RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
SALAH PAHAM



EPISODE 11


Semalaman, Ken tidur di rumah Linzhi. Ia menggeliat dan menggosok pelan matanya yang terasa masih enggan untuk terbuka. Kepalanya juga masih sedikit terasa pening.


Saat ia mulai sadar sepenuhnya, dirasakannya sesuatu menempel di dahinya. Ketika ia menyingkirkannya, rupanya sebuah handuk untuk kompres.


Ditengoknya ke kanan karena tangannya terasa berat digerakkan. Ia terkejut karena ada seseorang yang tidur di lengan kanannya sambil memeluknya erat. Seseorang yang berambut panjang. Tapi ia tidak dapat melihat wajahnya karena kepala orang itu menyusup di sela ketiaknya.


Ken menengadahkan kepala sambil mengusap wajahnya pelan dengan tangan kirinya. Ia mengerjapkan mata berulang kali dan memperhatikan kamar tempatnya berada.


"Di mana aku? Ini tidak nampak seperti kamarku."


Ken bicara dalam hati sambil menggaruk dadanya. Saat menggaruk bagian dadanya itu, ia menyadari bahwa ada sebuah selimut yang menyelimuti dirinya dan orang di sampingnya. Ia tidak tahu bahwa semalam, ibunya Linzhi pulang dan menemukan mereka sedang tidur nyenyak dalam posisi mereka.


* Flashback on *


Karena saat menemukan mereka Himari melihat keadaan Ken yang bertelanjang dada, ia pikir putrinya sudah dewasa dan mengambil sebuah keputusan dengan menghabiskan malam penuh cinta bersama Ken.


"Sebenarnya, ibu tidak ingin kau bernasib sama seperti ibu, Linzhi. Tapi, mengetahui siapa pria yang membuatmu takluk, ibu sedikit merasa tenang."


Himari duduk menghadap mereka berdua. Ia mengamati wajah Ken yang tenang dan nampak baik untuk putrinya. Maka dari itu, wanita itu berdiri meraih selimut dan menyelimuti keduanya agar tidak kedinginan.


Jika sepasang kekasih baru saja bercinta, maka ia harus bersiap-siap menerima kenyataan jika nanti putrinya hamil. Seperti dirinya dulu yang hamil setelah bercinta dengan pemuda desa pujaannya.


Meski ada sedikit kekhawatiran, namun ia bisa tersenyum tenang. Himari rupanya menyukai kesan pertama yang diberikan Ken padanya. Dari sanalah ia bisa langsung melihat bagaimana sifat Ken sesungguhnya.


* Flashback Off *


Ken menyingkap selimutnya dan melihat bahwa dirinya bertelanjang dada. Kemudian ia memeriksa bagian bawahnya yang rupanya masih mengenakan celananya. Hanya saja tali celana itu terlihat sedikit dilonggarkan.


"Apa yang terjadi? Aku tidak bisa ingat," kata Ken menggerakkan kakinya yang pegal.


Saat ia kembali menoleh ke kanan, disingkirkanya kepala orang yang tidur di lengannya itu dengan pelan. Alhasil, tampaklah dengan jelas siapa yang tidur bersamanya itu. Gyuut.


"Linzhi?!!" serunya dalam hati.


Ken terbengong. Kenapa ia bisa berada di kamar Linzhi? Bukankah seingatnya, semalam ia pergi ke rumah karaoke?


Ken menarik tangan kanannya yang terasa kebas akibat dijadikan bantalan oleh Linzhi dengan perlahan. Begitu ia berhasil melepaskan diri dari pelukan gadis itu, Ken mencari-cari pakaiannya.


Nah! Ketemu!


Pakaiannya tergantung di jemuran dengan sebuah hanger baju. Begitu berhasil mengambilnya, ia segera mengenakannya dan juga meraih tas Selempangnya yang tergeletak di lantai. Kemudian, ia mendekati Linzhi kembali.


"Maaf Linzhi, aku tidak tahu kenapa aku bisa datang kemari. Tapi sungguh, aku merasa tidak melakukan apapun padamu. Jadi, sebaiknya aku pergi sekarang," katanya lirih.


Setelah berkata pada Linzhi, Ken keluar dari kamar gadis itu dengan mengendap-endap. Ia berjalan dengan sangat hati-hati saat menuruni anak tangga yang terbuat dari kayu. Namun tetap saja, anak tangga itu mengeluarkan bunyinya. KRENGKET!


Baru saja Ken hendak berbelok ke arah pintu keluar, terdengar pula olehnya suara orang sedang mengiris sesuatu dengan pisau.


Spontan saja ia menoleh.


"Ibunya Linzhi?!!" pekik Ken dalam hati.


Mati aku! Pikirnya.


"Kau sudah mau pergi? Apa Linzhi belum bangun?" tanya Himari tersenyum.


"Eh?? Hehe. Bibi tahu aku ada di sini?" tanya Ken khawatir.


"Tentu saja. Semalam kalian pasti menghabiskan malam yang indah bersama. Jadi kemarilah. Bibi sudah menyiapkan sarapan untuk kalian."


Ken melongo, "Malam yang indah?"


"Apa maksudnya malam yang indah?"


Ken bertanya-tanya dalam hati karena memang tidak mengerti. Pada saat ia terbengong, Linzhi turun sambil membetulkan tali pakaiannya.


"Kau sudah bangun? Kenapa tidak membangunkanku juga?" tanya Linzhi pada Ken.


"A Aku,,,," Ken gelagapan.


