
Lexa sedang menggendong anak yang dilahirkan oleh Hannie. Bayi itu sangat menggemaskan dan wajahnya perpaduan Hannie dan Kenzo.
FLASHBACK ON
Tepat sehari setelah Lexa pulang, ternyata Hannie melahirkan.
Oeekkk ... ooeekkk ...
Suara bayi menandakan bahwa proses persalinan telah selesai. Leza dan David memberikan senyum, akhirnya mereka memilki keponakan. Kenzo keluar dari ruangan persalinan dengan wajah yang sangat bahagia.
"Anakku laki-laki."
David dan yang lain langsung memeluk Kenzo. Kenzi juga sangat bahagia kakak kembarnya itu telah memiliki anak. Dia dan Kenzo berharap dengan kehadiran bayi laki-laki ini, pernikahan Kenzo dengan Hannie akan mendapat restu dari orang tuanya.
Setelah dipindahkan ke ruang perawatan, mereka melihat keadaan Hannie dan keponakan mereka.
"Hannie, aku senang akhirnya keponakan aku lahir juga."
"Iya Xa, aku juga senang anak aku lahir dengan selamat."
"Siapa namanya, Han?" tanya David.
"Aku ingin kakak dan Lexa yang memberikan nama untuk anak aku dan Kenzo."
"Enggak apa-apa, Ken?" tanya David.
"Tentu saja. Kamu adalah keluarga Hannie satu-satunya, dan Lexa adalah sahabat terbainya. Justru aku sangat bahagia kalau kalian mau memberikan nama untuk anak pertama kami. Apalagi karena Lexa, maka kami bisa menikah."
"Aku ingin memberikannya nama Kenji, artinya kebijaksanaan," ucap Lexa sambil menhgendong bayi mungil itu.
"Aku ingin memberikannya nama Kaindra, artinya anak yang hebat." David juga menatap bayi kecil itu dan mengelus pipinya.
"Kalau begitu namanya Kaindra Keinji Alexi Watanabe." Watanabe adalah nama keluarga dari Kenzo.
"Alexi?"
"Iya, aku ingin memberikannya nama nama seperti nama Lexa, karena anakku laki-laki, maka nama Alexa aku ganti menjadi Alexi."
Entahlah nama itu kepanjangan atau tidak, yang jelas memang dari dulu Hannie ingin agar David dan Lexa memberikan nama untuk anaknya dan dia juga ingin menyematkan nama seperti nama Lexa, agar nanti anaknya bisa sebaik Lexa, sahabat sejatinya.
FLASHBACK OFF
Sudah selama tiga minggu ini ada yang mengantarkan makanan-makanan enak untuk Tiara. Semua adalah makanan kesukaannya. Perutnya sudah semakin membesar. Selama itu juga, beberapa kali dokter datang untuk memeriksa kesehatannya.
Perut yang membesar bukan berarti dia terbebas dari penyiksaan para tahanan lain. Pernah beberapa kali dia mengalami pendarahan, namun sepertinya anak dalam kandungannya memang sangat kuat dan akan bertahan sampai dia dilahirkan ke dunia.
"Tiara, ada yang ingin bertemu denganmu!"
Deg
Siapa yang ingin bertemu dengannya? Selama ini tidak ada yang pernah mengunjunginya. Perlahan Tiara melangkah menuju ruang kunjung. Dia melihat di depannya, seseorang yang memandangnya sangat dalam dengan sorotan mata yang sulit diartikan.
Deg
Deg
Deg
"Bagaimana keadaanmu, Tiara?"
Tiara diam saja, dia menundukan kepalanya sambil meremas ujung baju tahanannya.
"Aku membawakanmu makanan, makanlah!"
Lagi, Tiara hanya menunduk.
"Ayo makan! Aku sendiri yang memasaknya. Kamu sedang hamil besar, pasti sebentar lagi anakmu akan lahir."
Keheningan terasa mencekam.
"Bolehkah aku menyuapimu?"
Tanpa menunggu jawaban, orang itu mulai mengambil menyendok makanan dan menyuapi Tiara.
Tiara mulai membuka mulutnya, merasaka makanan enak yang pernah dulu dia rasakan. Tiara mulai sesenggukan sambil terus mengunyah.
"Pelan-pelan, ini minumlah!"
Air mata Tiara tak henti-hentinya keluar, dadanya terasa sesak.
Orang itu ingin menanyakan banyak hal pada Lexa, namun dia juga sulit untuk menanyakannya.
Semua makanan sudah habis. Orang itu terus memandangi Tiara, sedangkan yang dipandangi hanya menunduk malam-malam.
"Sudah waktunya aku pergi. Kalau ada waktu aku akan mengunjungimu lagi. Jaga dirimu dan kandunganmu baik-baik."
Orang itu pergi.
Tiara mulai mengangkat wajahnya, memandangi kepergian orang itu yang meninggalkan berbagai macam perasaan untuk Tiara.
