RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
KISAH HARI



EPISODE 99


Ken bangun dari tidurnya dengan lesu. Badannya terasa pegal-pegal setelah kemarin malam ia melakukan itu bersama Yuna.


Aih... Ia tidak dapat percaya bahwa dirinya melakukan itu pada wanita muda yang mungkin saja terpaut usia yang sangat jauh berbeda dengannya.


Jika dua belas tahun yang lalu anak itu masih sekolah, sudah pasti jarak usia diantara mereka tidak kurang dari enam belas sampai delapan belas tahunan.


Usia yang sesuai dengan usia Hari, keponakannya.


"Aarhh.. Apa aku sudah gila?" Ken mendengus sesal.


Kemudian setelah sadar, ia juga meminta maaf pada Suzy. Sebab ia tidak bisa menepati janjinya untuk tidak melakukan hal seperti itu lagi.


Maka, turunlah ia untuk mengambil air minum dari kulkas. Ternyata, air mineral yang ia punya masih tersisa sedikit. Mau tidak mau, ia harus pergi membelinya di toko langganannya.


Begitu ia sampai di toko kelontong terdekat, ia meraih tiga botol air mineral. Kemudian memilih makanan instan siap saji yang berjejer rapi. Pada saat ia sedang fokus memilih, suara seseorang terdengar menyapanya.


"Paman?"


Ketika Ken menengok ke arah belakang, ia melihat Hari. Putri Akiyama.


"Hari?"


Gadis kecil yang dulu lengket padanya, kini sudah tumbuh besar dan terlihat cantik. Matanya bulat lebar menuruni mata Nonaka.


"Paman sudah bebas? Kapan?" Hari tampak beberapa kali membetulkan lengan bajunya.


"Hmm. Tahun lalu."


Ken memperhatikan keponakannya. Baru tadi pagi ia membicarakannya, sekarang ia bertemu di sini. Sepertinya, mereka sedang berjodoh untuk bertemu.


"Apa selama ini, kau dan ibumu baik-baik saja?"


"Ya. Kami pindah ke rumah nenek Oni. Paman sendiri bagaimana?" lagi-lagi Hari seperti menyembunyikan sesuatu di tangannya.


"Paman masih di rumah semula," jawab Ken melanjutkan memilih. "Em, kau kemari mau mencari apa?" lanjutnya.


"Emmm,, tidak ada. Kalau begitu aku pergi dulu ya, paman," Hari berpamitan dengan terburu-buru.


Ken kembali memperhatikan Hari. Sepertinya ada yang sedikit aneh dari tingkah lakunya. Dengan cepat ia menitipkan barangnya di kasir, "Nona, bisa titip ini sebentar. Aku akan kembali lagi."


"Eh? Iya baiklah."


Ken berlari mengejar Hari karena sepertinya ia sempat melihat sesuatu pada tangan keponakannya tadi. Sepertinya, pergelangan tangan Hari memar.


Begitu ia sampai di luar toko, Hari sudah tidak nampak lagi. Ken pun memutar badan untuk mencari keberadaan Hari.


"Ke mana dia? Cepat sekali menghilang?" desah Ken.


Ketika matanya menerawang jauh ke jalan kucing, ia pun kembali melihat Hari.


"Itu dia!" serunya dalam hati.


Maka dikejarnyalah Hari tanpa ragu. Sampai di sebuah tikungan, ia melihat Hari sedang bicara dengan seseorang. Maka ia bersembunyi terlebih dahulu untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Apa kau mendapatkannya?"


"Maaf, aku tidak mendapatkannya," Hari tampak takut.


"Apa maksudmu?"


"Aku bertemu pamanku di toko itu, jadi aku mengurungkan niatku. Maafkan aku."


"Dasar payah! Cepat kembali lagi ke toko!" pria yang ditemui Hari itu menampar pipi Hari dengan kencang sampai gadis itu hampir saja jatuh.


Melihat pria itu berbuat kasar pada keponakannya, Ken hampir saja keluar dari persembunyian dan pergi memukuli orang itu.


Namun, ia mundur selangkah saat Hari berjalan kembali ke toko. Saat itu juga, Ken mengikuti Hari secara diam-diam.


Ketika dilihatnya Hari mengambil alat kontras*psi, Ken segera datang mendekatinya.


"Siapa laki-laki itu?" tanya Ken mencekal kuat tangan Hari seraya menatap luka memar yang ada di sana.


"M maksud paman?"


"Paman sudah melihat dan mendengar semua yang kalian bicarakan. Katakan pada paman sekarang juga. Apa dia menyakitimu?"


