
Hari kelulusan untuk David dan Zion. Mereka kini bukan lagi menjadi murid SMA. Keduanya lukus dengan predikat terbaik.
“Selamat untuk kelulusan kamu dan sudah menjadi yang terbaik.”
Lexa memberikan buket bunga untuk David. Dia juga membawakan kue kreasinya sendiri.
“Terima kasih. Kamu sering membawakan aku makanan. Suatu saat nanti aku akan selalu memasak untuk!”
“Kamu juga sering memasak untuk aku!” balas Lexa.
“Hanya masakan biasa!”
“Tetap saja itu makanan dan kamu sendiri yang membuatnya."
Itulah yang selalu membuat David semakin menyukai Lexa. Gadis itu selalu menghargai orang lain dan tidak pernah sombong sedikit pun.
“Hari Minggu nanti ayo kita ke pantai. Kita akan menginap selama tiga hari.”
David tersenyum, namun hatinya sedikit dilema. Lexa tahu apa yang kini tengah dipikirkan oleh David.
“Pergi saja. Jangan khawatir soal Hannie, aku akan selalu menjaganya dengan sangat baik.”
Zion memang mendapatkan beasiswa S1 ke Jepang. Tapi dia ragu-ragu untuk pergi.
“Kesempatan tidak datang dua kali. Banyak orang yang ingin mendapatkannya tapi sangat sulit. Kamu yang mendapatkannya kenapa malah ingin menyia-nyiakannya?”
Lagi-lagi Lexa masih meyakinkan David.
“Jika kamu ke Jepang, kamu akan semakin membuat bangga almarhum ketiga orang tua kamu. Kamu juga bisa membahagiakan Hannie. Kami akan mengunjungi kamu ke Jepang setiap liburan panjang. Aku janji!”
David masih saja diam, membuat Lexa gregetan.
“Kamu masih mengkhawatirkan soal Hannie? Kamu tidak percaya padaku kalau aku akan menjaga dia?”
Bukan! Justru kamulah yang aku khawatirkan, Lexa. Aku tahu dan percaya kalau kamu akan menjaga Hannie dengan baik. Lalu siapa yang akan menjaga kamu? Haruskah aku pergi meninggalkan kamu? Bagaimana kalau ada yang membuat kamu menangis? Bagaimana kalau ada yang menyakiti kamu?
Aku sudah terbiasa denganmu! Lalu bagaimana aku bisa menjalani hari-hariku di tempat asing tanpa kehadiranmu?
“Selama ini kamu sudah membuatku bangga dan akan semakin membuat aku bangga!”
“Benarkah?”
Lexa mengangguk. Dia tentu ingin melihat David sukses dan kuliah di Jepang adalah salah satu jalan menuju kesuksesan itu.
☆☆☆
Kini Lexa, Hannie dan David sedang dalam perjalanan menuju pantai. Hannie dan Lexa sangat antusias dengan liburan ini.
Sesampainya di vila, mereka langsung berlari menuju pantai yang memang jaraknya sangat dekst dari situ. Mereka saling mencipratkan air. Lexa dan Hannie bermain kejar-kejaran sedangkan David hanta memandangi mereka sambil tersenyum. Tidak lupa dia juga mengabadikannya dalam kamera.
Meskipun hanya bertiga, tapi liburan ini sangat menyenangkan. Lexa dan David selalu menjadi pusat perhatian. Cantik dan ganteng. Hannie tentu juga cantik, tapi pesona Lexa selalu mengungguli yang lainnya.
Mereka membeli pernak-pernik yang dijual di pusat oleh-oleh. Malam harinya mereka membuat api unggun dan membakar ikan juga jagung.
Hal-hal menyenangkan terus berlanjut selama tiga hari itu.
David tersenyum melihat Lexa yang terlihat bahagia.
☆☆☆
“Lexa, ada yang mau aku sampaikan sama kamu!” ucap Tiara.
“Apa?”
“Kemarin aku diajak temanku ke pesta perpisahan. Di sana ada Zion ... “
Tiara ingin melanjutkan perkataannya namun terdengar ragu.
“Lalu?”
“Di sana ada Zion, dia bersama gadis-gadis cantik dan sexi.”
Lexa menghela nafas, seolah mengerti apa yang sedang terjadi. Tiara lalu memberikan ponselnya dan membuka sebuah rekaman.
Terlihat Zion yang sedang berbicara dengan Aron, sahabatnya.
“Aku tidak menyukainya, dia itu menyebalkan. Hanya karena aku sudah mengenalnya sejak kecil bukan berarti aku menyukainya lebih dari teman.”
“Tapi dia cantik!”
“Bagaimana kalau buat aku saja?”
