
EPISODE 113
Tit Tit Tit
Tit Tit Tit
Tit Tit Tit
Jam weker bentuk bola di atas nakas berbunyi tiga kali. Jarum pendeknya menunjuk angka sembilan.
Mata Ken mengerjap pelan ketika kesadarannya setengah pulih. Begitu ia membuka mata sepenuhnya, ia menyadari bahwa dirinya sudah berada di rumah.
Dipandanginya atap kamarnya itu untuk beberapa menit. Kemudian saat ia merasakan tangan kanannya berat, ditengoknya pula ke kanan. Ternyata, Yuna tidur di sisinya dengan kepala yang bersandar pada lengannya.
Ketika ia mengusap dadanya, ia juga menyadari bahwa saat itu dirinya telah bertelanjang dada. Dengan tangan Yuna yang melingkar di atas perutnya serta kaki kanan yang menindih pangkal pahanya.
Ditariknya nafas panjang-panjang dengan perasaan gugup. Ken merasakan sesuatu yang panas tiba-tiba menjalari tubuhnya begitu mengetahui posisi yang ekstrem di antara mereka.
Kemudian ditengoknya kembali Yuna yang tengah tertidur pulas di lengannya. Cantik. Begitulah kata yang tepat untuk menggambarkan pemandangan di sampingnya tersebut.
Tangan Ken bergerak ke samping dan perlahan membelai rambut di dahi Yuna. Kemudian berlanjut ke pipi Yuna yang putih bersih bak boneka porselen.
Ken tersenyum.
Begitu ia menyentuhnya, Yuna bergerak dan membuka mata pelan. Menyadari bahwa Yuna hendak bangun, Ken langsung memejamkan mata dan berpura-pura tidur kembali.
"Rupanya dia belum bangun?" gumam Yuna sambil memperhatikan wajah Ken.
Karena Ken berpura-pura tidur lagi, Yuna berpikir bahwa pria tersebut belum juga bangun.
"Apa dia belum juga bangun?"
Yuna pun mengubah posisi tidurnya jadi tengkurap. Ditopang dua telapak tangan yang diletakkan di rahang kanan kirinya, Yuna mengamati wajah Ken yang tenang.
Lama-lama, Yuna menyadari bahwa Ken hanya berpura-pura tidur. Sebab, bola mata yang ada di balik kelopak matanya itu bergerak-gerak.
Yuna pun tersenyum dan merencanakan keisengannya.
"Ken, apa kau belum bangun?" lagaknya tidak tahu sandiwara Ken.
Dengan sengaja, Yuna menyandarkan kepalanya di atas perut Ken. Sudah begitu, ia juga memainkan jari jemarinya di atas put*ing susu Ken.
"Ken, apa kau tahu?"
Ken yang sedang berpura-pura tidur merasakan geli setengah mati. Namun begitu, ia berusaha menahannya dengan sekuat tenaga.
"Apa yang kau lakukan? Arrhh,, Cepat singkirkan tanganmu. Aku tidak tahan...."
Yuna berpura-pura tidak melihat ekspresi kegelian Ken. Ia terus menggodanya dengan tarian tangannya.
"Sepertinya, aku benar-benar kerasan tidur di rumahmu. Bagaimana ini?"
Karena Ken masih saja kuat bertahan, Yuna semakin berusaha membuat Ken membuka matanya.
"Ah, sepertinya kau masih ingin tidur? Baiklah, aku akan mengganti bajumu sekarang," kata Yuna.
Begitu mengucapkan hal itu, Yuna beranjak pergi ke kamar mandi dan mengambil air dalam baskom.
"Aku akan mencuci badanmu terlebih dahulu, ya," Yuna mulai mengelap tangan Ken.
Setelah selesai dengan tangan, Yuna berkata dengan sengaja sambil menyentuh celana boxer yang dikenakan Ken, "Baiklah, sekarang aku akan membersihkan bagian itu..."
Baru saja Yuna menyentuh bagian karet pinggang celananya, Ken segera menggeliat dan berlagak bangun dari tidurnya.
"Aaarrhhh,,, mengantuk sekali," katanya.
Yuna menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap Ken dengan tajam.
"Kau sudah bangun?"
"Woah? Sejak kapan kau di sini?"
"Semalam aku yang membawamu pulang. Apa kau ingat itu?"
"Aih,, perutku terasa lapar," Ken beringsut dari tempat tidurnya tanpa mengomentari jawaban Yuna.
Sambil berlalu pergi, ia meraih pakaian dari dalam lemarinya.
"Hey, apa kau mendengarku?"
"Yaa."
"Kau berpura-pura, kan tadi?"
"Apa?"
"Berpura-pura tidur."
"Tidak."
"Bohong. Aku tidak percaya. Matamu bergerak-gerak, tadi."
"Kau pasti salah lihat."
"Tidak. Aku melihatnya dengan jelas. Matamu bergerak ke kanan dan ke kiri.
"Hhmm, terserah saja padamu."
Ken berjalan turun melewati tangga dan menuju dapur.
•••••
Setelah berdebat mengenai kepura-puraan tidur yang ia lakukan, Ken menyiapkan bahan untuk sarapan mereka. Tidak ada masakan khusus yang ia buat. Hanya roti gandum panggang serta tumisan sayuran seperti wortel dan brokoli ditambah telur ceplok setengah matang.
"Apa kau memang suka memasak? Jika ku amati, gerakan tanganmu sangat profesional untuk seseorang yang biasa saja," Yuna membantu menyiapkan piring.
