dengan suara bergetar.
Lexa mengatakan dimana kini keberadaannya. David langsung menuju tempat Lexa dengan motornya.
Dia tidak lupa membawa jaket tebal untuk Lexa karena dia tahu Lexa pasti tidak membawanya.
David berlari mencari keberadaan Lexa. Tidak lama kemudian dia menemukan gadis itu yang sudah kedinginan.
“Dia tidak datang, aku sudah menunggunya sejak jam tujuh pagi.”
David memeluk gadis yang ada di hadapannya itu.
Lagi-lagi Lexa menangis karena pria yang sama. Ini entah air mata yang keberapa kalinya.
Lexa dibonceng oleh David. David mengendarai motornya dengan sangat hati-hati. Sesekali David David mengusap-ngusap tangan Lexa yang memeluk erat pinggangnya. Tangan gadis itu sangat dingin.
Lexa turun dari motor dengan sempoyongan. Mereka kini berada di sebuah cafe. Dia tahu Lexa belum makan dan minum. Bahkan kue yang dibawanya saja masih utuh.
Dia mengajak Lexa makan tapi gadis itu menolaknya. Dia lalu menyuapi Lexa dan mengajaknya bercanda. Sesekali Lexa tersenyum meskipun David tahu kalau itu senyuman palsu. Lexa tetap tidak mau makan dan minum.
Akhirnya mereka pulang.
Sesampainya di depan mansion, Lexa langsung pingsan. Untung saja David dengan sigap menangkap tubuh itu sebelum benar-benar jatuh menghantam lantai.
David segera menggendong Lexa dan membawa gadis itu ke kamarnya.
Pelayan merasa khawatir dengan kondisi nona mudanya. Dokter pribadi keluarga itu segera dihubungi.
“Dia sangat lemah karena dehidrasi, dan masuk angin. Sepertinya seharian ini dia juga belum makan.”
Dokter lalu menginfus Lexa dan memberikan obat juga vitamin untuk gadis itu minum setelah sadar.
☆☆☆
Selama tiga hari ini Lexa hanya berada di atas tempat tidurnya. David, Hannie dan Tiara bergantian mengunjungi Lexa.
“Lexa, kenapa saat ulang tahun Zion kamu tidak datang?” tanya Tiara.
“Kemana?”
“Ke mall! Zion menghubungi aku, katanya dia ulang tahun dan mengajak menonton. Aku menunggu kamu tapi kamu tidak datang-datang. Jadi kami menonton berdua saja. Sebenarnya aku tidak mau, tapi dia memaksa. Katanya sayang tiketnya sudah dibeli.”
Jadi seperti itu?
Lexa hanya diam saja. Dia memang tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi hari itu pada Tiara karena baginya itu sangat menyakitkan.
Sedangkan Hannie pasti tahu dari David.
Perasaan Lexa semakin lelah.
Perasaan yang membuatnya sakit
Perasaan yang membuat dia menangis
Perasaan yang hanya dia rasakan seorang diri
Cinta pertamanya ini ternyata menyakitkan
Kenapa harus Zion yang dia sukai?
Kenapa harus Zion yang membuatnya terluka?
Mengapa?
Semua itu hanya pertanyaan tanpa jawaban!
☆☆☆
Ingin menutup rapat-rapat tapi tidak bisa
Masih ada celah
Celah yang membuat hati Lexa masih tertuju pada Zion
David dan Hannie menatap sedih pada Lexa.
Gadis itu tersenyum tapi matanya bersedih. Gadis itu tertawa tapi hatinya terluka. Davidlah kini yang menjadi satu-satunya pria yang selalu berada di sisi Lexa.
Yang selalu menjaga, menghibur dan memeluk Lexa disaat gadis itu bersedih dan menangis.
David berjanji akan selalu menyediakan pundaknya untuk gadis itu bersandar. Hanya Hannie dan Lexa yang akan bersandar di pundaknya. Hanya mereka berdua wanita yang dia peluk dan dia berikan ketenangan.
David mengusap-usap rambut panjang Lexa. Pria itu merasa khawatir dengan keadaan Lexa.
Berbahagialah, meski tanpa pria itu. Masih banyak pria lain yang akan menyayangi dan mencintaimu dengan tulus!
Dia hanyalah pria bodoh yang tidak dapat melihat dan merasakan ketulusan dari gadis seperti dirimu.
Jika aku yang menjadi dirinya, aku pasti akan terus menggenggam tanganmu dan tidak akan membuatmu berpaling dariku.
Kamu gadis yang berharga!