ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
53 TAMAN



Lexa duduk di ayunan yang ada di taman bunga. Tidak jauh darinya ada air terjun. Dia sangat menyukai tempat ini. Rasanya dia tidak ingin pergi kemana-mana. Entah sudah berapa lama dia berada di taman itu, dia juga tidak tahu. Tempat ini sangat indah, tapi begitu sunyi. Entah kemana orang-orang. Hanya dia saja yang ada di taman ini.


Ada perasaan rindu. Tapi entah apa atau siapa yang dia rindukan.


Ada perasaan takut. Tapi entah apa atau siapa yang dia takutkan.


Ada perasaan marah. Tapi entah karena apa atau pada siapa dia marah.


“Lexa!”


Entah suara siapa yang memanggilnya.


“Aku merindukanmu!”


Siapa orang itu?


“Kamu adalah impianku sejak dulu!”


Lexa terus menengok kiri kanan tapi dia tidak menemukan seseorang. Dia seperti mengenal suara itu. Tapi siapa?


“Apa kamu tidak kesepian disini?”


Lexa hanya diam saja.


Aku tidak kesepian. Aku bahagia berada di tempat ini.


“Ayo pulang!”


Pulang kemana? Ini adalah tempatku. Aku tidak ingin kemana-mana. Pergi kamu! Jangan ganggu aku! Aku akan terus berada disini.


Suara itu terus menemani kesendirian Lexa namun perempuan itu tidak pernah mempedulikannya.


☆☆☆


Tiara merasa tidak enak badan sejak beberapa hari ini. Dia demam dan merasa kelelahan. Terdapat ruam pada kulitnya. Berat badannya juga menurun. Dia berpikir mungkin karena kehamilannya dan dia tidak ingin terlalu memikirkannya. Sebelumnya dia juga pernah seperti ini. Hanya saja dulu tidak ada ruam dan berat badannya tidak turun seperti ini.


Dia memang sering sakit tenggorokan, batuk kering dan sakit kepala. Mungkin karena aktifitasnya sebagai seorang model yang memiliki banyak job.


Ditambah sekarang dia sedang hamil.


Dia melihat ke sekelilingnya yang dijaga oleh bodyguard.


Bisa-bisanya aku terkurung seperti ini!


Dia berusaha untuk keluar dari rumah itu tapi tentu saja tidak mudah. Dia ingin menghubungi managernya tapi juga tidak bisa. Dia merebahkan kembali badannya di atas kasur, semakin hari kondisinya semakin tidak baik.


☆☆☆


“Lexa!”


“Aku merindukanmu!”


“Kamu adalah impianku sejak dulu!”


“Apa kamu tidak kesepian di sini?”


“Ayo pulang!”


Selalu kata-kata yang sama yang Lexa dengar.


“Maafkan aku!”


“Aku akan selalu bersamamu!”


“Aku merindukanmu!”


“Aku menyayangimu!”


Siapa sih, yang bicara itu?


Seperti hantu saja!


“Sampai kapan kamu mau di sini?”


“Apa kamu tidak bosan?”


Sebenarnya ada perasaan hampa pada diri Lexa. Tapi tetap saja, dia ingin selalu berada di tempat ini.


☆☆☆


Menunggu seseorang untuk kembali pulang.


Dia ada di depan mata, tapi terasa sangat jauh.


Dia dapat disentuh, tapi tak merasakan apa-apa.


Dia seperti manekin yang bernafas.


Apakah ini yang dia inginkan?


Zion dan David duduk di sisi yang berbeda. Pikiran mereka tertuju pada hal yang sama. Lexa!


Sudah satu bulan lebih Lexa koma.


Membuat mereka semua semakin putus asa tapi tak ingin berhenti berharap dan menyerah.


☆☆☆


Kenapa aku menangis?


Lexa semakin tidak mengerti apa yang dia rasakan dan apa yang terjadi.


Apa ada yang tidak menyukai aku terus berada di sini? Kenapa aku selalu disuruh untuk pulang?


Lexa kembali melanjutkan langkahnya. Semakin jauh, menuju tempat yang lebih indah dan menyenangkan.


Seberapa banyak pun dia melangkah, dia tidak pernah merasa lelah. Tidak lapar juga tidak haus. Banyak bunga yang dapat dia hirup aromanya. Banyak buah yang dapat dia petik dan makan jika dia ingin. Air terjun yang segar dan dapat dia minum jika mau. Bagaimana mungkin dia tidak menyukai tempat ini?