Hari tampak bingung. Ia tidak tahu harus mengatakan semuanya pada sang paman atau tidak.


Sebenarnya, ia ingin meminta tolong pada seseorang agar menyelamatkannya dari Soujin. Dan pertemuannya dengan sang paman, sebenarnya tepat sekali. Ia bisa meminta tolong padanya untuk menyelamatkannya.


Tapi Hari takut, jika nanti dirinya hanya akan membuat sang paman kembali masuk ke penjara.


"Tidak. Dia hanya...."


"Apa dia memaksamu melakukan itu, Hari? Katakan padaku, jangan takut."


Karena Ken terus berusaha menyelidiki dirinya, Hari pun menangis di hadapan pamannya.


"Maafkan aku paman, sebenarnya aku selalu takut pada Soujin. Dia selalu menampakkan sikap yang berubah-ubah setiap harinya. Kadang dia bisa sangat mencintaiku, tapi seringkali dia juga akan menyakitiku. Aku berharap siapapun akan membebaskanku darinya," Hari menangis sesenggukan.


"Jadi, nama orang itu Soujin? Apa dia Pacarmu?"


Hari mengangguk pelan.


"Baiklah. Lakukan sesuai permintaannya. Paman akan datang membantumu."


"Bagaimana caranya, paman?" Hari mengusap air matanya.


"Sebelumnya, katakan pada paman. Untuk apa barang yang kalian beli itu?"


Hari menunduk malu, "Karena tidak menginginkan kehamilan, kami selalu menggunakan ini untuk pencegahan. Karena semalam kami tidak jadi bertemu, maka pagi ini dia membuat janji bertemu untuk melakukannya."


Ken mengerti.


"Kalau begitu, atur ponselmu ke mode rekaman."


"Rekaman?"


"Ya. Begitu sampai di lokasi kalian akan melakukan itu, segera letakkan ponselmu di salah satu sudut tanpa sepengetahuan dia."


"Bersikaplah seperti kau tidak pernah memberitahu semuanya pada paman. Dan tetap temui dia dengan barang yang dia minta. Paman akan mengawasimu dari dekat. Pada saat yang tepat, paman akan menemui dan mengajak dia bicara."


"Baiklah."


Hari meraih barang yang hendak ia beli tadi. Kemudian setelah membayar, ia berjalan keluar dengan pengawasan dari Ken.


Begitu ia menemui Soujin, pacar Hari itu pun mengajak Hari pergi ke sebuah rumah. Rupanya rumah itu adalah rumah Soujin. Pria itu tinggal seorang diri di sana. Dan sesekali, ia meminta Hari untuk menginap di rumah tersebut.


Begitu keduanya masuk, Ken pun menyusul dan mengendap-endap memasuki rumah Soujin. Di dalam sana, Hari sudah melakukan apa yang mereka rencanakan.


Seperti biasanya, Soujin berbuat kasar kepada Hari. Ia menempeleng kepala dan menjambak rambutnya sebelum melakukan hubungan badan.


Bagi Soujin, bercinta dengan mengasari wanitanya terlebih dahulu adalah sebuah kenikmatan tersendiri.


Tepat pada pukulan ke dua, Ken menerobos masuk. Ia menendang pinggang Soujin dan meninjunya beberapa kali.


"Brengsek! Apa yang selama ini kau lakukan padanya, ha!"


BAG


BUG


Hari menjerit ketakutan melihat pacarnya dipukuli.


"Ough! S siapa kau?!!" teriak Soujin dengan mulut berdarah.


Ken mencekik leher Soujin, "Aku pamannya. Berani sekali kau menyakiti Hari seperti itu!"


"Pa Pa Pa paman?" Soujin merasa ketakutan.


Pria yang telanjang bulat itu pun memohon ampun pada Ken karena cekikan tangannya membuat dirinya tidak bisa bernafas. Ketika Ken melepaskan cekikannya, Soujin justru menendang balik Ken hingga tersungkur ke belakang.


"Hahaha, siapa kau berani mengaturku?!" Soujin berteriak gila dan meraih kursi yang ada di sampingnya.


"Haisss! Sialan..." gumam Ken.


Pacar Hari itu mendekati Ken yang tengah jatuh di lantai dan memegangi perutnya. Melihat lawannya tidak berdaya, ia langsung memukulkan kursi yang ia bawa itu ke tubuh Ken tanpa ragu.


BRAAKK!


Rupanya, Ken menangkis serangan dari Soujin dengan tangan kanannya. Begitu melihat lawannya dapat menangkis serangan darinya, Soujin buru-buru meraih botol bir yang ada di lantai dan bermaksud memukulkannya pada Ken.


