ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
79 MENCOBA MENGINGAT



Layaknya seorang gadis kecil yang sering membaca, mendengar atau menonton cerita dongeng, begitu juga dengan Lexa saat dirinya masih kecil dulu. Dia juga menyukai cerita tersebut. Seorang pangeran yang akan selalu menjaga sang putri dari nenek sihir atau peri jahat.


Namun hanya ada satu pangeran untuk sang putri. Begitu juga dengan Lexa, hanya akan ada satu pria yang akan menjadi masa depannya kelak. Lexa bukannya serakah atau egois. Dia juga tidak mengerti akan dirinya. Di satu sisi dia merasa nyaman dengan Zion, di lain waktu dia merasa tenang dengan David.


Hati dan logika terkadang tak sejalan. Dari segi psikis keadaan Lexa kini mulai memasuki pasa puber, sesuatu yang tak dapat dihindari meskipun ingatannya belum pulih.


Sang bunda hanya merasa cemas dengan keadaan anaknya saat ini. Sebagai ibu, tentu dialah yang paling mengerti tentang keadaan anaknya itu meskipun Lexa tidak menceritakan apa-apa.


Bisa saja saat ini Lexa memilih Zion atau David. Tapi bagaimana nanti kalau dia sudah memilih lalu ingatannya kembali? Syukur-syukur kalau itu tidak mengubah apapun. Tapi kalau ternyata dia salah mengambil keputusan bagaimana? Pasti akan ada hati yang tersakiti.


Kedua orang tua Lexa juga tidak pernah benar-benar tahu bagaimana hubungan Lexa dan David saat di Jepang dulu. Apakah berpacaran atau hanya sebatas sahabat saja.


Terkadang Lexa membayangkan hidupnya tanpa David, lalu dia langsung menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin kehilangan David.


Saat Lexa membayangkan hidupnya tanpa Zion, dia juga menggelengkan kepalanya. Apa jadinya hidupnya tanpa Zion?


Kenapa mereka berdua harus menjadi orang yang sangat berarti dalam hidupku? Membuatku sulit saja! Kenapa sih aku ini? Kenapa aku jadi serakah seperti ini?


Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya. Aku yakin jodoh tak pernah salah. Aku hanya berharap hubunganku dengan Zion dan David akan selalu baik-baik saja.


☆☆☆


"Kamu tidak ingin mencari pasangan?" tanya Hannie pada David.


"Buat apa?"


"Kok buat apa? Ya untuk menjadi pendamping hidup kamu, lah!"


"Aku masih menunggu Lexa!"


"Maksudnya?"


"Aku ingin melihat Lexa bahagia."


"Kenapa harus seperti ini, ya?"


"Ini sudah takdir."


"Aku ingin melihat kalian bahagia."


"Dia baik-baik saja."


Hannie memandang wajah David. Jujur saja, dia sangat ingin kalau Lexa dan David bersama. Dengan begitu dia dan Lexa bisa menjadi saudara. Tapi ada Zion yang saat ini statusnya masih suami Lexa yang entah sampai kapan.


Terkadang Hannie merasa sedih kalau ternyata Lexa tetap bersama Zion. Bukannya Hannie egois, tentu saja dia lebih ingin jika sahabat dan kakaknya itu bersama selamanya. Menikah dan punya anak.


Hannie menghela nafas berat. Kalau saja Zion dan Lexa sudah bersama sejak bertahun-tahun yang lalu, mungkin saja keinginannya tidak sebesar ini. Kedekatan David dan Lexa sejak kecil, ditambah kedekatan mereka selama enam tahun belakangan, semakin menambah keinginan Hannie akan kebersamaan mereka.


Bukan hanya Hannie, hal itu juga diharapkan oleh Kenzo, Kenzi, Yosuke, Ryu, Andre, Malvin dan Samuel. Banyak doa yang mereka berikan untuk David dan Lexa.


Sampai saat ini pernikahan Lexa dan Zion pun hanya sebatas status. Kadangkala Zion ingin nekat mengatakan status antara dirinya dan Lexa. Dia tidak ingin Lexa direbut oleh pria lain.