"Benar, kan? Sudah ku duga! Aku melihat kau sangat mahir memegang pisau. Dan gerakanmu saat memasak juga begitu cepat dan tertata. Di restoran mana kau bekerja? Kenapa aku seperti tidak pernah melihatmu?" tanya Yuna penasaran.
"Restoran ayam Suzy. Aku bekerja di sana."
"Heh? Restoran ayam Suzy?"
"Hmm."
"Jadi, kau adalah koki pembunuh yang diteriaki orang-orang itu?"
"Yah. Itu aku."
Yuna baru tahu bahwa Ken adalah koki tempat ia biasa makan dan memesan udon ataupun chicken Katsu bersama Arai. Dan berita soal keberadaan koki pembunuh di restoran itu, sempat membuatnya penasaran namun ia dan Arai memutuskan untuk tidak peduli.
"Sayang sekali, padahal udon di sana enak sekali. Aku sampai memvaforitkannya di daftar menu makan siangku. Aku dan Arai pun sering datang ke sana untuk makan. Lalu kami jg sempat mendengar desas desus tentang keberadaan koki pembunuh di restoran itu."
"Ahh, jadi kau salah satu pelanggan udon buatanku? Menakjubkan sekali bisa bertemu denganmu dengan cara seperti ini."
"Aku pun sama. Tidak menyangka akan mengenalmu dengan cara seperti ini juga."
Ken tersenyum dan menghabiskan sarapannya. Saat itu juga ia kembali mengingat kericuhan yang terjadi di restoran Suzy akibat dirinya.
Benar sekali. Sudah lama, ia tidak mengunjungi restoran tersebut. Seperti apa kira-kira kondisinya?
••••••
"Makanan sudah datang!"
"Baik!"
Kurosaki memanggil semuanya saat makanan yang mereka pesan sudah datang. Mendengar seruan tersebut, Ichigo dan Yuna pun menghampirinya.
"YEAAH, akhirnya makanan yang ku tunggu datang juga," ungkap Ichigo bersemangat.
"Mana punyaku?" tanya Takeda.
"Ini. Tenang saja, tidak ada yang akan mengambil milikmu," jawab Kurosaki dengan mulut yang penuh.
"Ya, benar sekali. Aah, aku sangat lapar. Hey Ken, ayo cepat kemari! Apa kau akan memberikan makananmu pada Takeda?" panggil Ichigo.
"Sebentar lagi!" jawab Ken.
"Heiss!" orang yang disebut mengangkat sebelah bibirnya dan melirik pada Ichigo.
"Sepertinya Ken tidak lapar. Kalau begitu bolehkah aku menghabiskan jatah makan siangmu, bung? (Ya, silahkan saja). Apa kau sungguh tidak mau? (Tidak! Makanlah)," Kurosaki bertanya dan dijawab sendiri.
Yuna yang sedari tadi mengunyah makanannya segera menepis tangan Kurosaki yang bergerak hendak mengambil jatah makan milik Ken.
"Hih! Itu tidak benar. Semua dapat jatah makan siang satu-satu. Jadi tidak ada yang dobel," ucapnya tegas.
Sebagai pemegang kasir dan mengurus masalah keluar masuknya keuangan, Yuna juga mengurus makan siang karyawan di bengkel ayahnya
"Iya iya,,, baiklah,," Kurosaki terkekeh.
"Sudahlah Ken, hentikan dulu pekerjaanmu! Mari makan selagi makananmu masih panas," seru Yuna.
"Iya baiklah!"
Ken yang sedang menyelesaikan pekerjaannya itu segera berhenti dan pergi mencuci tangan.
"Baiklaaah.. Selamat makan semuanya," ucap Ken seraya meraih kotak makannya dan duduk di kursi dekat Ichigo.
Pada saat acara makan siang bersama seperti itu, datanglah seseorang yang turun dari mobil.
"Hai Yuna!" seru orang itu sambil berdiri di tengah-tengah pintu.
"Ah? Apa itu kau, Kazuki?" Yuna berdiri kaget dan berjalan perlahan menghampiri Kazuki.
"Tentu saja. Ini aku," Kazuki memeluk Yuna dengan erat.
"Kau tambah gendut saja," gurau Yuna.
"Benarkah? Aah, sepertinya makanan di penjara cocok untukku," Kazuki terkekeh.
Melihat Kazuki yang beberapa tahun menghilang kini datang kembali, Ichigo dan yang lainnya saling berpandangan. Kecuali Ken. Ia terus menatap ke arah kawan senasibnya itu.
Ia juga tidak menyangka akan melihat Kazuki berdiri di hadapannya kembali.
"Kazuki?"
"Eh? Kau? Albatros dari Utara? Sedang apa kau ada di sini?" Kazuki melepas pelukannya dari Yuna dan mendekati Ken untuk mengajaknya bersalaman.
"Yah. Aku bekerja di sini. Kapan kau bebas?" tanya Ken.
"Baru kemarin. Kau sendiri, bagaimana kabarmu setelah keluar dan menikmati kebebasan? Apakah kau menemui putramu?" tanya Kazuki penuh perhatian.
Ken menghela nafas sejenak, "Yah. Aku bertemu dengannya.
Mendengar percakapan di antara mereka berdua, Takeda, Kurosaki dan Ichigo merasa heran. Bagaimana mereka berdua saling mengenal? Apakah keduanya bertemu di dalam penjara?
Kalau begitu......
BERSAMBUNG.....
...----------------...
Hai Readers...
Berhubung rumah penulis sedang kebanjiran, untuk saat ini nyicil dikit-dikit nih per babnya,,,,
Jangan lupa like ya,, biar nambah semangatnya penulis,,, terima kasih yang sudah setia dan meninggalkan jejak,, Jangan bosan mampir,,,,,😘