ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
148 DAVID ARDIANSYAH



Aku masih ingat dengan jelas, saat aku kelas tiga SD, seorang anak perempuan dengan wajah imut menggemaskan dan rambut dikuncir kuda mendekati aku dan adikku, Hannie.


Dia anak yang ceria dan baik hati. Dapat kulihat dari barang-barang yang digunakannya bukanlah barang-barang murahan. Sudah jelas dia anak orang kaya. Meskipun begitu, dia tidak pernah sombong.


Usianya sama dengan adikku dan dia bernama Alexa Elora William.


Semakin hari, hubungan kami bertiga semakin dekat. Dia sering memberikan aku dan Hannie bekal mewah yang dia bawa dari rumah. Itulah pertama kalinya aku dan Hannie bisa menikmati makanan mewah yang rasanya sangat enak.


Dia juga sering memberikan aku dan Hannie barang-barang mahal dengan cara khas anak-anak, membuat aku dan Hannie tidak merasa diperlakukan rendah karena kami miskin.


Dia juga sangat dekat dengan kedua orang tuaku. Orang tuaku bukanlah orang kaya, tapi dia memperlakukan mereka layaknya seorang anak bersikap kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tuaku pun sangat menyayangi Lexa, terutama ibuku. Aku sering melihat ibuku memandang Lexa dengan dalam.


Aku menyayangi Lexa, sangat sayang.


Dia sering bercerita tentang sahabatnya yang lain bernama Zion Melviano Willson dan Tiara, namun aku tidak pernah bertemu dengan mereka.


Entah mengapa, dalam diriku ada perasaan ingin melindunginya.


Saat kedua orang tuaku meninggal karena kecelakaan, dia orang pertama yang langsung memeluk aku dan Hannie dan menenangkan kami. Dia melskuksn banyak hal untuk kami, bukan hanya sekedar materi, tapi juga perhstian dan kasih sayangnya. Kedua orang tuanya juga sangat menyayangi aku dan Hannie.


Orang tua Lexa tidak pernah keberatan ansk semata wayangnya itu berteman dengan orang miskin seperti kami.


Suatu ketika, Lexa datang ke rumah kami dan menangis tersedu-sedu. Dalam hati aku bertanya kenapa dia seperti itu, karena aku sangat tahu Lexa adalah gadis yang ceria dan jahil namun tidak pernah menyakiti orang.


Zion!


Dialah penyebabnya.


Meskipun aku belum pernah bertemu dengan pria itu, namun aku tidak menyukainya karena dia telah membuat Lexa kami menangis.


Tidak!


Lexa tidak boleh menangisi pria yang telah menyakitinya.


Dalam hati aku berjanji akan selalu menjaga Lexa, apapun yang terjadi.


Dari cerita yang aku dengar, hubungan Lexa dan Zion merenggang. Dia juga cerita bahwa sepertinya Zion menyukai Tiara.


Yang menjadi pertanyaanku, apakah Tiara juga menyukai pria itu?


Aku sangat yakin, bahwa yang bernama Tiara itu tahu bahwa Lexa menyukai Zion.


Ingin sekali aku melabrak mereka berdua. Tapi bukankah aku jadi seperti tokoh sinetron yang sering ibuku nonton di televisi?


Hari terus berganti, akhirnya tibalah saatnya aku harus pergi ke Jepang untuk melanjutkan pendidikanku.


Sebenarnya aku sangat berat untuk pergi, karena harus meninggalkan dua gadis itu.


Lebih tepatnya, aku sangat berat untuk meninggalkan Lexa. Bukannya aku tidak khawatir pada Hannie dan lebih peduli pada Lexa.


Aku sangat tahu bahwa Lexa pasti akan menjaga Hannie sebaik mungkin. Selama ini Lexa memsng selalu menjaga Hannie dari pembully-an di sekolah.


Yang aku khawatirkan, siapa yang akan menjaga Lexa? Yang menenangkannya saat dia menangis karena seorang pria yang bernama Zion, sebab saat Lexa menangis, Hannie juga ikut-ikutan menangis.


Saat pertama kali tiba di Jepang, aku langsung merindukan dua gadis yang selama ini kujaga.


