
EPISODE 127
Karena Ken sudah dipecat dari bengkel tempatnya bekerja, maka ia pun resmi menjadi pria pengangguran. Selain itu, ia hanya memiliki beberapa lembar uang yang tersisa di ATMnya.
Meski ayah Yuna sudah mengetahui hubungan putrinya dengan pegawainya itu, namun ia tetap membangun dinding di antara keduanya.
Tuan Tanaka, tidak bisa begitu saja menerima Ken sebagai pria pilihan putrinya. Karena sebenarnya, ia lebih mendukung Kazuki atas persaingan ini. Namun karena penggerebekan pabrik narkotika yang dinaungi grup Minami kemarin, Kazuki dan ayahnya pun ditangkap.
Perusahaan dan pabrik mereka pun dicekal. Lebih tepatnya tidak diizinkan untuk beroperasi lagi sehingga ditutup paksa.
Meski dirinya tidak merestui hubungan Yuna dengan Ken, tuan Tanaka harus rela melepaskan putrinya yang ingin hidup bersama mantan pegawainya itu.
Sudah dua bulan berlalu, Yuna berpamitan pada ayahnya untuk tinggal bersama pria pujaannya.
"Taraaa! Lihat, aku sudah bisa membuat dadar telur dengan sangat cantik, bukan?" Yuna begitu riang membuat sarapan.
Ken tersenyum melihat hasil dadar telur yang tergulung rapi, "Ya. Sepertinya ada kemajuan."
"Benar, bukan?"
"Hmm. Lalu, apa isi onigiri kali ini?" Ken mengambil sebuah onigiri dengan isian wortel ayam di sebuah piring bundar.
"Wortel dan ayam. Bagaimana, apakah enak?" Yuna mengepalkan kedua telapak tangannya di depan dada mengharap pujian atas makanan yang ia buat.
"Hmmm,,, ini enak. Kau belajar dengan cepat rupanya."
"Tentu saja. Siapa dulu."
Setelah makan dua buah, Ken menarik Yuna agar duduk di dekatnya.
"Apa kau tidak ingin menemui ayahmu?"
"Mengapa?"
"Aku merasa tidak enak padanya karena kau memilih untuk tinggal bersamaku. Kau tahu sendiri, sekarang aku hanya pria pengangguran yang tak memiliki apapun."
"Omong kosong, siapa yang peduli kau pengangguran atau tidak. Aku bisa mencari uang untukmu. Asal kau tetap disisiku, itu saja sudah cukup."
Ken tertegun, "Mengapa kau gampang sekali mengatakan itu? Seharusnya aku yang mengatakan itu semua. Sepertinya, aku berhasil membuatmu jatuh cinta, ya?"
"Ehem, kau pasti jadi besar kepala," Yuna melirik Ken.
"Besar kepala?"
"Ya."
"Tentu saja. Karena itulah Kurosaki dan Takeda merasa iri padaku. Bukankah aku juga bisa berbangga hati?"
"Hmm. Berbangga hatilah."
Karena Ken tersenyum, Yuna pun ikut tersenyum. Jika dipikir-pikir, memang dirinya begitu menginginkan Ken. Melihat pria itu kembali sehat dan tersenyum manis seperti itu saja sudah sangat berarti baginya. Jadi ia tidak perlu malu mengakui perasaan itu di hadapannya.
•••••
Esok pagi, langit menampakkan awan yang bergulung-gulung. Rupanya akan ada hujan badai yang mengguyur kota tempat tinggal mereka.
Ken yang baru selesai mandi, keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan celana pendek tanpa baju sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk coklat.
"Woah? Kapan kau membeli PlayStation itu?" Ken melihat Yuna yang sedang asik main game.
"Kemarin. Apa kau mau coba?" Yuna menoleh dan tersenyum. Lalu bangun berdiri dan menarik Ken untuk duduk di sebelahnya.
Sambil duduk di sebelah Yuna, Ken menerima stick game berwarna putih yang diulurkan kepadanya.
"Apa kau senang melakukan itu?"
"Ya. Aku dan Arai adalah twin sister."
"Maksudnya?"
"Julukan kami dalam dunia gamers."
"Aah, begitu. Entahlah, aku rasa hanya anak muda yang tahu."
