ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
36 TRAGEDI ULANG TAHUN



Zion memberikan gaun merah untuk Lexa.


"Gaun untuk apa?"


"Sudah pakai saja. Satu jam lagi aku kesini, kamu bersiap-siaplah!"


Lexa segera mandi. Selesai mandi dia langsung menggunakan gaun itu dan menghias diri. Gaunnya panjang hingga menyapu lantai.


Zion juga memberikan sepaket berlian untuk Lexa.


Lexa menyanggul rambutnya dan menyisakan anak rambut di setiap sisi kupingnya.


Tok tok tok ...


Lexa membuka pintu kamarnya. Zion benar-benar terpana melihat penampilan Lexa.


Zion mendekati Lexa. Ingin sekali dia memeluk wanita itu dan menciumnya.


"Kamu cantik!"


"Iyalah, aku kan perempuan bukan laki-laki!"


Zion sangat gemas dengan Lexa.


Dia langsung menggelitik pinggang Lexa hinnga perempuan itu tertawa tapi juga kesal.


Lexa semakin memundurkan badannya hingga kakinya menabrak kasur dan dia jatuh di atasnya.


Kesempatan itu Zion manfaatkan untuk menggelitik telapak kaki Lexa.


"Hei jangan sentuh, ingat kesepakatan kita. Tidak ada kontak fisik. Kalau kamu melanggar maka seluruh saham milik kamu akan menjadi milik aku."


"Tidak masalah. Itu juga memang buat istri dan anak-anak aku. Ya kan, Yang?"


Lexa kesal dengaan perkataan Zion. Dia berusaha menendang pria itu tapi apa daya, kakinya saja sedang di gelitiki oleh Zion.


Lexa terus berteriak bercampur tawa karena geli.


Tata rambutnya sudah acak-acakan.


"Ahh David tolong aku!"


Lexa memang benci sekali digelitiki. Bahkan Hannie saja yang seorang perempuan tidak berani menggelitiki Lexa. Apalagi ini, Zion yang seorang laki-laki.


"Sekali lagi kamu menyebut nama laki-laki lain maka aku memberimu pelajaran!"


Sudah dikatakan, Lexa itu keras kepala.


"David, Kenzo, Kenzi, Yosuke ... "


Sederet nama teman-temannya dia sebut.


CUP!


Zion langsung mengecup kening Lexa.


"Ahhh ... David tolong aku!"


Mendengar Lexa menyebut nama David membuat Zion murka.


"Kenapa kamu masih mengebut nama pria itu? Apa kurangnya aku bagimu? Masih kurang baik dan sabarkah aku padamu?"


"Kamu itu brengsek!"


Zion langsung mengecup semua area wajah Lexa juga leher Lexa dengan brutal.


"Ahhhh ... David tolong aku. Hannie ... !"


"Minta tolonglah pada mereka. Mereka tidak akan bisa menolong kamu!"


"DAVID!"


Sekelebat kejadian lima tahun lalu muncul lagi dalam penglihatan dan pikiran Lexa.


Air matanya terus keluar dan Lexa berusaha memberontak.


Walaupun Lexa bisa bela diri, tapi dengan posisi yang tidak menguntungkan dan pikiran yang kacau membuatnya kesulitan untuk melepaskan diri dari Zion.


David mengemudikan mobilnya dengan kencang. Di belakangnya ada teman-temannya yang menyusulnya.


Tidak lama kemudian mereka sampai di mansion itu bertepatan dengan orang tua Lexa dan Zion. Sedangkan teman-teman Zion sudah berkumpul dan masih menunggu Zion dan Lexa turun. Tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi di kamar Lexa karena kamar itu kedap suara.


"Jangan! Jangan!" teriak Lexa.


Tangannya berusaha memberontak dari cengkraman Zion. Entah setan apa yang sedang merasuki Zion. Gaun Lexa sudah mulai robek.


"Jangan!"


Tangan Lexa menyentuh pisau kecil yang selalu dia selipkan di bawah bantal. Dia berusaha mengambilnya.


Sreettt!


"Aww!"


Lexa melukai lengan Zion. Zion langsung melepaskan cengkramannya dan Lexa menendang Zion hingga terhuyung ke belakang.


"David!"


Lexa lalu berlari membuka pintu dan ke luar kamar.


"David!" teriaknya lagi.


"AAARRRRGGGHHH!"


Suara teriakan Lexa yang memanggil nama David langsung menarik perhatian semua orang. Terutama David cs dan para orang tua.


"AAARRGGHH!"


"Astaga, Lexa!"


Lexa tersandung gaunnya dan jatuh terguling-guling dari anak tangga teratas hingga benar-benar mencapai lantai bawah.


"Lexa!" teriak Zion.


Zion langsung berlari turun.


