ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
58 JEBAKAN



STOP! JANGAN DIBACA DULU. INI NO 58. BACA DULU NO 57 (ADA DI BAWAH NO 59)


ADA KESALAHAN TEKNIS. MAAF YA!


Zion berencana melanjutkan kuliahnya di London. Bukan tanpa sebab, dia ingin memperluas usaha pribadinya dan berada di London akan mempermudah jalannya.


Dia sudah memikirkan ini selama bertahun-tahun. Satu-satunya yang membuat dia tetap bertahan di Jakarta adalah Lexa.


Dia tidak menceritakan rencananya pada Lexa karena dia sendiri berat untuk mengatakannya.


Entah dari mana Tiara tahu tentang rencana Zion. Dia lalu berencana untuk pergi ke London karena dia juga sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Kakeknya sudah meninggal sejak dia kelas satu SMA.


Siang itu Tiara datang ke mansionZion. Dia menghubungi Lexa dengan ponsel Zion dan menyuruhnya untuk datang ke taman malam itu. Setelah itu dia menghapus semua jejak dan mengganti nomor Lexa dengan nomor yang dia baru beli. Agar Zion tidak dapat menghubungi Lexa tapi menghubunginya ke nomor itu. Setelah itu dia langsung pergi.


Zion menelepon Lexa yang sebenarnya adalah nomor Tiara tapi tidak pernah diangkat.


Lalu dia mengirimi Lexa pesan.


[Xa, aku mau ke London malam ini untuk melanjutkan kuliah di sana. Apa kita bisa bertemu dulu, aku akan ke rumah kamu]


Lexa


[Kenapa dadakan? Aku belum tiba di rumah. Aku akan langsung ke bandara saja. Oya, Tiara juga akan ke London loh malam ini. Tolong jaga Tiara baik-baik ya selama di sana. Dia sahabat terbaikku. Bantu apapun yang kamu bisa. Tiara ingin sekali menjadi model. Bantu dia agar bisa menjadi model terkenal. Kamu mau, kan?]


Zion mendengus kesal membaca pesan Lexa.


Model apaan? Model majalah p****?


Sejak jam enam Zion sudah menunggu Lexa di bandara. Sekarang sudah jam delapan. Zion mengirimi Lexa pesan yang tidak dibalas-balas oleh gadis itu.


Lalu sebuah pesan masuk ke ponselnya.


Lexa


[Zion, maaf aku tidak bisa datang. Aku titip sahabatku padamu. Jaga dia baik-baik. Oya, aku punya kabar gembira untukmu. Aku baru saja jadian dengan David. Tolong doakan hubungan kami ya. Oya, menurutku Tiara menyukaimu. Aku akan sangat bahagia kalau kedua sahabat dekatku dapat bersama. Kalian sangat cocok. Tiara cantik, pintar dan baik. Selamat jalan. Jaga diri kalian baik-baik. Aku tunggu kabar gembira dari kalian.]


Zion membaca pesan itu dengan perasaan hancur. Rasanya sangat sakit!


Dia berusaha menenangkan dirinya sendiri.


Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Tidak apa sekarang kamu bersama orang lain.


Tapi aku percaya doa yang telah aku panjatkan sejak dulu akan terkabul. Menikahimu adalah cita-cita pertamaku. Bukan menjadi pengusaha atau CEO. Bukan menjadi dokter ataupun profesi lain. Tapi kamu, hanya kamu dan selalu kamu!


Aku pasti akan kembali. Tunggu aku!


Kamu adalah milikku!


Aku adalah milikmu!


Dari kejauhan Tiara tertawa melihat kesedihan Zion. Lalu dia membuang nomor ponsel itu dan menghampiri Zion.


“Loh, Zion, kamu di sini? Aku mau ke London sekarang!”


“Ck, bodo amat!”


Akhirnya Zion pergi ke London dengan jet pribadinya dan Tiara dengan pesawat biasa.


☆☆☆


Sejak tadi masih di bandara, perasaan Zion sangat tidak tenang. Dia selalu teringat akan Lexa. Berkali-kali dia menyebut nama Lexa. Rasanya dia ingin menyuruh pilot untuk kembali saja ke bandara Jakarta.


Dia mengambil kotak kecil yang ada di saku jaketnya. Dia melihat cincin yang ada di kotak itu. Rencananya dia akan melamar Lexa. Memang bukan lamaran yang romantis, dia hanya ingin mengikat Lexa agar gadis itu tidak bersama pria lain.


Rencana tinggallah rencana. Jangankan melamar, datang ke bandara saja tidak. Yang lebih miris gadis itu malah jadian sama orang lain.


Jantung Zion berdetak sangat kencang. Dia menekan-nekan dadanya. Dia tidak pernah segelisah ini. Rasanya sakit. Zion juga merasa takut.


Perasaan apa ini?


Ada apa sebenarnya?


☆☆☆


Zion dan Tiara telah tiba di London.


