
Hueekkk ... huueekkk ...
Terdengar suara muntah-muntah di kamar mandi. Itu bukan Lexa, tapi Zion. Tidak ada yang memijat tengkuknya, karena Lexa dan Zion masih tinggal terpisah. Tapi hari ini Zion akan memboyong Lexa untuk tinggal bersamanya.
Sore ini Zion menjemput Lexa. Mereka tiba di sebuah mansion.
"Ini mansion siapa?" tanya Lexa.
"Mansion kita. Kira akan tinggal di sini bersama anak-anak kita."
"Mansion yang sebelumnya?"
"Ada. Tapi aku enggak mau tinggal di sana."
Ya, Zion membawa Lexa ke mansion yang baru karena tidak ingin tinggal di mansion sebelumnya. Di mansion yang lama, hanya ada kesedihan. Tidak ada kenangan indah sedikit pun, dari awal mereka menikah hingga Lexa jatuh dari tangga.
Zion ingin memulai semuanya dari awal. Membuat kenangan-kenangan yang indah untuk diceritakan ke anak cucu.
"Ini kamar kita."
"Kamar kita?"
"Iya, jangan bilang kamu mau pisah kamar, lagi. Kamu lagi hamil, kalau ada apa-apa gimana, kalau malam-malam kamu butuh sesuatu gimana?"
Malam ini terasa berbeda, terutama bagi Zion. Dia senang bisa mengusap-ngusap perut Lexa yang beberapa bulan lagi akan melahirkan anak pertama mereka.
"Xa, ini bukan mimpi, kan?"
"Terserah kamu deh mau ini mimpi atau bukan, yang jelas sekarang aku mau tidur. Kamu jangan berisik!"
Ih, enggak romantis. Seharusnya bilang 'iya Yang, ini bukan mimpi. Aku senang akhirnya kita bisa menikah dan memiliki anak. Aku janji akan menjadi istri yang baik untuk kamu dan mama yang baik untuk anak-anak kita. Lah ini?
Sepertinya Zion terlalu banyak berkhayal.
Tengah malam Lexa terbangun, lalu mengguncang-guncang badan Zion agar pria itu bangun.
"Buruan bangun!"
"Kenapa?"
"Aku mau nangis kuning."
Zion tersenyum.
"Ngidam, ya?"
Lexa hanya diam saja.
"Hmmm ... yaudah aku beli dulu ya."
"Jangan, aku mau kamu yang buat. Dibikin seperti tumpeng yang perayaan kemerdekaan ya, lengkap dengan lauk pauknya."
What?
Sebenarnya Zion senang bisa merasakan istrinya yang ngidam. Tapi ini ...
Dia tidak punya cetakan agar nasi itu bisa berbentuk kerucut, lalu daun pisang sebagai alas, dan sebagainya.
Oke, demi anak pertama yang dia nantikan, dia akan membuat nasi tumpeng itu. Zion langsung menghubungi Aron untuk membeli semua peralatan dan bahan.
Sementara itu Lexa sibuk menonton film action di ponselnya.
Aron datang dengan membawa apa yang dibutuhkan.
"Kamu temani aku masak, kalau sudah selesai kamu tidur di kamar tamu."
Zion sibuk dengan peralatan tempurnya.
Setelah semua masakan jadi, dia langsung membentuk, menata dan menghiasnya. Membuat tomat yang berbentuk mawar dengan beberapa kali percobaan, juga cabe merah yang mekar, potongan timur, orek tempe, dadar yang dipotong memanjang, telur dicabein, ayam goreng.
Dengan hati riang Zion membawa makanan itu, dilihatnya Lexa yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Beb, nih sudah jadi."
Lexa melihat makanan itu dengan wajah yang biasa-biasa saja. Dia segera mengambil foto masakan Zion dengan ponselnya beberapa kali lalu mempostingnya di sosial media miliknya, setelah itu dia merebahkan dirinya di kasur.
"Kamu mau apa?"
"Tidur lah, memang mau apa lagi?"
"Ini makanannya?"
"Buat kamu saja, kan kamu yang masak."
"Tadi katanya mau."
"Iya, mau aku posting, sudah kan tadi."
"Bukan! Ngapain aku makan malam-malam, gini."
Zion menghela nafasnya.
"Kasihan Aron, loh. Tadi dia datang hanya buat ngantar bahan dan peralatannya, terus temani aku masak."
"Aron masih ada?"
