
“Kenapa kamu sejahat itu pada Lexa?”
Hannie sangat kesal dengan Tiara.
“Itu karena aku sudah tidak menyukainya saat pertama kali bertemu dengannya. Kami seumuran tapi kenapa dia lebih beruntung dariku? Dia memiliki semuanya. Dia punya orang tua yang kaya dan dia selalu diperhatikan oleh Zion. Sedangkan aku? Aku selalu saja dibully karena miskin. Aku tidak menyukainya! Aku membencinya!”
“Itu bukan salah Lexa. Kalau kamu tidak suka, kenapa selalu dekat dengannya? Kenapa tidak menjauh saja darinya?”
“Tentu saja aku ingin menikmati kemewahan yang dia punya. Aku bisa memiliki barang-barang bagus yang tidak bisa orang tuaku belikan!”
“Dasar munafik. Kamu tidak menyukai orangnya tapi ingin menikmati kemewahannya!”
“Memangnya aku peduli? Yang penting hidupku terlihat berkelas.”
“Benar-benar tidak tahu diri!”
“Memangnya kamu tidak iri? Hidupmu dulu juga susah, kan?”
“Jangan samakan aku denganmu! Aku bersyukur dengan hidupku. Kalau bukan karena keadaanku yang seperti itu, mungkin aku tidak akan mendapatkan sahabat seperti Lexa!”
“Halah, munafik!”
“Kamu yang munafik.”
Plak!
Plak!
Hannie menampar Tiara lalu menjambaknya.
“Hannie, jangan! Ingat kamu sedang hamil!”
“Jangan ada yang ikut campur! Aku lagi ngidam ngubek-ngubek wanita ini!”
Entah itu benar atau hanya alasan saja, tapi tidak ada juga yang benar-benar berniat menghentikannya.
Mungkin yang lain tidak ada yang berani menampar Tiara karena wanita itu sedang hamil. Tapi Hannie juga sedang hamil. Sesama wanita hamil seharusnya tidak saling menyakiti. Tapi Hannie benar-benar geram dengan wanita yang ada di hadapannya itu.
Bisa-bisanya dia menyakiti dan mengkhianati Lexa seperti ini.
Ya seperti itulah.
Ada orang yang bila seseorang baik padanya, maka dia akan mengingat, berterima kasih, dan berbuat baik juga padanya. Seperti Hannie.
Ada juga orang yang bila seseorang baik padanya, maka dia akan memanfaatkan orang itu untuk kepentingan pribadinya dan bersikap seenaknya. Seperti Tiara.
Seperti itulah yang dialami oleh Lexa. Memiliki dua sahabat perempuan yang berbeda karakter dengan latar belakang yang sama.
Hannie dan Tiara ...
Sama-sama berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja.
Sama-sama sering dibully.
Sama-sama pendiam.
Sama-sama memiliki impian untuk mengubah nasib.
Sama-sama diperlakukan dengan sangat baik oleh Lexa dan dianggap sahabat.
Tiara ingin seperti Lexa. Menjadi pusat perhatian karena kekayaan dan kecantikannya. Banyak orang yang menyukainya. Sedangkan dia? Banyak yang membullynya.
Hannie ingin seperti Lexa. Menjadi sahabat yang baik dan tidak pernah sombong meskipun Lexa memiliki segalanya. Banyak yang menyayanginya.
Tiara pandai menutupi dirinya. Bersikap sebagai wanita lemah lembut yang berhati baik dengan kata-kata sopan. Dia tidak pernah menangis atau menunjukkan kesedihannya di hadapan orang-orang seolah dia adalah perempuan yang tegar. Dia pandai bermain kata dan membujuk orang-orang dengan tipu muslihatnya hingga dia bisa menjadi model terkenal yang memiliki banyak job.
Hanya satu orang saja yang tidak pernah berhasil dipengaruhinya. Zion!
Kakeknya yang menjadi salah seorang sopir pribadi di keluarga Lexa, ibunya seorang pekerja serabutan dan ayah kandungnya yang entah kemana membuat Tiara minder dengan keadaannya.
Dia ingin terkenal, itulah sebabnya dia menjadi model.
Dia ingin hidup enak, itulah alasan dia membiarkan Lexa akrab dengannya. Tapi ternyata itu saja tidaklah cukup. Dia ingin lebih. Jika dia bisa bersama, menjadi kekasih bahkan istri Zion, maka kehidupannya akan terjamin seumur hidupnya. Zionlah pria terkaya pertama yang dia kenal, menjadikan Zion sebagai target masa depannya. Selain itu Zion juga tampan dan terkenal. Siapa yang tidak akan terpikat dengan pesonanya?
