RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
GAGAL KABUR



EPISODE 137


PUSSSS


PUUSSSS


Asap rokok mengepul di udara sel tahanan tempat Yoshi mendekam. Ia tengah duduk di lapangan bersama Kazuki. Pertemuan dua orang yang jahat itu rupanya menciptakan keserasian dalam misi dan visi mereka.


Yaitu, menghancurkan Ken. Tak pelak lagi, keduanya bekerja sama untuk menghabisi nyawa Ken jika keluar nanti.


"Sepertinya aku tidak bisa menunggu bantuan dari orang-orang yang mendukung ayahku dulu."


"Kenapa?"


"Mereka semua mencuci tangan mereka dalam kasus yang kami hadapi sekarang ini."


"Bukankah itu suatu penghianatan?"


"Yaaah. Tentu saja," Kazuki menghisap rokoknya kembali. "Haiss! Sialan! Mereka menerima uang dari kami, tapi ini yang kami terima dari mereka semua!!" Kazuki membanting peralatan kebersihan yang sedang mereka pakai karena jengkel.


HOSH HOSH HOSH


"Tenanglah...."


"Apa maksudmu tenang? Aku tidak akan biarkan semua itu menghambat keinginanku! Bagaimanapun caranya, aku harus keluar dari sini dan membunuh Kenzhi!"


"Apa kau punya rencana?" Yoshi celingukan ke kanan dan kiri takut kalau-kalau ada yang menguping pembicaraan mereka.


"Malam ini, mari melarikan diri bersama."


"Apa?"


"Jam 8 nanti, temui aku di lorong bawah tanah."


"S siap."


Dengan keberadaan Kazuki di sana, Yoshi yang awalnya menjadi bulan-bulanan para tahanan lain itu sedikit bisa bernafas. Sebab, ia mendapat perlindungan dari sosok pria itu meski dirinya harus mengubur harga dirinya dalam-dalam.


"Hey, kalian sedang apa di sana! Ayo lanjutkan pekerjaan kalian!" seru seorang sipir senior.


Kazuki yang semula selalu memberinya uang hanya meliriknya dan berjalan melewati sipir itu tanpa memungut alat kebersihannya.


"Kau sedang apa?" sipir itu menahan tubuh Kazuki dengan tongkat hitamnya.


"Apa!" jawab Kazuki.


"Ambil alatmu dan kembali bekerja!"


Merasa kesal dengan tingkah sang sipir, Kazuki mendekatinya dan bicara tepat di depan matanya dan berlagak merapikan kerah bajunya, "Apa kau pura-pura amnesia? Di mana uang yang selama ini kau terima? Beraninya kau menyuruhku seperti itu?"


"Huhh. Kau kira, kau akan terus menggenggam uang di tangan? Masa kejayaan Minami sudah berakhir, bung! Kau tidak ada bedanya dengan tahanan lain sekarang."


"Assshh!! Dasar penjilat!" Kazuki mengutuk sang sipir dengan mata melotot.


Melihat itu, Yoshi menggiring Kazuki pergi dari sana, menuju tempat mereka bertugas. Yaitu membersihkan gorong-gorong.


Dan...


Pada jam delapan malam di mana saatnya mereka bertemu, dua manusia itu mengendap-endap di lorong penjara untuk melarikan diri.


"Lorong penjara ini, mempunyai beberapa tempat yang dijaga oleh penjaga. Kau hindari mereka. Jangan melakukan kesalahan sedikitpun."


"Mengerti."


"Begitu kita sampai di lokasi gorong-gorong, ada tiga tikungan yang menunggumu."


"Ada tiga? Dari mana kau tahu?"


"Aku memeriksanya tadi."


"Benarkah? Wah! Hebat juga kau!"


"Asal kau tahu. Aku memang hebat. Tapi, ini bukan saatnya memuji diriku. Fokus!"


"Baik. Apa rencanamu?"


