
Cinta itu membingungkan. Ada kalanya ingin bersikap egois.
Hati ingin memiliki, mempertahankan dia di sisi kita. Entah apa akan bahagia atau tidak. Yang jelas, tidak ingin melepaskan.
Tapi pikiran berkata lain. Asal dia bahagia, maka aku akan bahagia. Pikiran yang sok bijak, sok berjiwa besar, tapi merasakan sakit saat membayangkan orang yang kita cintai bersama dengan orang lain. Terlihat munafik dan bodoh.
Mengikuti pikiran atau mengikuti hati, iti adalah sebuah pilihan.
Cinta dapat tumbuh, mekar, layu ataupun mati. Seperti sebuah tanaman yang akan subur bila di rawat dengan baik, disiram, dipupuk dan singkirkan segala hama yang mengganggu.
Bagi Zion, Tiara dan David juga pria-pria yang menyukai Lexa dan wanita-wanita yang menyukai dirinya adalah hama pengganggu. Dia tidak ingin ada pelakor ataupun pebinor dalam rumah tangganya. Dia belum merasakan manisnya berumah tangga namun selalu dipenuhi oleh masalah-masalah akibat salah paham.
Bisakah Zion merelakan Lexa saat gadis itu ingin melepaskan diri darinya?
Pagi siang sore malam, setiap harinya, dia akan selalu berdoa agar Lexa menjadi jodohnya dunia dan akhirat. Menjadi bidadari surga untuknya.
Akankah Zion bersikap egois untuk mempertahankan pernikahannya?
Sebuah kontrak pernikahan yang dia setujui agar gadis itu bersedia menikah dengannya. Kontrak yang awalnya dia jadikan alat selagi dia berusaha membuat Lexa jatuh cinta padanya.
Lalu sekarang ...
Kontrak itu membuat dia cemas.
Lexa belum tahu apa-apa soal pernikahan mereka. Tidak ada yang memberitahukan masalah pernikahan ini pada Lexa dengan alasan kondisi psikis Lexa yang tidak memungkinkan.
Bagaimana mungkin memberitahukan Lexa yang pikirannya merupakan pikiran anak SD harus menerima kenyataan kalau dia telah menikah. Semuanya harus dilakukan secara perlahan.
☆☆☆
Lexa masih sering merasakan sakit kepala. Terkadang dia juga sering bermimpi yang aneh-aneh. Dia tidak pernah menceritakan hal ini pada siapapun karena dia tahu pasti orang-orang di sekitarnya akan langsung bersikap berlebihan.
☆☆☆
Tiara menggigil dalam selnya. Malam yang telah larut membuat suasana semakin sepi. Kadang dia merasa ketakutan. Ada kegelisahan lain dalam dirinya yang dia sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Kadang dia seperti berhalusinasi.
Ingatan akan anak perempuan yang sering dibully selalu hadir dalam mimpinya. Anak kecil yang terkadang menginginkan es krim tapi hanya mampu membeli es mambo, itupun sangat jarang.
Anak kecil yang selalu membayangkan bagaimana nikmatnya makan burger dan berbagai jenis makanan lainnya yang sering muncul di iklan-iklan.
Dia tidak pernah tahu bagaimana senangnya berlibur ke tempat-tempat wisata atau masuk ke dalam mall yang paling kecil sekalipun.
Dia tidak pernah memiliki mainan yang bagus, pakaian baru atau sepatu dan tas yang bermerek.
Lalu semuanya berubah ... sejak dia mengenal gadis kecil yang seumuran dengannya.
Namanya Alexa Elora William ...
Gadis kecil yang membuat Tiara langsung merasa iri.
Semua yang Tiara inginkan ada pada gadis itu. Mengapa? Mengapa bukan dia?
Semua yang Tiara inginkan bisa dia rasakan sejak mengenal Lexa.
Makan makanan yang enak-enak.
Memiliki baju, tas, sepatu baru dan bermerek.
Mainan yang bagus-bagus.
Naik mobil mewah.
Mengenal orang-orang dari kelas sosial yang tinggi.
Semua itu dari Lexa!
Dan dia tidak dapat menyangkal semua itu.
