ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
117 KE MALL



Lexa merapihkan baju-baju hamilnya sambil sesekali menghela nafas. Dilihatnya Zion yang masih tidur dengan gelisah. Lexa memang bangun pagi-pagi sekali.


Zion meraba-meraba sebelahnya, seperti ada yang hilang. Dia langsung terduduk begitu saja, celingak-celinguk mencari yang hilang itu.


"Beb?"


"Yang?"


"Honey?"


"Darling?"


"My Wife?"


Cekrek ... pintu terbuka, wanita yang dicarinya itu masuk sambil membawa jus tomat. Zion menghela nafas lega.


"Kamu kenapa enggak bangunin aku?"


"Masih jam empat."


Zion melihat jam, masih jam empat kurang, tapi istrinya sudah terlihat segar seperti bangun sejak tadi.


"Kamu tidur lagi saja."


Zion menggeleng, lalu menghampiri Lexa, meletakkan gelas ke atas nakas dan memeluk Lexa.


Terkadang Zion bingung harus berbicara apa pada Lexa. Dia takut membuat Lexa teringat akan baby Arion. Lexa membalas pelukan Zion.


"Maafkan aku ... maaf karena aku tidak bisa menjaga baby Arion dengan baik."


Zion menggeleng dan semakin mempererat pelukannya.


"Bukan salah kamu, semua ini sudah takdir. Terima kasih karena tidak pergi meninggalkanku seperti baby Arion. Terima kasih karena masih mau bersamaku."


Jujur saja, kehilangan baby Arion membuat perasaan takut Zion akan hal lain juga. Takut jika Lexa akan meninggalkannya, karena baby Arionlah yang telah menyatukan mereka. Selama ini Zion sudah berusaha menutupi kecemasannya itu.


Jam enam mereka ke ruang makan, berbagai hidangan sudah disajikan. Yang lain juga sudah berkumpul.


"Good morning," sapa Lexa dengan ceria. Semua memandang Lexa, merasa hari ini Lexa sedikit ceria walau masih ada gurat kesedihan di wajahnya.


Ya, Lexa pikir dia tidak boleh menunjukkan kesedihannya di hadapan orang-orang, apalagi sampai berlarut-larut. Baby Arion sudah tidak ada, dia sudah bahagia di surga, mungkin saat ini sedang bermain bersama malaikat-malaikat kecil lainnya.


Lexa memakan salad buah kesukaannya, sedangkan yang lain ada yang makan roti dan nasi goreng. Kedatangan baby Kai mengalihkan perhatian Lexa. Dia langsung menggendong baby Kai.


"Hmmm ... Hannie, Kenzo ... boleh enggak baby Kai manggil aku mami?"


Hannie langsung mengangguk setuju, jujur saja dia senang kalau Lexa juga menganggap baby Kai sebagai anaknya. Zion mengerjap-ngerjapkan matanya agar air matanya tidak keluar, dia sangat sedih jika mengingat dia belum bisa dipanggil papi.


"Baby Kai, itu mami Lexa dan papi Zion ... sedangkan para uncle ini kamu panggil ayah, ya," tutur Kenzo.


Zion tersenyum, merasa senang akan kepedulian David cs.


Lexa memang beruntung memiliki sahabat seperti mereka.


"Panggil kami omma oppa juga ya!"


Baby Arion, seperti yang mami bilang, kami semua sayang sama kamu dan tidak akan melupakan kamu."


"Kamu enggak ke kantor, Zi?"


"Enggak, aku kerja di rumah saja."


"Aku hari ini mulai kerja, ya?"


"Jangan!"


Zion bukannya melarang Lexa bekerja, tapi dia juga trauma jika Lexa bepergian. Dia bahkan sebenarnya sudah konsultasi pada Yosuke.


"Ya sudah, besok saja kalau mau kerja lagi. Tapi aku yang antar jemput ya."


Lexa setuju, yang penting dia tidak di rumah terus dan teringat baby Arion. Sebenarnya dia juga trauma, tapi dia harus melawan dan tidak boleh kalah dengan traumanya itu. Yosuke juga selalu memberikan motivasi dan saran agar rasa trauma itu bisa pergi.


"Kami pergi dulu ya."


Mereka satu persatu berpamitan. Mansion kembali sepi, membuat Lexa kembali teringat akan baby Arion. Ya, jika suasana sepi, dia memang selalu teringat akan baby Arion. Itulah sebabnya Zion meminta ysng lain untuk tinggal di sana. Tapi tidak mungkin kalau Zion melarang mereka bekerja.


