
Zion semakin mempererat pelukannya. Lexa dapat merasakan degup jantung Zion. Jantung yang sepertinya akan berhenti berdetak karena gadis yang sedang dipeluk itu.
"Ayo kita bicarakan baik-baik, Xa!"
"Tidak ada lagi yang harus dibicarakan!"
Hening ...
Harus seperti apa aku membuatmu mengerti? Harus bagaimana agar kamu berubah pikiran? Apa hanya perpisahan yang kamu pikirkan? Apa kamu tidak mengizinkan aku untuk membuat kamu bahagia?
"Jika kamu menganggap pernikahan ini seperti bisnis, kalau begitu aku minta kompensasi, Xa!"
"Maksudnya?"
"Kamu koma selama tiga bulan lebih. Aku minta ganti rugi!"
"Maksudnya?"
"Kamu mau cuti, kan? Ayo kita keliling dunia dengan kapal pesiar yang aku hadiahkan untuk ulang tahun kamu, sebagai suami istri yang sesungguhnya! Jangan menolak!"
Lexa mengangguk dengan ragu-ragu. Entah kenapa ada perasaan yang janggal dengan kata-kata sebagai suami istri yang sesungguhnya.
Zion menetralkan nafasnya. Dadanya masih bergemuruh oleh rasa sesak karena pembahasan perceraian itu. Dis tidak ingin membuang kesempatan yang ada. Baginya waktu bersama Lexa sangat berharga.
Dia ingin waktu berhenti, agar dia dapat terus memeluk gadis itu. Agar tidak ada orang lsin yang merebut Lexa darinya. Zion menghirup nafas dalam-dalam, mecium aroma shampo, sabun dan minyak wangi yang gadis itu pakai. Aroma apel dan cherry. Lexa memang selalu suka dengan buah-buahan.
Salad buah, jus buah, kue dengan toping buah, pewangi dengan aroma buah. Apa yang Zion tidak tahu tentang kesukaan Lexa? Tidak ada!
"Bersiap-siaplah, besok pagi aku jemput. Kita akan memulai perjalanan besok!"
Zion mengecup kening Lexa, tidak peduli kalau gadis itu akan marah atau tidak. Toh dia masih suami sahnya.
"Aku pulang dulu, istirahatlah yang cukup, jangan tidur malam-malam, jangan banyak pikiran!"
Bahkan Zion masih memperhatikan gadis yang sudah membuatnya menangis itu. Cinta memang aneh, meskipun Lexa sudah menyakiti Zion, tapi Zion masih belum menyerah.
Zion berpikir mungkin saja Lexa hanya sedang bingung, Lexa butuh waktu untuk menenangkan pikiran, dan berlibur akan membuat pikiran dan perasaan Lexa jauh lebih baik.
Lexa melihat punggung tegap itu berlalu. Punggung yang bergetar saat memeluknya. Punggung yang pernah dia jadikan tempat bersandar saat lelah, kesal ataupun sedang bercanda.
Punggung yang saat masih kecil dulu pernah menggendongnya. Kini punggung itu nampak bidang dan kokoh. Punggung yang hanya pernah dipeluk oleh Lexa dan hanya pernah menggendong Lexa.
Apakah akan ada wanita lain yang digendong oleh punggung itu saat mereka berpisah nanti?
Apakah akan ada wanita lain yang bersandar manja di punggung itu?
Mereka melihat Zion yang telah selesai berbicara pada Lexa.
"Ar, urus perjalanan aku sama Lexa dengan kapal pesiar besok."
Aron sudah tahu kalau Zion memang sangat ingin mengajak Lexa keliling dunia dengan kapal pesiarnya itu.
Tanpa banyak bertanya, Aron langsung mengerjakan tugasnya. Banyak yang penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh sepasang suami istri itu. Apa keputusan akhirnya? Apakah Lexa berubah pikiran? Bukankah mereka akan berlibur dengan kapal pesiar? Timbul harapan di hati orang tua mereka, namun tidak ada yang mau bertanya.
Zion langsung pergi meninggalkan pesta keluarga tersebut. Sedangkan Lexa langsung ke kamarnya, merapihkan baju-baju yang akan dia bawa. Perjalanan keliling dunia dengan kapal pesiar, harus membutuhkan waktu berapa lama?
