
Zion menutup buku harian itu dengan tangan gemetar.
Rasanya aku ingin mati saja
Rasanya aku ingin mati saja
Rasanya aku ingin mati saja
Kata-kata terakhir yang Lexa tulis di buku itu.
“Ceraikan putriku sekarang juga. Kenapa Zion? Kenapa kamu tega melakukan itu pada Lexa? Kamu menyuruh orang-orang untuk menyakitinya?” ucap bunda Lexa.
Zion sendiri masih nampak bingung dengan apa yang Lexa tulis semua di buku itu sejak dia masih kecil hingga menjelang ulang tahunnya.
“Itu tidak benar! Aku tidak melakukan itu padanya. Ini fitnah!” ucap Zion.
“Jadi maksudmu Lexa berbohong? Kami sendiri saksinya bagaimana kelima orang itu ingin menodai Lexa di taman itu,” ucap Hannie.
“Tapi itu tidak benar. Ayah, bunda, mommy, daddy, itu tidak benar. Tolong percaya padaku!”
“Jangan menyangkal!”
“Lagi pula Tiara juga hamil anak kamu, kan!”
“Itu juga tidak benar!”
“Akui saja kesalahan kamu!”
“Untuk apa aku mengakui kesalahan yang tidak aku lakukan!”
“Ceraikan Lexa, Zion!” kali ini sang ayah yang berkata.
“Tidak akan!”
“Lalu bagaimana dengan Tiara?”
“Bawa Tiara kesini, tanyakan saja padanya! Apakah anak itu anak aku atau bukan!”
Di saat seperti ini, semua tidak ada yang dapat berpikir tenang. Sebagai orang tua, tentu saja mereka ingin mempercayai anak masing-masing.
Kejadian ini membuat mereka semua terpuruk.
☆☆☆
Sudah satu bulan Lexa koma.
Tidak ada tanda-tanda kalau dirinya akan sadar. Ruangan itu tidak pernah sepi dari orang-orang yang menunggui Lexa.
“Jauh di bawah alam sadarnya, dia menolak untuk bangun. Hal ini disebabkan oleh trauma yang sangat melekat pada dirinya. Dia sudah mengalami guncangan berkali-kali. Keinginan dari pasien sendiri lah yang bisa membuatnya sadar. Tapi setelah sadar, kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya. Saat dia sadar nanti, jangan biarkan dia sendirian. Dia harus selalu dalam pengawasan. Jangan sampai dia meminum obat penenang tanpa pengawasan atau melukai dirinya sendiri!” terang dokter.
Orang tua Lexa kini juga jatuh sakit. Mereka sangat menyesal telah menikahkan putri mereka dengan Zion. Meskipun belum tahu pasti apakah semua itu benar atau tidak.
Di satu sisi mereka tidak percaya kalau Zion seperti itu. Di sisi lain Lexa juga tidak mungkin berbohong.
Seharusnya sejak awal mereka sudah merasa curiga dengan sikap Lexa. Kalau pernikahan ini tidak terjadi, mungkin Lexa masih baik-baik saja walaupun dia masih mengalami trauma.
Tapi lagi-lagi, nasi sudah menjadi bubur!
Penyesalan tinggallah penyesalan.
Ruang rawat VVIP menjadi rumah baru untuk mereka. Makan tidur mandi bekerja. Semua di lakukan di sana. Rasanya enggan untuk pergi. Tidak ingin meninggalkan Lexa sedikit pun meski perempuan itu masih enggan untuk bangun.
Sang bunda tak henti-hentinya menangis.
Sang ayah tidak peduli dengan perusahaannya.
Untuk apa memiliki harta yang banyak kalau anak satu-satunya antara hidup dan mati seperti ini.
Perusahaan AW Group akhirnya diurus oleh sang asisten di bawah pengawasan RW Group juga ARD Group. Itu pun juga dilakukan di rumah sakit.
Dua kubu ada dalam satu ruangan.
Tidak saling bertegur sapa. Hanya menunjukkan aura permusuhan.
“Tiara belum juga ditemukan!” ucap Aron menyampaikan informasi.
“Tentu saja, itu karena kalian sendiri yang menyembunyikannya, kan!” kata Hannie.
“Jangan asal tuduh!”
