
EPISODE 66
Pertemuan yang tidak diinginkan itu menjadi kesempatan untuk berkelahi bagi keduanya. Meski istri-istri mereka menahan dan berusaha melerai, namun pukulan demi pukulan mendarat di muka mereka bergantian.
"Kau pikir, dengan menjadi ahli waris seorang Presdir akan membuatmu naik pangkat? Tidak, bodoh! Kau tetaplah seorang pecundang yang lahir dari gundik hina!" seru Yoshi tidak mau berhenti menyakiti hati Ken.
"Tutup mulutmu!!"
BAG
BUG
BUG
Ken memukul hidung Yoshi beberapa kali hingga kepala pria itu lemas bagai tak bertulang. Namun siapa sangka, mulut Yoshi masih saja berucap tanpa memikirkan konsekuensinya.
"Kau bisa apa?! Aku sudah merebut Linzie darimu. Jadi tunggu saja apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Aku akan merenggut semua yang berharga darimu. Seperti cara gundik itu merebut hati ayahku," Yoshi membenci Ken.
"Menggonggonglah sesukamu. Tapi asal kau tahu, ibuku bukan seorang gundik seperti katamu!"
"Hahahaha, dasar anjing Kenie, kau setia sekali," Yoshi tertawa terbahak-bahak sampai darah muncrat dari mulutnya.
Hingga yang terakhir kalinya, Ken mencekik leher Yoshi dan menekannya ke sebuah rak buku. Siapa sangka, dalam keadaan terdesak itu, Yoshi mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya dan mencoba untuk menusuk Ken.
"Agkk.." Ken terkejut saat merasakan sebuah benda tajam menusuk perutnya.
Suzy dan Linzie pun sama-sama terkejut. Mereka memekik memanggil nama Ken bersamaan.
Untungnya, tusukan pisau itu tidak terlalu dalam mengenai perut Kenzhi. Meski begitu, darah segar keluar dari luka sayat tersebut. Ken mundur dua langkah. Tangan kirinya memegangi luka tusukan yang baru ia terima.
Cengkeraman tangan Ken yang tengah mencekik Yoshi pun terlepas. Sehingga Yoshi dapat menyelamatkan diri dengan menjauh dari Ken.
Sambil duduk di kursi sofa, Yoshi mengusap mulutnya yang berdarah dengan dua jarinya. Ia sempat menyeringai lebar di depan Ken dan menampakkan barisan giginya yang berlumuran darah berwarna merah. Sedari tadi, ia memang sengaja memancing bakat membunuh Ken.
Sebab tusukan itu, Ken hampir jatuh ke lantai. Namun sebuah kursi yang ada di belakangnya membantunya tetap berdiri.
Ia dibantu dua wanita yang ada di sana, untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Namun Ken menolak. Ia berdiri dengan sekuat tenaga untuk memberitahu Yoshi sekali lagi meski tubuhnya berkeringat.
"Ingat perkataanku ini. Jika kau tidak ingin mati muda, jangan pernah mengganggu satupun keluargaku," Ken mengucapkan dengan jelas apa yang ia maksud.
PUIH!!
Dengan langkah tertatih, ia meninggalkan ruangan itu. Di depan pintu, ia sempat melewati dan bertatapan dengan Linzie. Wanita itu tampak mengkhawatirkannya. Namun Ken tidak mengucapkan sepatah katapun padanya.
Ken bermaksud menemui orang tuanya sebentar untuk berpamitan pulang. Namun ia tidak dapat menyembunyikan luka berdarah di perutnya. Dalam keadaan bingung, Linzie datang dan meminjamkan sebuah jas.
"Aku tahu kau tidak ingin mengenakannya. Tapi aku rasa, kau tidak bisa menemui ayahmu dengan berlumuran darah seperti itu," ucapnya sambil menyodorkan jas tersebut.
Ken diam. Namun Suzy meraih apa yang diberikan Linzie pada Ken.
"Terima kasih."
"Hmm."
Tanpa persetujuan, Suzy membantu memakaikan jas tersebut pada Ken, "Aku rasa dia benar. Mari kenakan ini sampai menemui ayahmu. Setelah itu kau bisa membuangnya di mana pun."
Ken menuruti Suzy. Kemudian berjalan seolah-olah tanpa merasakan sakit untuk menemui para orang tuanya.
"Apa ada urusan penting?" sela tuan Kido setelah mendengar Ken hendak pulang.
"Aku..."
Ken kesulitan mencari jawaban. Sebab ia menahan rasa sakitnya.
