RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
MATI SAJA : "KAU!"



EPISODE 94


Sesampainya di Shibuya, 1-1 Udagawacho. Ken dan Ichigo bertemu dengan seorang pria gempal berkumis. Rambutnya panjang sepunggung dan diikat ke belakang.


"Kalian dari bengkel Tanaka?"


"Benar. Kalau begitu, apakah anda tuan Shibuki?"


"Hmm. Kalian lumayan juga, sampai di sini hanya dengan beberapa menit," Shibuki memuji ketepatan waktu mereka sambil tertawa.


Ken dan Ichigo bertatapan dan tersenyum untuk menghormati pria tersebut.


"Ah ya, mobilku ada di jalan 13-8, mari ikuti kami," ucap Shibuki seraya masuk kembali ke dalam mobilnya.


Ken dan Ichigo bertatapan dengan bingung. Mereka pikir, tempat yang akan mereka datangi ada di jalan 1-1.


"Ayolah," kata Ichigo pada Ken.


Karena Shibuki dikelilingi body guard, Ken sedikit waspada. Ia berpikir, apakah ada maksud lain dari permintaannya untuk mengecek mobilnya.


Butuh waktu beberapa menit bagi mereka untuk sampai ke tempat yang sebenarnya. Tempat yang ada sebuah papan nama Shibuki.


Papan nama klub malam tersebut terpampang jelas dengan tulisan yang lumayan besar.


Karena masih pagi, tempat tersebut juga belum dibuka. Seperti biasanya, klub tersebut akan mulai beroperasi pada jam sebelas malam.


"Mari ikut denganku," Shibuki mempersilahkan kedua tamunya untuk mengikutinya ke belakang gedung.


Sampailah mereka di sebuah garasi mobil rahasia. Di dalam garasi tersebut, berjejer rapi mobil yang tampak mahal. Salah satunya adalah mobil antik klasik model Citroen Avant 11B berwarna hitam.


"Ini mobilnya."



"Whoah? Apakah ini Citroen Avant 11 B?" tanya Ichigo dengan mata berbinar.


"Yaah. Kau tahu jenis itu?" Shibuki tidak menyangka bahwa pria bengkel itu mengenali jenis mobil antiknya.


Alhasil, keduanya sibuk dengan pembicaraan mereka tentang model mobil yang nilainya fantastis tersebut.


Sebaliknya, Ken hanya menyimak pembicaraan mereka dan menyapukan pandangannya ke seluruh ruang garasi.


Ketika kakinya melangkah melihat-lihat, dua body guard tuan Shibuki langsung menghadang dirinya.


"Ah? Maaf."


Ken kembali pada jalurnya. Ia sedikit tidak nyaman saat diawasi. Sekali-kali ia menoleh ke belakang, dimana para pengawal itu sedang mengamati dirinya.


Ia heran. Jika mobil yang harus mereka perbaiki adalah mobil klasik tersebut, maka mesin yang harus dipakai seharusnya khusus didatangkan dari luar negri.


"Sebelumnya, aku minta maaf padamu, tuan. Jika yang kau maksud mobil ini, bukankah mesin yang dipakai juga khusus?"


"Ya, memang begitu. Memangnya kenapa?" tanya Shibuki.


"Jika begitu, maaf tuan. Aku tidak bis,-"


Ichigo menutup mulut Ken dan menyeretnya agak jauh, "Kau ini kenapa? Ini kesempatan kita untuk naik gaji."


"Tapi, aku tidak mempunyai pengalaman menyetel mesin keluaran 1938 seperti Citroen Avant."


"Tenang saja, aku sudah pernah mengerjakan jenis ini sekali."


"Kau serius? Jika kita melakukan kesalahan sedikit saja. Kita tidak bisa kembali hidup-hidup."


"Tidak mungkin, sudahlah yang penting kita coba saja," Ichigo berkata seakan tidak akan terjadi apa-apa.


GLEK


Ken merasa bingung harus bagaimana saat Ichigo dengan mudahnya berkata sanggup mengerjakannya.


Baru saja mereka membongkar peralatan yang dibawa, datanglah dua orang wanita menemui Shibuki.


"Ayah, aku butuh uang saku lagi," kata seorang wanita dengan tindik di alisnya.


"Kau ini. Bukankah dua hari yang lalu kau baru saja minta uang saku?" jawab Shibuki.


Eh??


Begitu melihat Ken ada di sana, Arai langsung menyapa dengan berani, "Rupanya, kita bertemu lagi di sini."