Zion langsung menghubungi Lexa tapi nomor gadis itu tidak dapat dihubungi.


Tiara menelepon seseorang.


“Bagaimana?”


“Gagal! Ada yang menyelamatkannya. Tapi kami telah menyebut nama tuan muda Zion.”


“Ya sudahlah. Sisa pembayarannya akan aku transfer. Ingat baik-baik, tutup mulut kalian. Pergilah sejauh mungkin dan jangan pernah menyebut-nyebut namaku kalau kalian tertangkap.”


“Baiklah, kami mengerti. Senang bekerja sama dengan Anda, Nona!”


Tiara menutup telepon itu dan langsung membuang kartunya. Menghilangkan semua jejak.


☆☆☆


Waktu silih berganti. Zion tidak dapat menghubungi Lexa. Dia juga sama sekali tidak mendapat kabar dari Lexa.


Lambat laun hubungan itu terputus.


Tapi satu hal yang pasti, Zion tidak pernah melupakan Lexa. Foto Lexa selalu ada di dompet Zion. Foto-foto Lexa yang lain juga dia bawa ke London dan dia pasang di dinding kamarnya.


Tiara terus saja mengejar-ngejar Zion.


“Ayolah Zion, bantu aku menjadi model!”


“Ck, kamu yang mau jadi model kenapa harus aku yang repot?”


“Bantu aku, aku kan sahabat Lexa.”


Mendengar nama Lexa membuat Zion menghela nafas, karena sangat merindukannya.


“Baiklah. Asal kamu tahu, aku membantumu karena Lexa, bukan karena kamu!”


Tiara begitu senang dan ingin memeluk Zion tapi langsung pria itu cegah dan Zion mendorongnya.


“Jangan sentuh! Dasar ulat bulu, mau main nemplok aja di daun yang segar!”


Tiara mendengus kesal.


Dasar, masih saja kasar. Lexa sudah sangat membencimu, Zion!


Banyak wanita yang mendekati Zion tapi tidak pernah dihiraukan olehnya. Zion sendiri bingung dari mana wanita-wanita itu tahu nomor ponselnya.


Wanita-wanita itu ada yang mendapatkan nomornya dari temannya Zion, orang tuanya yang menjadi rekan bisnis Zion dan sebagainya.


Di saat banyak wanita yang mendekati Zion, maka Tiara yang berusaha menghalanginya.


Dia tidak ingin Zion tergoda dengan salah satu dari mereka. Baginya pria tetaplah pria yang akan tergoda dengan wanita cantik dan seksi.


Dia sudah berjalan sampai sejauh ini, dia tidak akan pernah menyerah.


☆☆☆


Perusahaan yang didirikan oleh Zion sudah berkembang pesat karena kecerdasan dan keseriusannya.


Sementara itu RW Group sedang


mengalami ujian karena saingannya yang bernama ARD Group. Meskipun begitu dia selalu bisa menyelesaikan masalah itu.


Yang dia tahu tentang ARD Group adalah pemiliknya bernama David dan kantor pusatnya berada di Jepang.


Tentu saja nama David mengingatkan Zion tentang David yang Lexa sering sebut. Apalagi Lexa juga di Jepang.


Tidak ada informasi lain tentang ARD Group maupun profil David. Semuanya tertutup rapat.


Saat ARD Group mengajak kerja sama dengan 4C Group, tentu saja Zion tertawa dan menolaknya mentah-mentah.


Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun terus berganti.


Zion sering menanyakan tentang Lexa pada orang tuanya. Anehnya, pria itu tidak pernah bisa menghubunginya. Baik itu dengan nomor ponsel Zion yang lama ataupun yang baru.


Nomor ponsel Lexa yang baru dia dapatkan dari orang tua Lexa tapi tetap saja tidak bisa dihubungi meskipun Zion juga menghubunginya dengan nomor-nomor yang berbeda.


Kamu kemana sih, Xa?


Saat Zion ke Jepang, dia juga tidak pernah berhasil menemui Lexa.


Semua informasi tentang Lexa tidak bisa dia temukan padahal dia sudah menyuruh orang untuk mencari tahu.


Zion ingin sekali melihat wajah gadis itu dan mendengar suaranya. Bukan hanya memandangi foto lalu menciumi foto itu.


"Lexa Lexa Lexa Lexa Lexa Lexa Lexa Lexa Lexa Lexa ...


"


Zion terus saja menyebut nama itu, seolah dengan menyebut nama itu berulang-ulang maka Lexa akan muncul begitu saja di hadapannya.


“Lama-lama kamu bisa gila hanya gara-gara rindu!”


“Sudah diam saja! Kamu tidak akan mengerti!”


“Aku ada informasi untukmu!”


“Kalau tidak penting jangan ngomong!”


“Tadi aku dengar ayah kamu dan ayah Lexa sedang membahas sesuatu. Mereka ingin menjodohkan kamu dan Lexa.”


“SERIUS?”