
Lexa duduk termenung di kamar bayi yang sudah disiapkan oleh Zion. Ada box yang berisi kostum-kostum Naruto, mereka tidak jadi melakukan pawai seperti keinginan Lexa karena mood Lexa yang berubah. Juga ada box yang berisi kostum Harry Potter yang juga belum dibuka.
Di kamar itu juga ada foto Lexa yang perutnya sudah membesar. Foto yang diambil oleh Zion sehari sebelum kecelakaan dan langsung dicetak dan dipasang di kamar itu. Mungkin itulah yang namanya firasat.
Jika ada yang ikut merasa duka keluarga William dan Willson, maka ada juga yang senang, seperti orang-orang yang tidak menyukai Lexa, seperti cacing kremi dan kodok bunting.
Mereka yang tidak menyukai Lexa berkata di sosial media bahwa itu adalah karma atas kesombongan dia selama ini. Tentu saja itu memancing emosi para pendukung Lexa.
[Rasain tuh, karma.]
[Moga-moga saja nanti ditinggalin sama suaminya, biar suaminya nyari perempuan lain.]
[Moga-moga saja cerai.]
[Semoga habis ini enggak bisa hamil lagi.]
Itu hanya sebagian kecil dari perkataan-perkataan yang menyakitkan. Mereka tanpa pikir dua kali menulis semua itu tanpa takut akan dituntut oleh keluarga William dan Willson.
Zion yang mengetahui hal itu langsung menyuruh salah satu anak buahnya untuk menghilangkan berita itu.
Sementara di tempat lain ...
Sudah lebih dari satu minggu ini Tiara terus mendengar berita tentang kecelakaan Lexa. Dia juga mendengar bahwa Lexa kehilangan calon anaknya. Tatapan matanya kosong, menerawang jauh. Dia memikirkan banyak hal. Dia ingin bisa segera bebas dari penjara, membesarkan anaknya.
Dia yang dipenjara, tapi anaknya terlahir dengan sehat, sedangkan Lexa yang bebas di luar sana, tapi harus kehilangan anaknya. Takdir memang lucu, pikirnya.
☆☆☆
"Beb, jangan sedih terus ya. Gimana kalau kita lanjutin perjalanan kita dengan kapal pesiar? Siapa tahu saja nanti kita bisa dapat dedek baru. Oh ... atau aku beliin kamu kereta api, kamu mau berapa gerbong? Nanti aku nyanyiin lagu yang dulu suka dinyanyiin Soimah, judulnya apa ya, Yang? Kereta malam atau apa tuh? Tuk kitak kituk kitak kituk ... durut durut ... kereta berangkat ... tuk kitak kituk kitak kituk ... hatiku gembira ... "
Aron menunduk menahan tawa, sedangkan mommy menggelengkan kepalanya.
"Nanti kita ajak Davdav dan yang lain deh, enggak kita tinggalin lagi kaya dulu. Kasihan mereka enggak pernah liburan yang menyenangkan ala raja ratu kaya kita."
Lexa mendongakkan kepalanya menatap Zion.
Pletak ...
"Awww ... "
Itu bukan Lexa yang menyentil Zion, tapi Davdav.
"Sombong!"
"Biarin! Sirik saja, kau!"
"Heleh ... dulu pulang dari liburan juga mewek mulu tiap hari."
"Iya bener banget tuh, tiap hari dengerin lagu galauuuu mulu," sambung Aron.
Zion mendelik tajam pada Aron.
"Hidup segan mati tak hendak."
"Susah makan susah tidur."
"Lexa .... kenapa kamu tinggalin akuuu ... hidupku hampa tanpamu ... hiks hiks hiks ... "
"Beb ... Yang ... aku kangen kamuuu ... "
Zion terus saja dibully oleh David cs, bahkan Aron, sahabat enggak ada akhlaknya itu ikut-ikutan.
"Sirik mulu," ucap Zion.
"Dih, ngapain kita sirik sama kamu."
"Soalnya delapan dari sepuluh pria diantara kita jombloooo ... enggak pernah ngerasain rasanya dikekepin sama istri. Ck ck ck ... CEO kok ngenes!" balas Zion.
Kenzo, Hannie, Kartika dan para orang tua terbahak-bahak.
"Mendingan aku dong, walaupun hanya jadi asisten tapi yang duluan laku," kali ini Kenzo ikut mengeluarkan pendapat.
"Betul betul betul ... mendingan kita tukaran, Kenzo jadi asisten aku, terus Aron jadi asisten Davdav. Biar mereka bisa saling curhat, dan kita berbagi pengalaman. Aku jadi penasaran, mereka kalau curhat kaya gimana. Hahaha dua ngenes berbagi galau."
