ARROGANT WIFE

ARROGANT WIFE
84 PAGI RUSUH



Hembusan nafas yang hangat menyentuh permukaan wajah Zion. Wajah cantik yang Zion lihat saat membuka mata. Senyum merekah dari bibir pria tampan tersebut. Ini seperti mimpi bagi Zion. Dia bisa melihat wajah cantik itu sebelum matanya terpejam, juga melihat wajah itu lagi saat matanya terbuka. Memberikan energi positif dan semangat baginya. Dia pandangi wajah cantik istrinya itu lekat-lekat. Dia tidak pernah merasa bosan, bahkan selalu merasa kurang dan sangat merindu saat jauh dari Lexa.


Dia tidak ingin lagi jauh dari Lexa, tidak ingin berpisah darinya. Suara detik jam terdengar namun tidak secepat debaran jantungnya.


Zion tak henti-hentinya menoel-noel wajah Lexa. Menghujaninya dengan ciuman, menarik gemas hidung mancung dan lancip itu.


Kesempatan emas!


Akhirnya, si putri tidur itu merasa tidur nyamannya terganggu.


"Apaan sih, pergi sana!"


"Bangun Xa!"


Lexa melihat jam dengan matanya yang sedikit terbuka. Baru jam empat.


"Aku masih ngantuk O'on (panggilan saat kecil dulu)"


"Aku enggak bisa tidur, Xa. Kamu tidurnya jabrah banget. Sakit badan aku ditendangi kamu terus."


Bohong banget!


Lexa tidurnya tidak pernah rusuh, apalagi sepanjang malam dikekepin terus sama Zion.


"Apalagi kamu juga grepe-grepein aku terus. Mimpi mesum ya?"


Itu jelas-jelas fitnah!


Lexa mengingat-ngingat mimpi apa dia tadi malam. Zion menahan senyuman devilnya.


"Kamu mau bikin anak?"


Bugh.


Timpukan bantal tepat mengenai wajah tampan itu.


"Kamu tuh, yang mimpi mesum."


"Betul betul betul."


Lagi-lagi Zion menggoda Lexa.


"Suasananya pas banget loh Xa. Di kapal pesiar, di lautan luas, sepi, dingin ... "


Lexa langsung membungkam mulut Zion dengan telapak tangannya, mendorong Zion hingga pria itu terbaring, sedangkan posisi Lexa sedikit menunduk.


Zion langsung melepaskan bekapan tangan Lexa.


"Sabar dong, Xa. Kamu agresif juga, ya!"


"Stop! Pagi-pagi jangan bikin kesel, deh!"


"Ya sudah, kalau gitu malam, ya?"


Lexa langsung meninggalkan Zion, menuju kamar mandi. Tidak akan ada habisnya meladeni pikiran gesrek Zion.


"Jangan malu-malu gitu, Xa. Nanti malah malu-maluin, loh."


Lexa membanting pintu kamar mandi dengan sangat kencang. Sedangkan Zion memegangi dadanya yang berdebar kencang.


Dia yang ngegodain, malah dia juga yang grogi dan deg-degan. Dasar, Zion!


Akhirnya mereka menunggu sunrise dengan berbagai jenis minuman hangat yang tinggal pilih mau yang mana (wedang jahe, teh madu, kopi, susu).


"Coba lepas sweater kamu, Xa!"


"Mau ngapain?" tanya Lexa curiga.


"Tadi aku lihat kaya ada semut api. Nanti kamu digigit, loh."


"Lexa langsung melepaskan sweaternya."


Hup


Zion langsung memeluk Lexa dari belakang.


"Ngapain pakai sweater kalau ada aku yang bisa menghangatkan kamu sepanjang hari."


"Dasar! Mana, tadi katanya ada semut api."


"Udah kabur kayanya, Xa!"


"Kamu tuh, semut apinya!"


"Masa, sih! Coba sini kamu aku gigit, sakit apa enggak kaya semut api."


Zion langsung memasang ancang-ancang untuk menggigit Lexa.


"Gak mauuuu ... "


Lexa langsung berlari dan tentu saja di kejar oleh Zion. Ini mengingatkan Lexa dan Zion saat mereka masih kecil dulu. Bermain kejar-kejaran dan petak umpet. Nostalgia yang membahagiakan. Hal yang sangat disukai oleh Zion, mengenang dan melakukan hal-hal yang dulu pernah dia dan Lexa lakukan.


"Xa, jangan ngumpet sembarangan. Hati-hati loh, nanti ketemu something (maksudnya hantu). Kamu tahu kan, dikapal sebesar ini, biasanya suka ada ... "


"Arrrggghhh ... berhenti Zion, jangan diterusin."


