
"Ahhh ... "
"Arrgghhh ... "
"Jangan kuat-kuat."
"Kalau pelan-pelan jadi tidak berasa."
"Cukup!"
"Masih kurang."
"Aku tidak kuat lagi."
"Tapi aku masih mau."
"Nanti kita lanjutkan lagi."
"Tidak! Aku maunya sekarang sampai puas. Cepat layani aku."
Dua orang sedang beraksi dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh. Yang satu sudah nampak kepayahan, sedangkan yang satu lagi masih penuh nafsu. Entah kapan pergulatan ini akan berakhir. Zion hanya ingin menuntaskan hasrat dan kekesalannya. Tidak peduli kalau dia sudah membuat seseorang tak berdaya, yang penting dia puas.
Hosh hosh hosh
Nafas mereka saling memburu dan akhirnya mereka terkulai lemas.
Zion mengeluarkan semua kemampuan dan tenaganya. Sedangkan Aron hanya bisa pasrah saat pukulan bertubi-tubi dilayangkan ke wajahnya. Zion melepaskan sarung tinju yang dipakainya.
"Lain kali kalau kamu sedang kesal jangan melampiaskannya padaku."
"Kalau bukan kamu lalu pada siapa lagi?"
"Ck ... lakukanlah pada Robin dan James."
"Baiklah, kalau aku sudah bosan padamu aku akan mencari mereka."
Aron melepaskan sarung tangannya dan melemparkannya ke arah Zion.
☆☆☆
Lexa masih sibuk dengan laptopnya. Dia sedang memantau saham perusahaannya yang semakin meningkat.
Tok tok tok
"Permisi Nona, Pak Zion sudah tiba."
"Baiklah, suruh dia masuk!"
Zion masuk bersama Aron. Siska menyuguhkan tiga gelas teh pada mereka.
"Tiga hari lagi kita harus ke Banjarmasin untuk melihat proses pembangunan di sana."
"Baiklah."
Pembicaraan terus berlanjut hingga jam makan siang tiba.
"Wah kebetulan ada Zion disini, ayo kita makan siang bersama."
Tiba-tiba saja Alex dan Ronald datang. Lexa mendengus kesal, yang ada dalam pikirannya yaitu mereka akan mulai membicarakan perjodohan itu lagi. Memang sejak di rumah sakit waktu itu, ayah dan bundanya belum lagi membicarakan mengenai hal itu. Tapi dia yakin kalau orang tua mereka tidak menyerah.
Tidak seperti biasanya, kali ini mereka makan di sebuah cafe khas anak muda.
"Kami tidak bisa lama-lama, masih ada pekerjaan. Zion, kamu temani Lexa makan ya."
Lexa berdecak kesal.
Akal bulus. Bilang saja kalian ingin mendekatkan aku dan pria ini.
Setelah makan, Lexa memilih untuk jalan-jalan ke mall. Saat di dalam mall, tiba-tiba saja dari belakang ada yang menarik rambut Lexa dan membuat gadis itu berteriak. Zion yang ada di samping Lexa langsung berusaha melepaskan tangan wanita yang menjambak rambut Lexa.
"Hei, apa-apaa kamu ini. Cepat lepaskan!" ucap Zion.
"Kamu yang apa-apaan? Kamu menduakan aku?"
Mungkin lebih tepatnya bukan menduakan, tapi men ... ah entahlah. Tidak dapat dihitung seberapa banyak wanita yang dia miliki. Selalu saja wanita yang berbeda-beda yang aku lihat. Batin Lexa.
"Heh cewek barbar, kalau kamu kesal padanya jangan melampiaskannya padaku."
"Tentu saja aku melampiaskannya padamu karena kamu lah penyebabnya."
Lexa memutar bola matanya.
"Ya sudah, kalau begitu tinggalkan saja dia." Lexa berkata penuh penekanan.
"Apa kamu bilang, kamu saja yang tinggalkan dia."
"Oke. Ambil tuh barang bekas!"
Lexa mengibaskan rambutnya dan berjalan cantik bak model. Orang-orang berdecak kagum melihat sikapnya.
Maksud hati ingin dipermalukan tapi lagi-lagi Lexa lah yang mempermalukan wanitanya Zion.
Selalu unggul dan tetap tangguh!
"Lexa tunggu!" teriak Zion.
"Zion kamu mau kemana?"
"Dengar, aku tidak mengenal kamu jadi menjauhlah dan jangan ganngu aku lagi. Dia itu calon istriku."