"Pada tiga tikungan pertama, kita akan mengambil tikungan yang menuju kiri. Begitu masuk, akan ada tikungan ke dua, kita akan ambil jalan ke kanan. Lalu tikungan ke tiga, kau akan ambil lurus. Nah! Begitu keluar dari gorong-gorong itu, kau akan dihadapkan pada bagian buritan penjara ini. Tapi, akan ada lampu dari menara pengawas yang menyinari tempat itu. "


"Kita akan menghindarinya, bukan?"


"Benar. Sebisa mungkin, hindari sorotannya. Kalau tidak lari, bersembunyilah dan melihat kesempatan yang ada."


"Baik."


"Kalau begitu, ayo lakukan!"


Kazuki memimpin dan bergegas lari mendahului Yoshi. Mereka berlari saling menyusul di dalam gorong-gorong bawah tanah.


Begitu akhirnya mereka mampu keluar menuju buritan penjara, benar saja! Lampu yang menyorot dari menara pengawas pun mondar-mandir di hadapan mereka.


Maka, keduanya pun saling berpandangan dan mengangguk bersamaan. Pada hitungan ke tiga, mereka lari menerjang halaman belakang itu dan berusaha untuk tetap menghindari sorotan terang dari cahaya menara mengawas.


"Dua orang tahanan berusaha kabur!" seseorang berteriak dari atas menara dan menekan tombol darurat.


NGGUUUUUUUUUUUNGGG!!


Sirine tanda situasi genting telah dikumandangkan di seantero penjara. Dengan begitu, para polisi penjaga pun bersiaga di bagian depan, buritan dan lorong-lorong manapun dengan pistol-pistol aktif mereka.


Tanpa sengaja, Yoshi tertangkap oleh sinar pengawas.


"Tahanan 547 menuju sayap utara!!"


Para penjaga yang bertugas pun berlarian menuju sayap utara penjara. Begitu pula petugas yang sedang berpatroli di daerah itu, mereka segera menuju lokasi target setelah mendapat pemberitahuan itu.


"Tahanan 547! Menyerahlah atau kami tembak!!" suara dari pengeras suara.


Yoshi berhenti melangkah setelah nomor tahanannya disebutkan. Ia ingin lari begitu saja, namun ia masih takut untuk mati.


Ia melihat Kazuki di balik dinding lorong dan bersembunyi dengan gelisah. Karena tiba-tiba Yoshi berpikir mungkin saja ia bisa menyusul Kazuki ke sana, maka ia pun melanjutkan langkahnya dengan cepat.


Karena ia lari, mau tidak mau para penjaga pun mengejar dan berusaha mengepungnya. Sempat terjadi adu jotos dan beberapa serangan. Namun akhirnya Yoshi tertangkap juga.


DORRR!!


Sebuah peluru menembus betis Yoshi yang terus saja melarikan diri. Rupanya para penjaga serius dalam memberi ancaman. Mereka benar-benar menembak ketika tahanan tetap berniat melarikan diri.


"Aaarrhhh! Ampun!"


Karena Kazuki berusaha keras untuk melarikan diri, ia bersembunyi ketika Yoshi digelandang kembali ke dalam. Nafasnya naik turun karena pecicilan menyembunyikan diri saat para petugas datang.


Karena salah satu sudah tertangkap kembali, para penjaga semakin ketat mengawasi. Mereka pun berjaga-jaga sepanjang malam.


"Aku rasa, tahanan 721 tidak akan bisa melewati pengamanan penjara kita yang sudah diakui di beberapa negara. Benar begitu? Tapi meski itu benar, tetap cari dia sampai ke sudut penjara!! Jika dia tetap kabur atau melawan dengan senjata, tembak saja!" kata kepala penjara.


"Baik, pak!"


DRAK DRAK DRAK DRAK


Suara langkah para penjaga yang berlarian menyusuri lorong terdengar sangat riuh. Sebagian penjaga juga memperketat penjagaan di sel-sel tahanan dan memeriksa para tahanan mereka.


