
EPISODE 37
Kenie sedang meletakkan bunga anyelir pink pemberian Ken ke dalam vas kaca bulat di dapur. Namun tiba-tiba saja vas itu jatuh dan pecah.
"Ough?" pekiknya terkejut.
"Ada apa nyonya?" tanya Kira datang dengan tergopoh-gopoh.
"Apa nyonya terluka?" tanya asisten rumah tangga yang lain.
"Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja," jawab Kenie.
Sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang, Kenie tiba-tiba saja memikirkan Kenzhi, putranya.
"Apa terjadi sesuatu kepadanya?" gumam Kenie lirih. "Semoga saja tidak ada hal buruk yang menimpanya. Tuhan, tolong lindungi dia untukku."
DUMB!
Di tempat lain, Ken dan Suzy yang sedang pingsan tengah dirawat di rumah sakit. Gorou dan Daisuki membawa mereka berdua sebab Ken terluka parah. Suzy sendiri sudah siuman dan bisa berdiri dengan sehat.
"Nona, apa yang akan kita lakukan? Haruskah kita menutup restoran?" tanya Suri bersedih.
Semuanya berdiri di depan ruang rawat Ken. Gorou dan Daisuki yang biasanya bercanda pun sekarang tampak kalem. Mereka diam karena merasa sedih.
"Nona, apa kakak senior akan baik-baik saja?" tanya Gorou dengan serius.
"Hmm. Dia pria yang kuat. Jadi semestinya tidak akan terjadi apapun padanya," Suzy mencoba memberi rasa tenang pada juniornya.
"Ngomong-ngomong, apa itu benar? Senior Ken seorang mantan pembunuh?" tanya Daisuki ragu.
Suzy diam sambil menyandarkan punggungnya ke dinding dekat pintu masuk kamar Ken.
"Tujuh belas tahun yang lalu, saat kami sedang SMA. Rumahku dirampok. Kebetulan saat itu aku sedang menuju rumah bersama Ken dan mendengar ibuku berteriak. Begitu tahu rumahku dirampok, aku dan Ken berusaha menyelamatkan ibuku."
Suzy diam sesaat, kemudian melanjutkan ceritanya.
"Karena ibuku terluka di bagian perut, Ken menyuruhku menelepon ambulance. Dua perampok itu membawa pergi uang toko kami. Jadi Ken berusaha menghentikan mereka. Namun, mereka membawa pisau dan kapak sebagai senjata."
"Lalu, bagaimana bisa dia disebut sebagai pembunuh?"
"Untuk melindungiku, Ken berkelahi menghadapi dua orang pria dewasa. Bahkan ia sampai mendapat beberapa sayatan di lengan dan perut, lalu tiga tusukan pisau di punggung dan beberapa kali bacokan di pundaknya. Dan di akhir pertarungan mereka itulah, Ken berhasil membunuh seorang perampok. Naasnya, ambulance datang. Begitu pula polisi. Saat itu juga, Ken dibawa ke kantor polisi dan mendapat hukuman."
"Oh ya Tuhan!" Keiko menutup mulut karena terkejut dengan cerita yang ia dengar.
Sedangkan Suri, sudah menutupi wajahnya karena sedih. Ia duduk melipat kakinya di depan dada dan menangisi senior Ken.
"Jika seperti itu ceritanya, bukankah dia pahlawan. Mengapa dia bisa disebut sebagai pembunuh?" Gorou memprotes.
"Benar sekali. Aku rasa, dia lebih pantas menjadi seorang pahlawan," Daisuki juga merasa tidak benar.
Suzy mengintip ke kaca jendela pintu kamar Ken. "Hmm. Aku juga berpikir seperti itu. Namun, entah mengapa, Ken tetap mendapatkan hukuman penuh sebagai pembunuh."
Mereka diam. Hening seketika.
"Ngomong-ngomong, kapan lagi sih, jam besuknya?" Suzy bertanya.
"Aku dengar, sore jam 3."
•••••
Pada hari berikutnya, keluarga Suzy datang bersama-sama untuk menjenguk calon menantu kesukaan mereka. Hanya Nonaka yang tidak datang, sebab ia sedang mengantar Hari berangkat sekolah.
"Suzy! Apa yang terjadi?" bibi Tamako berseru saat melihat putrinya berdiri di ujung koridor.
"Ibuuu...." Suzy memanggil ibunya dengan sedih.
Mereka berdua berpelukan lama. Paman Akihiro pun ikut memeluk kedua wanita itu dengan sedih. Namun paman tidak dapat berkata-kata.
"Katamu, Yoshi datang membuat masalah? Benarkah?" Akiyama bertanya heran.