Ayumi yang melihat penampilan kakaknya sedikit berantakan itu menemukan bahwa punggung tangan kanan Ken tampak berdarah. Ia langsung memahami situasi yang terjadi.
"Ah! Iya benar, aku ingat harus pergi dengan kalian ke rumah teman," Ayumi berusaha mengarang cerita untuk membantu Ken pulang.
"Benarkah? Ada urusan apa?"
"Em itu, temanku ingin mengambil kelas memasak dari Ken. Kami sudah membuat janji malam ini," Ayumi benar-benar meyakinkan.
"Baiklah, kau boleh pergi. Tapi lain kali bisakah kita mengobrol lebih lama?" tanya tuan Kido.
"Tentu saja."
Ken membungkuk dan langsung pergi. Seketika itu juga Suzy dan Ayumi berjalan beriringan di belakang Ken.
Di luar halaman rumah tuan Kido Ken memarkirkan motornya. Ayumi menghentikan Ken dan bertanya soal darah di tangannya.
"Apa yang terjadi? Apa kau baru saja memukul orang?"
Ken diam sambil memakai helmnya. Tangan kanannya masih tampak bergetar menahan amarahnya. Ketika hendak duduk di atas motornya, luka tusukan di perut terasa menggigit. Ken pun mendesis seraya memegangi perut bagian kirinya tersebut.
Suzy dan Ayumi melihat hal itu dan saling bertatapan. Maka Suzy menggelengkan kepalanya pada sang adik ipar. Memberi isyarat agar dirinya tidak banyak bertanya.
"Baiklah, Ayumi, kita bicara lain kali. Oke? Ngomong-ngomong, kau mau ku panggilkan taksi?" tanya Suzy.
"Tidak, aku akan menunggu ayah dan ibu di dalam mobil. Kalian pulanglah saja lebih dulu,"
"Begitu? Baiklah. Kami pulang dulu, ya," Suzy naik ke atas motor.
Meski perasaannya sedang kacau, Ken menyempatkan berpamitan pada Ayumi. Dengan mata yang mengerjap karena menahan air mata, ia menoleh sebentar lalu membuang muka kembali.
"Sampaikan maafku pada ayah ibu, aku tidak bisa menemani mereka berdua lebih lama."
"Iya, baiklah akan ku sampaikan nanti," Ayumi menatap mata Ken yang merah dan berkaca-kaca.
•••••••
Rumah Suzy gempar setelah melihat Ken pulang dengan luka tusukan di perut. Bagaimana mereka tahu? Kebetulan, bibi Tamako memergoki saat Ken melepas jas yang menutupi lukanya tersebut di luar rumah.
Akibatnya, terjadi kehebohan yang besar di rumah mereka pada malam itu. Bibi Tamako benar-benar khawatir soal menantunya hingga menangis.
Orang yang dikhawatirkan justru bersikap santai. Dibantu Suzy yang mengelap luka Ken dengan air hangat, Ken sendiri justru mengobati lukanya tanpa menitikkan air mata.
"Ya Tuhan, menantu! Apa kau terluka parah??" bibi Tamako memeriksa luka Ken.
"Aku tidak apa-apa, ibu. Tapi sebaiknya kita tidak perlu ribut-ribut seperti ini. Aku takut membangunkan Hari yang ada di kamar sebelah," kata Ken.
SRET
Akiyama masuk ke dalam kamar dengan bergegas.
"Siapa yang menusukmu?"
"Siapa orangnya?"
"Seseorang yang kau kenal."
"Apakah Yoshi?"
Ken mengangguk.
"Hissh! Dasar bajingan tengik," Akiyama mengumpat lalu menoleh pada Nonaka yang ikut melihat keadaan Ken.
"Kenapa dia? Bukankah dia sudah merebut Linzie darimu? Mau apa lagi?"
"Husstt..." Akiyama menyenggol istrinya sebab ayah dan ibu mereka juga ada di dalam kamar.
"Sudahlah. Ini bukan apa-apa. Sebaiknya kalian kembali tidurlah," kata Ken.
Ken meraih kain kasa yang sedang disiapkan Suzy. Dengan cekatan ia menutup luka tersebut dengan kapas dan bahkan membalutnya dengan perban tanpa bantuan istrinya.
"Sepertinya kau sangat berpengalaman dengan itu,," ucap Nonaka.
"Ya. Sewaktu di penjara, aku biasa melakukan hal seperti ini sendiri," jawaban Ken meluncur begitu saja dari mulutnya.
"Ooh,," Nonaka berpikir bahwa sewaktu di penjara dulu, Ken pasti sering mendapat luka jika gerakannya sekilat itu.
