
Tidak terasa usia kehamilan Lexa kini sudah memasuki usia lima bulan. Perutnya sudah sedikit membesar. Perasaan Zion tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata. Begitu bahagianya dia dan sudah tidak sabar membeli kebutuhan bayi juga mendekor kamar untuk anaknya itu.
Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kandungan Lexa. Sepanjang perjalanan Zion selalu tersenyum sambil memikirkan apakah anaknya laki-laki ataukah perempuan. Dia juga memikirkan nama apa yang akan dia berikan. Setiap harinya dia selalu berkhayal saat menggantikan bayinya popok, menidurkannya, memandikannya, menggendong dan bermain. Meskipun belum lahir, tapi rasa sayang Zion sudah sangat besar. Akan mirip siapa anaknya nanti?
Jangan sampai mirip Davdav! Dih, amit-amit.
Itulah pikiran konyol Zion, mengingat kalau Lexa sangat akrab dengan David.
Tapi katanya, jangan terlalu benci pada seseorang saat kita atau istri kita hamil, karena bayinya akan mirip orang tersebut. Dih, amit-amit.
Lagi-lagi Zion berpikiran konyol. Kalau memang semua itu benar, maka beruntunglah para wanita hamil. Mereka akan membenci salah satu aktor Korea yang berwajah tampan, agar anaknya mirip aktor tersebut. Atau memanfaatkan rasa benci pada sang mantan yang sulit membuat move on, agar suatu saat dia dapat mengatakan, "Ini anakmu, jangan lari dari tanggung jawab!"
Hahaha ... entahlah, jika memang ada yang seperti itu mungkin akan sangat lucu. Hamil karena suami tapi minta tanggung jawab pada sang mantan yang masih dicintai, akan banyak pelakor yang merajalela karena punya alasan untuk kembali kepada mantan terindah.
Semakin bertambahnya usia kehamilan Lexa, semakin bertambah juga pesona yang dimilikinya, tapi ngidam uniknya juga bertambah unik. Bukan meminta orang-orang melakukan ini itu, tetapi dia meminta bakso tapi hanya ingin menghirup aroma dari kuahnya saja. Lalu meminta jus mangga tapi rasa apel.
Apa yang dilakukan oleh Zion untuk memenuhi keinginan Lexa?
Dengan segala kecerdikan yang dimiliki olehnya, dia membuat jus apel, lalu di gelas itu ditulis '*J**us mangga rasa apel*' persis seperti anak sekolah yang sedang melakukan MOS dan disuruh hal-hal aneh oleh seniornya.
Lexa dan Zion memasuki ruangan dokter kandungan. Kondisi ibu dan janin sangat baik, membuat Zion semakin bahagia.
☆☆☆
Hari ini Lexa ingin mengajak Zion makan siang bersama. Dia melihat penampilannya di cermin. Rambutnya dia gulung, memperlihatkan leher jenjang yang putih mulus.
Empat puluh lima menit kemudia dia sudah tiba di perusahaan Zion. Setiap kali dia ke perusahaan Zion selain urusan pekerjaan, dia memang tidak pernah mengatakan pada Zion.
"Hai, Xa!" sapa Aron.
Lexa hanya diam saja menampilkan wajah judes, namun bagi Zion, itu seperti wajah bidadari yang menggemaskan dan ngangenin.
Lexa membuka pintu ruangan Zion, tapi pintu itu tidak terbuka. Berkali-kali dia menekan handel pintu itu tapi tetap tidak terbuka.
"Ron, pintunya rusak? Kok enggak bisa dibuka?"
"Enggak, kok."
Aron membuka pintu itu, tapi benar kata Lexa, pintunya tidak dapat dibuka.
"Bantu aku mendobraknya!" perintah Lexa.
"Biar aku saja!"
Aron berusaha mendobrak pintu itu namun tudak mudah, tentu saja, karena pintu itu dibuat dengan bahan khusus agarvtidak mudah rusak.
Berkali-kali mereka membukanya akhirnya pintunya terbuka juga.
"Apa yang kalian lakukan!" teriak Lexa. Dia melihat seorang perempuan yang nyaris telanjang dengan banyak kissmark dengan posisi terlentang di lantai.
"Beb ... Yang ... aku bisa jelasin. Dia yang berusaha menggoda aku."
