
Sikap Lexa sudah jauh lebih baik, dalam artian dia sudah tidak lagi bersikap seperti anak-anak. Lexa juga sudah mulai aktif lagi di perusahaan. Kemajuan ini membuat orang-orang di sekitarnya bersyukur dan senang.
Saat ini Lexa sedang makan siang bersama seorang klien di salah satu restoran. Kesepakatan bisnis sudah didapat. Mata indah Lexa melihat keberadaan David bersama seorang wanita cantik. Lexa terus saja melihat ke arah itu.
Ingin menghampiri namun pikiran mencegahnya, maka dia memutuskan untuk kembali saja ke kantornya.
Sepanjang hari Lexa tidak berhenti memikirkan David dengan perempuan itu.
Kenapa aku jadi kepikiran, ya?
Lexa menghela nafasnya, mencoba mencari jawaban atas sesuatu yang tidak dia pahami.
Keesokannya di restoran yang berbeda, kali ini matanya malah menangkap Zion bersama seorang wanita. Mereka nampak berbincang akrab. Lexa mengerucutkan bibirnya, melihat Zion dan perempuan itu juga membuat dia sangat kesal.
Aaarrgghhh ... kenapa aku ini?
Dia memutuskan untuk pulang saja, moodnya selama dua hari ini benar-benar rusak karena dua orang pria yang sudah dia kenal sejak kecil.
"Bun ... Bundaaa!"
Lexa memasuki kamar bundanya tapi tidak ada siapa-siapa disana.
☆☆☆
Lexa memandang kesal pada dua pria yang duduk tenang di hadapannya.
"Kok diam saja, Xa?" tanya David.
"Suka-suka aku!" jawab Lexa dengan ketus.
David dan Zion mengerutkan keningnya, namun dalam hati Zion merasa senang kalsu Lexa galak pada David.
"Kamu sakit?" kali ini Zion yang bertanya.
"Enggak. Sudah jangan berisik!"
Zion dan David saling memandang. Apa salah mereka?
Mulut Lexa terlihat komat-kamit, menggerutu dalam hati. Tatapannya juga sinis.
Yang Zion dan David yakin saat ini adalah suasana hati gadis itu sedang tidak baik. Tapi apa penyebabnya?
"Ck!"
Lexa berdecak kesal. Dia sendiri tidak mengerti kenapa dia bersikap seperti ini. Haruskah dia konsultasi pada Tante Sonya, psikolog yang mendampinginya selama dia hilang ingatan itu?
Ah, tapi nanti tante Sonya harus memberikan laporan pada ayah dan bunda. Tapi kenapa aku jadi aneh begini?
Apa sebaiknya aku cerita pada Hannie?
Tidak tidak tidak ... Hannie itu adiknya David!
Aaarrrggghhh ... aku bingung.
Zion dan David memperhatikan ekspresi Lexa yang aneh. Kadang terlihat kesal, lalu bingung.
Ada apa sebenarnya dengan gadis itu. Mungkin seharusnya Soraya menangani Lexa lebih baik lagi.
☆☆☆
"Bagaimana keadaanmu akhir-akhir ini?" tanya Soraya.
"Baik. Aku juga sudah mulai terbiasa di perusahaan."
"Apa ada masalah di perusahaan?"
"Tidak ada. Semuanya berjalan lancar."
"Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
"Tidak ada!" jawab Lexa berbohong.
Tentu saja ada yang mengganggu pikirannya. Mereka adalah Zion dan David. Bahkan bukan hanya pikirannya, tapi juga hatinya.
Tanpa sadar Lexa memegang dadanya. Jantungnya berdetak dengan kencang.
"Apa dadamu terasa sakit?"
"Iya," jawab Lexa tanpa sadar.
Sejak kejadian dia menabrak itu juga sebenarnya dia jadi sering pusing dan sakit kepala.
☆☆☆
Di sinilah akhirnya dia berada. Dalam ruangan dokter di rumah sakit. Kedua orang tuanya membawa dia periksa jantung.
Lexa meringis dalam hati. Benar dugaannya, psikolog pribadinya itu akan langsung memberikan laporan yang menyebabkan semua orang di sekitarnya panik.