Di Jepang, aku berkenalan dengan Kenzo, Kenzi yang adalah saudara kembar Kenzo, Yosuke, Ryu, Malvin, Andre dan Samuel.


Aku sering menceritakan tentang Hannie dan Lexa, membuat mereka antusias untuk bertemu dengan keduanya.


Liburan semester, kedua gadis yang sangat kurindukan itu mengunjungiku. Aku lalu mengenalkan mereka dengan sahabat-sahabatku.


Seperti biasa, Lexa bisa langsung akrab dengan mereka, sedangkan Hannie yang pada dasarnya memang pendiam dan pemalu, hanya tersenyum dan mengangguk atau menggeleng saja.


Setiap liburan semester, Lexa dan Hannie selalu ke Jepang dengan biaya yang semuanya ditanggung oleh Lexa.


Saat mereka akan lulus SMA, aku dan yang lain memutuskan untuk ke Jakarta memberiksn kejutan untuk kedua gadis itu sekaligus merayakan kelulusan mereka.


Hingga tibalah malam naas itu, dimana Lexa berteriak dan menangis histeris tengah malam di sebuah taman.


Jantungku rasanya mau copot, sekujur tubuhku bahkan gemetar menyaksikan gadis yang selama ini kujaga layaknya alu menjaga Hannie diperlakukan seperti itu.


Rasanya aku ingin menghancurkan bahkan membunuh para b*jingan itu dengan tanganku sendiri.


Disebutlah satu nama ....


Zion!


Segala umpatan kasar dan sumpah serapah keluar dari mulutku.


Zion Melviano Willson ... aku akan membalasmu.


Kami langsung membawa Lexa ke rumah sakit.


Setelah beberapa hari, keadaan Lexa semakin memprihatinkan. Akhirnya ksmi memutuskan untuk.membawa Lexa dan Hannie ke Jepang. Tidak mungkin kami meninggalkan mereka berdua saja di Jakarta.


Semakin hari, keadaan Lexa bukannya membaik tapi semakin buruk. Berkali-kali dia mencoba bunuh diri bahkan dia lupa tentang kami semua.


Rasa benciku pada pria itu semakin besar. Bagaimana pun caranya, aku harus membalaskan dendam ini.


Lexa kami kini tak lagi sama.


Tidak ada lagi senyum di wajahnya.


Wajahnya memang masih terlihat sangat cantik, namun tak lagi hidup. Sorot matanya selalu terlihat kosong.


Kemana perginya Lexa kami?


Aku merasa telah gagal menjaganya.


Aku ingin Lexa kembali seperti itu. B*jingan itu telah membunuhnya. Bukan membunuh dengan cara menghilangkan nyawanya, tapi membunuh hati dan kebahagiannya, dan itu lebih menyakitkan dari pada apapun.


Tenanglah Lexa, bersabarlah ... aku akan membalaskan sakit hatimu.


Butuh waktu yang lama, bahkan sangat lama untuk menyembuhkan Lexa, namun sakit itu tidak pernah hilang.


Secara fisik dia baik-baik saja, bahkan semakin cantik dan mempesona. Tapi psikisnya tidak pernah baik-baik saja.


Kejiwaannya sulit untuk sembuh. Ibunya Yosuke memberikan obat untuk dia konsumsi secara teratur di bawah pengawasan.


Setahun


Dua tahun


Bahkan hingga lima tahun luka itu masih menganga lebar, Lexa kami tidak pernah sembuh.


Lexa menjadi pribadi yang sangat berbeda. Dia akan bersikap ketus kepada orang-orang yang baru dia kenal dan arogan.


Ya, hanya pada orang lain saja, tapi tidak kepada kami.


Lexa dipaksa orang tuanya untuk kembali ke Jakarta. Dengan berat hati kami membiarkannya kembali dengan didampingi oleh Yosuke.


Berita pertunangan dan pernikahan Lexa dengan pria yang sangat aku benci dan enggan menyebut namanya itu membuat darahku mendidih.


Tidak akan pernah aku biarkan Lexa jatuh ke tangan manusia busuk itu. Aku ingin membawa Lexa pergi. Kami akan menjaga dia sebaik mungkin.