Ken mengangguk pelan. Dirinya tidak menyangka akan bertemu lagi dengan kedua wanita itu.


"Kau mengenalnya?" tanya Shibuki pada putrinya.


"Yaaah,, begitulah. Dia menyita barang milikku begitu saja."


"Benarkah?"


"Em, ayah. Mari kita bicara sebentar," ajak Arai.


Karena putrinya hendak bicara dengannya, akhirnya Shibuki memberikan waktu pada Ichigo dan juga Ken untuk memeriksa masalah pada mobilnya.


Yuna tidak mengikuti Arai ke atas. Ia justru duduk di atas sebuah mobil dan memperhatikan Ken yang tengah memeriksa mesin mobil bersama Ichigo.


"Apa ayahku yang meminta kalian datang?" tanyanya pada Ichigo.


Ken menoleh pada Yuna karena ingin memastikan apakah wanita itu bicara pada mereka berdua.


"Benar, nona."


Mendengar Ichigo menjawab seperti itu, Ken berbalik menoleh padanya. Ia masih bingung apa maksud pembicaraan mereka.


"Hmm.. Begitu, ya," Yuna menanggapi.


Karena Ichigo tidak juga memberitahu apapun, Ken menatapnya penuh tanya.


"Apa maksudnya?" kira-kira begitulah arti tatapannya pada Ichigo.


Ketika Ichigo hendak menjelaskan, Yuna tiba-tiba saja mendekati Ken.


"Kenalkan, namaku Yuna," ia mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri.


Ichigo melirik pada Ken. Dengan gerakan matanya, ia menyuruh kawannya itu untuk menanggapi uluran tangan Yuna.


"Kenzhi," jawab Ken acuh tanpa menanggapi uluran tangan Yuna. Ia kembali fokus pada pekerjaannya.


Tidak disangka, Yuna justru tersenyum senang saat mendapatkan perlakuan dingin dari Ken. Menurutnya, pria bernama Kenzhi itu sangat manis.


"Sepertinya dia tertarik padamu," bisik Ichigo pada Ken.


"Omong kosong."


"Hey, apa kau tahu siapa dia?"


"Aku tidak peduli siapa dia," Ken fokus pada tugasnya.


Melihat kesombongan Ken mengenai Yuna, Ichigo berbisik di telinga Ken, "Dia putri tuan Tanaka."


GLEK


Ken membelalakkan matanya menatap Ichigo.


"Siapa katamu?"


"Pu-tri tu-an Ta-na-ka," jawab Ichigo dengan mode slow motion.


Diam-diam, Yuna mendengar pembicaraan itu dan tersenyum geli melihat ekspresi Ken yang terkejut.


"Apa kau terkejut setelah mengetahui siapa diriku?"


Yuna berpikir bahwa sikap Ken akan berubah setelah mengetahui siapa dirinya. Namun rupanya, hal itu tidak mempengaruhi situasi apapun. Bahkan, Ken masih tetap dingin padanya.


•••••••••


Untungnya, mesin mobil milik Shibuki masih sangat baik. Hanya beberapa komponen yang perlu disempurnakan. Jadi, sesuatu yang dikhawatirkan tidaklah terjadi.


Ketika akhirnya pekerjaan mereka selesai, Ken dan Ichigo pamit untuk pulang kembali ke bengkel. Shibuki membayar penuh atas pekerjaan baik mereka.


Meski awalnya Ken tidak yakin akan berhasil mengerjakan mesin mobil model klasik tersebut, namun akhirnya ia bersyukur ketika mereka menyelesaikannya.


Sayangnya, Arai membuat masalah untuk Ken. Ia mengadukan sikap kasar Ken padanya. Bahkan ia juga mengatakan bahwa pria itu juga menyita senjata apinya.


Karena masalah itu, Ken diminta untuk mengembalikan pistol yang ia sita kemarin. Jika tidak, ia harus membayar harga ganti ruginya.


Rupanya, Arai sudah merencanakan semua itu dengan baik. Ia benar-benar tidak suka dengan kehadiran Ken yang mengusik perasaan Yuna.


Saat pagi ini ia datang sendiri ke bengkel yang kebetulan sedang sepi, ia mencari dan mengambil kembali pistol yang disita oleh Ken. Dengan begitu, meski pria itu mencari di mana pun pistol miliknya, tidak akan ia temukan.


Benar.


