
EPISODE 69
Beberapa minggu kemudian, setelah Suzy melakukan cek kandungan untuk yang ke lima kalinya, dokter menemukan kelainan pada rahim Suzy.
Dokter juga mengatakan bahwa kandungan Suzy sangat lemah. Ia harus beristirahat dari kesibukannya selama ini dan tidak boleh melakukan aktivitas yang membuatnya lelah jika tidak ingin membahayakan bayi yang ada di dalam rahimnya tersebut.
Menghadapi persoalan seperti itu, Ken dengan sabar memberikan perhatiannya. Ia berusaha keras untuk membesarkan hati sang istri yang menghadapi kecemasan.
Namun, dibalik situasi yang membutuhkan keteguhan hati itu justru membuat hubungan rumah tangganya semakin harmonis.
Suzy tidak lagi ketus pada Ken. Bahkan ia tampak lebih manja pada suaminya tersebut. Bahkan ketika Ken hendak pergi ke restoran pun, Suzy merengek agar suaminya itu membawanya serta.
"Ini makanlah walaupun sedikit," kata bibi Tamako meletakkan semangkuk bubur lima kacang.
Sudah beberapa hari ini, ibunya Suzy membuatkan makanan dan minuman yang mampu menguatkan kandungan putrinya.
Karena istrinya hanya diam saja, Ken dengan sigap meraih mangkuk bubur tersebut dan mencoba menyuapkannya ke mulut Suzy.
"Aaakkk.. Kau harus makan jika ingin bayi kita sehat, sayang," Ken menempelkan satu sendok suapan bubur ke mulut Suzy.
"Aku mau ikut ke restoran," ucap Suzy tanpa disangka.
"Tapi dokter mengatakan agar kau istirahat. Jadi di rumah saja, ya? Biar aku yang mengurus restoranmu," Ken mencoba membujuk.
"Tidak mau. Aku ikut."
Ken menghela nafas. Begitu pula ayah dan ibu mertuanya yang duduk di hadapan mereka.
"Sebaiknya kau dengarkan kata suamimu. Dia mencoba melindungimu dengan menuruti ucapan dokter," paman Akihiro menyela.
"Tapi aku bosan di rumah berhari-hari," jawab Suzy lesu.
Ken menyentuh punggung tangan istrinya pelan, "Bagaimana kalau kita jalan-jalan selepas aku kembali dari restoran malam ini?"
"Jalan-jalan?"
"He em," Ken mengangguk.
"Ke mana?"
"Ke mana saja," kini Ken tersenyum.
"Sungguh? Kau akan mengajakku jalan-jalan pulang nanti?"
"Hmm. Aku janji."
Suasana hati Suzy seketika berubah. Ia begitu senang mendengar bahwa suaminya akan mengajak jalan-jalan dirinya malam nanti. Maka, ketika Ken pergi ke restoran siang itu, Suzy tidak lagi merengek untuk ikut.
••••••
Malam itu, udara begitu dingin dan basah. Dedaunan pun berterbangan tersapu angin. Sepertinya dunia sedang bersiap menyambut musim semi. Musim dimana mekarnya tumbuhan dan bunga-bunga.
Ken menutup dan mengunci pintu restoran dengan tenang. Hembusan nafasnya hampir tak terdengar akibat deru angin yang cukup kencang.
Di tikungan gelap, berdirilah Rai yang memata-matai Ken untuk menyiapkan segala rencananya.
Rupanya, nasib baik sedang tidak berpihak pada Ken. Di ujung jalan sana, Keiko duduk di sebuah trotoar dekat jembatan kecil dalam keadaan mabuk. Gadis itu hampir tidak sadarkan diri di tempat itu.
Merasa bertanggung jawab pada karyawannya, Ken mendekati Keiko dengan maksud menyadarkan kembali gadis itu.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Ken.
Keiko mendongakkan kepalanya melihat siapa yang datang.
"Aaah.. Senior Ken..." suara Keiko yang mabuk.
"Apa kau mabuk?"
Keiko mengangguk sambil tertawa nyengir, "Hehehe..."
"Malam sudah larut. Sebaiknya kau segera pulang. Tidak baik anak gadis berkeliaran di jalan dalam keadaan mabuk."
Keiko mengangguk. Lalu tiba-tiba saja ia melontarkan pertanyaan.
"Senior?"
"Ya?"
"Apa kau mau bertemu pria itu? Dia sedang di sini bersamaku," ucap Keiko masih dalam pengaruh alkohol.
"Apa yang kau bicarakan?" Ken menoleh ke kanan dan kiri. "Aku tidak melihat siapapun di sini selain dirimu," lanjutnya kebingungan.
Lagi-lagi Keiko tertawa. Dengan sempoyongan gadis itu berusaha berdiri sambil berpegangan pada pakaian Ken. Tentu saja Ken membantu karyawannya itu berdiri dengan baik.
"Hey senior, aku akan memberitahumu rahasiaku. Tapi sebelum itu, coba kejar aku.." Keiko berlarian sambil sempoyongan hingga tasnya jatuh ke tanah.