Zion tak pernah menyangka kalau perjalanan cintanya dengan Lexa akan serumit ini. Dulu hubungannya dengan Lexa sedikit menjauh karena Tiara, perjodohan yang membuat Lexa semakin membenci Zion, pernikahan yang dipenuhi dengan sandiwara agar Lexa bisa terbebas dari Zion, lalu sekarang istrinya itu hilang ingatan bahkan yang dia ingat hanya masa kecil mereka hingga SD saja.


Masa-masa dimana hati Lexa pada Zion masih murni sebagai sahabat. Mungkin Lexa benar-benar ingin melupakan cintanya pada Zion dan itu membuat Zion frustasi. Dia tidak rela Lexa melupakan cintanya apalagi karena kesalah pahaman.


☆☆☆


Lexa memegangi kepalanya yang berdenyut-denyut. Sejak pulang dari Sidney, dia sering merasa sakit kepala. Mungkin karena kelelahan. Dia memmabringkan kepalanya di atas kasur yang penuh dengan boneka. Dia hanya ingat beberapa boneka. Mungkin saja boneka-boneka yang dia tidak ingat itu pemberian dari Zion dan David. Ada boneka panda dengan berbagai ukuran, boneka beruang juga boneka badak.


Setiap kali Lexa berusaha untuk mengingat masa lalunya, maka kepalanya akan terasa sangat sakit hingga dia muntah-muntah. Itukah kenapa dokter mengatakan agar dia atau orang lain tidak memaksa untuk mengingatkan Lexa akan ingatan-ingatan tersebut.


Namun Lexa adalah gadis yang cerdas. Dia tahu kalau banyak hal yang ditutup-tutupi darinya. Setiap kali Lexa bertanya tentang Tiara, suasana langsung berubah suram. Dia juga pernah bertanya kenapa dia kuliah di Jepang sedangkan Zion di London. Bagi Lexa itu adalah hal yang aneh. Selama ini dia dan Zion tidak pernah terpisah jauh apalagi dalam jangka waktu yang lama. Liburan sekolah saja Zion pasti akan mengajak Lexa, seperti ke London.


Terkadang Lexa ingin membiarkan saja ingatan itu tak kembali. Toh hidupnya juga baik-baik saja, kan. Masih ada keluarga dan sahabat-sahabatnya di sisinya. Namun ada bagian lain dalam dirinya ingin mengetahui semua itu.


Dia juga sering mendengar kata-kata suami anda atau momongan dari partner bisnis yang dia temui. Apa maksudnya, coba? Setiap kali dia bertanya pada sekretaris dan asisten pribadinya, maka jawaban mereka sama, mungkin maksudnya agar anda segera menikah dan memiliki anak. Tentu saja sekretaris dan asisten pribadinya sudah diberikan peringatan terlebih dahulu agar tidak mengatakan apapun pada Lexa, agar gadis itu tidak syok apalagi sampai memaksakan diri untuk mengingat semuanya. Tapi mau sampai kapan? Keluarga William dan Willson juga menginginkan cucu, kan? Apalagi Zion sebagai suami memiliki hak atas Lexa. Kalaupun mereka berpisah saat ingatan Lexa belum kembali, diperlukan tanda tangan dari gadis itu. Lexa bukanlah gadis bodoh yang akan memberikan tanda tangannya tanpa membaca dulu dengan teliti apa yang ditulis di kertas itu.


Lexa masih memijit-mijit keningnya. Mengolesinya dengan minyak untuk meredakan sakit kepala dan rasa mualnya. Dia melihat Leon dan Zioxa, boneka saat dia balita dulu yang masih ada hingga saat ini.


"Hei, kalian tahu tidak apa yang terjadi denfan diriku? Kenapa aku melupakan banyak hal? Kalau kalian tahu, cepat kasih tahu aku!" ucap Lexa pada kedua boneka itu.


"Aku harus mencari tahu kemana kebenarannya? Hmmm ... menurut kalian, apakah itu hal yang sangat penting? Kalau sangat penting, kenapa mereka tidak ada yang menceritakannya padaku?"


Mata Lexa kembali menjelajahi isi ruangan kamarnya dan kembali berpikir.