ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
107 KAKAK LAKI-LAKI



Zion menggenggam tangan Lexa.


"Yang, maafin aku ya. Semua ini memang salahku. Wajahku memang terlalu ganteng hingga bayak orang-orangan sawah yang menggaguku."


"Bukan salahmu, aku saja yang menjadi wanita dengan pesona level teratas hingga membuat para jentik nyamuk itu merasa iri akut."


Aron menggaruk-garuk kepalanya.


Pantasan jodoh, sama-sama sombong ... ck ck ck.


Gladis merasa geram, dia menghampiri Lexa dan langsung menjambak rambutnya dengan sangat kencang.


"Arrgghhh!"


"Hei lepaskan istriku, dasar kodok bunting!"


Polisi juga langsung menghampiri mereka.


"Dasar perempuan tidak tahu diri, kamu malah menambah masalah denganku. Dengar baik-baik, aku pastikan tidak ada satu pria pun yang akan sudi menjadikan kamu istrinya apalagi ibu dari anak-anaknya. Jika memang ada, maka aku juga akan menghancurkan pria itu hingga ke akar-akarnya. Camkan, itu!"


"Dasar wanita i****, mati saja kamu!"


"Kamu yang i****, kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu pernah hamil di luar nikah dan menggugurkannya saat kamu masih kelas dua SMA!"


Deg ...


Lagi-lagi berita itu menggemparkan.


"Aku akan menghancurkanmu!" teriak Gladis.


"Sebelum itu terjadi, aku dulu yang akan menghancurkanmu. Tidak ada mertua yang ingin menjadikanmu menantunya. Membunuh anaknya karena kesalahan dirinya sendiri, seperti yang kamu lakukan!"


Polisi berusaha menyeret Gladis tapi wanita itu terus memberontak.


"Dasar perempuan gila."


"Orang gila teriak orang gila," balas Lexa.


Zion dan yang lain masih melerai pertengkaran itu. Zion melindungi perut Lexa, takut terjadi sesuatu dengan anaknya.


"Cepat bawa kodok bunting ini pergi. Aku akan menuntut dia dengan tindakan kekerasan dan semua yang ada di sini menjadi saksi. Jika terjadi sesuatu pada istri dan anakku, habislah riwayatmu dan keluargamu!"


Zion langsung menggendong Lexa dan membawanya ke rumah sakit dengan mobil dikendarai oleh David.


Di mobil lain, para sahabat juga sangat cemas. Yosuke sangat tahu kalau Lexa tidak boleh stres berlebih, apalagi saat ini dia sedang hamil.


"Ayo lebih cepat!" teriak Hannie.


"Itu perempuan memang gila, dia yang salah malah dia yang marah-marah."


"Dia memang dari dulu sudah gila," kata Hannie.


"Kamu kenal dia?"


"Dia itu musuhnya Kartika, yang jadi selingkuhan pacarnya saat itu."


"Jadi dia orangnya?"


Hannie mengangguk.


"Itu perempuan memang parah. Ngomong-ngomong, kamu tahu Han, kalau dulu dia hamil?" tanya Kartika.


"Enggak. Di sekolah juga dulu enggak ada berita itu."


Mobil terus melaju ke rumah sakit.


Dokter mengatakan kondisi Lexa dan janinnya baik-baik saja, hanya mengalami syok tapi dapat diatasi.


Mereka menemui Lexa yang sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


"Bagaimana perasaan kamu sekarang?" tanya Yosuke. Yosuke tidak menanyakan kondisi fisik karena menurut dokter Lexa baik-baik saja. Tapi batinnyalah yang dicemaskan.


"Beb, kamu kok enggak bilang kalau memamasang lima CCTV di ruanganku? Kapan kamu memasangnya?"


"Ngapain aku bilang-bilang sama kamu? Semua aku pasang saat kita baru saja menikah, aku mau nyari bukti kalau kamu selingkuh jadi aku bisa langsung menggugat cerai kamu. Keren kan, aku."


Antara pengen marah tapi juga bersyukur. Enggak percayaan banget sama suami. Bukan karena dia memasang CCTV tanpa sepengetahuan aku, tapi alasannya itu, loh. Tapi kalau aku yang jadi dia, aku bisa mengerti. Siapa yang tidak waswas memiliki suami yang super duper tampan, kaya dan terkenal seperti aku. Aku memang luar biasa.


