ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
130 PERTENGKARAN



Hari ini Lexa berniat untuk memasak sendiri makanan untuk Zion dan yang lain di mansion David. Jarak yang memang tidak jauh memudahkan dia untuk wara-wiri ke mansion sahabat-sahabatnya itu.


Berbagai jenis sup akan dia masak dengan bahan-bahan berkualitas.


"Suruh koki saja, Beb. Nanti kamu kelelahan dan sakit."


"Aku mau masak sendiri buat kalian."


Zion tidak dapat melarang, karena Lexa memang keras kepala. Bahkan Zion belum berhasil membujuk Lexa untuk tes kesehatan. Lexa memang sering cemas jika berhubungan dengan dokter. Karena baginya dengan adanya dokter berarti terjadi hal yang buruk padanya. Yang terakhir adalah kecelakaan itu.


Saat ini Lexa tengah duduk di ruang keluarga. Dia merasakan keram diperutnya lalu bergegas ke kamar mandi. Melihat noda darah di pakaian dalamnya membuat dia menghela nafas dan segera mengambil pembalut dan obat pereda nyeri.


Lexa memejamkan matanya. Selama ini dia berusaha menutupi perasaannya. Mengingat soal anak juga membuat dia teringat akan keluarganya dan keluarga Willson. Mereka membutuhkan penerus asli untuk kelangsungan keluarga mereka.


Sudah banyak cara yang dilakukan oleh Lexa. Pengobatan modern maupun alternatif, tapi sampai kini belum ada hasilnya.


Terkadang pikiran buruk menguasainya. Bagaimana kalau orang tua Zion menyuruh Zion menikah lagi? Mereka pasti mengharapkan Zion memberikan keturunan, bukan sekedar anak angkat.


"Beb?" panggilan Zion menyadarkan Lexa dari lamunannya.


"Zi?"


"Hmm?"


"Kamu mau menikah lagi?"


Zion langsung mendelik tajam pada Lexa.


"Jangan mulai lagi deh, Beb!"


Ya, selama ini mereka memang sering bertengkar masalah anak.


"Kalau kamu mau menikah lagi, ya sudah enggak apa-apa. Tapi kita pisah dulu."


"Tuh kan, itu terus yang kamu omongin. Bosan aku!"


"Tuh kan kamu sudah bosan sama aku. Pasti gara-gara aku enggak bisa punya anak lagi, kan?"


"Bukan itu maksud aku, Xa."


"Halah, alasan!"


"Kamu pasti lagi datang bulan ya, makanya sensitif."


Lexa hanya diam saja, karena apa yang dikatakan Zion memang benar. Lexa lagi PMS.


"Tapi orang tua kamu pasti mengharapkan cucu."


Tuh kan mulai lagi


"Orang tua kamu juga pasti mengharapkan cucu? Terus kamu mau menikah dengan pria lain?"


"Ya enggak lah, kan masalahnya di aku."


"Udah dong, Yang, jangan mulai lagi!"


"Tapi ... "


"Aku bilang sudah ya sudah!" kata Zion dengan cukup keras.


"Kamu ngebentak aku?"


Lexa langsung meninggalkan Zion dan membanting pintu, pergi ke kamar tamu. Zion menghela nafas berat. Selalu seperti ini jika Lexa datang bulan.


Tidak bisa dipungkiri bahwa Zion memang mengharapkan anak, darah dagingnya sendiri, tapi bersama Lexa, bukan perempuan lain.


Lexa juga wanita cerdas yang tidak bisa dibohongi. Meskipun selama ini Zion dan orang tuanya bersikap santai masalah anak ... ada ya syukur Alhamdulillah, belum dikasih ya berarti belum rezeki ... tapi Lexa tidak seperti itu. Dia tahu Zion dan orang tuanya sangat berharap, termasuk orang tuanya sendiri.


Yang Lexa tidak tahu adalah ...


Zion takut kalau dia tidak memiliki anak bersama Lexa, maka Lexa akan meninggalkannya, karena yang menyatukan dia dan Lexa adakah baby Arion dan kini alasan itu sudah tidak ada.


Mereka punya ketakutan sendiri yang tidak mereka ungkapkan satu sama lain.


Lexa yang merasa bersalah karena gara-gara kehilangan baby Arion, maka penerus keluarga William Willson terputus.


Sedangkan sampai saat ini Lexa tidak pernah mengatakan cinta pada Zion. Terkadang Zion berpikir apakah Lexa mencintai dirinya, atau kebersamaan mereka hanya keterpaksaan saja karena dulu Lexa hamil.


Dia berbicara soal perceraian apa karena dia ingin berpisah dariku? Menjadikan ketiadaan anak sebagai alasan agar bisa lepas dariku.


Apa dia ingin menjadikan aku sebagai suami yang hanya ingin senang bersama dan susah ya masing-masing?