"Kita ke mall, yuk?" ajak Lexa.


Zion berpikir sejenak kemudian mengangguk. Dia tidak ingin karena ketakutannya, dia mengurung Lexa di rumah dan menyebabkab istrinya itu malah lebih setres.


Mereka akhirnya pergi dengan diantar oleh sopir. Sepanjang perjalanan Lexa kembali membaringkan kepalanya di atas paha Zion, dan Zion memeluk Lexa dengan erat. Mereka saling menguatkan meski tanpa kata.


Sesampainya di mall, mereka menjadi pusat perhatian, beberapa bodyguard yang mengawal memberikan jalan untuk Lexa dan Zion. Berita tentang kecelakaan Lexa dua bulan yang lalu tentu saja masih jadi topik hangat, dan sekarang mereka melihat sendiri pewaris William itu berjalan-jalan di mall.


"Kirain sudah mati," ucap salah seorang perempuan yang sudah pasti tidak menyukai Lexa.


"Jaga bicaramu! Kamu mau dipenjara?"


"Perempuan kaya gitu kok masih hidup?"


"Mulutmu itu enggak pernah disekolahkan, ya?"


"Dia sendiri kalau ngomong suka sinis kok."


"Lah, nona Lexa mah sombong wajar, memang ada yang pantas disombongkan. Nah kamu? Dia juga singit ke orang-orang yang nyari masalah sama dia. Nah kamu? Dia pernah buat masalah sama kamu? Kenal sama kamu aja enggak. Kamu kenal sama dia? Cuma kenal di tv saja, kan?"


Dua orang yang tidak dikenal Lexa itu terus saja berdebat tanpa sadar banyak orang yang merekamnya.


"Pantas saja anaknya mati, malu kali punya emak kaya gitu."


"Apa kamu bilang?" Lexa dan Zion sudah berdiri di hadapan dua wanita itu. Matanya menatap tajam wanita bermulut cabe itu.


"Mana KTP kamu?" tanya Zion. Wanita itu diam saja, menikmati karunia Tuhan lewat wajah tampan Zion. Salah seorang bodyguard menggeledah tas wanita itu dan mengambil KTPnya.


Zion melihat KTP itu.


"Nama, Tuti. Usia 35 tahun. Status masih lajang ... dengar ya, dari pada sibuk ngurusin orang lain, mendingan kamu nyari jodoh sana. Umur sudah tua tapi kok belum laku, nyinyir mulu sih kerjaannya. Cantik enggak, kaya juga sepertinya enggak, seksi enggak. Mendingan istri saya kemana-mana. Cantik seksi cerdas kaya terkenal ... apa coba yang kurang dari dia? Enggak ada kan? Kamu berdiri di samping istri saya juga kasihan istri saya. Bisa-bisa dia jadi panuan."


Zion langsung menggandeng tangan Lexa meninggalkan orang-orang itu. Mereka yang mendengarnya langsung tertawa.


"Mbak beli obat panu gih sana!" sindir seseorang.


Zion mengusap-ngusap tangan Lexa. Tidak akan dia biarkan ada orang yang menyakiti Lexa apalagi menghina Lexa. Lexa hanya diam saja meski hatinya sakit teringat baby Arion. Dia bukan tipe perempuan yang akan menangis tersedu-sedu saat ada yang menghinanya.


Lexa memasuki brand pakaian dalam, Zion ragu-ragu ingin masuk atau tidak. Antara malu tapi juga khawatir jika kejadian seperti tadi terulang lagi. Akhirnya dia memilih untuk masuk, karena menjaga Lexa lebih penting dari rasa malunya.


"Hubby, kamu pilihin dong buat aku."


Hidung Zion kembang kempis. Zion buru-buru memilihkan atasan dan bawahan dengan berbagai warna dan model, yang penting cepat keluar dari sini, pikir Zion.


Mata Zion kini melirik lingerie dengan berbagai warna dan model juga. Dia menggaruk-garuk kepalanya, entah karena apa.


Sudah ada tujuh lingerie yang dia ambil.


Sehari satu. Ini sih sekali pakai langsung buang kali, ya? Tipis begini ... Lexa bisa kedinginan pakai ini. Tapi etapi ... kan ada aku yang bisa memberikannya kehangatan.


Zion tidak menyadari bahwa sejak tadi banyak orang yang melihatnya memegang lingerie-lingerie itu sambil senyum-senyum enggak jelas. Terlihat sekali bahwa dia yang sangat antusias memilih semua itu buat Lexa.