Sesampainya di bengkel Tanaka, Ken bergegas mengambil pistol yang ia simpan di dalam laci bawah kasir.


Namun ia terkejut ketika tidak ditemukannya pistol itu di sana.


"Di mana pistolnya?" gumam Ken heran.


Ia yakin, saat itu ia menyimpannya di laci kasir paling bawah. Lalu, kenapa sekarang tidak ada? Bukankah tidak ada orang lain yang tahu bahwa dirinya meletakkan pistol itu di sana.


Kecuali....


Kedua wanita itu. Mungkin saja mereka melihat saat dirinya membungkuk di bawah meja untuk menyimpan pistol tersebut ke dalam laci.


Bagaimana pun, Ken berusaha untuk mencari benda itu di tempat lain. Semua tempat ia geledah dengan cermat. Namun tetap saja ia tidak dapat menemukannya.


Aih. Ini gawat!


Merasa putus asa, ia duduk di kursi kasir sembari kedua tangannya memegangi kepalanya. Dengan nafas tersengal, ia memejamkan mata sejenak untuk mengurangi kecemasan di hatinya.


Kali ini, ia benar-benar dibuat pusing dengan masalah yang diciptakan Arai. Jika malam ini ia tidak menyerahkan kembali pistol itu, maka itu artinya ia harus membayar uang gantinya.


Dalam pikiran yang kacau, Ken mencari-cari perkiraan harga sebuah senjata api dengan model yang persis dengan milik Arai di internet. Ia semakin gugup ketika mengetahui harga minimum benda itu sekitar satu jutaan Yen.


"Apa semahal itu harganya?" dengusnya pelan.


Malam batas penyerahan senjata api itu baru saja lewat. Karena benda itu tiba-tiba lenyap, Ken jadi tidak bisa mengembalikannya.


"Kenapa malam itu aku berulah? Menyita barang mereka? Aissh,, bodoh sekali."


Dengan langkah gontai, Ken menyusuri jalan pulang. Sudah berulang kali ia membuang nafas dengan kasarnya. Belum juga selesai masalah dengan Linzhi, kini ia harus menghadapi masalah dengan tuan Shibuki dan wanita bernama Arai.


"Apa semua ini hukuman darimu, sayang?" Ken merasa bahwa semua masalahnya berawal dari ketidaksetiaannya pada Suzy.


Ketika ia melewati taman Ueno, tanpa sengaja ia berpapasan dengan iparnya, Nonaka.


"Kakak ipar?"


Nonaka menoleh karena dipanggil, "Kau, sudah bebas?"


"Hmm. Bagaimana kabar Hari? Sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Apa dia sudah menjadi mahasiswa di salah satu universitas?" tanyanya penuh kerinduan.


Akan tetapi, Nonaka hanya diam dan terus menatapnya dengan wajah penuh dendam.


PLAK!


PLAK!


PLAK!


Nonaka tiba-tiba saja menampar keras kedua pipi Ken bergantian sebanyak tiga kali. Tatapan matanya pun dipenuhi kebencian yang mendalam.


"Kau! Tidak bisakah kau mati saja?! Kenapa harus Yama yang pergi? Kenapa!! Kenapa bukan kau saja!!"


Ken terperangah, "Maafkan aku..."


"Asal kau tahu! Aku sangat membencimu! Karena dirimu, kami mengalami masalah dan bercerai. Dan karenamu pula dia pergi dengan mengenaskan!"


Nonaka menangis histeris sambil menutup mukanya. Tetapi sesaat kemudian ia memukuli dada Ken, menarik-narik lengan bajunya dan mengguncang-guncangnya dengan kencang.


"Dengar! Kau sama sekali tidak pantas untuk hidup dan menikmati udara kebebasan! Jika kau punya sedikit rasa malu, sebaiknya bunuh dirilah! Pergi ke neraka dan jangan pernah kembali!"


Ken terkejut mendengar pengakuan Nonaka yang amat membencinya. Bahkan iparnya itu meminta dirinya untuk bunuh diri dan menghilang ke neraka.


Ken menerima semua umpatan dari mulut Nonaka. Ia sadar, memang karena dirinyalah hidup semua orang berantakan. Bahkan hidup anak dan istrinya pun ia buat hancur.


Maka dari itu, ia hanya bisa berdiri diam dan menerima pukulan dari Nonaka.


"Baiklah. Pukul saja aku. Aku memang pantas mendapatkannya."


Ucap dalam hatinya.


BERSAMBUNG.....