Apa dia juga ingin aku menjadi suami dzolim dan dia sebagai istri yang teraniaya dan korban dari keegoisan seorang suami yang menginginkan anak lalu menceraikannya dan menikah lagi?


Hingga saat ini tidakkah dia sadar dan merasakan bahwa aku mencintai dia dengan tulus apa adanya? Bahkan saat dulu aku berpikir dia mengandung anak David, aku tetap menerima dia denfan lapang dada.


Banyak yang telah menikah bertahun-tahun bahkan hingga sepuluh tahun tapi belum dikarunia anak, tapi mereka baik-baik saja.


Kondisi kesehatan mereka masih naik turun tapi tidak ada hal-hal buruk lainnya yang terjadi. Dari hasil pemeriksaan hanya ditemukan penyakit-penyakit ringan seperti maag, flu, kelelahan.


Saat ini mereka berkumpul di mansion Kenzo.


"Stok vitamin masih ada?"


"Masih ada sedikit."


"Sebaiknya kalian berdelapan cepat menikah, agar ada yang mengurus kalian setiap hari."


"Yosuke, bagaimana hubungan kamu dengan Kartika?"


Yosuke hanya diam saja.


Lexa menatap para pria jomblo itu sambil memangku baby Kai. Wajah yang terlihat lelah itu terlihat cuek.


Lexa berdiri menuju dapur. Hannie yang melihat ada sedikit noda darah di pakaian Lexa segera menyusulnya. Zion yang juga melihat itu langsung menghela nafas.


Datang bulan lagi!


Bukan karena datang bulannya yang berarti menunjukkan bahwa Lexa tidak hamil, tapi karena akibat yang sebentar lagi akan terjadi.


Pertengkaran ...


Padahal baru tiga hari ini dia dan Lexa melakukan gencatan senjata. Pertengkaran sebelumnya memang lebih lama dari yang sudah-sudah.


Lexa yang semakin sensitif dan lelah juga setres harus diadu dengan Zion yang juga kurang sehat, lelah dan setres.


Lexa yang sering berteriak mengungkapkan kekesalannya sedangkan Zion yang selalu diam mendengar celotehan Lexa, menyebabkan Lexa merasa dicuekin.


Jika Lexa marah-marah dan berteriak, lalu Zion juga bersikap seperti itu, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.


Bahkan mereka sering bertengkar di hadapan sahabat-sahabat mereka yang menyebabkan mereka pusing menjadi juri.


"Kenapa sih, Zi?"


"Datang bulan lagi."


"Lexa?"


"Ya iya, masa aku!"


"Ingat, kalau Lexa marah-marah kamu diam saja."


"Kan memang biasanya seperti itu."


"Tapi ujung-ujungnya juga kamu ikutan sewot."


"Ya habis dia kalau didiami juga bilangnya gini 'Kamu kok diam saja? Jangan pura-pura enggak dengar deh! Jangan diam saja kalau diajak ngomong. Kamu kok cuekin aku terus, sih? Bla bla bla ... ' Begini salah begitu salah, bingung aku."


"Kamu kok ngomongin aku di belakang, sih!"


DEG


Zion menahan nafasnya. Yang lain juga langsung pucat.


"Jadi selama ini kamu sering ngomongin aku? Ngejelek-jelekin aku? Mau bilang kalau aku ini wanita yang tidak bisa punya anak?"


"Enggak gitu, Xa."


"Kalau aku ajak bicara kamu kebanyakan diam, tapi di belakang aku kamu malah ngomongin aku."


"Xa ... "


"Diam kalian! Sahabat macam apa kalian? Tega-teganya kalian membicarakan kekurangan aku di belakang."


Hannie mendekati Lexa.


"Tenang, Xa."


"Kamu juga mau ikut-ikutan seperti mereka? Aku tahu karena kamu sudah punya baby Kai, jadi kamu tidak akan pernah mengerti apa yang aku rasakan!"


Mereka saling pandang, bingung mau diam saja atau menyahuti.


"Kenapa pada diam? Benar kan apa yang aku bilang?


Lexa memandang Zion penuh kemarahan.


"Sudahlah Zi, aku tahu selama ini kamu enggak tahan sama aku. Jadi lebih baik kita berpisah saja!"


DEG!


Zion menggelengkan kepalanya, tangannya terkepal dengan rahang yang mengeras.


Keadaan sudah mulai diselimuti awan hitam. Keadaan Lexa yang sering tidak stabil setelah kecelakaan memang membuat mereka harus waspada mengawasinya. Namun tidak ada yang menyangka hari ini Lexa benar-benar emosi dan semarah ini. Padahal selama ini Lexa tidak pernah marah apalagi membentak kepada sahabat-sahabatnya. Ditambah perkataannya pada Zion baru saja membuat mereka benar-benar kaget.