
Satu jam
Dua jam
Tiga jam
.
.
.
.
Sudah berjam-jam Lexa masih belum sadarkan diri. Zion masih setia menunggu. Dia ingin ikut mengurus David, tapi juga tidak ingin meninggalkan Lexa walau hanya satu detik saja. Sejak membawa Lexa ke ruang persalinan, dia belum lagi mendengar tentang David.
Zion ingin ikut memakamkan David.
Setidaknya dia bisa mewakilkan Lexa untuk mengantar David ke peristirahatan terakhirnya.
Ada rasa penyesalan dalam dirinya.
☆☆☆
Hannie memeluk tubuh David. Badannya terguncang oleh tangis yang tak dapat berhenti.
"Jangan pergi!"
Kenzo mengusap punggung Hannie, mencoba untuk menenangkan.
"Ken, tolong bilang pada kakakku jangan meninggalkanku."
"Tenangkan dirimu, Han."
"Lexa sudah melahirkan. Ayo kita berkumpul seperti dulu lagi. Jangan seperti ini."
"Kamu juga jangan seperti ini."
Namun Hannie terus saja menangis.
.
.
.
Sudah lebih dari dua puluh empat jam, masih setia menunggu.
"Zion!"
Panggilan dari Aron tak dia hiraukan. Yang lain juga akhirnya diam saja.
.
.
.
Zion menatap Lexa yang masih setia memejamkan matanya. Wajah cantiknya masih terlihat pucat dan sendu. Zion menghela nafasnya.
Kenapa semua ini harus terjadi?
Siapa sebenarnya yang menginginkan kematian Lexa?
Ada apa sebenarnya?
Zion sangat ingat banyak senjata api yang diarahkan pada Lexa saat itu. Dia ingin segera menyelesaikan masalah ini, tapi pikirannya tentu saja tidak fokus. Kehilangan David, kelahiran anaknya yang prematur, keadaan Lexa yang saat ini masih belum sadar akibat pendarahan dan komplikasi, lalu ditambah keadaan psikis Lexa yang terguncang akibat kehilangan David.
Semua tidak mudah.
Setelah Lexa sadar nanti, Yosuke sudah mewanti-wanti keadaan Lexa yang harus diawasi, karena dikhawatirkan akan mengalami babyblus.
Untung saja Zion juga tidak sendiri, ada orang tuanya, orang tua Lexa dan sahabat-sahabatnya yang pastinya akan ikut membantunya menghadapi semua ini.
Tanggung jawabnya kini semakin bertambah.
Ryu menepuk punggung Zion, memberikan kekuatan untuk pria yang menjadi suami dari sahabatnya itu.
Ya, sejak masalah salah paham itu terbongkar, mereka semua telah menganggap Zion sebagai sahabat, bahkan saudara mereka.
Meskipun belum dibicarakan, tapi mereka juga akan mencari dalang utama dibalik semua ini. Membalaskan darah yang telah keluar dari tubuh Lexa, Zion dan David. Juga dari korban lainnya yang terluka maupun yang tewas.
Zion mengusap tangan Lexa. Belum lagi luka bekas tembakan itu kering di lengan dan pundak Lexa, kini jarum infus kembali menusuk pergelangan tangan Lexa.
Pikiran Zion menerawang, kulit putih mulus istrinya harus merasakan dua tembakan dan dijahit.
Dia tidak rela.
Dia harus membalaskan dendam ini.
Meski harus ke ujung dunia sekalipun, dia harus menemukan orang itu.
Tapi dia belum bisa melakukan itu sekarang.
Lexa dan anak mereka adalah prioritasnya saat ini.
.
.
.
Perlahan mata Lexa terbuka.
"Zi ...."
"Akhirnya kamu bangun juga, Sayang."
"Anak kita?"
"Baik-baik saja sayang. Masih ada di ruang inkubator."
"David?"
Zion hanya diam saja.
Lexa menangis dalam diam.
"Aku mau lihat anak aku."
"Sebentar lagi, aku akan meminta dokter agar anak kita bisa dibawa ke sini secepatnya."
Tentu saja tidak mudah, karena lahir secara prematur.
Entah berapa kali Lexa tidur, bangun, lalu tidur lagi, tapi belum juga melihat anaknya.
"Aku mau anak aku!"
"Iya, sebentar lagi ya."
Mereka sudah berkumpul di ruangan Lexa, kecuali Hannie, Kenzo dan Samuel yang sepertinya masih mengurus pemakaman David, pikir Zion.
