ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
146 KISAH PARA SAHABAT



Hari Minggu, harinya untuk keluarga.


Zion dan Lexa berencana mengajak para bocil jalan-jalan. Pilihan jatuh ke mall, atas semua pertimbangan.


Para sahabat juga akan ikut, karena rengekan si kembar lima. Bodygurd dan baby sitter sudah berpakaian biasa layaknya orang yang akan ke mall.


Sampai di dalam mall, masing-masing bocah bersama dua orang (pria dan wanita). Seolah mereka adalah keluarga kecil. Hal ini dilakukan agar tidak ada yang tahu tentang jati diri anak-anak itu.


Untung saja anak-anak itu bukan jenis anak yang harus selalu menempel pada orang tuanya, meskipun begitu, mereka juga sudah diajarkan untuk tidak mau begitu saja diajak oleh orang yang tidak dikenal.


12 F memakai masker untuk menutupi wajah mereka agar tidak dikenali. Sebenarnya bisa saja mereka menutup mall ini untuk umum, tapi pasti beda rasanya berkeliling mall yang hanya didatangi mereka saja dengan masyarakat umum.


Menyusuri toko demi toko, mata lima bocil itu sudah jelalatan.


"Yah Liu, i wan it," ucap Davis.


(Transate \= Ayah Ryu, i want it)


Ryu menoleh ke arah yang Davis tunjuk. Seketika wajahnya merah padam.


"No Davis. Itu bukan buatmu!"


"Huaaaaa ... Dapiyami (Daddy Papi Ayah Mami). Yah liu lit." Pelit maksudnya.


Sabar Ryu, sabar.


Yang lain mengerahui hal itu, pura-pura tidak mendengar dan tidak tahu, termasuk mami papinya.


Ish ish ishh ....


Bagaimana tidak, yang ditunjuk oleh Davis itu adalah lingerie berwarna pink yang panjangnya hanya sepaha, kalaupun dibelikan, pasti nanti minta langsung dipakai.


Bisa gempar dunia permallan dan peranakan.


"Ayah belikan Davis baju yang lain ya, terserah Davis mau beli berapa."


"Ke, ngan ong."


(Translate \= Oke, jangan bohong)


Tangisannya berhenti seketika.


Dasar matre!


Mereka memasuki toko baju anak-anak. Kelima bocah itu langsung berlari berhamburan memilih baju mereka sendiri.


Dalam sekejap mata, di hadapan Ryu sudah banyak baju anak-anak dalam berbagai warna, gambar dan model (baju untuk anak laki-laki biasanya modelnya begitu-begitu saja, yang membedakan hanya gambarnya saja. Baju anak perempuan, baru berbagai model, itu yang dipilih si Queen).


Ryu melihat Yosuke.


"Bukannya tadi aku hanya menjanjikan pada Davis saja, ya?"


"Rus dil yah. Ak leh lih sih."


(Translate \= Harus adil ayah. Enggak boleh pilih kasih)


Memang selama ini Lexa dan Zion seperti itu. Jika satu dibelikan, maka yang lain juga harus dibelikan dengan jumlah dan model yang sama. Biar tidak ada yang iri dan berebutan.


Pernah salah satu dari mereka memilih sendiri mainan yang dia mau yang berbeda dari yang lain, ujung-ujungnya yang lain juga mau yang itu.


Untunglah orang tuanya kaya, jadi tidak pusing saja jadinya.


"Anggap saja kamu latihan memiliki anak, jangan kelihatan kaya orang susah, deh," ucap Yosuke enteng.


Queen memulai aksinya ....


Dia mulai mencoba baju-baju itu dan bergaya lalu minta difoto.


Tuh kan, narsis.


Dia memilih warna yang berbeda-beda untuk bajunya. Jika pagi harinya dia memakai bsju warna merah, maka saat ganti baju dia tidak mau lagi memskai warna yang sama.


Jika hari ini dia memakai baju warna merah, kuning dan hijau, maka besok dia tidak mau memakai warna mersh kuning dan hijau kagi meskipun modelnya berbeda-beda.


Benar-benar anak sultan yang narsis. Gayanya pun sudah seperti model, memasang aksi di depan kamera dengan ekspresi imut dan menggemaskan.


"Ya Ke, lin bobotan."


(Translate \= ayah Yosuke, beliin robot-robotan)


"Kan robot-robotan kalian masih banyak dan bagus, sayang duitnya."


"An ya lang sah, eh."


(Translate \= jangan kaya orang susah deh)


Kali ini Ryu yang tertawa.


"Anggap saja kamu latihan punya anak," balasnya.


Mereka menyusuri toko demi toko. Anak-anak itu terus berlarian ke sana ke mari membuat orang-orang pusing dan lelah mengejarnya.


"Sekarang kita makan dulu ya," ajak Andre.


Mereka memasuki salah satu kafe yang ukurannya sangat luas.


Queen menatap Malvin.


"Pin, ku mau mani ayah wat unya nak."


Malvin menatap yang lain sambil garuk-garuk kepala.


"Apin unya mani gak?"


Yang ada dalam pikiran Malvin bahwa Queen berkata seperti ini, "Vin, aku mau mani ayah buat punya anak. Apin punya mani gak?"