Kebaikan hatinya bukan hanya untukku dan Hannie saja, tapi juga untuk Kenzo, Kenzi, Yosuke, Ryu, Samuel, Malvin dan Andre.


Karena itulah kami semua menyayangi Lexa dengan tulus.


Lexa kami ... tidak boleh disakiti lagi.


Lexa menolak untuk kabur.


Dia bilang punya rencana sendiri untuk membalas manusia hina itu.


Saat Lexa menikah kami berpelukan dengan sangat erat. bisa aku lihat bahwa pria itu menahan emosi melihat kami berdua.


Apa dia cemburu?


Cih!


Aku rasa dia merasa harga dirinya direndahkan melihat pria lain memeluk istrinya di hadapan orang-orang tepat di hari pernikahannya.


Lexa ku sayang Lexa ku malang, harus menikah dengan manusia bejat itu.


Lexa mulai membalaskan sakit hatinya dengan hal-hal kecil dulu.


Saat aku curiga bahwa Lexa hamil, lagi-lagi aku merasa gagal menjaganya. Tidak mungkin kan Lexa melakukan itu dengan suka cita, pasti pria itu yang telah memaksanya.


Aku dan pria itu berebut mengakui anak Lexa.


Untung saja, ternyata dugaanku meleset.


Lagi-lagi pria itu menyakiti Lexa.


Lexa jatuh terguling-guling dari tangga. Lututku terasa lemas, aku rasa yang lain juga merasakan hal yang sama.


Kenapa?


Kenapa dia terus disakiti oleh pria itu?


Aku ingin pria itu juga merasakan penderitaan seperti Lexa, karena langsung mati begitu saja terlalu enak baginya.


Lexa koma, bukan hanya berhari-hari tapi berminggu-minggu, tapi bulan.


Rahasia mulai terkuak.


Tiara!


Wanita cantik berhati iblis.


Akan aku buat dia menderita.


Mendengar dokter berkata Lexa telah pergi ... entahlah, aku pun bingung mendeskripsikan perasaan ini.


Lexa seseorang yang membuatku selalu merasa medapatkan serangan jantung. Berkali-kali nyawanya terancam setelah bangun dari komanya.


Saat aku koma, aku merasa ada yang terus menarik tanganku untuk kembali.


Ada yang terus memanggil namaku.


Yang aku pikirkan adalah Lexa pasti akan merasa bersalah jika terjadi sesuatu yang buruk padaku. Dia akan merasa bersalah pada Hannie.


Wakaupun sebenarnya jika aku pergi, aku tak lagi merasa khawatir pada Hannie dan Lexa.


Sudah ada Kenzo yang akan menjaga Hannie juga kehadiran Kai yang melengkapi hidup mereka.


Sudah ada Zion yang akan melindungi Lexa juga calon anak mereka yang aku berharap selamat.


Tapi ... sepertinya ada yang tidak ikhlas aku pergi begitu saja.


Aku sadar dari koma disambut isak tangis sahabatku.


Aku memasuki ruang rawat Lexa.


Zion dan Lexa menatapku.


Aku mendekati Lexa lalu memeluk dan mengecup keningnya.


Eh, tumben tak ada yang cemburu.


Dasar somplak, dia mengira aku roh halus yang bergentayangan. Segala diyasinin, lagi.


Lagi, aku mau mengecup Lexa mumpung tuan bucin itu lagi eror.


Wuanjirrr, asin banget jidatnya.


Cuih


Cuih


Cuih


Astaga, bibirku!


Ngomong-ngomong tentang Zion, dia kini menjadi salah satu sahabatku. Saat Lexa koma dulu, aku bisa yakin bahwa dia memang mencintai Lexa dengan tulus. Hubungan kami bahkan sekarang sangat dekat.


Eh, untung saja aku dan dia sama-sama laki-laki. Kalau tidak, bisa-bisa kami diledek ... dari benci jadi cinta.


Dih!


Davin, Davio, Davis, Daviv, Davia ....


Lima bocah yang namanya seperti namaku.


Tanda bahwa persahabatan kami tidak akan pernah pudar .... :)