
EPISODE 148
Satu bulan telah berlalu. Sesuai keahliannya, Ken benar-benar membuka restoran ramen kecil di tempat tinggal barunya. Meski kini ia hidup sendiri, ia berusaha untuk menikmatinya dengan baik.
Rumah tinggalnya yang tidak besar dan sederhana itu cukup nyaman baginya. Dengan ruang tamu yang bersatu dengan ruang makan serta dapur, ia hampir selalu berada di sana untuk setiap harinya.
Tidak lupa ia membeli sebuah kipas angin untuk cuaca yang panas seperti sekarang ini. Kemudian, beberapa peralatan dapur yang sudah tersedia dari rumah sewanya itu juga memudahkan dirinya untuk memasak makanan.
Di kursi sofa yang tidak baru itu, terkadang ia duduk merenung. Menikmati makan malamnya sambil mengobrol dengan dua wanita yang rajin mengunjunginya dalam halusinasi.
Lalu di pagi harinya, ia berangkat ke restorannya yang terletak tidak jauh dari rumahnya. Hanya beberapa blok saja dan sanggup ditempuh dengan berjalan kaki.
Sambutan dari warga sekitar pun cukup baik. Mereka sangat ramah dan bergantian mengunjungi restorannya.
"Selamat pagi pak Ken, apa kau butuh sesuatu untuk restoranmu?"
"Ah, tidak nyonya. Terima kasih, roti gandum yang kemarin kau bawa masih cukup untuk ku habiskan dua hari mendatang."
"Benarkah? Jangan terlalu lama menyimpannya, roti gandumku tidak bertahan lama karena tanpa pengawet. Jadi pastikan kau menghabiskannya dalam empat hari."
"Baik, nyonya. Kau baik sekali padaku," Ken tersenyum mengangguk.
"Jangan sungkan, pak Ken. Kau sering membantu suamiku membetulkan pickup tuanya. Apa lagi yang bisa ku berikan untukmu selain daganganku," wanita itu berusaha membalas kebaikan yang Ken berikan.
"Ahaha,, Baiklah nyonya, aku akan dengan senang hati melakukannya."
Begitulah keramahan warga desa itu menghadapi Ken. Mereka saling membantu, memberi dan menerima.
Restoran ramen milik Ken diberi nama "Ryu-Ken Ramen" ternyata ramai peminat. Selain kuah segar dari kaldu daging, rasanya juga lezat dan gurih.
Apalagi saat beberapa turis lokal dan mancanegara datang berlibur di desa tersebut. Restorannya selalu menjadi tempat pilihan bagi mereka yang mencari makanan hangat maupun dingin.
Jika pada awalnya Ken bekerja seorang diri, lama-kelamaan ia menerima seorang asisten dapur yang datang ke tempatnya dan meminta pekerjaan padanya.
Seperti biasanya, ia merasa tersentuh melihat keadaan orang lain yang benar-benar membutuhkan bantuan.
Nona Ino, begitulah panggilannya. Seorang wanita yang sopan dan tidak neko-neko. Ia mempunyai suami pemabuk dan sering marah-marah kepadanya. Usianya sebenarnya tidak terpaut jauh dengan Ken. Namun karena kehidupannya yang sulit, wanita itu terlihat lebih tua dari usianya.
Ia mengaku butuh uang untuk membiayai biaya rumah sakit putranya, karena sang suami tidak punya pekerjaan dan hanya malas-malasan di rumah.
Sebenarnya ia juga mempunyai seorang putri yang bekerja di kota dan sempat bekerja di sebuah restoran ayam. Putrinya itulah yang selama ini membantunya dalam membiayai rumah sakit dengan cara mengirim sebagian uang gajinya.
Tapi sejak restoran itu tutup, nona Ino tidak lagi mendengar kabar darinya sehingga ia pun mencari uang sendiri.
Karena wanita itu cukup pandai dalam urusan dapur, Ken pun mempekerjakannya tanpa ragu. Selain itu, ia mendapat bantuan darinya dalam menyiapkan semua keperluan restoran sehingga keputusannya yang telah memberinya pekerjaan tidak sia-sia.
PIP PIP PIP
Suatu hari, ada sebuah mobil pick up datang. Disusul mobil lain yang berhenti di depan restoran Ramen Ken.
"Pak Ken, sepertinya ada tamu," kata nona Ino buru-buru memberitahu Ken.
Ken tersenyum, "Buatkan dua es jeruk dingin untuk mereka."
"Baik."
Ken segera melepas sarung tangannya dan pergi keluar untuk menyambut tamunya.
"Waaahh!! Kau sungguh-sungguh saat mengatakan akan membuka restoran?" kata Kurosaki terpana.
"Sudah ku katakan, bukan? Kau saja yang tidak percaya," sahut Ichigo.
"Seperti yang kau lihat," jawab Ken seraya memeluk Kurosaki kemudian Ichigo.
"Masuklah," lanjutnya.
Dua kawannya itu pun masuk ke dalam restoran. Mereka duduk di sebuah meja pelanggan dan melongo saat nona Ino membawa dua gelas minuman dingin untuk mereka.
"Wah, pas sekali!" sambut Kurosaki dengan senyuman lebar.
Baru saja gelas itu diturunkan ke atas meja, Kurosaki langsung mengambil dan menyeruputnya.
SLURRPP!
"Aaahhh... Segarnya..."
"Hey, Ken. Ini milikmu," kata Ichigo melemparkan kunci mobil pada Ken.
Hup! Ken menerima kunci yang dilemparkan Ichigo, "Terima kasih, kalian sudah bersedia mengantarkan barang pesananku."
