ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
13 DI HARI PERNIKAHAN



Orang-orang tidak ada yang tidur. Ini hari pernikahan dan sekarang sudah jam lima pagi.


Tidak ada rambut yang tertata rapih.


Tidak ada wajah ceria.


Baju terlihat kusut.


Ini bukan seperti hari pernikahan, tapi lebih cocok dengan hari pemakaman.


Bunga-bunga segar yang tertata indah sangat kontras dengan suasana hati dua keluarga besar, mereka terlihat layu.


Tidak ada yang nafsu berbicara.


Jam enam


Suara sepatu mengalihkan perhatian mereka.


"Lexa!"


Lexa terlihat segar dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.


☆☆☆


Acara ijab kabul akan segera dilaksanakan. Akhirnya dia kembali. Walau bagaikanapun dia tidak ingin mempermalukan kedua orang tuanya. Mungkin ini sudah manjadi nasibnya.


Pandangannya kosong.


Lexa sudah menggunakan kebaya berwarna putih. Perhiasan mewah di rambut, leher dan telinga.


Bundanya mendampingi Lexa menuju ballroom. Tidak ada senyum di wajahnya. Orang-orang berpikir mungkin dia tegang menghadapi hari yang sakral dan sekali seumur hidup.


Jiwanya seperti melayang ...


"Sah!"


Akhirnya ...


Zion tersenyum penuh kemenangan!


Lexa masih diam tak bergerak. Tatapan matanya sendu. Tangannya bergerak memasangkan cincin di jari manis tangan Zion, tapi pikirannya entah kemana. Dia seperti robot yang bergerak karena remote control. Dia menghembuskan nafasnya berkali-kali. Sesekali melirik ke arah pintu, entah dia berharap seseorang akan hadir, atau khawatir akan kehadiran seseorang. Tapi percuma saja, toh semuanya sudah terjadi. Dia meremas tangannya, jantungnya berdegup kencang dengan deru nafas yang terasa hangat. Matanya terasa perih.


Sakit!


Itulah yang dia rasakan. Dia mengkhianati dirinya sendiri. Dia pikir dia akan baik-baik saja, ternyata tidak.


Nafasnya terasa sesak, entah sampai kapan dia mampu bertahan. Dia butuh kekuatan. Dia tidak ingin menunjukan kerapuhannya saat ini.


Langkah-langkah memasuki ruangan lagi-lagi menyita perhatian semua orang.


Di sana, di ujung pintu itu, seorang pria berdiri dengan tatapan nanar. Mereka saling menatap dalam kejauhan. Berbicara dalam hati seolah mereka akan saling memahami walau hanya dari tatapan mata saja.


Pandangan mata yang dalam.


Pandangan mata yang saling menguatkan meski tanpa kata.


Pandangan mata saling percaya bahwa David tidak meninggalkannya dan akan selalu menjaganya.


Setelah beberapa lama saling menatap mereka akhirnya saling menghampiri juga. Di tengah-tengah ruangan itu mereka berhenti tapi masih saling menatap.


Tes


Tes


Tes


Akhirnya air mata itu jatuh juga.


Air mata yang sejak tadi dia tahan dengan mati-matian.


Mereka saling berpelukan disaksikan ribuan pasang mata baik secara langsung ataupun tidak langsung. Ingat, pernikahan ini disiarkan secara langsung di semua stasiun televesi dan media online.


Suara isak tangis yang semakin lama semakin keras. Terdengar sangat menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya. Pengantin wanita yang menangis pilu dalam pelukan laki-laki lain di hari pernikahannya bahkan di hadapan orang-orang. David mengusap punggung Lexa dan mengecup puncak kepalanya. Tangisan Lexa ikut membuat dirinya sakit.


Sangat ketara sekali kalau itu tangisan duka. Bukan tangis kebahagiaan yang biasanya para pengantin rasakan.


Bahkan orang-orang ada yang ikut meneteskan air mata tanpa benar-benar mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi.


Ya, tidak perlu tahu secara rinci, hanya dari tangisan itu mereka bisa ikut merasakan kesakitan dari wanita bersuami itu.


Tidak ingin menebak-nebak.


