RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
PENONTON GELAP



EPISODE 135


Pagi di rumah Kenie sangat sibuk. Ken bersiap mengantar pulang nenek dan kakek Hiro yang kini menjadi mantan mertuanya. Suya juga akan pergi ke sekolah untuk pertama kalinya sejak tertembak dan dirawat di rumah sakit.


Kenie pun dibuat sibuk saat membuatkan bekal untuk cucunya bawa ke sekolah.


Ketika semua sudah siap, Ken mengantar Suya terlebih dahulu.


"Baiklah. Selamat bersekolah kembali. Ayah akan menjemputmu nanti."


"Hmm! Kalau begitu, aku pergi dulu ya, ayah. Dah nenek, dah kakek!" Suya melambaikan tangan pada keluarganya saat memasuki gerbang sekolahnya.


Selesai dengan Suya, Ken mengantar pulang kakek dan nenek Tama ke rumah. Ia menurunkan beberapa tas dan keranjang titipan Kenie yang berisi makanan serta buah-buahan.


Tak hanya itu. Ia juga membantu membawa masuk tas dan keranjang-keranjang tersebut ke dalam rumah. Kemudian mengeluarkan isinya dan menatanya rapi ke dalam kulkas.


"Oh ya, ibu. Makanan dari ibu sudah aku masukkan ke dalam kulkas. Jika semuanya sudah habis, kau bisa memberitahuku."


"Yaah. Baiklah. Eh, apa kau akan langsung pulang? Minumlah teh terlebih dahulu," nenek Tama sedang membuat teh hangat.


Karena nenek Tama sudah membuatkannya teh, maka Ken duduk sebentar untuk menikmatinya. Sambil mengobrol, ia juga menyampaikan maksudnya bahwa untuk beberapa hari ke depan, ia akan menginap di rumah Kenie sebagai permintaan Yuna.


"Baiklah, ayah, ibu. Aku pergi dulu, ya. Mungkin untuk beberapa hari ke depan, aku akan menginap di rumah tuan Hide dulu. Kalian tidak apa kan?"


"Ya. Tidak apa-apa, Ken. Kapanpun kau pulang, kami akan dengan senang hati menerimamu."


Usai memberi salam hormat, Ken pun meninggalkan rumah Suzy.


•••••••


SRET


Ken turun dari mobil dan melangkah masuk. Mobil tuan Hide sudah tidak ada, itu artinya dia sudah pergi ke kantornya.


Ketika melewati dapur, Kenie juga tidak ada di sana. Mungkin wanita itu juga sedang bersiap pergi ke rumah sakit. Dia pun melangkah menaiki tangga menuju lantai atas.


Baru saja ia melangkah beberapa saat, terdengar seruan dari lorong yang menuju kamar utama tuan besar.


"Kau sudah pulang, Ken? Kalau begitu ibu berangkat dulu. Em, nona Kira, buatkan minuman untuk tuan muda," setelah bicara pada Ken, Kenie bicara pada asistennya.


"Baik, nyonya."


Ken turun kembali dan menyerahkan kunci mobil yang baru saja ia pakai, "Ini kunci mobilmu, ibu."


"Ya. Ibu pergi dulu, ya."


"Hmm. Hati-hati."


Ken yang semula hendak naik ke lantai atas itu pun pergi ke dapur sebentar untuk mengambil air minum. Di atas meja makan, terdapat sebuah nampan berisi dua buah gelas panjang dan teko yang berisi air putih.


"Ini minumannya, tuan muda," kata asisten Kira yang selesai membuatkan minuman.


"Heh? Sepertinya aku tidak minta dibuatkan minuman?" Ken heran melihat asisten Kira meletakkan sebuah gelas kopi susu di depannya.


"Tadi, nyonya yang menyuruh.."


"Ooh, ibu. Baiklah, terima kasih kalau begitu," diraihnya gelas tersebut kemudian diseruputnya kopi susu hangat dari dalamnya.


SLURRRPP... AAAHH..


"Kata ayah kau akan bergabung dengan Monjin? Benarkah?" Ayumi tiba-tiba datang mengagetkan.


"Apa ayah bilang begitu?"