"Kata siapa? Bermain game bisa dilakukan siapa saja. Banyak juga orang tua yang menjadi gamers sejati."
"Benarkah? Ah, entahlah. Aku rasa hanya orang-orang malas saja yang mau duduk berjam-jam di depan komputer untuk bermain game."
"Hiissshh. Coba dulu. Baru berkomentar," Yuna melirik Ken.
"Tidak, tidak. Aku terlalu tua untuk itu."
Ken membuka lemari pakaian lalu mengambil sebuah baju dari dalamnya. Kemudian ia berjalan ke tempat tidur dan merebahkan diri di sana.
Saat sedang menikmati empuknya kasur, tiba-tiba ponselnya berdering.
"Ya. Ada apa Ayumi?"
Yuna menoleh saat Ken menyebut nama seorang wanita. Ia pun menghentikan permainannya dan mendekati Ken.
"Datang kemari dan menginaplah. Sudah lama sekali kau tidak menjenguk ibu. Jangan lupa ajak Suya," kata Ayumi dari seberang.
Ken diam termenung, "Baiklah. Aku akan datang."
"Hmm. Kapan kau kemari? Apakah hari ini? Atau besok? Ibu akan menyiapkan makanan kesukaan Suya, nanti."
"Sepertinya tidak perlu."
"Kenapa?"
"Ada sesuatu yang terjadi. Mungkin, aku tidak bisa membawa Suya bersamaku."
"Baiklah jika seperti itu. Kau bisa ceritakan nanti setelah kita bertemu. Em, apa kau sedang sakit Ken? Suaramu seperti sedang tidak enak badan?" Ayumi mendengar suara Ken yang sedikit bergetar.
"Tidak. Aku baik-baik saja."
Begitu telepon ditutup, Yuna segera merebahkan diri di sisi Ken dan menyembunyikan kepalanya di dalam lengannya.
"Siapa Ayumi? Apa dia mantan pacarmu?" Yuna benar-benar penasaran.
Ken melirik wanita yang tidur di sebelahnya itu, "Hmm. Apa kau sungguh ingin tahu?"
"Eh? Apa tidak boleh?"
"Aku rasa, kau bisa berkenalan sendiri dengannya nanti," jawab Ken sambil mengusap kepala Yuna.
"Ya. Dia juga menyuruhku menginap di rumahnya. Sudah lama sekali kami tidak berjumpa," Ken sengaja bicara begitu untuk mengerjai Yuna.
"A apa? Lalu kau mau menerima tawarannya?" Yuna mendorong dada Ken dan tampak cemburu.
"Entahlah. Aku tidak bisa menolak keinginan gadis manis sepertinya."
"Apa? Gadis manis? Hiiihh!! Bisa-bisanya dia memuji wanita lain di depanku. Apa dia tidak bisa melihat kalau aku sangat cemburu?"
"Lagi pula, untuk apa wanita itu ingin menemuinya? Apa dia merindukan kehangatan tubuhnya? Aaaah, tidak tidak! Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi!"
"Beraninya dia memikirkan wanita lain di saat bersamaku. Apa bercinta denganku saja tidak cukup? Baiklah! Mulai sekarang, tidak akan ku biarkan wanita lain menyentuhnya. Dia hanya milikku. Titik!"
Yuna terus saja bicara dalam hati. Rupanya ia benar-benar tidak tahu bahwa dirinya sedang dikerjai. Tanpa sadar, ia sudah menyingkir dan menjauh dari tubuh Ken.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau semakin ke sana? Kemarilah, tidur di dekatku," kata Ken seraya menepuk-nepuk sisinya.
"Tidak mau."
"Kenapa? Apa kau sedang marah padaku?" Ken merubah posisi tubuhnya miring ke kiri dengan siku yang terlipat dan bertumpu pada kasur untuk menahan kepalanya.
"Tidak," Yuna tidur membelakangi Ken karena merasa kesal. Ia merasa bahwa Ken tidak puas hanya dengan satu wanita.
Melihat Yuna mengambek, Ken tersenyum geli. Sepertinya ia berhasil mengerjainya. Maka dengan cepat, Ken merayap mendekatinya dan merengkuh tubuh Yuna.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Hmm?" kata Ken seraya menatap Yuna yang berada di bawah dekapannya.