"Pecundang itu tidak berhasil melarikan diri bersama Kazuki."


"Puih! Menurutmu, apa yang mereka rencanakan. Apakah mereka kabur untuk menemui Ken?"


"Aku sempat mendengar percakapan mereka pagi tadi, sepertinya Kazuki dan Ken menginginkan wanita yang sama. Dan dia berniat membunuh Ken karenanya."


"Dasar penjahat-penjahat tengik! Mereka tidak juga jera setelah mendekam di sini," umpat salah seorang.


"Wkwkwk,, tapi tunggu. Memangnya kau juga sudah insaf?"


"Tentu saja. Aku akan kembali pada putriku dan bersama-sama mengurus restoran kecil kami."


"Aiih,, kau mending. Aku tidak punya rumah di luar sana. Jadi lebih baik aku tinggal di sini, setidaknya aku bisa mendapatkan makanan setiap harinya."


PLAK!


"Kau bercanda?"


"Orang tua sepertiku, mau hidup seperti apa lagi? Ketimbang di luar tidak mendapat pekerjaan dan pemasukan keuangan, lebih baik mendekam di sini dan mendapat dana pensiun."


Semuanya pun ramai menyetujui pemikiran orang tua salah satu tahanan di penjara itu.


NGUK


Kembali lagi pada Kazuki yang masih dalam persembunyiannya, ia membuat rencana matang sebelum akhirnya berlari gesit menghindari cahaya lampu yang menyorot dirinya.


TAP TAP TAP


Akhirnya ia berhasil memanjat pagar kawat berduri yang mengelilingi bangunan penjara. Dengan sangat hati-hati ia turun dan melompat ke luar dinding penjara.


Sambil menepuk-nepuk tangannya, Kazuki mengoceh pada dirinya sendiri karena merasa puas bisa lari dari para penjaga. Bahkan ia mengumpat para sipir yang mati-matian mengejarnya.


Saat ia berbalik,,, ia pun merasa bersyukur dan terkekeh. Namun mendadak ia menjadi terkejut!


"Aihgg,, akhirnya aku bisa meloloskan dir,-"


GLEK!


Baru saja ia merasa senang karena bisa kabur dengan mudah, jantungnya dibuat terkejut dengan barisan petugas yang mengacungkan pistol kepadanya.


Rupanya, mereka sudah menunggu dari tadi di sana. Di setiap sudut dan titik rawan, kepala penjara menugaskan masing-masing anggotanya untuk berjaga.


"Menyerahlah 721! Kau tertangkap kembali. Ikuti prosedur dari kami atau kau akan mendapat hukuman lebih buruk lagi!"


Kazuki berteriak kesal. Ia kehilangan kesempatan untuk menemui Ken dan membunuhnya dengan kedua tangannya sendiri.


Pada kegilaan yang ia punya, tiba-tiba saja Kazuki menyerang petugas dan merangsek maju melawan barisan. Ia menyundul dengan kepala dan berlari menjauh dari mereka semua.


Namun ia lupa bahwa para petugas dibekali senjata api tiap masing-masingnya. Hingga sebagai ketua tim, seseorang menembakkan tiga pelurunya ke arah kaki Kazuki.


DOR DOR DORRR!


Kazuki rubuh ke tanah seraya memegangi kakinya yang berdarah-darah. Ia mengerang kesakitan karena tiga peluru bersarang di pahanya.


"Kami sudah memperingatkanmu! Tapi kau keras kepala!"


Dengan sigap para penjaga itu melumpuhkan Kazuki dan memborgol tangannya. Mereka menyeretnya kembali memasuki penjara dan membawanya ke sel khusus.


"Lepaskan aku!!"


"Diam kau!!"


.


.


.


.


Hay readersku sayang..


makasih sudah mampir sampai sini...


Jangan lupa tinggalkan jejak likemu ya,,,πŸ˜˜πŸ™πŸ»


BERSAMBUNG....