ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
15 KECELAKAAN



Dua keluarga besar sedang berkumpul di ruang makan. Berbagai hidangan lezat tersaji di atas meja makan.


"Wah pengantin baru, kalian terlihat lebih segar ya."


"Benar, coba lihat wajah mereka berseri-seri."


Apa karena faktor usia makan mata mereka sudah rabun? Berseri-seri? Yang benar saja!


Lexa mulai menyendokkan makanannya ke dalam piringnya sendiri.


"Ambilkan untuk Zion juga, Lexa!"


"Dia kan punya tangan, lakukan saja sendiri!"


Suasana mulai tidak enak.


"Segeralah berbulan madu, kalian bisa berkeliling Eropa. Masalah pekerjaan biarkan para ayah yang mengurusnya."


"Baiklah, kamu mau kemana, Sayang?"


"Neraka!"


Benar-benar tidak bisa diajak bicara baik-baik wanita ini!


"Bersikap baiklah kepada suamimu, Lexa. Bagaimanapun kalian sudah menikah, jangan sampai kamu menyesal nanti!"


"SP 1 ... kalian sudah melanggar kesepakatan. Jangan mencampuri urusan rumah tanggaku dalam hal apapun!"


Menyesalkah mereka dengan kesepakatan itu?


Orang tua Lexa seharusnya merasa bangga memiliki anak yang cerdas dan gigih. Tapi untuk hal ini sepertinya tidak termasuk hitungan. Rasanya sangat menyebalkan.


Ingin diunyeng-unyeng tetapi anak sendiri.


Mau dibiarkan nanti tambah melunjak.


Mau dimarahi nanti tambah benci.


Serba salah!


"Sayang, kalau kamu bingung mau liburan kemana, biar aku saja yang mengurus semuanya. Kamu hanya cukup menjaga kondisi kesehatan kamu saja!"


Cih, sok baik. Dasar tukang cari muka!


"Lihatlah Zion, dia sangat peduli padamu. Meskipun pernikahan kalian tanpa rasa cinta, tapi dia tetap memperlakukan kamu dengan baik."


"Setidaknya aku tidak munafik. Lebih bagus aku, tidak bersikap pura-pura. Memangnya kalian tahu apa isi hatinya? Bisa saja dalam hati dia mengumpat, lain di hati lain di mulut."


Acara makan telah rusak!


"Apa aku harus memanggilnya Sayang? Hubby? Beb? Honey? Sweety? Darling? Aku lebih suka memanggilnya Bastard!"


Kedua orang tua Lexa benar-benar tidak menyangka dengan sikap mereka yang seperti itu. Bisa-bisanya Lexa mengatakan semua itu di hadapan suami dan kedua mertuanya.


Tidak bisakah Lexa mengatakannya dalam hati saja? Tapi Lexa sendiri tadi sudah bilang kalau dia tidak munafik, lain di mulut lain di hati.


Serba salah.


Entah apa yang bisa melukuhkan hati Lexa. Sepertinya Zion harus bekerja ekstra. Ini tidak semudah mendapatkan klien baru atau memenangkan tander.


Hati tidaklah dapat diprediksi. Tidak bisa dilobi, juga tidak dapat mengandalkan relasi.


Lihat saja, bahkan kedua orang tua Lexa tidak dapat membujuk Lexa untuk bersikap baik dan mulai menerima Zion.


Tapi Zion yakin, sekeras-kerasnya karang pasti akan terkikis juga jika terus diterpa gelombang.


Besi akan meleleh.


Es akan mencair.


Benci dapat hilang.


Cinta dapat hadir.


Semua masalah waktu dan kerja keras.


Anggap saja ini proyek jangka panjang untuk Zion.


☆☆☆


Zion sibuk dengan laporan yang harus dia baca. Berkas-berkas menumpuk di atas meja kerjanya. Dibaca dengan teliti, lalu ditanda tangani. Di baca dengan teliti, lalu dilemparkannya jika laporan itu terdapat kesalahan.


Hingga waktu sore tiba dan dia lupa akan makan siangnya. Dia memang ingin segera menyelesaikan pekerjaannya agar dia dan Lexa dapat segera berbulan madu.


Aron masuk ke ruangannya dan meletakkan setumpuk berkas di atas meja kerjanya.


Zion melemparkan pulpen ke arah Aron.