Rasa iri menggerogoti hatinya. Pikirannya penuh dengan rencana-rencana licik. Ingin seperti Lexa tapi tetap saja tidak bisa, karena dia bukanlah Lexa. Mereka lahir di keluarga yang berbeda dengan sifat dan nasib yang berbeda.
Tiara benci akan ingatan-ingatan itu. Dia menggigit bibirnya, menahan rasa dingin dengan meringkuk seperti kucing. Ruangan sel yang gelap menambah suram suasana yang ada. Wanita hamil yang meringkuk dalam penjara.
Tidak ada yang mempedulikannya.
Lexa!
Nama itu hanya dia ucapkan dalam hati, kini air mata membasahi pipinya. Perlahan dia mulai memejamkan matanya. Memulai lagi mimpi-mimpi akan persahabatannya dengan seseorang yang selalu dia ingat setiap harinya.
Bukan siksaan fisik ataupun hukuman dengan membersihkan semua ruangan. Namun semua kenangan itu, inilah siksaan yang nyata untuknya.
Untuk sebagian orang, tidak ada yang lebih menyakitkan selain siksaan hati. Mungkinkah perasaan bersalah mulai dirasakan oleh Tiara?
Tiara tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Sebelumnya dia tidak pernah seperti ini. Dia tidak menyesali apa yang telah dia lakukan pada Lexa. Justru dia merasa semua itu belum cukup.
Mungkinkah dia mulai depresi dengan keadaannya. Terkadang dia memimpikan ibu dan kakeknya. Wajah mereka memang tidak terlihat jelas tapi Tiara tahu ada gurat kesedihan dan kekecewaan yang mendalam. Mungkin karena Tiara telah membuat mereka malu. Memberikan aib untuk mereka, terutama bagi sang kakek yang sudah menerima banyak bantuan dari majikannya dulu. Keluarga William yang membiayai pengobatan sang sopir pribadi nyonya besar. Dengan tidak tahu dirinya sang cucu justru menyakiti nona besar William.
Air susu dibalas dengan air tuba.
Mungkin kini ibu dan kakeknya tidak tenang di alam sana. Jangankan mengunjungi makam mereka sejak mereka meninggal, untuk mendoakan mereka saja, sepertinya tidak pernah.
Wajah Tiara yang dulu putih mulus dan bersih kini terlihat kusam dan tidak terawat. Dia menghancurkan hidupnya sendiri. Merusak masa depan yang sudah dia susun dengan apik.
Jangankan menikah dengan orang kaya dan terhormat, justru sekarang dia terkurung dengan status yang akan membuat orang berpikir berkali-kali untuk memandang hormat dirinya.
Dia bukan hanya melakukan tindakan kriminal, tetapi dia juga seorang pengkhianat. Siapa yang akan mempercayai seorang pengkhianat? Sekalipun dia bebas, orang-orang akan menaruh curiga padanya, apakah dia dapat dipercaya atau tidak.
Kalau saja dia tidak iri hati, bisa mensyukuri apa yang dia miliki, pasti hidupnya akan jauh lebih baik dari sekarang.
Dia tetap memiliki sahabat yang baik.
Dia juga pasti akan menjadi model international yang terkenal karena Lexa pasti tidak akan segan untuk membantunya dengan suka cita. Membantu Tiara mewujudkan cita-citanya dengan doa dan dukungan.
Mungkin juga dia akan memiliki kekasih, yang bisa menerima dia apa adanya, tanpa memandang status sosial lalu menikah dan punya anak seperti Hannie, meski pria itu bukan Zion.
Memang tidak ada kata terlambat untuk bertaubat. Tapi sudah terlambat untuk menghentikan semuanya. Semuanya sudah terjadi. Kini keluarga William dan Keluarga Wilson juga sahabat-sahabat Lexa membencinya. Mungkin tidak ada kata maaf untuknya. Apakah dia pikir dia pantas untuk dimaafkan. Jika dia yang disakiti seperti itu, apakah Tiara bisa memaafkan orang itu? Tentu saja Tiara tidak akan memaafkannya. Justru dia akan membalasnya. Jadi kenapa dia berpikir kalau dia juga akan dimaafkan?
Air mata Tiara lagi-lagi keluar meski dia sedang tidur. Mulutnya tidak berhenti bergumam, menyebutkan satu nama. Nama yang sangat berarti dalam hidupnya.
Lexa ...