ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
103 DOA



Saat ini Lexa sedang berada di hotel untuk rapat dengan kliennya. Dari kejauhan, dia melihat Kartika ditarik paksa oleh seorang pria. Lexa memutuskan untuk mengikuti mereka. Lexa menaiki lift yang berbeda dengan mereka setelah melihat lantai tujuan kedua orang itu.


"Lepas!"


Samar-samar Lexa mendengar Kartika yang berteriak. Pria itu merobek baju milik Kartika padahal masih berada di lorong kamar hotel. Lexa memejamkan matanya sesaat ketika melihat itu. Bayangan di taman itu terlintas dalam ingatannya. Lexa tidak dapat menghubungi sekretarisnya karena ponselnya tertinggal.


"Lepasin dia, brengsek!"


Lexa langsung menendang pria itu.


"Lexa!"


Kartika merasa lega tapi juga khawatir karena Lexa sedang hamil. Pria itu kaget melihat kedatangan Lexa. Dalam keadaan seperti ini, dia masih sempat-sempatnya menatap kagum Lexa.


Lexa kembali menendang pria itu, setelah itu dia segera membawa Kartika pergi.


"Jangan ikut campur urusanku!" ucap pria itu.


"Pergilah kau, bastard!"


Pria itu langsung mendorong Lexa. Lexa langsung terjatuh namun sempat menahan perutnya agar tidak membentur lantai.


"Lexa!" tariak Kartika.


Lexa langsung bangun dan memelintir tangan pria itu hingga pria itu berteriak kesakitan. Lalu Lexa mendorong pria itu hingga tersungkur.


"Ayo cepat kita pergi!" ajak Lexa pada Kartika.


Mereka berjalan dengan cepat dan memasuki lift. Lexa mulai gemetar dan kepalanya pusing. Tidak berapa lama dia pingsan.


"Lexa!"


Untung saja Kartika sempat menahan tubuh Lexa. Lift berhenti, ketika pintunya terbuka, dia langsung berteriak minta tolong.


Orang-orang yang mendengarnya langsung menghampiri. Mereka melihat satu orang wanita pingsan dan yang satu lagi bajunya sobek.


"Tolong, dia sedang hamil!"


Seseorang langsung memanggil ambulans.


Kartika ingin menghubungi Hannie, karena hanya nomor itu yang dia punya, tapi apa daya dia jufa tidak memegang ponsel.


Kartika sangat panik dan merasa bersalah. Namun dia juga bersyukur Lexa datang dan menolongnya. Jika tidak, entahlah ...


Ambulans tiba di rumah sakit tempat Yosuke dan Hannie praktek.


Hannie yang kebetulan ada di dekat ruang UGD kaget melihat keadaan Lexa dan Kartika yang bajunya sobek.


"Lexa ... Kartika, apa yang terjadi? Lexa pingsan, ini semua terjadi karena dia menolongku."


Hannie langsung menghubungi David.


☆☆☆


Zion kaget saat mendengar kabar dari David. Dia langsung meninggalkan rapat begitu saja. Aron juga langsung mengikutnya setelah menunda rapat.


Hannie, Kartika dan Yosuke masih menunggu Lexa. Satu persatu yang lain datang.


"Apa yang terjadi?" tanya Zion.


Kartika langsung menceritakan semuanya secara detail.


"Siapa pria itu?" tanya Zion.


"Dia Arthur Reynaldi."


Pintu UGD terbuka.


"Bagaimana kondisinya, Dok?"


"Alhamdulillah semuanya baik-baik saja. Kondisi janinnya juga baik. Pasien hanya mengalami syok dan sekarang sedang tidur. Kami akan memindahkannya ke ruang rawat."


Semua bernafas lega. David cs sangat tahu apa yang menjadi penyebab Lexa syok. Bagaimana pun, trauma Lexa belum benar-benar sembuh.


David cs langsung mencari tahu tentang Arthur Reynaldi, begitu juga dengan Zion.


Yosuke yang melihat kondisi psikis Kartika juga berusaha menenangkan gadis itu ditemani oleh Hannie.


Dua jam kemudian Lexa bangun. Dia mendapati Zion dan sahabat-sahabatnya sedang berdiskusi


"Jadi apa yang akan kita lakukan padanya?" tanya Kenzi.


"Jangan lakukan apa-apa padanya, biar aku saja."


Lexa tentu saja langsung tahu apa yang dibicarakan mereka.


"Kenapa, Xa?" tanya Malvin.


"Dia menjadi urusanku."


Lexa melihat Kartika yang sudah berganti baju.


"Enggak apa-apa. Aku tahu bagaimana rasanya ada di posisi kamu."


Wajah Lexa terlihat sendu dan itu tidak dapat disembunyikan.