"Hmm, tadi pagi sebelum berangkat ke kantor," Ayumi duduk di kursi sebelah Ken dan mencomot roti bakar yang ada di dalam toples kotak kemudian mengolesinya dengan selai kacang pula.


"Aku tidak menjanjikan apapun pada ayah. Hanya saja, saat itu aku mengatakan akan memikirkannya kembali tawarannya, itu saja."


"Kalau begitu, itu artinya kau harus menyiapkan diri jika suatu saat ayah memintamu turun tangan," Ayumi bicara sambil melahap rotinya.


NYAM


NYAM


NYAM


Karena terlihat enak, Ken meraih roti bakar yang sedang dimakan Ayumi lalu menggigitnya sekali. Dan dengan pedenya, ia mengembalikan lagi roti berisi selai kacang itu pada gadis itu.


"Entahlah. Aku ragu karena aku tidak punya pendidikan soal bisnis," jawab Ken sambil mengunyah.


Ayumi yang melihat kekonyolan Ken itu hanya bisa tersenyum. Lalu menatap bekas gigitan Ken pada rotinya dengan penuh arti. Kemudian dengan perlahan ia menghabiskan rotinya yang masih ada.


"Lihat, Ken. Aku melahap jejak bibirmu di rotiku. Kalau begitu aku juga akan memberikan jejak bibirku untukmu."


Ayumi meraih gelas minuman Ken dan menyeruputnya di bagian tempat Ken minum tanpa ragu, "Mcc aaahhh.. Segarnya. Kopi susu cocok sekali dengan roti selai kacang."


Sambil bicara seperti itu, Ayumi melihat ada sisa selai di bibir kanan bawah Ken.


"Ooh? Tunggu sebentar.."


"Ada apa?"


GYUUT


Ken tertegun begitu Ayumi mengusap bibirnya, "Apa ada sesuatu di bibirku?"


"Hmm. Selai kacang," Ayumi menunjukkan sisa selai yang ada di ibu jarinya. Tanpa ragu gadis itu mengulum jari yang ia gunakan untuk mengelap bibir Ken tadi.


Dengan terburu-buru, Ken menyeruput kembali minumannya dan bergegas pergi.


"Aku pergi ke atas,," serunya sambil berlalu melambaikan tangan.


TAP


TAP


TAP


CEKREK


Saat pintu terbuka, Ken tidak melihat Yuna di dalam. Begitu memasuki kamar, ia semakin merasa bahwa kamar tersebut kosong. Ke mana Yuna?


Ketika Ken melangkah maju, seseorang tiba-tiba saja mengunci pintu dan memeluknya dari belakang.


"Yuna?"


"Hmm. Apa semua sudah beres?"


"Ya. Suya sudah ke sekolahnya, ayah dan ibu mertua juga sudah kembali ke rumah."


"Apa kau masih memanggil mereka dengan sebutan mertua?"


"Eh? Itu... Apa kau tidak suka?"


"Tidak apa-apa. Kau bisa tetap memanggil mereka begitu."


"Hmm. Baiklah."


Selesai bicara, Ken berbalik. Betapa kagetnya ia ketika melihat pakaian seksi yang dikenakan Yuna.


"A apa yang kau kenakan, Yuna?" Ken terdengar gugup dan terkejut.


"Apakah seksi?" Yuna menggeliatkan badannya di depan Ken.


GLEK


Bukan seksi lagi, pakaian yang dikenakan Yuna bisa dibilang sangat berani dan menantang. Bagaimana tidak? Pakaian itu sangat tipis dan terbuka berbahan seperti sutera kaca. Dengan bagian kerah berbentuk V lebar, membuat dua dara kembar Yuna menyembul dan menggoda.


Di bagian bawahnya, hampir bisa dibilang bahwa Yuna tidak mengenakan penutup apapun sehingga terlihat jelas bagian anunya yang tanpa sehelai bulu pun. Rupanya, gadis itu benar-benar menyiapkan diri untuk moment seperti ini.


Mendapat jamuan seperti itu, Ken menyudutkan Yuna ke pintu lalu berbisik di telinganya, "Itu sangat seksi dan benar-benar menggodaku. Apa kau sengaja melakukannya?"