Sebentar itu ternyata lama.
"Anak aku mana? Jangan-jangan kalian bohongin aku lagi, ya?"
"Enggak Yang, sebentar lagi ya. Sabar!"
"Sabar terus yang kamu bilang."
Pintu perlahan terbuka.
Dokter dan perawat mendorong box bayi.
Lexa menatap takjub.
Dia menangis haru dengan rasa tak percaya.
"Anak kita?"
"Iya sayang."
"Jadi siapa namanya?" tanya Malvin.
Zion menghela nafas dan berkata, "Davin Davio ... Davis ... Daviv ... Davia."
Lima?
Iya, bayi kembar lima. Empat laki-laki dan satu perempuan.
"Zi?"
"Iya?"
"Ini beneran anak aku semua?"
"Enggak Yang, yang lain nyewa."
Lexa memukul dada Zion.
"Tega banget kamu, anak aku dibilang nyewa."
Zion terkekeh sambil menangis haru.
"Kok banyak, Zi?"
"Aku nanam benihnya over dosis waktu itu, Yang. Terus enggak ada yang mau ngalah, eh malah jadi lima. Keren ya, Yang."
Kali ini Lexa menjambak rambut Zion, gemes bangat rasanya.
Memang sebelumnya tidak ada yang tahu kalau Lexa mengandung bayi kembar lima, termasuk Zion dan Lexa sendiri. Mereka juga sebelumnya tidak tahu jenis kelamin anak mereka.
Mereka takut kecewa, seperti kejadian baby Arion waktu itu. Terlalu berharap banyak justru duka yang menghampiri, dan itu hampir saja terjadi lagi.
Saat melakukan pemeriksaan, mereka hanya akan bertanya tentang perkembangan anak mereka saja.
Yang penting sehat.
Hanya itu yang mereka harapkan.
Siapa sangka mereka akan memiliki bayi kembar lima.
Zion sangat bahagia.
Impiannya, selain memiliki Lexa, memiliki empat orang anak. Kini justru dia memiliki lima sekaligus.
Arion, adik-adikmu sudah lahir dengan selamat. Kamu juga pasti bahagia di sana bermain dengan teman-temanmu.
"Namanya?"
"Iya. Davin, Davio, Davis, Daviv dan Davia."
Tanpa meminta izin kepada Lexa terlebih dahulu, Zion langsung menyematkan nama itu untuk anak-anak mereka.
Dia yakin Lexa atau siapapun tidak akan kebereratan, justru akan merasa senang.
Lexa menangis tersedu-sedu.
"Daviiiddd ... lihat anak aku. Namanya mirip sama nama kamu."
Bahagia, tapi juga bersedih
Ingin tertawa, tapi air mata yang keluar
Mengucap syukur, namun bela sungkawa mengiringi
Inilah yang dinamakan kebahagiaan yang tak sempurna.
Kehadiran bayi kembar lima di tengah duka yang besar.
Entah mana yang lebih besar, bahagia atau berduka?
Rasanya Lexa masih belum percaya. Dia takut semua ini hanya mimpi, tapi dia juga berharap kalau semua ini memang mimpi.
Dia takut kalau hanya bermimpi memeliki bayi kembar lima.
Dia juga takut kenyataan bahwa David tak lagi ada bersamanya, bersama mereka.
Dia ingin serakah.
Dia ingin memiliki semuanya, saat ini.
Dia tidak siap kehilangan lagi. Kehilangan baby Arion, meskipun sudah cukup lama, namun masih menyisakan trauma hingga saat ini. Sekarang dia harus kehilangan David, salah seorang yang selalu menemaninya sejak kecil. Yang selalu ada bersamanya saat tak ada Zion.
Zion dan David berbeda.
Tak akan pernah sama.
Tidak ada yang bisa menggantikan David.
"Aku mau David!" ucap Lexa. Dia kembali terisak.
Apakah ini adil untuknya?
David, jangan khawatir, aku akan menjaga Hannie dan Kai. Aku juga akan membalaskan dendam ini. Pengorbanan dan kepergianmu tidak boleh sia-sia.
"David ...."
"David memang sudah tidak bersama kita, Yang. Tapi ada Davin, Davio, Davis, Daviv dan Davia ...."
"Sebegitu cintanya kah kamu pada David, hingga menyematkan nama itu untuk anak kalian?"
Sebelum Zion menjawab, pintu ruangan terbuka, menunjukkan wajah Hannie yang sangat sembab dan sisa isak tangis.