ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
121 ISTRI CEO



Zion memeluk Lexa, sesekali mengecup puncak kepala istrinya. Sejak tadi Lexa terlihat murung, dan Zion yakin itu pasti karena perkataan Jasmine.


Pria berwajah tampan itu menatap mata bulat nan sendu milik Lexa. Hembusan nafas keduanya terasa di kulit masing-masing. Perlahan Zion mendekatkan wajahnya pada Lexa. Sinar bulan menerangi kamar yang nampak redup dengan cahaya lilin aroma therapi, menambah suasana syahdu untuk dua insan yang saling berpelukan berbagi kasih.


.


.


Pagi ini hujan turun dengan deras, membuat dua orang yang masih tidur itu semakin enggan untuk bangun. Lexa memeluk erat Zion, yang disambut pelukan yang lebih erat lagi dari Zion. Meskipun matanya masih tertutup rapat dan dia masih berada di alam mimpi, tapi tubuhnya seperti punya sinyal khusus jika berhubungan dengan Lexa, perempuan paling dan satu-satunya yang dia cintai.


Hembusan nafas Lexa yang terasa di kulit dada Zion, ditambah cuaca dingin dan suara rintik hujan yang bagai simfoni merdu membuat Zion membuka sedikit matanya. Wajah cantik yang tepat berada di depan mukanya itu mengembangkan senyumnya.


Perlahan Zion mengelus pipi Lexa dengan hati-hati, agarnya wanitanya itu tidak terbangun.


CUP


Sebuah kecupan lembut namun tidak membuat Lexa terbangun, menjadikan Zion semakin berhasrat untuk melakukannya lagi.


Lama kelamaan hal itu membuat Lexa membuka matanya, yang pertama dilihatnya tentu saja wajah Zion yang sangat tampan meskipun baru bangun tidur.


CUP


Lexa membalas kecupan demi kecupan yang Zion berikan. Mereka mempererat pelukan mereka, saling menghangatkan satu sama lain. Tidak ada yang bicara, mereka hanya berbagi perasaan lewat sentuhan dan tatapan.


Zion memandang tubuh seksi istrinya itu. Tubuh yang selalu terawat dan menggoda iman. Sedangkan Lexa menatap dada bidang milik Zion, yang juga terawat berkat pola makanan yang sehat dan olah raga rutin.


.


.


.


Pagi ini Lexa membuat sarapan untuk mereka. Semua makanan telah ditata di atas meja makan oleh pelayan.


"Wah, kelihatannya enak sekali sarapan pagi ini."


Mereka telah berkumpul di ruang makan, lalu mengambil posisi duduk masing-masing.


"Itu ada pembangunan apa sih?" tanya Lexa. Beberapa hari ini Lexa melihat di sekitar mansionnya nampak mobil-mobil pengangkut bahan bangunan keluar maduk.


Zion mengedikkan bahunya tidak tahu.


"Ck, jangan pura-pura enggak tahu deh. Lingkungan di sini kan punya kamu semua. Kamu kira aku bisa dibodoh-bodohi, mana mungkin kamu engfak tahu!"


"Susah deh punya istri cerdas."


"Ah Beb, kamu mah jangan nanya-nanya dong. Kan mau bikin kejutan jadi enggak jadi."


"Mau bikin apa?"


"Bukan aku."


"Terus?"


Zion menunjuk David cs dengan dagunya.


"Mansion-mansion untuk kami."


"Kan tidak mungkin kami tinggal di sini terus."


"Mansionku hadiah untuk Hannie, lagi pula kasihan baby Kai kalau harus di apartemen terus. Selama tinggal di sini baby Kai senang bermain di taman."


"Benaran?"


Mereka mengangguk. Lexa sangat senang akhirnya mereka bisa tinggal tidak terlalu jauh. Meskipun jarak dari satu mansion ke mansion lain tetap harus menggunakan mobil kalau tidak ingin lelah, karena mansion itu juga sangat besar.


Dia bisa sering-sering bermain dengan baby Kai. Nanti anak-anak mereka akan tumbuh bersama dan menjadi sahabat juga.


Tiba-tiba saja Lexa mengusap perutnya, mengingat kata anak membuatnya teringat akan baby Arion.


Zion langsung mengalihkan perhatian Lexa, dua tahu kalau Lexa teringat akan baby mereka.