Sebenarnya ada perasaan terhina dalam hatinya saat Lexa sering memberikannya barang-barang. Dia merasa dikasihani, merasa diremehkan dan direndahkan. Tapi dia juga ingin barang-barang itu.
Membenci pemberinya tapi menginginkan barang-barangnya.
Dia berpikir mengapa ada perempuan yang terlahir seperti Lexa? Nyaris tanpa cela!
Cantik
Pintar
Kaya
Dia tidak menyukainya semua itu.
Apakah itu untuk memikat hati banyak orang, pikirnya.
Dia ingin Lexa terpuruk!
Saat dia tahu Lexa menyukai Zion, semakin besarlah ambisi Tiara untuk mendapatkan Zion.
Dengan mendapatkan Zion akan membuat Lexa terluka. Mendapatkan Zion berarti dia akhirnya bisa memiliki apa yang tidak bisa Lexa miliki.
Entah menghancurkan Lexa atau memiliki Zion, yang menjadi obsesi dan ambisi terbesarnya.
Saat ada dua pria tampan, kaya dan terkenal memperebutkan Lexa, semakin dengki dia pada Lexa.
Apa karena Lexa kaya? Lagi-lagi dia berpikir seperti itu.
Tiara sering melampiaskan semuanya dengan free sex dan obat-obatan. Tapi tentu saja tidak dengan cuma-cuma. Para pria kaya lah yang menjadi targentnya. Yang bisa menopang gaya hidupnya, menjadikannya lebih terkenal.
Seperti itulah perjuangan yang dia lakukan. Melempar dirinya sendiri ke lubang hitam demi sebuah ambisi yang melelahkan hati dan pikiran.
Tidak ingin mengalami masa-masa seperti dia masih kecil.
Apakah dia puas?
Tentu saja tidak!
Dia selalu merasa kurang dan kurang.
Sebelum dia memiliki Zion dan menghancurkan Lexa, itu berarti baginya dia belum bahagia.
“Dasar musuh dalam selimut!”
David benar-benar tidak habis pikir dengan Tiara. Bagaimana bisa Lexa yang begitu baik memiliki sahabat sejak kecil seperti Tiara.
Orang tua Lexa juga begitu terkejut dengan perbuatan dan sikap Tiara.
Cucu dari sopir pribadi bundanya Lexa itu ternyata sangat kejam dan licik.
Mereka memperlakukan Tiara sebagai sahabat Lexa bukan sebagai cucu dari seorang sopir.
Mereka yang membiayai sekolah Tiara meski wanita itu tidak bersekolah di tempat mereka. Bahkan setelah kakeknya meninggal, mereka yang memenuhi semua kebutuhan Tiara.
Beginilah air susu dibalas dengan air tuba.
Kasih sayang dan kepedulian yang mereka berikan dibayar dengan penderitaan Lexa.
Hati orang memang tidak pernah ada yang tahu.
Bisa jadi orang yang kita kira jahat ternyata sangat baik.
Ada juga orang yang kita anggap baik ternyata berhati busuk.
Seperti inilah ditikam dari belakang.
Orang tua Lexa masih merasa ada yang janggal dari perkataan Tiara dan semua rentetan kejadian.
“Apa lagi yang belum kamu katakan, Tiara?”
Tiara hanya tersenyum namun mengepalkan tangannya.
“Cepat katakan atau saya akan membuat kehidupan kamu menderita seumur hidup!”
Semua menunggu Tiara bicara. Wanita itu sepertinya sangat menikmati keadaan ini. Keadaan dimana orang-orang membutuhkannya. Mereka membutuhkan semua fakta darinya.
Fakta yang tersimpan selama enam tahun lebih. Haruskah Tiara membawa rahasia ini sampai mati agar mereka menderita?
Tentu saja dia ingin.
Tapi dia juga tidak ingin hancur seorang diri. Dia ingin yang lain juga diseret.
“Dengan siapa kamu menjalankan semua rencana ini? Apa ada orang yang membantu kamu malam itu?”
Tiara masih tetap diam. Memikirkan semuanya sebaik mungkin.
“Cepat katakan sekarang juga!”
Orang-orang masih menunggu jawaban itu.
“Tentu saja aku tidak sendiri!”
“Siapa yang membantu kamu?”
Tiara melihat mereka satu persatu dengan tersenyum.
“David!”