Orang-orang menghampiri Lexa. Mereka melihat Lexa dan Zion bergantian.


Keadaan Lexa sudah sangat kacau.


Bajunya sobek


Matanya basah


Rambutnya berantakan


Bekas kissmark di lehernya


Sedangkan David, lengannya tersayat dan mengeluarkan darah.


David menatap Zion dengan murka. Tapi keselamatan Lexa lebih utama.


Hannie sudah hampir pingsan kalau saja Kenzo tidak menenangkannya.


"Cepat panggil ambulans!" entah siapa yang memberi perintah, sudah tidak ada lagi yang memperhatikan. Fokus mereka hanyalah pada Lexa.


David mendekatkan tangannya ke lubang hidung Lexa dengan gemetaran.


Dia sedikit lega masih ada udara yang berhembus dari hidung itu. Darah mengalir dari hidung Lexa juga kepalanya. Keadaannya benar-benar tragis.


Bunda Lexa sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi.


Mobil-mobil mengikuti ambulans itu.


Dokter segera memberikan pertolongan pada Lexa.


BUGH!


"Brengsek!"


BUGH!


"********!"


BUGH!


"*******!"


BUGH!


"Pergilah ke neraka!"


David menghajar Zion bertubi-tubi.


Zion tidak membalas karena dia sadar dialah yang bersalah.


"Sudah aku bilang lepaskan saja dia!"


BUGH!


"Kamu malah membuatnya menderita. Apa kamu belum puas kalau dia belum tewas?"


Teman-teman Zion yang ingin menghalangi David memukul Zion, dicegah oleh teman-teman David dan Lexa.


Koridor rumah sakit itu sudah seperti arena tinju.


BUGH!


Kali ini Zion yang menghajar David.


"Kamu pikir, kalau kamu yang bersamanya maka dia akan bahagia?"


BUGH!


"Kamu lebih brengsek dari aku!"


BUGH!


"Kamu itu pengkhianat!"


"Apa maksudmu?"


"Kamu mencintai sahabatnya sendiri, kan?"


"Kamu benar! Aku memang menyayangi Hannie. Memangnya kenapa? Apa yang salah dari itu?"


BUGH!


BUGH!


"Tentu saja salah, bodoh!"


"Kamulah yang bodoh!"


Para orang tua sudah sangat cemas dengan keadaan Lexa, sekarang David dan Zion malah semakin membuat mereka pusing dan sakit kepala.


"Kamu sudah menghamili sahabatnya!"


"Dasar idiot!"


BUGH!


BUGH!


"Berdoalah jika Lexa sadar nanti dia tidak gila atau bunuh diri. Kalau sampai itu terjadi, aku bersumpah akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!"


Hannie menangis terisak-isak mendengar perkataan David.


Kenzo masih berusaha menenangkannya.


Suasana terlihat sangat kacau.


"Apa kamu belum puas menghancurkan hidup Lexa?" tanya David.


"Bukan aku, tapi kamu!"


"Dasar bedebah! Tetap saja kamu tidak mau mengaku!"


"Apa yang harus aku akui?"


"Kamu hampir merusak masa depannya!"


"Sudah aku bilang, bukan aku. Tapi kamu!"


Pukulan-pukulan itu tidak pernah berhenti.


Sambil memukul sambil memaki. Petugas keamanan tidak ada yang berani melerai.


Darah sudah berceceran di lantai.


Tidak ada yang bisa berpikiran tenang sekarang.


Dunia serasa berhenti. Dokter yang ada di dalam UGD tidak juga keluar.


"Cepat ceraikan Lexa. Kamu tidak pantas untuknya!"


"Tidak akan! Kamu saja yang tinggalkan Lexa lalu menikahi Hannie."


"Tidak akan! Kamu dengar ini baik-baik ... aku tidak akan pernah meninggalkan Lexa sedikitpun. Aku juga tidak akan pernah menikahi Hannie! Apa sudah jelas apa yang aku katakan?"


"Dasar ******** teriak ********! Kamu mau lari dari tanggung jawab?"


"Tentu saja tidak. Oleh sebab itu aku tidak akan pernah meninggalkan Lexa. Kenapa kamu masih belum mengerti juga?"


"Lalu bagaimana dengan Hannie? Siapa yang akan bertanggung jawab pada anak yang dikandungnya?"


"Tentu saja suaminya! Hannie itu adikku dan anak yang dikandungnya adalah keponakan aku. Jadi apa yang salah kalau aku menyayangi adik dan keponakan aku sendiri?"


Eh?


Apa?


What?


Serius?


Zion langsung terdiam. Apa kupingnya salah dengar?


"Kamu bilang apa barusan?"


"Aku dan Hannie itu kakak beradik, bodoh!"


DEG!


DEG!


DEG