Ken sadar bahwa ia bicara di depan keluarga Suzy. Maka dengan cepat ia menoleh pada kedua mertuanya, "Aah. Itu,,, aku hanya,-"
"Tidak apa-apa. Katakan saja jika kau ingin mengatakannya," kata paman Akihiro.
Ken membungkukkan badan menghormati mertuanya. Ketika Suzy membawa baskom keluar dari kamar, ibunya menyusul.
"Psst!"
Suzy menoleh, "Ibu? Kenapa kau psst,,psst,, seperti itu?"
"His, dasar kau ini. Apa kau tidak mengerti itu isyarat untuk memanggil?"
"Ada apa?"
"Siapa yang melakukannya?" tanya bibi Tamako pada putrinya.
"Saudaranya."
"Saudara? Apa kau mengatakan soal anak dari ibu tirinya?"
"Hmm. Benar, dia yang menusuk Ken saat mereka berkelahi."
"Memangnya apa yang terjadi hingga mereka bisa berkelahi?"
"Saudaranya menghina ibunya."
"Ibunya? Apa dia masih hidup? Ngomong-ngomong, apa Ken tidak pernah mengatakan bahwa dia akan membawa orang tuanya kemari?"
Suzy diam. Lalu menggelengkan kepalanya.
"Hey,, meski tanggal pernikahan kalian sudah lewat jauh, tidak ada salahnya mereka menyapa besan, bukan? Mengapa mereka tidak tahu aturan seperti itu?"
"Mungkin mereka sedang sibuk, ibu. Aku lihat, ayah tiri Ken adalah seorang pengusaha besar. Dan aku dengar, ibunya masih aktif di sebuah rumah sakit."
"Apa kau tidak merasa dijauhi mereka?"
"Tidak. Aku tidak melihat hal seperti itu pada sikap mereka. Selama aku menginap di rumah mereka semalam, mereka semua ramah padaku," Suzy tersenyum.
"Benarkah? Baguslah kalau begitu. Tapi tetap saja. Minta pada Ken untuk membawa orang tuanya kemari."
"Iyaa, baiklah. Aku akan mengatakannya nanti."
Begitu Suzy kembali ke kamarnya, Nonaka, Akiyama dan juga sang ayah sudah keluar. Tinggallah ia sendiri bersama Ken di kamar. Melihat suaminya sudah terlelap, Suzy menghampirinya dengan perlahan.
Disibaknya baju tidur yang dikenakan Ken untuk melihat luka yang sudah selesai diperban. Karena tidak dikancingkan, maka Suzy dapat melihat semua bagian dadanya. Lalu dengan sentuhan lembut, diusapnya perban luka itu dengan pelan agar tidak menyakiti suaminya.
"Kau pasti kesulitan selama ini," Suzy menghela nafas sambil membelai perut Ken.
Beberapa detik kemudian, tiba-tiba saja tangan Ken bergerak dan memegangi tangan Suzy.
"Tolong singkirkan tanganmu. Kau membuatku geli," katanya sambil tetap memejamkan mata.
GLEK!
Suzy terkejut, "Kau, belum tidur?"
"Aku tidur."
"Lalu? Mengapa kau bisa bicara?"
"Belaian tanganmu membuatku bangun," jawabnya.
"I itu,, aku hanya berniat memeriksa lukamu. Itu saja. Jadi jangan berpikir macam-macam."
"Hmm. Aku tahu. Tapi sekarang, biarkan aku tidur lagi," kata Ken seperti mengigau.
"Baiklah, aku akan pergi," Suzy melepaskan tangannya dari tangan Ken.
"Hey, mau ke mana kau?" Ken menarik kembali tangan Suzy. "Sudah malam. Jadi tidurlah sekarang," lanjutnya.
Karena Ken tidak mau melepaskan tangannya, Suzy pun mendekat dan tidur di samping suaminya tersebut. Begitu Suzy merebahkan diri, Ken langsung memeluknya.
"Eh? Apa yang akan kau lakukan?" Suzy terkejut, ia seakan merasakan aliran listrik saat Ken menyentuhnya.
"Tenanglah. Aku tidak akan melakukan apa-apa malam ini."
"T tapi,,,,"
"Biarkan aku memelukmu sebentar saja."
"I iya baiklah," Suzy mengerjapkan matanya berulang kali karena pelukan Ken begitu hangat.
Lebih-lebih karena Ken menyembunyikan kepalanya di area bahu dengan tangan kanan yang berada tepat di atas buah dadanya.
Dan sungguh! Hal itu terasa begitu mendebarkan bagi Suzy.
DEG DEG DEG
Bersambung........