Para hadirin hanya menatap iba pada wanita barbar itu.
"Dia sih memang tidak ada apa-apanya. Cantikan juga wanita tadi."
"Iya tidak tahu malu."
"Bla bla bla ... "
"Bla bla bla ... "
"Bla bla bla ... "
"Lexa, maaf atas kejadian tadi. Aku tidak mengenal siapa wanita itu."
"Saking banyaknya wanitamu. Bukankan mereka hanya semut yang tidak perlu kamu kenal dan ingat satu persatu!"
"Jangan terus-terusan salah paham."
"Bukan urusan aku juga."
Mereka akhirnya melanjutkan acara jalan-jalan. Zion sebenarnya masih banyak pekerjaan, tapi titah sang raja tidak dapag dia abaikan.
Barang pertama yang Lexa inginkan adalah pakaian dalam wanita. Zion mengurungkan langkahnya saat menyadari kemana tujuan Lexa.
Lexa memilih berbagai warna dan model. Merah kuning hijah biru ungu orange hitam abu-abu pink putih coklat.
Zion menatap tangan Lexa yang menenteng kantong belanjaan.
Lima kantong hanya untuk dalaman. Luar biasa sekali wanita ini. Apa nanti aku harus menyiapkan budged khusus hanya untuk membelikan pakaian dalamnya jika sudah menikah dengannya?
Zion terkekeh geli dengan pikirannya sendiri.
Setelah pakaian dalam, kini Zion menemani Lexa yang sibuk memilih dress, berlanjut ke tas, sepatu, perhiasan dan pernak-pernik, minyak wangi.
Entah sudah berapa banyak paper bag yang ada di tangan mereka. Sebaiknya jangan dihitung, membuat iri orang-orang yang melihatnya. Bukan hanya karena jumlahnya tapi juga mereknya. Mata silau hati ngenes.
Memang bukan sembarang pria yang bisa menikahinya. Pria itu memang harus punya banyak kelebihan terutama di rekening, seperti diriku.
Zion semakin terkekeh geli dengan pikirannya yang berimajinasi narsis.
☆☆☆
"Lexa belum pulang?"
"Belum."
"Semoga saja Lexa dan Zion bisa lebih dekat, jadi mereka bisa bersama. Kalau bisa langsung menikah saja, tidak perlu bertunangan."
"Benar, Yah. Bunda juga setuju."
Sementara itu di rumah Zion.
"Zion sudah pulang?"
"Belum."
"Baguslah, sepertinya dia masih bersama Lexa. Aku akan melakukan banyak cara agar Zion bisa menikah dengan Lexa. Hanya Lexa yang pantas menjadi menantu kita."
"Iya, kamu benar. Aku tidak ingin kehilangan menantu sempurna seperti dia."
Mereka tertawa. Ambisi untuk menjadi Lexa menantu mereka nampaknya semakin besar.
Sementara itu di mall, Lexa sepertinya belum puas shopping.
Dia sama sekali tidak memintaku membelikannya sesuatu. Sok jual mahal. Giliran nanti jadi istri, aku pasti diporoti. Tapi bagus juga sih, lebih baik diporoti sebagai istri dari pada diporoti tanpa status.
Zion dari tadi mau menemani Lexa shopping sebenarnya karena penasaran. Dia penasaran apakah Lexa akan meminta sesuatu padanya. Ternyata nihil.
Ayo dong minta!
Ayo dong minta!
Ayo dong minta!
Kata-kata itu yang terus bergumam dihatinya, seperti sebuah doa ataupun mantra yang hingga kini tak terkabul dan tak ampuh.
Saking gregetannya, akhirnya Zion menarik tangan Lexa dan mengajaknya ke sebuah toko jam tangan, lagi. Dengan merek yang berbeda.
"Kamu pilih saja yang kamu suka, aku yang akan membayar."
Lexa tidak mendengar perkataannya tapi dia juga sibuk memilih-milih. Dia melihat jam tangan couple. Dia lalu menyerahkan jam tangan itu untuk di bungkus.
"Kamu mau kita memakai jam tangan couple?"
"Kita? Ngarep sekali dirimu. Tentu saja ini untukku dan kekasihku."
*Sialan! Wanita ini benar-benar membuag emosiku memuncak. Ngidam apa orang tuanya saat dia berada dalam kandungan! Jangan sampai anak kami nanti menyebalkan seperti dia.
Eh?
Anak kami?
Sepertinya aku memang butuh liburan agar pikiranku jernih kembali*.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.