"Masih. Tidur di kamar tamu."
"Ya sudah, kalian makan saja berdua. Kalau kenyang bisa buat sarapan."
Lexa langsung menarik selimutnya, tidak lama kemudian sudah tidur nyenyak.
Zion menatap nasi tumpengnya. Lalu dia melakukan hal sama dengan Lexa, memfotonya lalu mempostingnya di sosial media dengan tulisan 'Menjadi chef tengah malam demi anak dan istri tercinta. Sehat selalu untuk kalian, i love you both.'
Sudah satu minggu berlalu sejak mereka tinggal bersama. Hari ini Zion pulang sedikit telat, jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.
Dia melihat banyak mobil yang terpakir di halaman mansionnya, tapi pintu rumah tertutup rapat. Dia dan Aron saling berpandangan. Zion membuka pintu dan langsung beristigfar. Nampak lampu warna-warni berkelap-kelip dengan musik dimainkan oleh seorang DJ. Ada Lexa dan David cs. Suasanya benar-benar seperti club malam.
"Ada apa ini?"
"Oh, kamu sudah pulang, ayo sini gabung."
Bukan hanya David cs, di sana juga ada sahabat-sahabat Zion. Ada sahabatnyadi mansionnya, sedangkan Zion malah tidak tahu apa-apa.
"Ada apa ini, Lexa?"
"Lexa lagi ngidam pengen ke club malam, coba!"
"Hah?"
"Tapi enggak mungkin kami membiarkan dia pergi ke tempat seperti itu, jadi kami membuat club malam KW."
"Hah?"
Lagi-lagi Zion terpaku dengan ngidam ala istrinya. Dia melihat Lexa meminum minuman yang berwarna merah.
"Jangan minum itu, Lexa, tidak baik dengan kandungan kamu."
"Kamu tenang saja, minuman di sini semua sirop dan soda beraneka warna. Yang Lexa minum itu sirop, sedangkan yang kami minum hanya soda. Kamu pikir kami akan membiarkan Lexa minum alkohol?" kata David.
Ya, David juga sangat kaget saat Lexa membujuknya untuk menemani ke klub malam, sepertinya dia penasaran dengan tempat itu, sama seperti dia penasaran dengan minuman berakohol dulu. Minum alkohol saja tidak pernah, apalagi pergi ke klub malam.
Zion memijit pangkal hidungnya. Selama ini Lexa memang tidak pernah mengeluh soal kehamilannya, tidak pernah morning sickness. Tapi saat menginginkan sesuatu, benar-benar diluar dugaan. Ssalah satunya ya ini, ngidam kok maunya ke club malam, ditambah kehadiran orang-orang ini.
"Terus kalian ngapain di sini?" tanya Zion pada sahabat-sahabatnya.
"Ya memeriahkan suasana, biar rame, kan. Mana ada club malam yang sepi."
Memang benar.
Sepertinya acara ini benar-benar diatur dengan baik, buktinya saja ada DJ profesional.
Setelah didengar baik-baik, ternyata lagu yang dimainkan adalah lagu anak-anak dan lagu-lagu kartun seperti Doraemon, sailormoon dan lain-lain.
Entah Zion harus tertawa atau kesal dengan ngidam istrinya ini.
"Siapa yang mengatur semua ini."
"Tentu saja David."
Zion langsung cemberut ala cemburu.
Tidak hanya minuman, makanan yang disediakan juga semuanya buatan koki mansion, jadi bisa terjamin kesehatan dan kebersihannya.
"Kenapa enggak bilang sama aku?" tanya Zion pada Lexa. Lexa hanya cengar-cengir membuat Zion gemas.
Entah besok seperti apa ngidam yang dialami oleh Lexa, mudah-mudahan bukan hal-hal yang aneh lagi. Zion jadi bergidik ngeri.
Mudah-mudahan bukan ingin ketemu panda cina, atau menyuruhku memakai baju ala barbie. Bisa jadi juga dia ingin mengumpulkan serangga-seranhga seperti saat kami masih kecil dulu.
Aku harus menyiapkan hati, tenaga dan pikiran. Kenapa dia tidak meminta hal-hal romantis saja padaku, seperti kebanyakan wanita hamil lainnya yang sering di ceritakan teman-temanku saat istri mereka hamil.
.
.
.
.
.
AKU BELUM TAU KAPAN LAGI BISA UP YA. SEMOGA BISA CEPAT.