ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
55 KISAH ZION DAN TIARA



“Aku tuh tidak ada hubungan apa-apa dengan wanita ini, Mom!”


Zion berdecak kesal. Semua pandangan mata terarah padanya seolah menghakiminya.


“Tiara! Jelaskan sekarang juga apa yang sebenarnya terjadi sejak bertahun-tahun yang lalu. Jangan sampai ada yang terlewat sedikit pun. Kalau kamu tetap diam atau berbohong, jangan salahkan aku jika aku membuka aibmu pada dunia dan menghancurkanmu sampai ke akar-akarnya! Sedangkan anakmu akan lebih menderita dari pada dirimu sendiri.”


Tiara tetap diam. Dia memandang Zion yang dipenuhi oleh amarah. Mata Zion memancarkan kebencian dan ketegasan.


Dia tahu ancaman Zion tidak pernah main-main.


Tiara menghela nafasnya. Dia menahan tangisnya dan mulai bercerita.


FLASH BACK ON


Zion sedang bermain futsal bersama teman-temannya. Dari kejauhan dia melihat dua orang gadis yang baru saja tiba. Zion berdecak kesal melihat salah satu dari gadis itu.


Dia lagi, dia lagi. Bosan aku melihatnya!


Lexa dan Tiara duduk di bangku penonton.


“Zion ayoooo kamu bisa!”


“Aron ayoooo kamu juga bisa!”


“Tony, Sandy, Daniel ... “ Lexa terus meneriaki semua teman-teman yang menjadi tim Zion.


Zion memberengut kesal.


Setelah selesai bermain yang dimenangkan oleh tim Zion, Lexa memberikannya minum. Sedangkan Tiara dari tadi diam saja.


☆☆☆


Minggu berikutnya.


Zion kembali bermain futsal. Dia melihat kedatangan Tiara seorang diri dengan membawa paper bag.


“Mana Lexa?”


“Lexa tidak bisa datang karena sedang pergi bersama David. Aku membawakan kue yang aku buat sendiri. Khusus buat kamu. Ayo makan!”


"Benar, kamu sendiri yang membuatnya? Bukan dari Lexa atau membelinya?"


"Tentu saja!"


Zion mengambil paper bag itu dan langsung membuangnya ke tempat sampah.


“Kenapa kamu buang? Aku sudah membuatnya dengan sungguh-sungguh untuk kamu.”


“Aku tidak minta. Jangan ganggu aku terus. Kamu itu seperti ulat bulu.”


“Ulat bulu?”


“Iya. Mengganggu dan sangat menyebalkan. Bikin gatel. Dulu saat aku dan Lexa liburan ke London dia pernah mengumpulkan ulat bulu dan aku membuangnya. Kamu itu kecentilan. Jangan lagi menelepon dan mengirimi aku pesan. Aku tidak suka. Dan bisa tidak, kamu tidak usah lagi terus mengikuti Lexa saat dia bertemu denganku? Itu sangat mengganggu!”


“Tapi ... “


“Sudah sana pergi! Lexa juga tidak ada di sini.”


Tiara pergi dengan tangan terkepal. Dia menangis dalam diam tapi juga menahan senyum karena Zion membuang kue yang sudah dibuat oleh Lexa ke tempat sampah tanpa memakannya sedikitpun dan Lexa melihatnya.


Rasakan itu, Lexa!


Selama ini Tiara memang sering mengirim chat dan menelepon Zion tapi tidak pernah dipedulikan oleh Zion. Dia juga sering menemui Zion tanpa sepengetahuan Lexa.


“Parah kamu Zion, kue buatan orang kamu buang begitu saja!” ucap Aron diangguki oleh teman-temannya yang lain.


“Ck, suruh siapa. Coba kalau Lexa yang buat. Aku akan habiskan semua. Tidak enak juga pasti aku bilang enak!”


Aron tertawa.


Zion langsung memberengut kesal saat teringat perkataan Tiara kalau Lexa sedang pergi dengan David.


Lexa memang sering bercerita tentang Hannie dan David padanya tapi tidak pernah mengatakan kalau mereka bersaudara.


☆☆☆


[Zion, aku sudah belajar membuat steak. Aku menitipkannya pada Lexa. Tolong jangan dibuang lagi. Semoga kamu suka dengan steak buatan aku. Maaf aku tidak bisa memberikannya langsung padamu.]


Sekitar dua puluh menit kemudian Lexa datang dan memberikan paper bag yang berisi steak padanya.