"Woi mulut ya, tolong diperhatikan!" Aron mendengus kesel.
"Ngiri kan sama aku. Mau tidur, melihat bidadari dulu. Bangun tidur, langsung melihat bidadari lagi."
"Bidadari jembatan Ancol?"
"Eh eh ehhh ... jangan mencela Lexaku yang cantiknya aduhai ini, ya!"
"Baik Yang Mulia!" ucap mereka kompak, bukan karena takut sama Zion, tapi takut Lexa ngambek.
Sedangkan Lexa sedari tadi sudah tidur dalam pelukan Zion tanpa mereka sadari.
"Itu kasihan banget Lexa tidur di situ."
"Bukan tidur kali tuh, tapi pingsan!"
"Enak aja, Bebeb aku tidur tahu, aku kan selalu bisa memberikan kehangatan untuknya."
"Tapi juga bau."
Soalnya posisi kepala Lexa yang memang ada di ketiak Zion. Benar-benar mengerikan.
"Enak saja, coba nih kalian cium satu-satu!"
"Wangi tau, buktinya Lexa betah."
"Sudah dibilangin, Lexa tuh pingsan, bukan tidur. Coba sini aku periksa," Yosuke mendekati Lexa dan Zion.
"Nooo ... jangan ... jangan sentuh aku!" teriak Zion.
"Somplak!"
"Kar, cepat lamar Yosuke, nanti keburu karatan dia."
Wajah Kartika merona merah karena perkataan Zion.
"Nih orang songong banget, sih."
"Biarin songong, yang penting tetap keren dan sudah laku."
David langsung memisahkan Zion dan Lexa, membaringkan Lexa di sofa tanpa persiapan apa-apa dari Zion.
Lalu ... hup ...
Para pria jomblo itu langsung mengeroyok Zion tanpa ampun.
"Aduh rambutku, untung aku pakai sampo yang ... "
Kenzi langsung membekap mulut Zion sebelum iklan sampo muncul lagi. Hannie dan Kartika tertawa terpingkal-pingkal dan tidak lupa merekamnya untuk ditunjukkan pada Lexa nanti. Sedangkan Kenzo hanya diam menyaksikan bersama para orang tua sambil ikut menyemangati, entah siapa yang disemangati juga tidak jelas.
"Woooiii ... aku masih normal, mau kalian CEO juga aku enggak tertarik!"
Zion langsung membuka bajunya, membenamkan satu persatu para pria itu ke ketiaknya.
"Astaga ... "
"Uhuk ... uhuk ... "
"Anjrittt ... "
Penampilan mereka sudah tidak karuan, terutama Zion.
"Bikin formasi woyyy, masa delapan orang kalah lawan satu orang."
"Aku pakai kekuatan bulan (Sailor Moon)."
"Aku pakai expeliarmus (Harry Potter)."
"Ikutan deh, aku pakai wingardium leviosa (Harry Potter)
"Jangan ada yang pakai adava kadavra (Harry Potter) itu kutukan terlarang."
"Aku pakai kamehameha (Daragon Ball)."
"Aku pakai kekuatan cinta." Yosuke langsung mendapat toyoran dari tujuh orang.
Lexa menahan tawanya, sebenarnya dia sudah bangun sejak tadi David memindahkannya ke sofa. Para pelayan yang melihat juga menahan tawa agar tidak dianggap tidak sopan.
"Siap semua ... "
"Serang!"
Ada yang memegang tangan dan kaki Zion, ada yang mengacak-ngacak rambutnya, ada juga yang menggelitiki perutnya yang tidak berbaju itu, ada juga yang menggelitiki telapak kakinya.
Zion menghentak-hentakkan badanya, berteriak dan menahan geli.
"Wooiii ada yang kurang ... ini enggak ada yang mau gelitiki ketiak aku?"
"Dasar, gesrek!"
"Om, tante, ini anak menantunya enaknya diapain?"
"Terserah kalian saja deh, yang penting kami terhibur."
Benar-benar tidak ada yang berniat menolong Zion.
"Buang aja ke hutan Amazone."
"Tenggelemin ke segitiga bermuda."
"Ambil saja ponselnya, disitu banyak koleksi foto dan video," Aron menyarankan.
"Hah? Foto dan video mesum?"
"Bukan, tapi foto dan video Lexa."
"Dasar asisten pengkhianat, aku pecat kamu jadi sistenku!"
"Biarin, sebentar lagi kan aku jadi CEO di perusahaan Lexa. Weee ... "
"Ambil woyyy ponselnya!"
"Bebeb ... bangun dong, aku dibully!"
Benar, kapan lagi mereka bisa membully Zion seperti ini.
Lexa meneteskan air matanya, akibat menahan tawa sejak tadi.