“Siapa yang menuduh? Aku dan David mendengar sendiri perkataan kamu dan Tiara saat di rumah sakit dulu!” Hannie tetap tak mau kalah.
Zion berdecak kesal. Matanya melihat kedua buku harian itu lagi.
“Aku tidak mau tahu, temukan Tiara sekarang juga bagaimanapun caranya. Tanya sama manegernya dan teman-temannya, agency atau apapun yang berhubungan dengannya!”
“Baikkah. Kalau begitu hanya ada satu cara. Aku yakin dia akan datang!”
Tiara memang tidak dapat dihubungi oleh siapapun. Ponselnya sudah tidak pernah aktif sejak berita tentang dia yang sering bersama para pria lajang maupun beristri keluar masuk hotel tersebar.
Tentu saja hal itu membuat banyak pikiran negatif orang-orang bermunculan meskipun mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Bisa saja urusan pekerjaan, kan?
“Bagaimana?”
“Sebarkan berita kalau 4C Group ingin menjadikannya model ambasador dengan bayaran sangat mahal!”
4C Group?
David cs dan para orang tua saling menatap.
“Jangan menggunakan kail orang lain untuk memancing ikan demi kepentingan pribadi, Zion!” nasihat Ronald.
“Kata siapa aku menggunakan kail orang? Itu punyaku sendiri, kok! Aku yang mendirikan perusahaan itu dengan usahaku sendiri tanpa sepengetahuan kalian!”
David mulai mengerti. Pantas saja dia dan sahabat-sahabatnya tidak pernah bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan itu. Ternyata milik musuhnya!
☆☆☆
Berita tentang 4C Group yang ingin menjalin kerja sama dengan Tiara mulai tersebar. Selama ini tidak ada yang pernah melihat dan tahu siapa pemilik perusahaan besar itu.
Bahkan pegawai-pegawainya juga tidak pernah tahu. Zion hanya mengawasi perusahaan itu dari jauh sedangkan yang menjalankan secara langsung mewakilinya adalah salah satu sahabatnya yang berjanji tidak akan membocorkan apapun tentang 4C Group.
Belum ada tanda-tanda Tiara akan muncul.
“Dia hanya jual mahal saja, seolah kita yang sangat membutuhkannya. Cepat sebarkan berita kalau 4C Group akan menggunakan model internasional yang sedang naik daun. Siapa tuh namanya?”
“Anastasya Steven!” jawab Aron.
Zion mengangguk.
Berita baru mulai tersebar.
Di hari itu juga, Tiara mulai menunjukkan dirinya.
Orang-orang Zion langsung membawanya ke rumah sakit.
Menghadapkannya kepada Zion dan orang tuanya, orang tua Lexa, dan David cs.
"Zion? Om dan Tante juga di sini?"
Tiara melihat Zion dan kedua orang tua Lexa. Matanya beralih pada orang tua Zion dan David cs. Lexa sendiri ada ruangan kecil bagian dalam agar pengunjung tidak mengganggu pasien yang sedang di rawat.
"Kenapa aku dibawa ke sini? siapa tang sakit?"
"Lexa!"
"Apa? Lexa sakit apa?"
Tidak ada yang menjawab. Rasanya sangat berat mengatakan keadaan Lexa yang sebenarnya.
"Tiara, cepat katakan anak siapa yang sedang kamu kandung itu?" tanya Zion tanpa basa-basi.
Tidak ada gunanya berbasa-basi. Semua ini harus cepat diselesaikan.
Lagi-lagi Tiara diam. Dia hanya menunduk.
"Ini anak Zion!"
"Hei, apa-apaan kamu? Aku tidak pernah melakukan apa-apa padamu. Bahkan sekedar bergandengan dan berciuman saja tidak pernah!"
"Jangan bohong, Zion. Ini benar anak kamu!"
"Bukan!"
"Benar!"
"Bukan!"
"Benar!"
"Hentikan! Jangan bikin keributan di sini!" sela David.
"Lakukan saja tes DNA!"
"Oke, siapa takut!" ucap Zion dan Tiara bersamaan.
Tidak ada ketakutan dan keraguan diantara mereka berdua. Keduanya nampak yakin dengan perkataan masing-masing.
Entah siapa yang benar siapa yang salah!