"Sudahlah. Kalian berdua kemarilah. Mari sarapan bersama," panggil Himari pada putrinya.


Ken tidak punya pilihan saat Linzhi menariknya ke meja makan dan menghadapi sarapan mereka bersama ibunya.


"Apa kalian merasa lelah? Atau merasa kehabisan tenaga dan ingin makan sesuatu?" tanya Himari memancing.


"Lelah? Tidak. Aku merasa baik-baik saja," jawab Linzhi tidak tahu arah pembicaraan ibunya.


"Aku juga baik-baik saja, bibi. Ah, namaku K Kenzhi," jawab Ken gugup.


"Aah, Kenzhi?? Sudah ku duga. Kalau begitu silahkan makan," katanya.


Linzhi dan Ken saling berpandangan. Mereka benar-benar bingung dengan pembicaraan ibunya yang tampak berbelit-belit.


"Sebenarnya ada apa dengan ibu? Mengapa terus memberikan pertanyaan yang berbelit-belit kepada kami? Jika ingin menanyakan sesuatu sebaiknya katakan secara langsung," jawab Linzhi merasa malas.


"Jadi, kau ingin ibu bicara secara terus terang?" tanya Himari.


Himari membiarkan putrinya dan teman kencannya itu makan terlebih dahulu. Ia tersenyum melihat mereka makan dengan lahap. Setelah menghabiskan tenaga, mereka berdua pasti merasa sangat lapar. Pikirnya.


"Jadi, apa yang ingin ibu tanyakan?"


Himari tersenyum memperhatikan Ken, "Apa kalian bercinta semalaman saat ibu tidak ada di rumah?"


Uhuk Uhukk !!


Ken batuk-batuk karena tersedak kuah sup yang pedas. Mukanya memerah karena rasa pedas itu menjalar ke otaknya.


"Apa? Bercinta?" Linzhi juga kaget.


"Benar. Apa itu yang pertama kali buat kalian?" Himari penasaran.


"Yang benar saja! Mengapa ibu berpikir kotor seperti itu??" Linzhi marah dan membanting sendok.


"Kami tidak melakukan hal seperti itu! Semalam, Ken mabuk bukan? Aku hanya membantunya mengelap keringat dan mengompres badannya yang panas. Itu saja!!" lanjut Linzhi.


"Apa benar begitu, Kenzhi?"


"Ya, bibi. Aku menyadari tengah tidur di rumah orang lain baru pagi tadi. Saat membuka mata, aku pun terkejut karena Linzhi tidur di sampingku," jawab Ken terus menunduk dan meremas bajunya.


"Benarkah??" tanya ibu Linzhi seakan kecewa.


"Kenapa ibu malah sedih begitu? Jangan berpikir macam-macam, Bu. Ken bukan pemuda mesum seperti itu! Dia justru sudah mempertaruhkan sekolahnya untuk mencari keadilan untukku!"


"Kau boleh pulang, Ken. Aku juga akan bersiap ke sekolah," Linzhi menyuruh Ken pergi.


Meski merasa tidak enak, Ken pun pergi meninggalkan rumah Linzhi. Ia takut keberadaannya akan menimbulkan tanggapan lain lagi.


Sepeninggal Ken, Linzhi melanjutkan marah-marahnya.


"Asal ibu tahu. Di sekolah, ada anak yang merekamku telanjang saat sedang berganti baju di ruang ganti. Tidak ada anak lain yang mau membantuku karena pelakunya adalah anak dari direktur sekolah. Tapi Ken lain. Dia datang tanpa aku minta. Bahkan dia menghajar pelaku sampai babak belur dengan taruhan dikeluarkan dari sekolah."


"Kau serius? Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? mengapa ibu sampai tidak tahu?" Himari mengusap pipi putrinya karena peduli.


"Aku sengaja tidak mengatakannya pada ibu. Untuk apa?? Mereka melakukan itu karena aku adalah anak ibu!! Di sekolah, tidak ada yang membelaku seperti Ken. Bahkan sekarang, karena memperjuangkan kasusku,, Ken mendapat skors selama dua Minggu dan ancaman putus sekolah."


"Oh, astaga. Ibu seharusnya berterima kasih padanya karena bersedia mempertaruhkan masa depannya untukmu."


"Makanya, aku heran pada ibu. Mengapa harus menanyakan hal konyol seperti itu padanya?"


"Baiklah. Maafkan ibu. Ibu melihat kalian berdua tidur bersama dan dia bertelanjang dada. Ibu minta maaf karena salah mengartikan....."


"Sudahlah. Aku akan bersiap ke sekolah. Aku kecewa pada ibu."


•••••••••


Ken berjalan menyusuri trotoar jalan sekitar rumahnya. Ia akhirnya sampai di depan gerbang rumah tuan Kido. Ketika ia hendak menekan bel, pintu gerbang terbuka. Ia pun segera bersembunyi di balik tembok.


Rupanya mobil tuan Kido baru saja meninggalkan rumah. Tidak berapa lama, mobil jemputan Yoshi juga keluar.


Ken berdiri sejenak memperhatikan mereka. Keluarga ayahnya yang tidak pernah menerimanya.


"Apakah aku harus bertahan tinggal di rumah ayah? Jika iya, sampai kapan aku harus bertahan hidup di lubang neraka seperti ini? Bahkan, ibu saja tidak menerima kedatanganku dengan baik, di rumahnya. Apalagi mereka?" Ken melangkah masuk ke halaman rumah mewah itu dengan ragu.


.


.


.


.


Bersambung ke Episode 12 ya... 😃