☆☆☆
Lexa sedang menikmati makanan yang dibuat oleh David. Berbagai macam menu seafood dibuat oleh David khusus untuk Lexa.
"Besok mau aku buatin apa?"
"Hmmm ... apa ya? Bingung juga aku, tuh."
Lexa meminum jus tomat yang juga dibuatkan oleh David.
"Ke rumah Hannie, yuk. Aku kangen dengan baby Kai."
"Kamu mau ketemu Kake?"
"Kake? Kakeknya siapa?"
"Bukan kakek, Xa. Tapi Kake, alias KAindra KEiji."
"Dih, nama bagus-bagus malah disingkat jadi Kake. Awas, ngambek nanti tuh Hannie."
"Hahaha ... yaudah habisin dulu makanannya."
☆☆☆
Seorang wanita cantik dan berpakaian seksi duduk di hadapan Zion.
"Bagaimana kalau kita makan malam bersama?" ajak perempuan itu dengan antusias. Sebelum Zion menjawab, pintu kangsung terbuka dengan sangat keras. Seorang wanita yang lebih cantik lagi berdiri memandangi Zion dan perempuan itu.
"Kamu keluar!" perintah perempuan yang baru saja datang. Aron berdiri di belakang perempuan itu, bingung harus bersikap bagaimana menghadapi situasi ini.
Perempuan yang masih duduk itu enggan untuk beranjak.
"Kamu mau keluar baik-baik atau aku seret!" Pelan, tapi sangat tegas dan penuh tekanan. Nyali perempuan itu langsung ciut begitu saja. Dia lalu pergi, meninggalkan mereka bertiga.
"Kamu juga keluar, Aron. Aku mau bicara dengan bos kamu yang pengecut ini!"
Tanpa harus diperintah dua kali, Aron juga meninggalkan mereka yang kini tinggal berdua saja.
Peremouan itu mendekati Zion.
Brakkk!
Dengan sangat keras, perempuan itu menggebrak meja kerja Zion.
"Jadi begini, kamu mau lari dari tanggung jawab? Kamu belum menyerahkan surat perceraian itu padaku, Zion!"
Benar, perempuan itu adalah Alexa Elora William.
Selama ini Zion memang belum menanda tanfani surat perceraian dengan Lexa. Tepat sehari setelah kepulangan mereka dari kapal pesiar, Zion langsung pergi ke Belanda, menghindari Lexa yang pastinya akan menagih janjinya.
Anggaplah Zion pengecut, tapi biar saja orang ingin berkata apa.
"Kamu juga sudah menghamili seorang perempuan tapi malah kabur ke Belanda. Dimana tanggung jawab kamu?"
Zion mengernyitkan keningnya.
"Jangan asal nuduh, Xa."
"Aku enggak nuduh, memang benar kan kamu menghamili seorang perempuan. Aku juga punya buktinya."
"Itu pasti fitnah!"
"Bukan!"
"Fitnah!"
"Bukan!"
"Fitnah!"
"Aku bilang bukan, ya bukan."
Lexa sangat kesal dengan sikap Zion. Dia langsung menguwel-nguwel rambut Zion.
"Awwww ... sakit, Xa."
"Itu bukan anak aku."
"Kamu bukannya bertanggung jawab, malah kabur, bersenang-senang dengan perempuan lain, terus enggak mau ngaku. Kamu memang benar-benar brengsek ya Zion. Kamu juga belum kasih aku surat cerai itu. Sekarang kasih aku surat cerai itu."
"Aku memang tidak pernah menghamili perempuan, Xa. Tolong kamu percaya sama aku."
"Untuk kali ini aku enggak akan percaya sama kamu, karena sudah banyak buktinya."
"Sampai kiamat pun, aku enggak akan mengakui perempuan dan anak itu."
"Benar?"
"Tentu saja."
"Ingat karma, Zion. Kamu akan menyesali jika tidak mengakui mereka."
"Never!"
"Jadi kamu benar enggak mau mengakui anak yang aku kandung ini sebagai anak kamu?"
Eh?
Deg
Deg
Deg
Zion melihat Lexa yang mengelus perutnya yang rata.
"Siapa bilang? Itu anak aku, kok!"
"Tadi kamu enggak mau ngaku!"
"Ih, kamu mah salah dengar, Yang. Masa aku tega enggak mengakui anak aku sendiri. Ayah macam apa, aku?"
"Lexa mendengus kesal. Aku sudah merekam perkataan kamu tadi loh."
"Jangan gitu dong, Beb! Kasihan kan anak aku."
Jantung Zion masih berdetak kencang, karena kedatangan Lexa yang tiba-tiba dan berita yang baru saja dia dengar.
Zion mendekati Lexa dengan rambut yang acak acakan dan terasa berdenyut karena tadi diunyeng-unyeng oleh Lexa.
Tapi, benarkah itu anak Zion?
.
.
.
.
Udah ah, segitu dulu. Biar kalian penasaran dan enggak bisa tidur. Wkwkwkkk pizzzzz ...