Yuna tersenyum dan mengangguk. Tanpa malu-malu, ia meraih kepala Ken kemudian menyesap bibir pria yang telah menjadi suaminya itu dengan lahap.


Keju yang meleleh akibat suhu panas panggangan begitu tepat untuk menggambarkan betapa panasnya ciuman di antara mereka. Bahkan nafas keduanya yang terdengar saling memburu begitu kontras dengan suara kecipak pertemuan bibir mereka.


Apalagi Yuna selalu bertindak agresif dalam meningkatkan libido Ken. Dalam buaian hangat bibir Ken, tangan kanannya meremas gundukan Ken dari luar. Bahkan dengan keahliannya, ia tidak membutuhkan waktu lama untuk membangunkan apa yang ada di dalam gundukan tersebut.


Ketika Ken semakin terlihat jelas terangsang dan menginginkan sesuatu dengan menekan-nekankan gundukan miliknya padanya. Yuna melepas ikat pinggang Ken dan menurunkan celana pria itu dengan cepat.


Lantas tangannya merangsek ke depan dan memijat batang suaminya dengan penuh sensualitas. Sesekali ia juga meremas lembut dua telur yang ada di sana.


"Aarrhh, Yuna..." suara lenguhan Ken antara nikmat dan kegelian.


Ken mengusap kepala Yuna lalu turun ke lengan. Dengan perlahan ia membalikkan badan Yuna dan membuatnya bertumpu pada sebuah meja di sudut ruang dekat pintu masuk.


Yuna yang mengerti maksud suaminya pun segera menunggingkan pantatnya yang m*ntok. Dengan hasrat yang melimpah ruah, Ken pun segera menancapkan batangnya dan bergerak maju mundur dengan pola ritme yang teratur.


"Ehmmm... Aah.. " deheman nikmat dari mulut Ken terdengar berulang kali.


Siapa sangka, Ayumi diam-diam berdiri di balik pintu dan mendengarkan semuanya. Lenguhan dan des*han dari bibir Ken yang ia dengar itu membuat jantungnya berdebar hebat.


Bahkan dahinya mengucurkan keringat seakan ia menghadapi situasi itu sendiri. Lalu dengan tangan yang tak kalah gemetarannya, Ayumi membuka ponselnya dan masuk ke sebuah pengaturan.


Begitu ia membuka file simpanannya, matanya tertuju pada satu titik. Di dalam rekaman yang ia lihat sekarang ini, tampaklah Ken yang sedang bercinta dengan Yuna.


Wah? Apa yang terjadi???


Ternyata, saat kemarin ia membantu Yuna mencari cincin yang hilang, Ayumi diam-diam pula menyimpan kamera rahasia di beberapa sudut yang tidak akan dipikirkan orang lain.


Rupanya, perasaannya pada Ken membuatnya hilang akal. Seakan tidak terima bahwa pria itu menjadi milik Yuna, Ayumi juga merasa berhak untuk menikmati Ken meski hanya dalam bentuk suara dan visual.


Gila memang!


Ayumi bergegas kembali ke kamarnya dan mengunci pintunya. Ia merebahkan diri ke atas kasur dan terus menonton adegan dewasa yang ada di dalam rekaman.


Berulang kali ia menelan ludah saat mendengar lenguhan dari mulut Ken. Tanpa sadar, Ayumi menyusupkan tangannya ke dalam roknya. Sambil terus menatap Ken yang tengah memanjakan Yuna, ia memainkan jarinya secara perlahan dan melakukan m*sturbasi.


Baru kali ini, gadis itu berpikir ke arah sana. Meski teman-temannya banyak yang bercerita tentang hubungan badan dengan beberapa pria, ia sama sekali tidak tertarik. Bahkan ia selalu menyingkir jika ada temannya yang sedang membahas hal seperti itu.


Tetapi entah bagaimana mulanya, keberadaan Ken yang semakin sering muncul di hadapannya pun membuatnya berubah pikiran. Rasa suka yang ada pada dirinya membuat ia semakin sering bermimpi dan membayangkan hal-hal menarik bersama Ken.


Dan ia pun semakin menginginkannya!


.


.


.


BERSAMBUNG....