“Aku tidak suka pada orang yang membuatnya. Kenapa masih bertanya?”


Zion berkata dengan ketus. Dia melihat Lexa yang terlihat sedih.


Kenapa bukan kamu yang membuatnya untukku, Lexa? Malah si ulat bulu yang menyebalkan itu.


☆☆☆


Lagi-lagi Tiara datang seorang diri, membuat Zion semakin kesal saja.


“Ini ada kue coklat buatan Lexa. Dia membuatnya sendiri untuk kamu!”


“Mana Lexa?”


“Dia di rumah. Katanya malu memberikan kue ini untuk kamu, takut kamu tidak menyukainya.”


“Benar ini buatan Lexa?”


“Tentu saja. Aku melihatnya sendiri dia membuatnya di dapur. Kamu juga bisa bertanya pada pelayan kalau Lexa sendiri yang membuat kue ini tanpa dibantu oleh siapapun. Ayo dicoba dulu biar dia tidak kecewa.”


Zion langsung menerimanya sambil tersenyum dan memakannya sampai habis tanpa membaginya pada teman-temannya.


Akhirnya Lexa membuatkan aku kue juga. Tapi kenapa rasanya tidak enak begini ya? Astaga Lexa, apa kamu ingin meracuni aku?


Tapi tetap saja Zion menghabiskan kue itu. Tanpa tahu kalau Tiaralah yang telah membuat kue itu dan sudah mencampurnya dengan obat pencahar.


Tiara pergi meninggalkan Zion dengan wajah cerah namun hati dongkol.


Sialan! Giliran aku bilang itu buatan Lexa, langsung dia habiskan begitu saja tanpa pikir panjang. Tapi biarlah, setelah ini dia akan diare karena kue yang dia kira buatan Lexa. Dia pasti akan kesal pada Lexa.


Rasakan itu, Lexa!


“Misi berhasil!” ucap Tiara pada Lexa yang menunggu dan melihatnya dari luar.


Kamu pasti sakit hati saat Zion membuang kue buatan kamu tapi justru memakan kue buatan aku!


“Itu tadi kue buatan Lexa, Zi?” tanya Aron.


“Iya dong, makanya aku makan.”


“Gimana, enak tidak? Pelit, enggak mau bagi-bagi.”


“Itu mah spesial buat aku! Enak dong, apa sih yang tidak bisa Lexa lakukan dengan baik!” puji Zion.


Padahal kue itu rasanya tidak karuan.


Tidak lama kemudian Zion merasa tidak enak pada perutnya.


“Kenapa? Jangan-jangan keracunan makanan yang dari Lexa?”


“Sembarangan. Mana mungkin Lexa meracuni aku. Belum nikah masa sudah jadi janda!”


Teman-temannya langsung tertawa mendengar perkataan Zion.


Mereka juga mengenal Lexa karena gadis itu sering menemani Zion bermain futsal dan pergi bersama Zion.


Kalau Lexa menyemangati teman-teman Zion, pasti Zion akan kesal. Seharusnya kan, hanya dia yang disemangati.


Akhirnya selama tiga hari Zion tidak masuk sekolah. Dia juga tidak mengatakan apa-apa pada Lexa agar gadis itu tidak merasa bersalah karena telah memberikan kue yang menyebabkan dia menjadi sakit.


Apalagi sejak pertama kali Tiara memberikan kue yang dia buang ke tempat sampah itu, komunikasi antara dia dan Lexa berkurang. Entah apa yang Tiara katakan pada Lexa. Mungkin Tiara mengadu pada Lexa kalau dia membuang kue buatan Tiara ke tempat sampah.


Meskipun Zion sakit karena kue buatan Lexa, tapi Zion tetap berharap Lexa akan membuatkan kue atau masakan yang lain lagi untuknya.


Zion memandangi fotonya bersama Lexa sejak kecil yang selalu dia simpan dalam dompetnya. Di meja belajarnya juga ada foto Lexa. Di tembok kamarnya juga begitu. Lexa yang sudah dia sukai sejak masih kecil dan sampai kapanpun.


Baginya Lexa sangat berharga, bukan hanya sebagai sahabat. Gadis yang selalu ceria dan membuatnya tersenyum dan tertawa. Gadis yang selalu menyemangatinya. Gadis yang dulu sering dia gendong, mengajaknya bermain boneka dan masak-masakan meski Zion itu seorang laki-laki.