“Ambilah kalau kamu mau!”
“Lalu kenapa kamu tidak mengajak Lexa ke sini?”
“Aku tidak akan pernah membawanya ke pestaku bersama teman-temanku. Aku tidak ingin mengacaukan suasana!”
“Tapi ... “
“Sudahlah, kamu pasti mengerti maksudku!”
Hati Lexa semakin sakit. Secara langsung ataupun tidak langsung Zion telah menyakiti hatinya.
“Aku sebenarnya tidak ingin menunjukkan ini padamu. Hatiku sangat sakit saat mendengar Zion mengatakan semua itu. Tapi aku juga tidak ingin kamu akan semakin berharap pada Zion dan semakin membuat kamu terluka. Kamu sahabat terbaik aku. Aku ingin kamu bahagia dan mendapatkan yang terbaik, Lexa!”
“Iya, aku tahu. Terima kasih sudah memberi tahu aku!”
Setidaknya saat itu aku bersenang-senang bersama David dan Hannie.
☆☆☆
Lexa sedang berjalan-jalan ke mall bersama Hannie. Dia ingin membelikan beberapa kebutuhan David untuk di Jepang nanti.
David memang tidak pernah memintanya, tetapi Lexa sendiri yang ingin memberikannya.
David juga sering memberikan Lexa hadiah di saat pria itu mendapatkan gaji dari hasil kerja sambilannya.
Memang bukan barang mahal dan bermerek terkenal seperti jepitan dan ikat rambut atau boneka tetapi Lexa sudah sangat senang menerimanya.
Baginya harga tidaklah penting, yang penting adalah keikhlasan dari si pemberi. Apalagi itu dari hasil jerih payah David sendiri.
Lexa dan Hannie sudah membeli tas, sepatu, mantel, kamus bahasa Jepang dan kamus kanji yang lebih lengkap.
Mereka juga membelikan cemilan dan makanan lain yang awet agar David tidak kerepotan saat dirinya sendiri harus beradaptasi dengan lingkungan baru yang berbeda bahasa.
Apalagi di Jepang tidak banyak orang yang bisa bahasa Inggris.
Tiba-tiba saja Lexa melihat Zion dan Tiara jalan bersama. Mereka jalan beriringan. Lexa langsung memalingkan wajahnya.
“Ada apa?” tanya Hannie.
“Tidak apa. Ayo kita lanjutkan lagi belanjanya. Ini masih kurang.”
“Ini sudah banyak sekali Lexa, sudah berapa banyak uang yang kamu habiskan?”
“Sudah jangan dipikirkan. Ayo!”
Lexa melanjutkan kembali acara shoppingnya untuk melupakan pikirannya saat melihat Zion dan Tiara tadi.
☆☆☆
Tibalah saatnya kepergian David. Lexa dan Hannie mengantar David ke bandara. Sebenarnya Lexa ingin ikut ke Jepang sekalian jalan-jalan. Tetapi dia tidak bisa karena ayahnya menyuruh dia bekerja di perusahaan.
Lexa memang sudah mulai bekerja di perusahaan sejak masuk SMA. Itu berarti sudah satu tahun lebih. Dia selalu diajak meeting, membaca hasil laporan, melihat proyek, menganalisa, bahkan harus ikut memberikan ide untuk proyek selanjutnya.
Untunglah otaknya yang cerdas itu tidak meledak.
Sedangkan Zion sudah lebih lama lagi terjun ke perusahaan keluarganya. Mereka sama-sama anak satu-satunya, itulah mengapa tanggung jawab mereka lebih besar dan sudah dididik sejak dini.
David memeluk Hannie yang sedang menangis. Ini untuk pertama kalinya dia harus berpisah dengan kakaknya itu dalam waktu yang lama. Tapi dia juga tidak ingin melarang David pergi.
Setelah memeluk Hannie, David lalu memeluk Lexa.
“Jaga dirimu baik-baik. Jangan menangis lagi!”
Lexa hanya mengangguk dan tersenyum.
Sebenarnya dia juga sedih David pergi tapi dia tidak ingin menunjukkannya. David selalu menjaganya selama ini. Di saat Zion menyakitinya, Davidlah yang selalu menghiburnya kapanpun itu.
Pagi siang sore malam. Panas maupun hujan.
Kini sang penjaga itu mau pergi meninggalkannya. Tidak ada lagi yang akan memeluknya memberikan ketenangan.
Mereka bertiga foto bersama. David selalu berada di tengah-tengah, merangkul bahu kedua gadis cantik itu. Kedua gadis itu bersandar di lengannya dengan senyuman merekah.
Senyuman yang selalu disukai David sampai kapanpun!