Dia tidak butuh orang lain menemaninya di sini. Baginya, sendiri itu lebih baik. Dia tidak merasa kepanasan ataupun kedinginan. Ini adalah tempat terbaik yang pernah dia datangi seumur hidupnya.


Lexa melihat banyak mainan yang sepertinya dia kenal. Boneka dengan berbagai ukuran dan model, mainan masak-masakan, juga permainan lainnya.


Sepertinya ini tempat bermain anak-anak.


Lexa duduk di salah satu ayunan.


“Salahkah aku jika mengharapkanmu kembali


Perjalanan kita masih panjang, lalu kenapa kamu menyerah?


Kamu boleh marah!


Tapi jangan seperti ini!


Kita bisa melihat dunia yang lebih indah bersama.


Kalau kamu memang ingin pergi, kenapa tidak mengajakku?


Aku ingin selalu bersamamu!


Merindukanmu seperti ini membuatku tersiksa.


Kembalilah!


Akan aku berikan kebahagiaan yang belum pernah kamu dapatkan!”


Lexa termenung, meresapi kata-kata yang dia dengar meskipun tidak tahu siapa yang mengatakannya.


☆☆☆


Tiara muntah-muntah, dia juga diare. Tubuhnya semakin lemah dan tidak nafsu makan. Dia mengelap keringat yang membasahi keningnya.


Dia memikirkan banyak hal. Dia ingin keluar dari tempat ini.


Tiara merasa seperti seorang tahanan tapi dia tahu ini belum berakhir.


Perjalanannya masih panjang. Ada yang harus dia pertahankan dan dia tidak akan menyerah. Wanita itu mengusap perutnya. Dia tidak akan membiarkan anaknya menderita seperti yang dia rasakan sejak kecil.


Tidak mudah menjadikan dirinya seperti sekarang ini. Banyak hal yang harus dia korbankan. Hinaan dan segala perlakuan buruk yang dia dapatkan dia pendam seorang diri. Dia tetap berjuang. Selangkah demi selangkah.


Dia tersenyum miris.


☆☆☆


Hannie mengelap tangan dan kaki Lexa.


“Cepat bangun, Lexa. Kamu kan belum menyiapkan nama untuk anak aku. Kalau kamu tidak bangun juga, nanti aku sendiri loh yang akan memberikannya nama. Kalau dia perempuan, akan aku beri nama Alexa, sama seperti dirimu. Agar dia menjadi anak yang baik seperti dirimu. Kalau dia laki-laki, aku akan memberikannya nama Alexio. Ayolah bangun! Memangnya kamu tidak pegal terbaring seperti ini terus menerus?”


☆☆☆


“Lexa! Ini aku Yosuke. Apa kamu mendengarku? Kami semua yang ada di sini sangat mencemaskan dan merindukan kamu. Cepat sadar, setelah itu kita bisa kembali ke Jepang. Bukankah kamu sangat merindukan Jepang? Kami juga aku akan menemani kamu ke Jepang. Kamu ingat kalau kita dulu berencana jalan-jalan ke Swiss? Ayo kita liburan ke Swiss. Jangan menjadi putri tidur lagi!”


Ahli agama juga didatangkan untuk mendoakan Lexa. Santunan untuk anak yatim piatu, fasilitas sosial dan fakir miskin terus mengalir.


Banyak berita yang simpang siur mengenai keadaan Lexa. Keluarga menutupi berita yang sebenarnya. Tidak ingin keadaan Lexa menjadi perbincangan publik.


Setiap hari mereka mengajak Lexa berbicara namun tidak pernah ada respon dari perempuan itu.


“Lexa, ayo kita nonton film hantu lagi!”


Hannie menoel-noel pipi Lexa. Terkadang dia juga menggelitik Lexa, berharap Lexa akan langsung bangun karena Lexa sangat kesal kalau digelitiki.


“Hai Lexa! Cepat bangun! Kamu tidak ingin membalas Zion? Kamu tidak merindukan masakan David?” Hannie berkata dengan keras karena frustasi.


Zion?


David?


Lexa merasakan ada yang bergemuruh di hatinya. Dua nama itu tiba-tiba saja hadir dalam hati dan pikirannya begitu saja.


Zion?


David?


.


.


.


.


Siap-siap untuk chapter selanjutnya ya. Malam ini aku up 3 sekaligus.