Tidak mau diam saja, Ken bergerak cepat dan menjagal kaki Soujin.


GLUBRAK!


Saat Soujin jatuh terjengkang, Ken langsung menginjak pahanya dengan kuat. Walaupun pria itu berteriak kesakitan, Ken tidak mempedulikannya.


Bahkan, sekarang Ken berjongkok di atas kaki Soujin sambil tetap menekannya. Tangan kanannya pun perlahan meraih tongkat dan dua telur Soujin, kemudian meremasnya kuat-kuat.


Aaaaaaaarrrrrrrhhhhh!!!


Teriakan linu terdengar memekakkan telinga. Jika saja saat itu Soujin tidak buru-buru memohon ampunan pada Ken, sudah tentu dua telurnya itu pecah dan mengeluarkan cairannya.


"Ampuni aku! Ampuni aku, paman! Aku berjanji tidak akan menyakiti Hari lagi!" seru Souijin kesakitan.


"Sungguh?"


Pria yang ada di depan Ken itu mengangguk cepat. Selain takut, ia juga tidak dapat menahan rasa sakit yang ia rasakan.


"Saat di penjara kemarin, semua penghuni penjara memanggilku Albatros dari Utara. Kau tahu kenapa?" Ken bertanya dengan mata yang melotot.


Soujin menggelengkan kepalanya karena ia menjadi takut.


"Karena aku berhasil meremukkan tongkat dan dua telur milik ketua geng paling ditakuti yang ada di sana," Ken menyeringai jahat.


GLEK


Soujin benar-benar takut. Ia tidak menyangka, pria yang ia hadapi saat ini adalah mantan nara pidana.


Sudah beberapa kali Soujin memohon ampunan. Namun Ken tidak juga melepaskan cengkeramannya pada bagian anunya. Soujin merasa frustasi. Ia merasa bahwa hidupnya benar-benar akan berakhir di tangan pria itu.


Seperti orang yang sedang menghadapi malaikat maut, ia pun berteriak-teriak minta tolong pada Hari untuk membantunya lepas dari cengkeraman pamannya.


"Hari! Hari! Tolong bujuk pamanmu untuk melepaskanku! Aku berjanji tidak akan jahat lagi padamu! Huhu.. Sungguh!!"


Hari bingung. Tetapi, hatinya yang lembut pun akhirnya membuat keputusan.


"A aku rasa sudah cukup, paman. Dia sudah berjanji tidak akan berbuat kasar padaku lagi," Hari berkata dengan gemetaran. Sebab baru kali ini ia melihat pamannya berkelahi.


Karena Hari meminta dirinya untuk melepaskan Soujin, Ken pun menuruti keputusan ponakannya itu. Setelah mengamati ekspresi Soujin yang benar-benar takut dan menyesal, ia pun melepaskan cengkeramannya.


"Aku akan mengampunimu kali ini. Tapi ingat, aku akan terus mengawasimu di manapun kau berada. Jadi jangan berani lagi menyakiti Hari seperti ini!" ancam Ken pada Soujin.


Soujin bersimpuh di depan Ken. Ia duduk di atas kedua kakinya dengan kedua tangan yang bertumpu pada lutut. Ia mengangguk cepat ketika Ken memberi nasehat padanya.


Karena pacar Hari itu sudah berjanji, Ken meraih ponsel milik Hari dan mengirim rekaman yang baru saja mereka rekam.


"Ayo pulang, Hari," ajak Ken.


Hari mengangguk dan mengikuti Ken keluar dari rumah Soujin.


••••


Hari itu, Ken mengantar pulang Hari sampai depan rumahnya. Tidak sengaja ia berpapasan dengan Nonaka di halaman rumah mereka.


"Kau?! Beraninya kau muncul di sini!!" bentak Nonaka sambil melempar cucian basah yang hendak ia jemur.


"Ah, ibu?!" Hari merasa tidak enak melihat cucian basah itu mengenai wajah pamannya.


Mendapat lemparan dari cucian basah, Ken segera meraih dan mengembalikannya ke dalam ember.


Ken tidak menjawab apapun dan hanya memberi salam hormat setengah badan untuk Nonaka. Kemudian setelah ia memberi salam hormatnya, ia pun berbalik pergi tanpa menoleh ke belakang.


Wuuzzzzz....


Satu pekerjaan telah selesai. Ken bergegas kembali ke toko kelontong untuk membayar air mineral dan beberapa makanan instannya. Kemudian setelah itu, pulang dan bersiap untuk bekerja.


BERSAMBUNG......