"Itu bohong, kamu bisa lihat sendiri bagaimana kondisiku."
Lexa melihat wajah wanita itu dengan teliti. Mukanya banyak memar, baju yang teronggok di lantai juga sobek. Aron sama syoknya seperti Lexa.
Wajah Zion berkeringat padahal AC di ruangan sangat dingin. Bajunya juga sobek dan acak-acakan.
"Aku minta pertanggung jawabanmu, Zion, atau aku akan melaporkanmu ke polisi."
"Beb ... dengarkan aku dulu!"
"Kamu ingin melaporkannya? Baiklah, laporkan saja dia!" ucap Lexa penuh emosi.
"Beb!"
"Yang!"
"Yang Yeng Yang Yeng ... "
Lexa berusaha menahan emosinya. Dia melihat wanita itu yang masih menangis. Rasa-rasanya Lexa ingin membunuh seseorang, tapi sayangnya dia sedang hamil. Dia langsung pergi meninggalkan mereka dan Zion tanpa pikir panjang menahan Lexa.
"Kita bicarakan ini baik-baik Xa."
"Diam kamu, jangan merusak mood ibu hamil!"
Lexa mengatur nafasnya berkali-kali dan mengusap perutnya. Dia membawa Lexa kembali ke ruangannya dan segera mendudukkan Lexa di sofa.
"Aron, kamu urus j****g ini. Dan kamu, aku akan membuat perhitungan denganmu!"
"Aku akan melaporkanmu, Zion!"
Selepas Aron membawa wanita itu pergi, Zion langsung memeluk Lexa.
"Beb, tolong jangan salah paham. Aku bisa membuktikannya padamu."
Zion langsung membuka rekaman CCTV yang ada di ruangannya, tapi sialnya CCTV itu malah rusak.
Kalau dilihat dari apa yang Lexa saksikan, jelas-jelas wanita tadi adalah korban.
"Aku mau pulang, jangan ganggu aku!"
"Aku antar."
"Aku bilang jangan ganggu aku. Aku mau sendiri."
Lexa langsung pergi meninggalkan Zion seorang diri yang diliputi perasaan khawatir. Bukan karena dia khawatir akan dilaporkan ke polisi. Memang saat ini, dia tidak memiliki bukti apapun. Dia lebih mengkhawatirkan kondisi Lexa dan pernikahannya.
Lexa berjalan sambil mengepalkan tangannya. Disaat seperti ini, dia malah semakin lapar dan memutuskan untuk makan di cafe perusahaan itu. Bagaimana pun, nutrisi untuk anaknya harus tetap terpenuhi.
☆☆☆
Zion buru-buru masuk ke dalam mansion dan menuju kamar. Dia melihat Lexa yang tidur dengan posisi menyamping, lalu menghela nafas lega, setidaknya istrinya tidak main kabur-kaburan atau menangis tersedu-sedu ala sinetron yang sering dinonton ibu-ibu rumah tangga.
Zion mendekati Lexa dan mengusap perut istrinya itu.
"Sayangnya papi, yang sehat terus ya. Bilang sama mami, jangan ngambek sama papi! Nanti kalau kamu sudah lahir papi ajak jalan-jalan. Tapi masih kecil jalan-jalannya yang dekat saja, ke rumah tetangga saja ya."
Zion terkekeh karena perkataannya sendiri.
"Say ... "
"Duuuhhh ... berisik banget sih!"
"Maaf Yang, aku ganggu kamu, ya?"
"Sudah tahu malah nanya."
Zion menghela nafas, bukan karena perkataan Lexa, tapi dia tahu kalau Lexa masih marah padanya. Lexa bukan perempuan yang mudah dibujuk tanpa diberikan bukti. Saat ini Zion memang belum bisa memberikan bukti apa-apa karena CCTC di ruangannya rusak. Bahkan CCTV khusus yang hanya dia saja yang tahu juga sedang rusak.
Apes banget aku ... kenapa bisa rusak disaat yang bersamaan, sih?
"Beb, pokoknya apapun yang terjadi, kamu harus percaya sama aku. Aku enggak mungkin khianatin kamu."
"Aku butuh bukti, bukan hanya janji atau modal cinta buta. Kamu siap-siap saja dilaporkan ke polisi. Dia juga pasti akan membawa bukti dari hasil visum!"
Benar juga, ya.