Ken memperhatikan gadis muda yang ceroboh itu. Perlahan, dipungutnya tas kulit berwarna putih dengan hiasan bunga yang tergeletak di tanah. Mau tidak mau, akhirnya ia mengikuti langkah Keiko yang sembrono.
Dari kejauhan, beberapa kali Rai berhasil mengambil gambar mereka berdua yang ada di dalam kegelapan malam.
"Hey! Berjalan pelan-pelan saja! Kau bisa jatuh jika berlarian seperti itu,," Ken memperingatkan Keiko.
Ketika akhirnya mereka berdua sampai di depan rumah semi basement, Keiko membisikkan sesuatu di telinga Ken.
"Apa kau tahu, senior? Setiap kali aku berada di dekatmu, jantungku serasa mau lepas."
"Apa maksudmu? Kau sedang mabuk, sebaiknya segera masuk ke rumah dan istirahatlah," Ken menepuk pundak Keiko dan berbalik hendak pergi.
Namun, tangan kanan Keiko menahannya, "Tunggu.... sebelum aku masuk, bolehkah aku mengatakan rahasiaku padamu senior...."
Ken mendengus pelan, "Baiklah. Memangnya apa rahasiamu?"
"Husst,, ini rahasia di antara kita, ya?"
"Iya baiklah."
Keiko berusaha membuka matanya yang mengantuk itu lebar-lebar. Sambil sempoyongan ke kanan dan kiri, gadis itu bicara terus terang.
"Sebenarnya, beberapa waktu yang lalu di depan panti asuhan Takaoka, aku mencium bibir pria itu. Kau tahu kan senior,, Pria yang aku ceritakan padamu. Yaah.. dialah pria beristri yang aku cintai,," Keiko mengakui semuanya secara gamblang tanpa sadar sambil memainkan bulu halus pada penutup kepala mantel milik Ken.
Seketika itu juga Ken terdiam. Matanya terbuka lebar menatap gadis muda di hadapannya.
"A apa kau bilang? K kau melakukan apa?" Ken tidak percaya.
"Kami berciuman,-"
Keiko menatap wajah Ken lekat-lekat. Tanpa berpikir panjang, ia memeluk tubuh seniornya dengan penuh cinta.
"Senior, aku mencintaimu. Maukah kau menikah denganku?" Keiko bicara setengah sadar.
"A apa yang kau katakan..."
"Aku,,, Huphh!" Keiko tidak melanjutkan ucapannya karena menahan rasa ingin muntah.
Wuuzz....
Beberapa menit kemudian, Ken sudah berada di dalam rumah kontrakan Keiko. Ia membawa gadis itu masuk ke rumahnya dan merebahkannya pula ke kasur.
"Huff! Semoga Suzy tidak menungguku di luar," Ken bergumam mengkhawatirkan Suzy yang suka menunggunya pulang, di halaman rumah.
Tanpa ia ketahui, seseorang mengikutinya masuk ke dalam rumah Keiko dengan mengendap-endap di dalam kegelapan. Ia melihat sebentar pada kamera CCTV yang sudah ia pasang beberapa hari sebelumnya di atas sana.
Pria berpakaian serba hitam itu bersembunyi dan mengambil beberapa gambar yang menarik.
Pada saat Ken hendak pergi dari sisi tempat tidur, gadis itu menariknya dengan cepat dan mencium bibir Ken secara tiba-tiba. Bahkan ia juga mengunci kedua kakinya ke pinggang Ken dengan erat.
Ken membuka mata lebar-lebar karena terkejut. Meski dalam keadaan mabuk, tenaga Keiko cukup kuat untuk menahan tubuh Ken agar tidak lepas darinya.
"Ummmcc...."
Ciuman Keiko benar-benar panas. Gadis itu menyesap bibir Ken dengan penuh gairah hingga dengan senang hati menelan saliva lawan mainnya.
Tangannya pun bergerak cepat membuka kancing baju Ken. Tanpa membuang waktu lagi, Keiko dengan lembut membelai dada pria yang sedang bersamanya itu.
Bahkan ia memainkan jari jemarinya di bagian tersebut. Lalu perlahan turun ke bawah. Berputar, meliuk-liuk seperti ular. Kemudian dengan nakalnya masuk ke dalam celana Ken dan mengusap tongkat panjang yang ada di dalam.
GLEK!
Sebagai seorang pria, Ken menjadi panas dingin dibuatnya. Sentuhan yang berbeda dari Suzy itu membuatnya terpancing. Nafasnya menderu seirama dengan detak jantungnya.
Maka,
Diraihnya kepala Keiko dengan kedua tangannya. Kemudian dengan gairah yang sama menggebunya, ia membalas ciuman Keiko yang panas dengan sangat mendalam. Sementara itu ia juga membiarkan tangan Keiko naik turun memainkan tongkatnya.
KLIP!
Suatu ingatan melintas tiba-tiba di kepala Ken. Maka dengan cepat ia melepaskan ciumannya dan segera menyingkir dari sisi Keiko.
"Oh tidak! Apa yang aku lakukan?"
