
Lexa dan Zion kini berada di taman bermain, juga ada Tiara yang diajak oleh Lexa.
Zion membelikan boneka kesukaan Lexa, yaitu boneka panda. Lexa menggandeng tangan Tiara agar berjalan di sampingnya, bukan di belakangnya.
Sebenarnya Lexa juga ingin mengajak David dan Hannie agar lebih ramai dan menyenangkan tetapi mereka berdua pergi mengunjungi nenek mereka yang ada di Bandung.
Mereka menikmati es krim dengan berbagai rasa.
“Jangan belepotan, Lexa!” ucap Zion.
Lexa nampak cuek dan tetap menikmati es krim itu. Tiara hanya diam saja sejak tadi. Matanya hanya melihat Lexa dan Zion secara bergantian.
“Lexa, liburan nanti aku dan orang tua aku mau ke London. Kamu mau ikut?”
“Kenapa kalian sering sekali ke London?”
Zion hanya mengedikan bahunya.
“Ayo ikut!”
Lexa lalu mengangguk.
Mereka bermain sepuasnya di taman bermain itu. Zion juga selalu membelikan apa yang Lexa suka meskipun gadis kecil itu tidak pernah memintanya. Zion membelikan untuk Lexa,maka Lexa membelikan untuk Tiara.
Saat Zion main ke mansion orang tua Lexa, Tiara juga ada di sana. Saat Lexa bermain ke mansion orang tua Zion, maka Lexa juga akan mengajak Tiara.
Ditengah pertemanan mereka, baik Hannie, David, Zion dan Tiara tidak saling mengenal apalagi bertemu. Mereka hanya sering mendengar Lexa menyebut nama-nama temannya itu.
☆☆☆
Liburan kenaikan kelas, Lexa dan Zion pergi ke London. Dimanapun mereka berada, jika sedang bersama mereka pasti akan membuat suasana sangat ceria.
Terutama Lexa, gadis yang masih kelas satu SD itu selalu membuat gemas. Saat sedang berkemah, gadis kecil itu mengumpulkan ulat bulu lalu memasukkannya ke dalam botol kaca yang diberi sedikit lubang pada bagian atasnya. Kemudian dia menyimpannya di dalam tas Zion. Dia juga mengumpulkan serangga-serangga kecil lainnya.
Saat kembali ke mansion milik orang tua Zion, Zion lalu membuka tasnya dan binatang-binatang itu berhamburan keluar.
“Kenapa ada binatang sebanyak ini di dalam tasku? Siapa pelakunya?” teriak Zion yang menyebabkan orang-orang berlari menghampirinya.
“Ada apa Zion?” tanya mommy.
“Banyak binatang dalam tasku!”
Lexa melihat binatang-binatang hasil buruannya sudah menyebar kemana-mana.
“Tangkap mereka! Jangan biarkan mereka kabur!” perintah Lexa.
Para pelayan langsung menangkap binatang-binatang itu dengan perasaan jijik.
“Lexa, apa kamu yang memasukkan binatang itu ke dalam tas Zion?” tanya mommy.
Lexa mengangguk tanpa perasaan bersalah.
“Kenapa?”
“Aku ingin memberikannya kepada teman-temanku yang ada di Jakarta. Aku juga ingin tahu apa binatang itu terlihat bule.”
Mereka yang mendengarnya tertawa.
“Kenapa menghadiahkan binatang seperti itu?”
“Hmmm ... karena aku ingin menghadiahkan sesuatu yang istimewa kepada mereka. Tidak akan ada yang menyamai, kan?”
Iya, sih. Tapi sangat menjijikan.
Zion menghela nafas. Badannya mulai gatal-gatal karena perbuatan gadis kecil yang ada di hadapannya itu.
☆☆☆
Liburan telah berakhir. Lexa dan Hannie kini telah kelas dua SD.
“Ini hadiah untuk kalian.”
Lexa tidak jadi menghadiahkan binatang itu untuk mereka karena sudah dibuang diam-diam oleh Zion.
Saat tahu kalau hasil buruannya dibuang oleh Zion, Lexa langsung marah.
Zion membujuknya dengan memberikan Lexa boneka yang dipesan secara khusus untuknya.
Maka kini dia menghadiahkan Hannie dan Tiara tas sedangkan David sepatu.
☆☆☆
Hannie menangis di hadapan beberapa anak perempuan.
“Tidak tahu malu, berani sekali kamu sekolah di sini!”
“Benar! Coba lihat dirimu, apa kamu tidak punya kaca di rumah?”
Anak-anak itu terus saja menyudutkan Hannie.
Lexa berlari ke arah mereka.
“Apa yang kalian lakukan? Jangan ganggu temanku!”
Anak-anak itu berlari ketakutan. Mereka tentunya tahu siapa itu Lexa, anak dari pemilik sekolah elit ini dan pengusaha besar.