"Ini juga baru selesai. Sudah jangan banyak bicara, kerjakan saja yang benar. Aku ingin cepat-cepat pulang!"


"Hei bodoh, sebenarnya siapa yang jadi bos disini?"


"Hahaha ... santai bos. Sensi banget seperti emak-emak hamil!"


☆☆☆


Seseorang sedang mengawasi Lexa.


Orang yang lain mengawasi Zion.


Lalu seorang lagi mengawasi David.


Ini seperti permainan berburu!


Lexa sedang rapat dengan kliennya di sebuah restora.


Zion sedang rapat di sebuah hotel.


Sedangkan David sedang memantau proyek di pinggiran kota.


Sudah dua jam David mengawasi proyek itu. Setelah merasa puas, dia dan Ken segera kembali menuju kota. Di tengah perjalanan, mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba oleng, di depan mereka ada kontainer pengangkut alat-alat konsntruksi. Ken ingin mengerem tapi sepertinya remnya tidak berfungsi. Dia menekan klakson berkali-kali untuk memperingatkan kendaraan yang ada di sekitarnya. Kontainer itu semakin dekat, Ken langsung membanting stir ke kiri untuk mencegah tabrakan dengan kontainer itu.


BRUGH!


Suara benturan mobil yang menabrak bahu jalan yang dibatasi dengan pagar beton terdengar sangat keras. Mobil itu penyok, kapnya terbuka dan mengeluarkan asap, kaca-kaca pecah.


Orang-orang langsung menghampiri mobil itu untuk melakukan pertolongan pertama. Untung saja di sana banyak polisi. Jalanan langsung macet, polisi sebagian mengatur lalu lintas dan sebagian lagi mengevakuasi korban. Ambulans segera dihubungi.


Davidlah yang keadaannya paling parah karena posisinya yang ada di sebelah kiri. Darah segar mengalir ditubuhnya. Sementara Ken juga tidak sadarkan diri, namun terlihat tidak separah David.


Mereka langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat. Suster datang membawa dua brankar dan langsung menuju UGD. Dokter segera memeriksa keadaan mereka.


☆☆☆


Lexa berlari kencang menuju mobilnya. Tidak peduli kalau pekerjaan dia menumpuk, tidak peduli kalau dia masih ada meeting. Yang dia pedulikan hanyalah David.


David dan Ken yang masih berada di ruang UGD.


David dan Ken yang belum sadarkan diri.


David dan Ken yang sedang berjuang antara hidup dan mati.


Lexa mengemudikan mobilnya dengan sangat kencang. Tidak peduli dengan keselamatannya sendiri. Yang dia inginkan hanyalah tiba dengan cepat di rumah sakit.


Dia berlari lagi menuju ruang UGD.


"Bagaimana keadaan mereka?"


Disana sudah ada Hannie, Yosuke, Ryu, Kenzi, Malvin, Andre dan Samuel.


Mereka hanya menggelengkan kepala. Berjalan mondar-mondir dengan helaan nafas yang terasa berat, hanya itulah yang dapat mereka lakukan saat ini.


"Bagaimana keadaan mereka, Dok?"


Pertanyaan langsung diajukan begitu dokter keluar dari ruangan itu.


"Kondisi kedua pasien sudah stabil meskipun mereka belum sadarkan diri. Tidak ada luka yang parah, hanya saja mereka mengalami shok. Pasien akan segera dipindahkan ke ruang perawatan."


Mereka menghembuskan nafas lega lalu mulai terduduk. Ada yang duduk begitu saja di lantai, ada yang di bangku.


Ya, karena sejak tadi mereka terus saja berdiri dan berjalan mondar-mandir. Mereka tidak akan tenang sebelum mengetahui keadaan dari David dan Kenzo.


Ruang rawat David dan Kenzo disatukan, bukan karena pelit untuk menyediakan dua kamar. Mereka hanya ingin menjaga David dan Kenzo bersama-sama dalam satu ruangan agar lebih mudah memantau mereka.


Ruangan VVIP ini sangatlah besar. Ada ruang tamu juga ruang istirahat untuk keluarga yang menjaga.


Tiga sofa besar


Televisi


Kulkas


Dispenser


Lemari baju


Meja makan dan peralatan makan


Balkon


Lengkap semua.


Tidak ada yang berniat melanjutkan pekerjaan atau pulang ke rumah. Mereka masih ingin menunggu David dan Ken sadar