Selain itu juga sebenarnya Zion takut kalau Lexa sering bepergian dengan mobil. Jangankan mobil, berjalan kaki saja Zion takut Lexa tertabrak. Rasa trauma Zion sama besarnya dengan rasa trauma Lexa. Jadi dia akan melakukan apa saja untuk menjaga Lexa dan membuat Lexa bahagia. Biar saja orang-orang mengatainya lebay, berlebihan atau apa. Mereka tidak pernah tahu bagaimana rasanya berkali-kali ketakutan kehilangan orang yang dicintai, bahkan dia juga sudah kehilangan baby Arion.


Lexa menyuapi Zion, membuat jantung Zion berdetak tak karuan. Mereka akhirnya saling suap-suapan, yang diikuti oleh Kenzo - Hannie, tidak mempedulikan perasaan genk jomblo yang hatinya meronta-ronta teraniaya.


Hari ini adalah hari Minggu, hujan deras masih mengguyur, langit semakin gelap oleh awan hitam. Para wanita membuat kue di dapur, sedangkan para pria sedang 'mentraining' Aron dan Kenzo untuk menjadi CEO.


"Kalian akan jadi pusat perhatian ... "


"Tenang saja Ron, kamu tidak lebih keren dari aku, jadi kamu tidak akan terlalu pusing."


"Akan banyak wanita yang akan menghampiri kalian menawarkan diri."


"Kebanyakan dari mereka adalah orang suruhan lawan bisnis kita."


"Kami juga sudah tahu itu."


"Yang kalian tidak pernah tahu adalah bagaimana rasanya seorang wanita seksi masuk begitu saja dan tiba-tiba duduk di atas pangkuan kalian."


"Benar."


"Yang paling parah tentu saja yang dialami oleh Zion waktu itu."


Mereka mengangguk, kemudian berbagi cerita saat mengalami masalah dengan banyak wanita.


Meskipun Kenzo dan Aron selama ini hanya sebagai asisten, tapi mereka juga tidak lepas dari godaan para para wanita. Untung saja Kenzo termasuk suami yang setia.


"Aku bodoh kalau sampai mengkhianati Hannie. Aku rela diusir dari keluarga untuk bersamanya, jadi aku tidak akan menyia-nyiakannya."


"Aku sering mengirim foto bany Kai pada orang tua kita."


Kenzo tidak menanyakan pada Kenzi bagaimana tanggapan orang tua mereka. Sudah berkali-kali sebenarnya dia menghubungi orang tuanya untuk sekedar menanyakan kabar dan menceritakan pada mereka tentang baby Kai, tapi tidak pernah ada tanggapan dari mereka.


Di dapur ...


"Hannie, kamu harus lebih hati-hati jika nanti Kenzo sudah menjadi CEO."


"Kenapa?"


"Akan banyak wanita yang menggodanya."


"Aku percaya pada Kenzo."


"Ini bukan masalah percaya atau tidak Han, bisa saja dia dijebak dan sebagainya. Lihat saja apa yang dialami Zion di ruang kerjanya. Untung saja aku memasang banyak CCTV di ruangan itu secara diam-diam. Bahkan Jasmine dengan terang-terangan berani mengboda Zion di hadapanku."


Hannie mulai cemas, karena apa yang dikatakan Lexa memang benar.


"Jadi aku harus bagaimana?"


"Kamu harus tunjukkan ke orang-orang bahwa kamu tidak mudah ditindas. Tunjukkan pada mereka pesonamu, bahwa Kenzo memeliki istri yang cantik dan cerdas."


Hannie mengannguk.


"Sebagai permulaan, ayo nanti kita ke salon dan shopping."


Hannie terkekeh, dia tahu bahwa penampilan dirinya akan diubah oleh Lexa.


"Ajak Kartika juga."


Mereka telah selesai membuat kue dan segera membawanya ke ruang keluarga, Baby Kai terlihat senang saat mamanya datang.


"Dingin-dingin begini memang enak makan dan minum yang hangat-hangat."


Hannie dan Lexa masih berbisik-bisik mengenai misi mereka. Menjadi istri CEO tidaklah mudah. Tidak hanya butuh wajah cantik, dan tubuh seksi, tapi juga dibutuhkan kecerdasan untuk mengimbangi sang suami. Agar mereka dapat memberikan saran saat dibutuhkan, juga memahami pembicaraan bisnis saat pesta para pengusaha. Bukan hanya duduk dan menunggu suami pulang, jadi mereka juga tidak mudah dibodoh-bodohi. Itulah yang diajarkan Lexa pada Hannie.


"Jangan sampai bilang sibuk rapat, ternyata malah sibuk sama selingkuhan."


Terlihat sekali wajah Hannie yang cemas.