Ken ingat pada Suzy dan bayinya. Ia pun merasa amat bersalah karena terpancing melakukan hal yang tidak seharusnya ia lakukan.
Dengan cepat ia bangkit dan pergi meninggalkan gadis yang tengah terangsang penuh.
"Ini tidak benar, Keiko. Sebaiknya lupakan apa yang baru saja terjadi di antara kita," Ken berbalik pergi.
"Tapi s senior...."
Keiko sedih. Ia benar-benar berharap senior Ken akan memberinya kenikmatan meski hanya semalam. Ia tidak peduli bahwa nantinya Ken tidak menganggapnya lagi atau bahkan memecatnya.
Ia hanya ingin merasakan bagaimana nikmatnya menghabiskan malam bersamanya. Meski hanya sekali.
Dan pada saat Ken beranjak pergi saat itu juga dari rumah Keiko, tiba-tiba saja ia mendapatkan pukulan di belakang kepalanya.
BRUK!
Pukulan keras itu pun membuat Ken tidak sadarkan diri dan jatuh pingsan di depan kamar Keiko.
Aih! Bangunlah, Ken! Hidupmu sedang dipertaruhkan malam itu juga!
"S siapa itu? Apa kau masih di sana, senior?" Keiko mendengar suara dari depan kamarnya.
Dengan perlahan, Keiko bangkit dari ranjang untuk melihat ke depan. Baru saja ia hendak melangkah, seseorang berpakaian serba hitam mendekat padanya seraya menggenggam pisau.
"S siapa kau!"
Karena takut, Keiko mundur dan jatuh ke atas ranjang. Belum sempat berlari menyelamatkan diri, pria misterius itu memukul gadis itu dengan cepat hingga jatuh pingsan.
SIIINGG....
Suasana menjadi hening. Pria berpakaian hitam itu kini melancarkan aksinya dengan tenang tanpa gangguan.
•••••••••
Di depan rumah keluarga Suzy.
Suzy menunggu Ken di halaman rumahnya dengan cemas.
"Kenapa ia belum datang juga? Bukankah ini sudah melewati jam tutup restoran?"
"Ada apa? Kau gelisah sekali,,,, apa suamimu belum juga pulang?" tanya Akiyama yang baru saja pulang dari toserba.
"Iya. Ken belum pulang, padahal ini sudah lewat jam tutup restoran. Apa kau bisa membantuku mencarinya?"
"Tentu saja. Kau masuklah ke dalam, aku akan mencarinya untukmu," Akiyama berusaha menenangkan adiknya.
Karena kakaknya sudah berjanji akan membantu mencari sang suami, Suzy pun bersedia masuk ke dalam rumah dan menunggu bersama ayah dan ibunya.
SRET
Ketika Akiyama sampai di depan restoran, ia melihat bahwa restoran mereka sudah tutup dan terkunci rapat. Ia heran, ke manakah perginya sang adik ipar. Tidak biasanya ia pergi tanpa memberitahu orang rumah.
Kawan dan juga kakak ipar Ken itu pun mencari di sepanjang jalan dan tempat yang semestinya dilalui Ken sebelum mencapai rumah. Berjam-jam ia mencari, namun hasilnya nihil. Ia pun pulang dengan tangan kosong.
•••••
Kembali pada situasi di rumah Keiko, Ken yang sempat pingsan itu pun mulai sadarkan diri. Ia mengusap bagian kepalanya yang sempat dipukul seseorang.
"Ughh,,, Apa yang terjadi?" gumamnya.
Perlahan walau kepalanya masih terasa sakit, Ken beranjak dari tempatnya dan menyadari bahwa dirinya masih berada di rumah Keiko.
Pada saat itu, Ken melihat sesuatu yang aneh. Saat ia datang tadi, semua barang di rumah Keiko tersusun rapi di tempatnya. Tetapi sekarang, mengapa semuanya tampak berserakan di lantai? Apakah ada perampok masuk? Begitu pikirnya.
Kemudian karena khawatir, Ken buru-buru masuk ke dalam kamar yang ada di dekatnya untuk melihat keadaan Keiko. Alangkah terkejutnya ia ketika menemukan tubuh Keiko dalam keadaan mengerikan.
DEG!
Di atas tempat tidur itu, gadis yang telah ia antar pulang dan ia baringkan di ranjang, bahkan sempat berciuman dengannya untuk beberapa waktu, tampak bersimbah darah dengan luka tusukan di dada dan perutnya. Tubuhnya pun telanjang bulat tanpa tertutup kain sehelai pun.
Mata Ken mengerjap cepat. Seketika itu juga wajahnya berubah pucat pasi dengan tubuh yang gemetar hebat.
Dengan suara lirih dan tergagap ia memanggil gadis yang semalam sempat berciuman dengannya, "K Keiko?"
Sebagai manusia yang sudah pernah membunuh dan biasa melihat darah, Ken benar-benar syok. Sebab kali ini, bukan ia pelaku pembunuhan itu.
Namun siapa? Bukankah semalam Keiko masih baik-baik saja?
Apa yang akan Ken lakukan sekarang?
Simak dan baca lanjutannya!
Bersambung..........