"Hmm, kau tidak ingat siapa kita? Kita tim solid, kawan..." Kurosaki menyahuti sambil meneguk es jeruk segar.
"Baiklah, baiklah. Apa kalian lapar?"
Mendapat pertanyaan dari Ken, Kurosaki yang tidak suka basa-basi itu pun segera menyambutnya.
"Waah, tentu saja. Lagi pula, jauh-jauh datang kemari tanpa mencicipi hidangan restoranmu rasanya sedikit ada yang kurang," katanya jujur.
Ken tersenyum, "Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan menyiapkan dua porsi ramen spesial untuk kalian."
"Yes!" pekik Kurosaki disambut keplakan dari Ichigo pada kepalanya.
"Kau ini. Jangan terlalu mencolok apa tidak bisa?" gerutu Ichigo.
Selang setengah jam kemudian,
"SLURRPP! Aaah... nikmatnya!" suara dari mulut Kurosaki yang masih dipenuhi makanan.
"Wah, ini benar-benar keajaiban! Sejak kapan kau bisa membuat makanan selezat ini?" tanya Ichigo di sela-sela kegiatannya menyuapkan mie dan daging ke dalam mulutnya.
"Hehe, sejak kapan, ya? Aku rasa jauh sebelum kita bertemu," jawab Ken.
"Serius?"
"Hmm. Apa kalian baru tahu? Seingatku aku pernah mengatakannya."
"Tidak, kau belum pernah menceritakan soal itu," Kurosaki menyahut dengan mulut yang penuh makanan sehingga air liurnya hampir menetes keluar.
"Aah.. apa perlu ku ceritakan?"
"Tentu saja!" jawab kedua kawan Ken bersamaan.
"Baiklah. Dengar baik-baik, karena aku tidak akan mengulanginya lagi. Dua puluh tahun yang lalu, aku adalah seorang koki ramen yang bekerja di sebuah restoran milik Suzy, istriku."
"Sungguh? Ini benar-benar berita baru untuk kami, kawan!"
"Ya. Aku memang tidak cerita semua tentang kehidupanku pada kalian, lagi pula aku juga tidak tahu pasti kehidupan kalian di masa lalu. Bukankah ini disebut impas?"
"Kau benar. Baiklah, aku akan cerita sedikit tentang masa laluku. Dulu aku seorang pelayan di sebuah toserba. Karena gaji yang ku dapatkan tidak mencukupi kebutuhanku, akhirnya aku keluar dan melamar di bengkel Tanaka," cerita Ichigo.
"Ya. Kalau itu aku sudah tahu."
"Benarkah? Kalau begitu, kau sudah mendengar sedikit tentang masa laluku," jawab Ichigo.
"Hmm," Ken mengangguk.
"Caahh! Sekarang aku."
"Baiklah, ceritakan masa lalumu pada kami."
"Ya. Dengar, ya. Dulu, aku ini seorang penyanyi kafe yang legendaris," kata Kurosaki bicara dengan penuh penghayatan sambil menengadahkan kepala berlagak mengenang masa lalunya.
"Yang benar??" Ken dan Ichigo bertanya karena tidak percaya.
Selama ini, mereka mendengar suara Kurosaki amat buruk saat bernyanyi. Selain cempreng, nyanyiannya selalu terdengar tidak pas dengan musik. Bagaimana bisa dia menjadi seorang penyanyi kafe?
"Tidak juga."
NGEK
Kurosaki cepat-cepat mengakui kebenarannya. Suasana syahdu yang sudah ia ciptakan tiba-tiba dipatahkan begitu saja.
"Tidak juga?"
"Itu hanya cita-citaku. Sebagai petugas kebersihan kafe, aku sering mendengarkan penyanyi mereka menyanyi sambil memainkan piano. Itu indah sekali. Namun suatu hari, aku yang sedang mengepel sudut toilet, tanpa sadar menirukan nyanyian mereka. Lalu...."
Kurosaki berhenti bicara sambil memejamkan mata. Ichigo dan Ken menunggunya kembali bicara sambil mencondongkan kepala ke arahnya.
"Tiba-tiba saja pemilik kafe mendekatiku dan bertanya padaku, apakah aku ingin menjadi penyanyi? Karena ditanya, aku langsung menjawab, iya."
"Lalu?"
"Lalu, tiba-tiba saja, ia menumpahkan air dari ember pel-pelan ke kepalaku sambil berteriak dan mengatakan bahwa aku sedang bermimpi. Saat itulah aku sadar, ternyata suara cemprengku terlalu keras dan mengganggu pelanggan yang sedang menikmati penampilan penyanyi kafe kami."
Tak butuh waktu lama, Ken dan Ichigo tertawa terbahak. Mereka merasa cerita Kurosaki itu sangat lucu.
"Kenapa kalian menertawakanku?"
"I itu sangat lucu. Haha," Ichigo tertawa keras.
"Kalian pasti senang bukan, mendengar ceritaku?"
Ken mengangguk sambil tertawa.
"Tapi, benarkah itu terjadi padamu?" Ken menahan tawa dan menampakkan matanya yang sipit.
"Sungguh, itu terjadi padaku. Dan apa kalian tahu yang terjadi setelahnya?"
Ken dan Ichigo menggelengkan kepala bersamaan.
"Aku yang terjadi?"
"Aku dipecat saat itu juga."
"Benarkah? Hanya karena menirukan nyanyian?"
"Benar."
Lagi-lagi, Ken dan Ichigo tertawa. Rupanya pengalaman Kurosaki lah yang paling menggelikan. Akhirnya mereka bertiga pun tertawa bersama-sama menampakkan suasana yang ceria.
.
.
.
BERSAMBUNG....