Tidak ingin memihak.


Masalah hati sulit untuk dicari logikanya.


Mungkin diantara tamu itu ada juga yang pernah merasakan seperti Lexa. Hanya saja mereka tidak seberuntung Lexa yang berada diantara dua pria tampan dan sukses.


Lexa semakin mempererat pelukannya.


"Aku bersumpah akan segera membebaskan kamu darinya, bahkan sebelum satu tahun. Bertahanlah, aku akan selalu menjaga kamu meskipun ada dia di sisimu. Dia hanyalah sebuah manekin, tidak perlu kamu pedulikan!"


Aku akan menghancurkan kamu karena telah membuat Lexa menangis!


Lexa mengangguk pelan, meskipun begitu tangisannya tidak juga reda.


Hannie ikut meneteskan air matanya. David datang bersama Hannie, Kenzo dan teman-teman mereka yang lain. Pihak-pihak yang ada di kubu David berdiri disamping David. Mereka memandang Zion seolah ingin mengajak perang.


Merka seperti ingin saling membunuh karena hanya menghancurkan saja rasanya tidaklah cukup.


Pihak-pihak yang ada di kubu Zion juga berdiri tidak jauh dari Zion.


Ini seperti api yang disiram dengan minyak lalu dihembuskan angin.


Bisa dibayangkan seperti apa?


David masih membiarkan Lexa menangis dalam pelukannya.


Jika ada yang bertanya kenapa Zion diam saja? Juga berpikir kalau dia pria yang lembek dan pasrah dengan keadaan, itu karena dia tidak ingin terlihat seperti seorang wanita yang akan berteriak marah-marah penuh frustasi saat wanita lain datang di hari pernikahannya dan berkata dia tengah hamil anak dari suaminya dan minta pertanggung jawaban. Dia ini pria, bukan wanita. Kalau dia marah-marah dan menghajar David, dia akan terlihat lebih mengenaskan dan orang-orang akan semakin kasihan dengannya.


Jadi bersikaplah penuh wibawa!


"Terima kasih sudah menghadiri pernikahan kami Tuan David. Suatu kehormatan bagi saya dan istri saya anda mau memberikan selamat dan doa atas pernikahan kami!"


Zion tersenyum saat mengatakan kata istri. Orang-orang tahu bahwa kini dialah yang menjadi suami Lexa, bukan David. Tidak peduli seperti apa hubungan mereka dan masa lalu mereka.


Lexa adalah masa depan Zion.


Zion adalah masa depan Lexa.


Lexa adalah nafas yang akan menemani langkah Zion.


Zion adalah udara yang akan selalu bersama Lexa.


Sangat percaya diri!


Aura dua kubu itu terasa sangat mencekam. Ini adalah pernikahan yang unik karena hingga sekarang belum ada satu tamupun yang mengucapkan selamat.


Para penonton di rumah ada yang ikut nangis-nangis seolah mereka menonton drama korea yang oppa favorit mereka disakiti oleh tokoh lain.


"Nyesek aku tuh, sudah ah enggak mau nonton lagi."


"Mudah-mudahan saja suaminya mati, biar dia balik lagi sama pacarnya!"


"Sudahlah move on saja. Sudah nikah ini, lama-lama juga cinta!"


"Ikhlasin saja, bukan jodoh. Nanti juga ketemu sama yang lebih baik lagi."


"Enak ya diperebutin dua laki-laki kaya dan gantengnya kebangetan. Lah aku, boro-boro dua, satu saja tidak ada!"


"Aku juga bakalan susah kalau harus memilih."


"Bla bla bla ... "


"Bla bla bla ... "


"Bla bla bla ... "


Mereka yang menonton itu lupa kalau ini bukanlah sinetron atau drama korea, sampai-sampai ada yang berharap kalau Zion mati agar Lexa dapat bersama David lagi.


Mungkin juga sebaliknya, berharap kalau David ditiadakan agar Lexa tetap bersama Zion.


Bukankah pebinor atau pelakor sebaiknya lenyap?


Jadi siapa yang sebenarnya menjadi pihak ketiga? Jawabannya tergantung mereka yang memihak para tokoh tampan itu.