ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
152 Kerasukan



Zion sedang berenang bersama anak-anaknya. Sedangkan Lexa sibuk memfoto mereka dan menyimpannya di galeri yang sudah penuh.


"Sayang, ayo sini. Aku tahu aku ganteng, tapi kamu tidak perlu memfotoku terus-menerus."


Pria itu memang selalu percaya diri, ya walau memang benar kalau dirinya tampan.


"Gimana dengan misi kita?" tanya Zion.


"Harus lanjut. Enak saja kalau sampai gagal."


Mereka berdua memang punya misi rahasia. Misi yang hanya mereka berdua saja yang tahu.


"Honey, gimana kalau kita bikin anak lagi?"


"Kamu mau bikinnya atau mau punya anaknya?"


"Dua-duanya," jawab Zion santai yang langsung mendapat tatapan kesal dari Lexa. Pria itu hanya cengengesan saja.


"Anak kita sudah lima, masih kurang?"


"Kan enak, kalau punya banyak anak. Nanti kalau mereka sudah besar, mereka pasti sibuk dengan urusan masing-masing. Apalagi kalau sudah menikah, kita yang kesepian."


Punya anak kembar lima sekaligus, tentu saja tumbuh kembang mereka juga akan bersama. Dan kalau mereka menikah dalam waktu yang tidak berjauhan, tentu Lexa dan Zion akan langsung kesepian.


Sahabat-sahabat mereka juga akan merasakan hal yang sama. Lexa dan Zion, yang terlahir sebagai anak tunggal, merasa bersyukur mereka memiliki sahabat seperti mereka, sebagai pengganti saudara yang tidak mereka miliki. Merasakan suka duka bersama.


"Aku jadi kangen sama mereka."


"Kalian kangen sama kami?"


David dan yang lain datang. Anak Hannie langsung menyeburkan dirinya ke kolam renang, bergabung bersama si kembar yang sedang main perosotan kolam.


Hannie meletakkan makanan di meja, lalu duduk di tepi kolam renang. Berbisik-bisik pada Lexa, dan keduanya cekikikan, membuat Zion dan Kenzo menatap curiga.


"Ngomongin cowok, ya?"


"Mau tahu aja."


Zion langsung manyun, lalu mendekati Lexa. Memeriksa apakah istrinya atau Hannie sedang memegang ponsel atau tidak.


"Jangan coba-coba selingkuh!"


"Mana mungkin aku selingkuh, karena mencari pria yang lebih baik darimu, seperti mencari jarum di tumpukan jerami." Lexa mencolek dagu Zion, yang membuat pria itu langsung tersenyum dengan wajah merona.


"Sayang, sehari saja berpisah denganmu, aku sudah sangat rindu, bagaimana bisa aku berpaling darimu," ucap Hannie yang kemudian memeluk Kenzo.


Kenzo mengerjap-ngerjapkan matanya, dan memeluk Hannie dengan erat.


"Halah, baru digombakin gitu aja sudah senang. Dasar norak!" balas Zion.


Yang lain?


Bingung


Kenapa Lexa dan Hannie mendadak aneh begini.


"Pasti ada maunya, nih. Siap-siap saja kalian mengeluarkan uang untuk barang branded!" ucap Samuel.


"Sembarangan, kami bisa kok beli sendiri."


"Terus, kenapa aneh begitu?"


"Ho'oh, enggak pantes tahu enggak. Cukup Zion saja yang pandai menggombal. Kalian seperti kerasukan jin centil!"


Lexa langsung manyun. Inilah resikonya menjadi perempuan yang biasa galak (pada orang lain), ngegombal dikit langsung dianggap kerasukan.


Dasar!


Lexa lalu mencomot kue yang dibawa oleh Hannie. Tidak lagi peduli pada para pria itu, yang sekarang sedang sibuk membicarakan bisnis. Dia dan Hannie sibuk memperhatikan anak-anak, yang sedang menjaga anak perempuan satu-satunya.


"Kalau sudah besar, bisa jadi rebutan tuh, Lex."


"Iya. Tapi aku tidak akan membiarkan sembarang pria mendekatinya."


"Jangankan kamu, kita semua juga begitu. Empat kakak laki-laki, daddy, dan para papa mama papi mami ayah bunda, juga pasti sangat protektif padanya."


.


.


.


Haaaaiiii, apa kabar? Masih ingat dengan cerita ini? Aku kangen dengan Zion dan Lexa, jadi nulis bab ini, hehehe.