"Makanya sini dekat-dekat aku!"


Membayangkan kalau di kapal sebesar ini ada penunggunya, apalagi banyak ruangan kosong, membuat Lexa kesal. Dia terlalu sering membaca atau menonton cerita misteri, apalagi ada yang latarnya di dalam kapal. Kapal hantu, kapal misteri entah apalagi lagi cerita yang pernah dia baca atau nonton dulu.


"Sini dekat-dekat aku."


Lexa langsung berjalan mendekati Zion.


"Kamu tuh, hantunya."


"Tadi semut api, sekarang hantu. Jadi sekarang kamu sudah tahu kan, kalau aku bisa menjadi apa saja yang kamu mau!"


Aseeeeekkkk, teruslah Zion ngengombalnya!


"Cih, kok bangga sih jadi semut api dan hantu."


"Semut api itu kecil, tapi gigitannya sakit dan tidak bisa langsung hilang. Seperti aku, meskipun aku hanya bisa melakukan hal yang kecil, tapi aku ingin semua itu membekas di hati kamu selamanya.


Hantu itu tidak terlihat dan menakutkan, akan hadir di mimpi orang. Tapi aku akan hadir di mimpi indah kamu, karena apa? Karena hanya aku yang boleh menghantui hidup kamu dengan cinta dan kasih sayang."


Lexa tidak sadar kalau sejak tadi Zion sudah mengambil kesempatan dengan memeluk dan mengusap punggung Lexa. Sesekali juga dia mengecup puncak kepala gadis itu.


Entah belajar dari mana Zion itu. Kalau orang-orang tidak tahu bahwa Zion itu sangat sulit didekati oleh wanita, mereka pasti akan berpikir kalau dia playboy kelas kakap.


Saking asiknya ngegombal dan digombali, akhirnya mereka lupa akan niat awal yang ingin melihat sunrise.


"Tuh kan, tahu-tahu sudah terang!" omel Lexa.


"Jangan khawatir, Xa. Kamu masih bisa melihat sunrise sekarang juga."


"Mana bisa."


"Bisa dong. Pandangi saja aku sepuas kamu. Aku ini seperti sunrise, yang akan menyinari dan mengawali pagimu dengan senyuman indahku. Aku juga akan menjadi sunsite, yang akan menutup soremu dengan tatapan teduhku. Aku akan menjadi bulan bagimu, yang akan menyelimuti malammu dengan pelukan kehangatan."


Bagi wanita-wanita yang mendengarnya, mereka pasti akan diabetes mendadak. Sedangkan Lexa malah mules.


"Kamu belajar dari mana sih, ngegombal kaya gitu?"


"Aku enggak pernah belajar yang seperti itu Xa. Cukup melihat kamu saja hati dan pikiranku mendadak terang bagai lampu 1000 watt."


Apakah ada sekolah khusus menggombal? Zion pasti salah satu muridnya.


"Kamu tahu bedanya Doraemon dengan aku?"


" ... "


"Kalau Doraemon punya kantong ajaib yang bisa mengeluarkan apa saja. Sedangkan aku punya cinta yang tidak akan habis untuk dirimu selamanya."


" ... "


"Kamu tahu bedanya pintu ajaib dengan kamu?"


" ... "


"Pintu ajaib mengantarkan orang kemana saja. Kamu mengantarkan hatiku hanya untukmu."


"Kamu tahu bedanya baling-baling dengan kamu?"


" ... "


"Baling-baling menerbangkan orang dengan ketinggian tertentu. Kamu menerbangkan hatiku sampai langit ketujuh."


" ... "


"Kamu tahu bedanya lebah sama aku?"


" ... "


"Kalau lebah menghisap sari banyak bunga lalu menghasilkan madu. Kalau aku hanya ingin sarimu lalu menghasilkan anak."


Pletak!


Sentilan di kening Zion.


Reaksi pertama dari Lexa setelah mendengar gombalan-gombalan yang diakhiri dengan gombalan mesum.


Koki dan para pekerja yang mendengar semua gombalan yang mengandung gula biang itu hanya mampu tersenyum. Apalagi para wanita yang jantungnya berdebar kencang, berasa mereka yang digombali.


Hahhh ... sudahlah, Lebih baik Lexa menikmati sarapannya yang sudah disajikan di atas meja. Dari pada nanti dia kecanduan dan malah sakau akibat gombalan Zion. Jangan sampai gombalan cinta malah berubah jadi gombalan maut ... ♡♡♡