ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
124 PROSES PRODUKSI



Lexa membuka matanya, ingatan akan dua orang pria yang pernah bahkan sering dia lihat entah kenapa akhir-akhir ini terus menghantuinya. Seperti ada puzle yang harus dia selesaikan.


Setelah melaukan liburan mereka, kini mereka sudah kembali dengan aktifitas masing-masing yang bahkan semakin sibuk. Memiliki perusahaan baru, meskioun itu didirikan oleh 12 orang, tidak mengurangi kesibukan mereka. Mereka harus membagi tugas agar perusahaan mereka semakin berkembang. Mereka kini ada di negara-negara yang berbeda. Zion (dengan berat hati karena harus meninggalkan Lexa) kini berada di Jerman. David berada di Korea, Kenzo di Belanda, begitu juga yang lainnya kini sudah tersebar di berbagai negara untuk mengembangkan TLV Group. Sedangkan Lexa? Wanita itu duduk manis di mansionnya sambil menikmati salad dan jus buah bagai seorang ratu. Bukan karena dia malas atau sok berkuasa, tapi karena Zion melarangnya untuk ke luar negeri dengan alasan agar Lexa tidak kelelahan. Padahal alasan yang sebenarnya Zion sangat takut jika Leza pergi tanpanya. Bagaimana kalau nanti jetnya jatuh? Bagaimana nanti kalau kapalnya tenggelam? Bagaimana nanti kalau mobilnya tabrakan?


Tambahan dari Yosuke .... "Bagaimana nanti kalau ban sependenya menggelinding? Bagaimana nanti kalau kakinya patah?" yang berhasil mendapatkan toyoran dari Zion.


Ya, Zion menjadi paranoid sejak kejadian kecelakaan itu. Bukan takut dia yang kenapa-kenapa, tapi takut Lexa yang kenapa-kenapa.


Zion selalu konsultasi pada Yosuke tanpa sepengetahuan Lexa tetapi diketahui oleh yang lain.


Setiap jam Lexa akan menghubungi Zion dengan video call.


"Hubby, aku rindu ... " ucap Lexa dengan puppy eyesnya dan menahan tawa. Dia tahu kalau Zion pasti akan dilema menahan rindu.


"Aku kesepian tanpamu. Tidak ada lagi yang memelukku saat tidur, tidak ada lagi yang menoel pipiku, mengecup kepalaku ... " kali ini Lexa memanyunkan bibirnya.


Ya Allah, aku tidak kuat dengan ujian ini!


Zion menahan gejolak yang ada di dirinya. Yang satu menahan rindu yang satunya lagi menahan senyum.


"Beb, ingat ya kamu jangan kemana-mana selama aku enggak ada. Kamu kerja di mansion saja."


"Maaf, setiap hari aku pergi tanpa sepengetahuan kamu ... "


Apa? Bagaimana bisa, padahal selama ini aku selalu menyuruh bodyguard untuk mengewasi Lexa.


Bukan tidak percaya pada Lexa, tapi dia hanya khawatir.


"Memangnya selama ini kamu kemana?"


"Aku hanya ke satu tempat, sih."


"Kemana?" Zion benar-benar tidak sabar, bagaimana bisa dia kecolongan seperti ini.


"Ke hati kamu ... setiap saat aku mengelilingi hati kamu namun entah kenapa aku tidak pernah merasa lelah ... "


Arrggghhh ...


Blush


Pipi Zion merona, dia menggigit bibirnya dan sebelah tangan meremas pahanya sendiri.


"Bebbb ... pengen pulanggg!!!" Zion seperti bocah yang sedang mengadu kepada emaknya.


"Kamu tahu enggak My Hubby, jika setiap senin sampai jumat aku sibuk tanda tangan berkas, maka setiap detik aku selalu sibuk membayangkan tentang dirimu."


"Tunggu Beb, hari ini juga aku pulang ke Jakarta. Aku enggak mau kamu sakit karena menahan rindu padaku!"


"Jangan lupa membawa sebongkah berlian!"


"Oke, sekalian nanti aku bawakan Wali."


☆☆☆


Zion benar-benar pulang hari ini juga, setelah ngebut tanda tangan dokumen yang banyak.


