
SEPERTINYA ADA KESALAHAN TEKNIS JADI TOLONG PERHATIKAN NOMOR JUDUL YA. INI CHAPTER 57 DIBACA DULU SEBELUM CHAPTER 58
Hari telah malam, udara dingin menusuk tulang. Dari kejauhan Zion melihat Lexa yang tengah dibonceng olah David.
Dia tidak dapat melihat wajah David karena ditutupi oleh helm. Zion melihat mereka berhenti di sebuah cafe.
Dia juga melihat David yang menyuapi Lexa dan gadis pujaan hatinya itu tersenyum dengan perlakuan David.
Ck, dia yang ngajakin aku ke mall malah pacaran sama cowok lain. Seperti apa sih, muka tuh cowok? Gantengan siapa aku sama dia?
Zion terus menunggu melihat mereka dari kejauhan. Ingin menghampiri tapi dia juga ingin tahu bagaimana sikap Lexa selanjutnya pada David.
Sebenarnya Zion hanya mengira-ngira saja kalau itu David karena hanya Davidlah pria yang sering diceritakan oleh Lexa.
Zion mengikuti Lexa dan David yang pulang ke rumahnya.
Yang dilihat dari penglihatan Zion, kalau Lexa memeluk erat David dengan mesra dan menyandarkan kepalanya di punggung pria itu.
Padahal kenyataannya adalah Lexa sedang pusing dan kedinginan. Dia tidak ingin jatuh dari motor lalu menyusahkan orang-orang. Bisa-bisa David yang disalahkan oleh kedua orang tuanya karena jatuh dari motor saat sedang dibonceng oleh David.
Lexa turun dari motor David dan kembali sempoyongan lalu David memegang Lexa agar tidak jatuh.
Yang dilihat oleh Zion adalah mereka berpelukan dan David menggendong Lexa.
Akhirnya Zion pergi dengan hati panas dan pikiran kusut.
☆☆☆
Zion ingin menanyakan pada Lexa, tapi dia sendiri melihat alasan kenapa Lexa tidak datang ke mall menemuinya. Jadi dia urungkan niatnya itu.
Dia sama sekali tidak tahu kalau Lexa sedang sakit.
Sebenarnya Zion sangat merindukan Lexa. Dia ingin melihat wajah Lexa dan mendengar suaranya. Dia ingin mengirim pesan pada Lexa, tapi dia hapus lagi. Ingin menelepon, tapi dia batalkan. Begitu terus hingga dia melempar asal ponselnya ke atas tempat tidur.
Yang dapat dia lakukan untuk mengatasi kerinduan itu hanyalah memandangi foto-foto Lexa. Dari Lexa kecil hingga beranjak dewasa yang dia simpan di dalam dompetnya.
Lexa sendiri sejak mulai remaja sudah tidak pernah lagi masuk ke kamar Zion begitu saja. Paling mentok hanya sampai pintu kamarnya saja.
Jadi Lexa tidak pernah tahu kalau di kamar Zion banyak fotonya dari mereka masih kecil hingga SMA.
☆☆☆
Hari ini ada pesta kelulusan Zion bersama teman-teman seangkatannya. Zion sedang berbicara dengan Aron.
Banyak gadis-gadis cantik dan seksi yang membuat Zion jengah melihatnya.
“Tiara itu sepertinya sangat menyukai kamu ya. Kamu sendiri gimana? Sayang loh, kalau dilewatkan!”
“Aku tidak menyukainya, dia itu menyebalkan. Hanya karena aku sudah mengenalnya sejaknkecil bukan berarti aku menyukainya lebih dari teman.”
“Tapi dia cantik!”
“Banyak wanita cantik!”
“Bagaimana kalau buat aku saja?”
“Ambilah kalau kamu mau!”
“Lalu kenapa kamu tidak mengajak Lexa ke sini?”
“Aku tidak akan pernah membawanya ke pestaku bersama teman-temanku. Aku tidak ingin mengacaukan suasana!”
“Tapi ... “
“Sudahlah, kamu pasti mengerti maksudku!”
Tanpa mereka sadari di sana ada Tiara yang diam-diam mereka semuanya.
Tiara langsung cepat-cepat pergi sebelum Zion dan Aron melihat dia lalu di usir oleh Zion.
Zion terdiam sebentar lalu melanjutkan.
“Aku tidak pernah mau mengajak Lexa ke pesta karena dia pasti akan menjadi pusat perhatian. Pasti banyak pria yang menyukainya. Ini saja aku sudah repot punya saingan yang tidak aku kenal. Jangan ditambah lagi. Dulu aku khawatir kalau dia akan menyukai salah satu dari kalian. Sekarang dia malah menyukai sahabatnya. Kenapa tidak suka padaku saja, aku juga sahabatnya yang lebih dulu mengenalnya.”
“Kamu cari saja selingan, banyak cewek-cewek yang menyukai kamu!”
“Kamu pikir aku cowok murahan? Sampai kapanpun aku tidak akan mengkhianati Lexa!”