Untung saja dia tidak pernah bercerita kalau yang sudah mengusik hati dan pikirannya adalah Zion dan David. Dua pemuda tampan yang sudah dikenalnya sejak kecil. Apa yang akan mereka pikirkan nanti? Mungkin saja dia akan ditertawakan habis-habisan dan mereka akan berkata 'cieee ... cieee' terutama Hannie.
Lexa menggeleng-gelengkan kepalanya saat membayangkan semua itu. Tiba-tiba saja wajahnya memanas dan dia mengerucutkan bibirnya yang merah alami itu.
Enak saja, Lexa tidak akan membiarkan dirinya menjadi bahan olok-olok dan dibully meskipun itu hanya sekedar candaan.
☆☆☆
David dan Zion menyadari sikap Lexa yang berbeda akhir-akhir ini. Gadis itu seperti menaruh kekesalan yang besar kepada kedua pemuda tampan dan terkenal itu.
Sikap Lexa itu seperti istri yang diselingkuhi oleh suaminya dan pacar yang diduakan.
David tertawa kecil dengan pemikirannya yang ajaib itu. Sedangkan Zion lebih cemas dari itu. Lexa belum ingat apa-apa saja dia sudah sering cemberut pada Zion, apalagi kalau istrinya itu sudah mengingat semuanya. Apa yang akan terjadi nanti?
Kalau saja dia dan Lexa punya anak, mungkin dia tidak akan setakut ini. Tapi bagaimana mungkin mereka bisa memiliki anak, mengingat dulu hubungan dia dan Lexa seperti itu. Baru dicium saja traumanya Lexa sudah langsung menyerang.
Aarrrgghhhh ... kenapa harus ada David sih!
Mereka dulu pacaran atau hanya sebatas sahabat saja?
Mengingat hubungan keduanya dulu sangat dekat, kemungkinan besar mereka pacaran, tapi bisa juga hanya sahabat.
Mana ada persahabatan antara pria dan wanita yang begitu erat seperti itu.
Aaarrgggh ... menyebalkan.
Zion mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. Rasanya dia akan gila kalau sampai harus berpisah dengan Lexa.
Sudah cukup dia menunggu. Sudah cukup dia kehilangan waktu bersama Lexa. Dia selalu berdoa agar tidak ada lagi yang bisa memisahkan dia dan Lexa kecuali kematian dirinya sendiri.
David memang pria yang pantas dicintai. Zion mendengus kesal dan dengan berat hati Zion harus mengakui itu.
Tapi aku juga begitu!
Hati kecilnya berbicara seperti itu, tetap tidak ingin kalah dan menyerah.
Satu-satunya yang David punya sedangkan aku tidak punya hanyalah adik perempuan. Tapi itu kan bukan salahku. Salahkan saja orang tuaku yang tidak memproduksi anak yang banyak.
Sepertinya Zion sudah mulai setres. Dia lupa kalau itu adalah takdir bila dia menjadi anak semata wayang.
☆☆☆
Hari ini Lexa ada rapat dengan Zion. Walaupun mereka bersahabat dan suami istri (khusus yang satu ini tentu saja Lexa tidak tahu) tapi mereka tetap harus bersikap profesional. Tidak bisa langsung mengadakan kesepakatan begitu saja karena hubungan pribadi. Mereka harus membicarakan keuntungan yang akan diperoleh untuk masing-masing perusahaan.
Milikku, milikmu juga Lexa, ucap Zion dalam hati.
Kenapa dia melihatku seperti itu? Ishh, menyebalkan ... ucap Lexa dalam hati.
Kedua insan itu hanya mampu berkata dalam hati. Lexa yang biasanya blak-blakan kini seperti gadis labil yang dilanda dilema.
Dalam keadaan normal, mungkin sikapnya ini bisa dikategorikan sebagai masa puber, hahahaha. Masalahnya dia bukan lagi gadis remaja yang sedang merasakan cinta pertama, kan? Itulah yang dia tidak tahu kenyataannya. Lalu untuk siapa? Zion? Atau David?
Ini adalah awal yang baru bagi Lexa.
Kelanjutan bagi Zion.
Sedangkan David? Baginya kebahagiaan Lexa adalah kebahagiaannya. Entah nanti Lexa akan bersama siapa.
Jika kamu dapat tersenyum jika dia senang,
dan kamu akan menangis jika dia menderita, maka yang harus kamu lakukan adalah memastikan kebahagiaannya.
Karena ...
Persahabatan itu tanpa pamrih
Cinta itu tak butuh alasan