Zion langsung memeluk tubuh Lexa, memberikan kekuatan pada wanita itu yang dulu tidak pernah dia lakukan karena keadaan.


Mereka juga paham kenapa Lexa, tanpa pikir panjang, langsung menolong Kartika walaupun dirinya hanya seorang diri dan wanita yang sedang hamil.


"Apa yang akan kamu lakukan padanya?" tanya Samuel.


"Kita biarkan saja dulu dia, tetapi tetap dalam pengawasan."


"Kamu yakin?" tanya Andre.


"Yakin," jawab Lexa mantap.


Beberapa hari kemudian, video mengenai pelecehan dan tindak kekerasan yang dilakukan oleh Arthur Reynaldi terhadap beberapa wanita tersebar.


Berbagai kritikan dan kecaman publik diberikan pada Arthur. Perusahaannya langsung goyang, para pemegang saham langsung menarik investasi mereka. Klien yang bekerja sama juga langsung membatalkan kontrak.


Arthur juga berada di kepolisian atas tuduhan tersebut. Dia menghubungi pengacaranya. Mereka mengatakan bahwa semua itu adalah fitnah dan akal-akalan saingan bisnisnya.


Karina menyaksikan berita itu di televisi dengan perasaan campur aduk. Videonya dan Lexa juga tersebar.


Pihak William dan Willson juga langsung menuntut Arthur karena tindak kekerasan yang dilakukan Arthur pada Lexa telah membahayakan Lexa dan calon penerus keluarga William dan Willson.


Kedua keluarga yang terkenal dengan julukan DUO WILL itu juga mengerahkan pengacara terbaiknya.


Akhirnya, pertunangan antara Kartika dan Arthur yang belum sempat terjadi itu batal begitu saja. Benar, Kartika dan Arthur akan menikah, tetapi Kartika tidak menginginkannya. Dia sudah menolak tetapi pria itu selalu mengancamnya.


Kondisi Lexa sudah kembali membaik. Dia juga mengikuti berita itu dengan santai. Dia juga tidak mengidam yang aneh-aneh. Dia makan minum dan tidur dengan normal.


"Kondisimu bagaimana, Tik?" tanya Lexa pada Kartika. Selama berada di rumah sakit, Kartika selalu membesuk Lexa.


"Seharusnya aku yang bertanya, kan kamu yang dirawat di rumah sakit."


Yang Lexa maksud adalah kondisi kejiwaan Kartika. Walau yang dia alami tidak separah kejadian Lexa dulu, tetapi yang namanya perempuan, mengalami hal seperti itu pasti akan menimbulkan perasaan ketakutan dan trauma.


☆☆☆


Zion sedang membuat salad buah dan sayur kesukaan Lexa. Salad itu diberi sedikit madu dan perasan jeruk lemon juga es batu. Tidak mendapati Lexa yang ngidam aneh-aneh justru membuat Zion cemas dan kesepian. Biasanya perempuan itu suka membuatnya deg-degan dengan keinginannya yang luar biasa. Lexa memang jarang menginginkan sesuatu, tetapi jika sudah ingin, pasti hal yang aneh dan membuat orang-orang heboh.


Zion jadi merasa cemas. Apa kondisi istri dan calon anaknya baik-baik saja?


Ngidam apa kek, gitu. Apa konsultasi ke dokter, ya?


Tanpa sadar Zion mengusap-ngusap perutnya dengan gerakan pelan. Lexa dan yang lain melihat perbuatan Zion dengan tatapan aneh.


Lexa masih menikmati salad itu dengan santai sambil masih melirik Zion.


Kenapa dia? Tidak mungkin dia hamil, kan?


Lexa melihat jam tangannya.


Kenapa belum datang juga, sih?


Tidak lama kemudian seseorang datang membawa box yang berukuran sangat besar.


"Kami membawa barang pesanan Nona Alexa."


"Letakkan saja di dalam."


Tiga buah box itu diletakkan di ruang tamu.


"Apaan ini, Beb?"


"Barang pesananku," ucap Lexa dengan wajah berbinar.


Dia langsung membuka kotak itu dengan antusias.


"Ini buat kalian!"


Wajah mereka semua langsung cengo.


Mustahil!


Tidak mungkin!


Selamatkanlah hamba!


Masih banyak lagi perkataan yang hanya dapat diungkapkan dalam hati itu.


Ada kostum Naruto, Sasuke ,Kakashi dan teman-temannya yang lain di anime Naruto.


"Aku mau kalian memakai ini dan melakukan parade. Nanti kalau ada yang mau foto bareng, suruh bayar loh ... gak gratis. Kita lakukan hari Minggu pagi dan sore hingga malam. Pasti seru!"


Ya Allah, apa aku salah dalam berdoa pada-Mu? Aku memang ingin Lexa mengidam, tapi enggak gini juga, kali ...