"Tidak ada."
"Lalu mengapa bibirmu seperti itu?" Yuna memonyongkan bibirnya karena kesal saat didekati Ken. Bahkan ia tidak mau melihat ke arah pria itu.
"Apa kau cemburu karena ucapanku tadi?" Ken sedikit tertawa.
"A apa? Untuk apa aku cemburu?"
"Benar, bukan?"
"Tidak."
Yuna berusaha mendorong Ken agar menjauh darinya. Ia benar-benar malu saat Ken menatapnya seperti itu.
Tetapi, Ken justru mendaratkan ciumannya secara bertubi-tubi pada bibir Yuna.
"Mmuach, mmuachh, muach!"
"Apa yang kau lakukan?"
"Kau tidak merasakannya? Aku sedang mencium bibirmu," jawab Ken seadanya sambil mencium Yuna lagi.
"Aku merasakannya. Tapi untuk apa?" Yuna tersenyum malu.
"Haruskah ada alasan untuk menciummu?"
"T tidak. Hanya saja..."
"Mmuach.." Ken mengecup bibir Yuna sedikit lebih lama.
Wajah Yuna memerah. Ia benar-benar senang dengan perlakuan yang Ken berikan padanya itu.
"Aku tidak memintamu menciumku..." Yuna memukul manja dada Ken.
Meski berkata seperti itu, Ken tahu bahwa Yuna menyukainya. Dengan bagian tubuh atas yang memagari tubuh Yuna, ia kembali memagut bibir Yuna.
Kali ini, ia melakukannya dengan sangat lembut dan tidak terburu-buru. Bibir yang semula terasa dingin itu pun menjadi hangat dan saling menghangatkan.
Semakin dalam dan mengharapkan lebih. Ciuman mereka begitu syahdu di tengah-tengah gemuruh petir yang mulai terdengar menyambar langit.
Akan tetapi, Ken sedang tidak ingin melanjutkan ciuman panas itu ke level berikutnya. Setelah lima belas menit pemanasan, ia menyudahinya dan menyembunyikan kepalanya di punggung Yuna.
Sambil memejamkan mata dan mendekap tubuh Yuna dari belakang dengan erat, Ken mengajaknya bicara.
"Terima kasih sudah bertahan denganku. Berkat dirimu, aku tidak lagi merasakan kekosongan dalam hidup."
Yuna menoleh sedikit, "Hmm. Aku mengambil pilihan yang benar, bukan?
Ken mengangguk.
"Lalu, apakah sekarang kita berdua sudah bisa menikah? Kazuki sudah ditangkap. Aku rasa dia tidak akan mengganggu hidup kita lagi."
"Apa kau begitu menginginkan pernikahan? Em, maksudku selama ini kita berdua sudah nyaman melakukan kehidupan suami istri,-"
"Tunggu. Jangan bilang kau tidak ingin menikah?"
"Bukan begitu."
"Lalu apa? Kau hanya ingin berkumpul kerbau seperti ini tanpa ikatan sah? Lalu bagaimana jika setelah berkali-kali kita berhubungan badan aku hamil?"
"Tidak. Bukan begitu maksudku. Tentu saja, aku akan menikahimu."
"Kapan?"
"Kalau kau ingin, aku bisa menikahimu besok. Meski aku tidak mempunyai agama, kita bisa pergi menemui pendeta Shinto dan memintanya untuk menikahkan kita, bukan?"
Yuna terdiam mendengar ucapan sungguh-sungguh dari mulut Ken.
"Namun, saat ini aku tidak mempunyai apapun untuk ku berikan padamu sebagai hadiah pernikahan. Apa kau tidak apa-apa?"
"Ken,,,,"
"Hmm??"
"Apa kau baru mengenalku?"
"Tidak...."
"Lalu, mengapa kau masih bertanya soal itu? Sungguh, aku tidak butuh apapun itu selain dirimu. Kau tahu itu?" Yuna memegangi kedua pipi Ken
Dua mata mereka pun saling berpandangan. Menyatukan perasaan yang kini mereka miliki.
Akankah urusan asmara Kenzhi kali ini akan berhasil?
Baca terus yuk,,, 🤗
Next Episode 128.........