“Ayo Hannie. Kalau mereka mengganggu kamu lagi, kamu harus melawan mereka. Kamu tidak boleh takut kalau kamu tidak salah.”
Hannie mengelap air matanya.
“Ada apa? Kenapa kamu menangis, Hannie?” tanya David yang terlihat sangat cemas dengan adiknya itu.
“Dia diganggu oleh yang lain. Tapi kalian tenang saja, selama ada aku disisi Hannie, mereka tidak berani macam-macam. Aku akan melindungi Hannie!” kata Lexa dengan mantap.
“Lalu siapa yang akan melindungi kamu?” tanya Hannie polos.
“Tentu saja Zion.”
“Aku juga akan selalu melindungi Hannie dan kamu!” ucap David.
“Aku juga!” Hannie tak mau kalah.
Sebuah janji masa kecil yang akan dibawa hingga mereka telah dewasa.
☆☆☆
“Tiara, kenapa muka kamu?”
Lexa melihat wajah Tiara yang banyak bekas cakaran. Lutunya juga berdarah.
Tiara hanya diam saja. Lexa lalu menanyakan hal itu pada supir pribadi bundanya. Kata kakeknya, Tiara sering dibully disekolahnya karena sudah tidak memiliki orang tua dan miskin.
Saat pertama kali Lexa bertemu dengan Tiara di mansionnya, orang tua Tiara memang baru tiga hari meninggal. Oleh karena itu Tiara kadang ikut kakeknya ke mansion, kadang akan dititipkan pada tetangga.
Lexa yang mendengarnya merasa iba. Lexa ingin mengajak Tiara untuk tinggal di mansion orang tuanya tapi gadis itu menolak. Meminta Tiara untuk pindah ke sekolah yang sama dengannya, gadis itu juga menolak.
Oleh sebab itu Lexa jadi semakin sering mengajaknya jalan bersama. Setiap kali bermain bersama Zion, Lexa juga selalu mengajak Tiara. Lambat laun hubungan Zion dan Tiara juga jadi dekat.
☆☆☆
David memberikan sebuah lukisan untuk Lexa.
“Ini untuk kamu.”
Wajah Lexa terlihat senang mendapat hadiah dari David.
“Aku melukisnya sendiri.”
“Benarkah?”
“Iya.”
Lukisan itu adalah lukisan wajah Lexa yang memeluk boneka panda kesukaannya.
Lexa berjingkrak-jingkrak kesenangan. Meskipun masih kelas empat SD, namun David memiliki banyak bakat.
Itulah mengapa dia bisa mendapat beasiswa di sekolah ini. Nilai-nilainya juga selalu memuaskan.
Hari demi hari berganti. Hannie masih saja menjadi sasaran pembullyan di sekolahnya. Lexa dan David selalu melindungi Hannie. Terutama Lexa yang sekelas dengannya.
Tidak jauh beda seperti Hannie, Tiara juga merasakan hal yang sama. Hanya saja tidak ada yang menjaganya di sekolah seperti Lexa yang menjaga Hannie.
Jika ada Zion yang selalu melindungi Lexa di luar sekolah, maka ada David yang akan melindungi Lexa di sekolah meskipun tidak akan ada orang yang berani mengusiknya.
David akan menggendong Lexa saat gadis kecil itu jatuh dan terluka.
David akan mengantar mereka menuju kelas lalu saat pulang dia akan berdiri di depan kelas Lexa dan Hannie untuk menjemput mereka, lalu berpisah di gerbang sekolah.
☆☆☆
Tanpa terasa tiga tahun telah berlalu.
Tiga tahun yang diisi oleh persahabatan mereka.
Kini Lexa dan Hannie sudah kelas lima, sedangkan David telah kelas satu SMP. Itu berarti tidak ada lagi David yang menjaga mereka di sekolah.
Lexa selau menjaga Hannie. Para pembully itu tidak henti-hentinya mengganggu Hannie meskipun Lexa sudah melaporkan mereka. Selalu saja ada celah untuk mereka membuat kekacauan.
Telur busuk mengotori rambut dan pakaian Lexa. Tadinya yang akan dilempari adalah Hannie, tapi Lexa mendorong Hannie. Belum sempat Lexa menghindar, telur itu sudah mengenai kepalanya.
Aroma busuk dari telur itu langsung mencemari udara. Lexa dan Hannie berjalan menuju toilet.
“Lexa, kenapa kamu?”
Lexa lalu menceritakan kejadian itu kepada kepala sekolah. Melihat anak dari pemilik sekolah sendiri yang kini menjadi korban meskipun tidak disengaja, maka pihak sekolah langsung mengambil tindakan tegas. Mereka tidak ingin mendapat amukan dari orang tua Lexa.