“Memang sudah jadian?”
“Ya belum sih!”
“Hahahaha ... belum apa-apa sudah ditolak!”
“Ck, tidak masalah tidak jadi pacar. Yang penting nanti juga kami nikah!”
“Super PD!”
“Kamu kan sudah banyak perusahaan dari orang tua kamu. Masih kurang juga? Jangan serakah!”
“Itu kan dari orang tua. Bukan dari kerja kerasku sendiri. Aku tidak mau Lexa berpikir kalau aku hanya mengandalkan warisan keluarga. Aku juga mampu, kok, membuat perusahaan sendiri!”
Aron mengangguk.
“Apa itu 4C Group?”
“Four children. Aku mau punya empat anak. Nanti perusahaan itu buat mereka!”
“Hahaha ... khayalanmu tidak tanggung-tanggung, ya!”
“Weits! Semua bermula dari khayalan lah, lalu diwujudkan dengan kerja keras disertai doa. Sebagai sahabat seharusnya kamu mendukung!”
“Pastilah! Tapi memang yakin, Lexa mau menikah dengan kamu?”
“Ya makanya usaha sama doa, dong!”
“Enggak minta dijodohkan saja pada orang tua kalian?”
“Nanti terpaksa lagi, dia. Harus ikhlas, dong. Kalau aku sih memang sudah pasti tidak akan menolak!”
☆☆☆
Zion sedang berjalan-jalan di mall. Dia ada janji dengan teman-temannya.
“Zion!”
Zion langsung menengok ke asal suara.
Ya elah, ulat bulu lagi, ulat bulu lagi.
Zion langsung berjalan dengan cepat, tidak ingin berurusan dengan Tiara. Tiara berlari mengejar Zion. Mereka berjalan beriringan. Tiara terus berbicara membuat Zion pusing.
Yang tidak Zion ketahui adalah Lexa yang juga sedang berada di mall itu bersama Hannie untuk membeli kebutuhan David sedang melihatnya dari jauh. Kalau dia tahu, Zion pasti akan langsung menghampiri Lexa karena pria itu sangat merindukannya.
“Zion!” panggil teman-temannya.
Zion langsung menghampiri mereka yang diikuti oleh Tiara.
“Ngapain sih, ngikuti terus. Pergi sana, dasar hama!”
Teman-teman Zion memang sangat tahu kalau Zion tidak pernah menyukai perempuan model Tiara jadi mereka hanya diam saja.
Mereka juga sangat tahu kalau hanya Lexa lah satu-satunya cewek yang bisa dekat dengan Zion.
Meskipun Lexa sudah lama kenal dengan Zion, tapi dia tidak pernah centil dan manja. Lexa juga selalu bersikap baik pada teman-teman Zion. Tidak pernah memandang rendah dan sangat peduli.
☆☆☆
Zion sangat fokus dengan kuliah dan usaha yang dirintisnya sejak SMA. Memang masih kecil-kecilan tapi perkembangannya cukup bagus. Dia sudah sangat jarang bertemu dengan Lexa.
Aku akan bekerja keras untuk masa depan kita dan anak-anak kita!
Itulah yang membuatnya selalu bersemangat.
Foto adalah satu-satunya pengobat rindu.
Terkadang di sela-sela kesibukannya, dia akan menonton rekaman dia dan Lexa yang direkam oleh orang tua mereka. Membuatnya tersenyum dan kembali bersemangat.
Si ulat bulu masih mengganggunya namun Zion tetap acuh. Sebenarnya dia sudah menyuruh orang-orang di mansionnya untuk mengusir Tiara kalau perempuan itu datang sendiri.
Entah karena cerdik atau licik, perempuan itu tetap saja berhasil masuk.
☆☆☆
Sudah dua tahun berlalu. Hari ini adalah wisuda Lexa. Zion menyempatkan diri untuk mengadiri wisuda Lexa. Penampilannya sangat rapih. Dia membawa buket bunga kesukaan Lexa dan boneka panda berukuran kecil.
Zion melihat Lexa dari kejauhan. Disana ada orang tua Lexa dan para pria yang sepertinya seumuran dia dan (dengan enggan Zion mengakui, mereka cukup tampan. Meskipun wajah mereka tidak terlalu jelas).
Zion ingin menghampiri tapi melihat mereka yang dikerebuti banyak orang membuatnya malas.
“Hei, kamu! Tolong sampaikan ini untuk Lexa, ya. Awas kalau tidak disampaikan!” kata Zion pada seorang gadis.
“Iya!”
Zion langsung meninggalkan perempuan itu.
“Lumayan!”
Bukannya memberikan bunga dan boneka itu untuk Lexa, gadis itu malah mengambilnya untuk dirinya sendiri.
“Jangan Lexa terus lah, yang ketibanan rezeki. Aku juga mau dapat hadiah dari cowok ganteng!”
Gadis itu lalu tersenyum cerah. Seolah dia mendapat hadiah istimewa dari sang kekasih.