Mani?


Apakah ini maksudnya m*ni yang dihasilkan sp**ma untuk memproduksi anak?


Apalagi Queen mengaitkan kata m*ni dan anak. Wajahnya seketika merah. Dia kembali melihat yang lain, meminta pertolongan untuk menjawab bocah perempuan itu.


"Unya gak?" Queen masih saja bertanya, rupanya dia masih penasaran.


"Hmmm ... hmmm ...."


Hanya itu yang keluar dari mulut Malvin.


"No Queen, m**i ayah bukan untukmu!" teriak Malvin tanpa sadar.


Tangan mungil Queen sudah men*ger*yangi Malvin. Sedangkan Malvin tetap fokus menutupi asetnya itu dengan tangannya.


"Aku apat mani ayah."


Malvin menatap horor Alz Ziola Davia Queen Willson William.


Di tangan gadis cilik itu sudah ada dompetnya. Queen langsung menghamburkan isi domopet Malvin di atas meja.


"Ukan ong. atanya ak unya mani, ni anyak."


(Translate \= tukan bohong. Katanya gak punya mani, ini banyak)


Malvin sedikit linglung, tapi akhirnya dia mulai menyadari sesuatu.


"Astaga Queennnn ... makanya kalau bicara itu yang benar. Kalau pakai bahasa Indonesia, bahasa Indonesia sekalian. Bahasa Inggris, bahasa Inggris sekalian."


Penjelasannya sebagai berikut > mani maksudnya adalah money, artinya adalah uang.


"Jadi maksud kamu money? Uang?"


Huahaha hahaha ....


Suara tawa langsung terdengar di dalam cafe itu.


"Makanya jangan mesum!"


Malvin langsung mendapat toyoran dari sahabat-sahabatnya. Mereka lupa ada lima bocah yang melihat itu.


"Suruh siapa dia hanya menggunakan kata money dalam bahasa Inggris. Kenapa dia tidak bilang 'I want your money atau aku mau uang ayah' saja, urusannya kan tidak akan seperti ini."


"Lain kali jangan mesum, Vin, sama bocah," ucap Andre menepuk-nepuk pundak Malvin.


Cih, dasar munafik. Padahal dari tadi mereka juga berpikiran hal yang sama denga pria itu tapi tidak mau mengakuinya.


Sayangnya kali ini Malvin yang ketiban sial gara-gara anak perempuan Zion Lexa itu.


Bisa-bisanya dia dipermalukan seperti ini oleh seorang perempuan.


Untung masih pitik, coba kalau sudah besar, pasti dia ajak ke pelaminan.


Eh?


"Queen, call me ayah Malvin. No Apin. Memangnya kamu kira ayah saudaranya Upin Ipin?"


Malvin kembali ditertawakan.


"Upin an Ipin inilah ia ...."


Davin malah nyanyi.


"Zion, Lexa ... kenapa kalian memiliki lima titisan seperti ini?"


"No angry yah, nti pat ua."


(Translate \= jangan marah Yah, nanti cepat tua)


Malvin mengelus dadanya, jangan sampai nanti dia punya anak seperti lima bocah ini.


Dia melihat isi dompetnya yang masih berserakan di atas meja.


"Memangnya Queen mau beli apa?"


"Oneka nak."


Boneka anak, boneka yang bentuknya orang.


Malvin kembali mengangguk paham. Jadi maksudnya Queen mau anak adalah boneka?


Ck, pikirannya memang sudah terlalu jauh.


Jalan-jalan ini diakhiri dengan puluhan kantong belanja hasil memalak bocah-bocah itu.


"Akhirnya aku paham sekarang," kata Kenzi.


"Apa?"


"Bocah-bocah itu merengek meminta kita ikut ke mall agar bisa menguras isi rekening kita."


"Benar."


"Titisan Zion Lexa itu benar-benar luar biasa."


"Betul betul betul."


"Orang tuanya bahkan tidak mengekuarkan uang sepeser pun."


"Hanya kita bersepuluh saja yang diperas."


"Mereka benar-benar cabe rawit yang licik."


Memang dari 12 orang itu, hanya Zion dan Lexa saja yang aman.


"Lihat saja, nanti kalau aku punya anak perempuan, aku akan menyuruh anakku morotin anak laki-laki mereka."


Mereka mengangguk setuju, padahal di depan mereka ada Zion dan Lexa yang mendengarkan curhatan mereka.


"Yang, calon besan kita punya rencana jelek," ucap Zion.


"Biarkan Beb, nanti kalau anak kita menikah dengan anak mereka, toh perusahaan mereka juga buat anak kita."


"Benar juga ya, Yang. Pintar banget kamu."


"Anak-anak kita benar-benar calon pembisnis yang hebat. Sudah bisa memanfaatkan kesempatan, enggak mau rugi."


"Tapi anak kita cuma lima, kurang empat Yang. Nambah lagi yuk, biar mereka gak rebutan."


"Ayuk!"


"Ya Tuhan, apa salah kami memiliki sahabat seperti ini."


Lexa dan Zion melakukan tos, bahagia banget mereka lihat wajah-wajah sahabatnya itu.