Kesombongan yang diucapkan dalam hati, tapi ekspresinya tentu saja tidak dapat ditutupi.


Sebenarnya Lexa juga diam-diam memasang CCTV di ruangan Aron, David, Kenzo, Kenzi, Ryu, Samuel, Malvin dan Andre. Bukannya kenapa-kenapa, dunia bisnis itu kejam, kita tidak pernah tahu siapa kawan dan lawan yang sesungguhnya. Lexa hanya ingin melindungi dirinya dan sahabat-sahabtnya. Bisa saja ada orang yang ingin menjebak mereka. Hanya Hannie dan Yosuke saja tang terbebas dari pengawasan Lexa karena mereka seorang dokter.


Keesokan harinya, Zion menerapkan peraturan baru di perusahaannya. Dia melarang semua perempuan baik itu karyawan ataupun tamu yang masuk ke dalam ruangannya. Rekan bisnis perempuan yang sudah terlanjur bekerja sama dengannya juga harus menunggu di lobi sampai Aron menjemputnya, dan pertemuan akan dilakukan di lantai dasar dengan kaca transparan.


Suasana di perusahaan juga semakin horor, Zion semakin sinis memandang perempuan dan berdecak kesal jika ada yang memakai pakaian yang ketat dan pendek. SP satu langsung diberikan untuk karyawan tersebut.


☆☆☆


Saat ini Lexa sedang memijit pundak Zion, yang bagi Zion pasti ada maunya, asal jangan ngidam yang aneh-aneh lagi deh.


"Kita liburan ke pantai, yuk. Ajak keluarga dan yang lain juga."


Terus nanti kamu nyuruh aku mancing ikan hiu, gitu? Atau nyanyi dan joget Baby Shark di tengah laut? Atau memakai kostum putri duyung sambil berbaring di pantai menikmati panas matahari?


Mau tidak mau Zion selalu curiga jika Lexa mengungkapkan keinginannya, karena sudah bisa dipastikan semua akan berakhir dengan tawa dari Lexa, Hannie dan Kartika namun penderitaan untuk Zion, Aron dan David cs.


"My Hubby yang ganteng, mau ya ya ya ... "


Cih, sekarang aja, muji.


"Kalau kamu enggak mau, ya sudah gak usah ikut. Nanti aku ajak Davdav sama yang lain saja."


"Mau kok, mau banget."


Pada akhirnya, Lexa selalu menang, apalagi jika sudah menyebut nama Davdav.


"Kapan kita liburan?"


"Besok pagi, aku sudah nyiapin semuanya kok."


Sudah nyiapin semuanya tapi baru bilang sekarang.


"Ya sudah, aku mau tidur dulu. Kamu kalau kesiangan nanti aku tinggal."


"Mijitnya enggak dilanjutin lagi, Beb?"


"Ck, aku kan bukan tukang pijit."


Ck, tuh kan. Belum satu menit juga, malah udahan.


"Beb, jangan tidur dulu, dong!"


Tapi tidak ada jawaban, Lexa sudah terlelap dengan mimpi indahnya akan hari esok.


Pagi-pagi sekali mereka pergi menuju vila di pantai. Udara sejuk dan suasana penuh kekeluargaan sangat dirasakan.


Kartika dan Yosuke juga semakin dekat. Mungkin Lexa ada bakat untuk menjadi mak comblang. Saat ini para pria, tua dan muda, sedang membahas bisnis baru. Sedangkan para wanita membahas calon baby Lexa yang sangat ditunggu-tunggu.


"Kalian harus berhati-hati, baik itu rekan bisnis maupun lawan bisnis," ucap Ronald pada mereka.


"Apa yang terjadi pada Zion saat itu bisa saja ulah orang-orang yang ingin menghancurkannya," kali ini Alex yang berucap.


"Kami akan berhati-hati, Om."


"Pasang pengamanan yang lebih di sekitar kalian. Dulu kami juga sering mengalami hal-hal buruk, tapi semua bisa kami atasi. Bahkan dulu nyawa Lexa dan bundanya terancam."


Pandangan Alex terlihat sendu mengingat hal-hal buruk yang pernah menimpa keluarga kecilnya.


"Bahkan Lexa kehilangan kakak laki-lakinya."


Para laki-laki muda itu terkejut, mereka tidak pernah tahu kalau Lexa memiliki kakak laki-laki.