Sementara Zion ada di dalam jet pribadinya, Lexa yang merasa bosan berjalan-jalan di taman hiburan milik Zion dengan asisten pribadinya. Tempat ini selalu ramai dengan sosialita dan artis-artis. Ada yang melakukan foto prewedding, syuting film, bahkan sekedar arisan para kaum elite.


Lexa memang suka ke sini, disaat Zion dan sahabat-sahabatnya di luar negeri, hari Minggu yang biasanya mereka akan berkumpul, kini terasa sepi, maka Lexa akan pergi ke tempat ini yang juga selalu dikunjungi oleh turis. Para bodyguard akan mengawasi Lexa dari jarak aman.


Tidak hanya ada restoran di tempat ini, bahkan jajanan tangvsering ditemui di pinggir jalan juga ada. Para pedagang dari kalangan sederhana itu boleh berjualan di sini dengan ketentuan bahwa makanan yang mereka jual harus bersih dan sehat. Mereka juga menjual dagangan mereka dengan harga sedikit di atas standar.


Saat ini Lexa sedang memakan siomai yang dia beli dari seorang pria yang cukup tua. Pria itu mengipasi seorang anak laki-laki yang kira-kira berumur empat tahun.


"Cucunya, Pak?"


"Iya."


"Di rumah enggak ada yang jagain, Non."


"Memang mamanya kemana?"


"Kedua orang tuanya sudah meninggal saat masih bayi."


Lexa jadi teringat baby Arion dan ... Tiara juga bayinya.


"Jadi setiap hari ikut Bapak bekerja?"


"Iya."


Lexa benar-benar merasa kasihan.


"Ini, Pak!" Lexa memberikan sejumlah uang kepada bapak itu.


"Jangan, Non!"


"Ini bukan untuk Bapak, tapi untuk adik ini. Tolong belikan kebutuhannya. Susu, baju, buah-buahan dan sebagainya."


"Tapi ini kebanyakan, Non."


"Kan kebutuhannya memang banyak. Sudah Pak, saya pergi dulu ya."


Uang yang diberikan oleh Lexa memang sangat banyak. Bahkan bapak itu berpikir apa itu uang palsu? Karena tiba-tiba saja ada wanita muda dan cantik memberiksn uang sebanyak itu padanya, yang tidak pernah dia miliki sebelumnya. Tangannya bergetar dengan perasaan haru dan tidak percaya. Dalam hati dia mengucapkan syukur dan berdoa untuk kebaikan Lexa.


Walaupun tidak bisa memberikan kasih sayang dan kebutuhan baby Arion, setidaknya aku bisa memberikan kebutuhan anak lain.


Dari jarak jauh, ada yang memperhatikan kegiatan Lexa sejak tadi, namun bukan para bodyguard.


☆☆☆


Pintu kamar Lexa terbuka, pria tampan itu langsung memeluk tubuh Lexa.


"Bab, aku kangen banget sama kamu."


"Hubby, aku mau baby."


"Kalau gitu aku enggak mau keluar kota atau luar negeri lagi."


"Apa hubungannya?"


"Kan proses produksinya jadi terganggu. Coba kamu hitung, dalam satu hari bisa berapa banyak proses yang dilakukan? Terus harus dari bibit yang unggul agar menghasilkan hasil dengan kualitas baik. Sekian jam kali sekian hari, lalu kali lagi sekian minggu dan bulan. Berapa banyak kerugian yang dicapai dari produksi yang tersendat?"


Zion kembali melanjutkan.


"Hasil yang baik juga bukan hanya dari mesin yang bagus, tapi dari sumber daya manusianya yang prima dan sehat. Makan teratur, istirahat yang cukup, pikiran yang fresh dan bahagia."


"Hanya ada satu yang lolos seleksi, sisanya pasti reject bahkan terbuang sia-sia. Oya, kerja sama tim yang solid juga dibutuhkan ... bla bla bla ... "


"Dah ah, aku jadi ngantuk dengerin kamu ngomongin proses produksi. Enggak perlu teori, yang penting praktek."


"Betul, nah sekarang ayo kita praktek."


"Kapan-kapan saja ya, soalnya aku lagi datang bulan."


Bolehkah Zion mengumpat? Sudah buru-buru pulang dari Jerman dan pidato panjang lebar malah dijawab dengan datang bulan.


Ish, nyebelin banget sih kamu, Yang. Tapi semakin cantik dan seksi ...