Aron langsung mempersiapkan semua kebutuhan yang dibutuhkan dalam kapal pesiar. Bahan makanan dan minuman, koki, dokter, perawat, pengawal, semua sampai hal paling kecil dia persiapkan.
☆☆☆
Pagi ini Zion menjemput Lexa. Zion dengan pakaian santainya tetap terlihat menawan, begitu jua dengan Lexa.
Zion mengecup pipi Lexa dan menggenggam tangan gadis itu. Lexa berusaha melepaskan genggaman itu sambil memberikan pelototan tajam pada Zion. Namun yang dipelototi tidak peduli.
Tidak ada pembicaraan selama perjalanan menuju pelabuhan. Sesampainya di sana, sebuah kapal pesiar mewah sudah menanti mereka. Lexa nampak biasa-biasa saja melihat kemewahan yang tersaji di hadapannya itu. Hamparan bunga menghiasai undakan, seorang pria bermain biola menyambut kedatangan Lexa dan Zion.
Para pengawal, nahkoda, dokter, perawat, pelayan, koki dan petugas kebersihan menunduk memberi hormat pada mereka.
"Selamat datang Tuan dan Nona. Selamat menikmati perjalanan ini, kami siap melayani Tuan dan Nona!" kata mereka serempak.
Musik masih mengalun merdu. Meskipun masih pagi, tapi suasana sudah terlihat sangat romantis. Lexa dan Zion berkeliling melihat setiap sudut kapal itu. Hotel berlayar itu memang sangat mewah.
Kolam renang, ruang makan indor dan outdor, ruang fitnes, lapangan basket mini, ruang kemudi, dapur, semua sangat lengkap.
Lexa jadi membayangkan kalau dirinya hanya melakukan perjalanan dengan berdua saja dengan Zion tanpa keluarga ataupun sahabat dengan kapal semewah ini pasti terasa sepi.
Dokter dan yang lain tentu tidak akan dekat-dekat dengan mereka kan, kalau tidak sedang dibutuhkan. Mereka pasti akan menjaga jarak.
Kamar dokter dan yang lain ada di sudut yang lain. Tentu saja mereka semua akan ikut liburan ini hingga berakhir. Suatu keberuntungan bisa menikmati liburan keliling dunia dengan gratis. Tentu saja mereka juga harus menjamin keamanan dan kesehatan Zion dan Lexa.
Para pemain musik yang turut serta juga harus pintar-pintar memilih lagu agar tuan dan nona muda itu tidak bosan.
"Dimana kamarku?" tanya Lexa.
Zion langsung membawanya ke sebuah ruangan. Lexa membuka pintu kamar itu. Matanya langsung melihat pigura pernikahan dia dan Zion. Tidak hanya itu, kasurnya juga ditaburi dengan kelopak mawar berbagai warna ditambah lilin aroma terapi di setiap sudut ruangan, memberikan sensasi dan rasa nyaman untuk orang yang ada di dalam kamar itu.
Zion langsung menutup pintu kamar itu dan ikut duduk di samping Lexa.
"Mau apa kamu? Kalau msu tidur, tidur di kamar kamu sendiri!"
"Ck, ini kamar kita, Lexa."
"Kita?"
"Iya, kita. Aku dan kamu!"
"Apa maksudnya? Aku tidak mau!"
"Bukankah kamu sudah lupa, kamu sudah setuju untuk melakukan liburan ini denganku layaknya suami istri sungguhan!"
Lexa menelan salivanya. Dia mendengus kesal.
Pria ini, jadi dia menjebakku? Tapi tunggu dulu, layaknya suami istri sungguhan? Maksudnya apa, itu?
Zion melihat raut wajah Lexa yang nampak gelisah. Dia lalu ke kamar mandi dengan senyum puas.
Misi pertama, kita akan selalu satu kamar, Lexa. Apa aku harus melakukan hal yang lebih extreme lagi? Sekarang tidak ada lagi yang boleh mengganggu bulan madu kita! Bukankah cinta datang karena terbiasa?