"Benar. Sepertinya dia sengaja melakukan ini untuk mengacaukan masa depan Kenzhi," Suzy menjawab sambil menangis.
"Cih! Tidak ada berubahnya itu orang."
Akiyama mendekati Daisuki dan Gorou. Ia bertanya pada mereka bagaimana kejadian itu terjadi.
"Lalu mengapa Ken diam saja? Bahkan sekarang dia terluka? Bagaimana bisa, seorang Ken,-" Akiyama geram.
"Sepertinya, kakak senior menghormati prinsip tentang bagaiman sikap yang baik kepada pelanggan. Itulah mengapa ia tidak berbuat apa-apa saat semua orang mengecamnya," Gorou menunduk sesal.
"Ah! Sudah ku duga. Dia pasti taat pada etika. Seandainya Ken berniat menghabisi Yoshi. Pasti sudah dia lakukan sejak dulu."
Pada saat semuanya sedang berpendapat, seorang dokter dan perawatnya datang untuk memeriksa kondisi dan perkembangan Ken. Dokter itu mengatakan bahwa kondisi Ken baik-baik saja.
Sebab, luka pukulan pada tempurung kepala bagian belakangnya tidak sampai melukai otaknya. Meski jarak keberuntungan itu sangatlah tipis. Namun berkat itulah, Ken dapat bertahan.
Syukurlah!
••••••
Ken mencoba membuka mata ketika ia merasakan seseorang tengah memanggilnya. Entah itu siapa, lamat-lamat ia melihat seseorang berdiri di depannya. Matanya mengerjap dengan pelan, melihat dengan jelas siapa gerangan yang memanggil-manggil namanya.
Orang itu adalah Suzy.
"Ken? Kau sudah sadar?"
Ken menoleh perlahan. Tangannya bergerak meraba kepala bagian belakangnya yang masih terasa sakit.
"Apa aku di rumah sakit?" tanyanya lirih.
"Ya. Kepala bagian belakangmu terluka, jadi membutuhkan beberapa jahitan untuk menghentikan pendarahan," jawab Suzy meraih tangan Ken.
Mereka berdua diam sesaat.
"Maaf,' ucap Ken tiba-tiba.
"Apa? Kenapa kau minta maaf padaku?" Suzy heran.
"Karena aku, mereka mengacaukan restoranmu. Aku lupa, seorang pembunuh sepertiku tidak pantas hidup berdampingan bersama kalian, warga yang taat hukum dan baik-baik saja selama ini," kata Ken sadar diri.
"Tidak. Bukan seperti itu, Ken. Mereka hanya belum mengerti,-"
"Kau sudah siuman, Ken?"
Bibi Tamako, paman Akihiro dan Akiyama masuk bersama-sama. Mereka melihat keadaan Kenzhi yang sudah sadar kembali.
"Sudah ku bilang. Dia pasti baik-baik saja," Akiyama menepuk kaki Ken.
"Syukurlah. Kau tidak terluka parah," kata paman Akihiro.
Ken tersenyum. Keluarga Suzy ini, benar-benar perhatian sekali kepadanya. Ia merasa bersyukur dapat mengenal dan bergaul dengan mereka. Akan tetapi, ia juga merasa bahwa keberadaannya juga dapat merugikan mereka semua.
"Hmm. Aku sudah baikan. Hanya saja, seperti ada bagian penting yang tidak sengaja aku lupakan," jawabnya sambil menggerakkan bola mata ke arah kanan untuk berpikir.
Begitu Ken ingat bahwa hari itu ia harus mengikuti lomba memasak, ia pun kelabakan dan buru-buru menyingkir dari ranjang rumah sakit.
"Akh!!" serunya membuat semua orang di kamar itu kaget.
"Ada apa?" Suzy penasaran.
"Bukankah hari ini kita harus mengikuti lomba? Jam berapa sekarang?!" Ken melotot karena masalah yang ia hadapi benar-benar serius.
"Ya Tuhan! Kau benar!!" Suzy tak kalah heboh.
Dengan cepat ia melihat jam dinding rumah sakit. Rupanya, jarum jam sudah menunjuk pukul 8.02 pagi. Lomba memasak akan berlangsung pada jam 9. Jadi, mereka masih mempunyai waktu satu jam untuk sampai di lokasi.
"Kakak! Pinjamkan pickupmu padaku!" Suzy minta tolong pada Akiyama
"Eeh. Tapi,,," Akiyama terpaksa memberikan kunci mobilnya.
Ken yang tidak mau tertinggal itu pun bangkit dan menyibak selimutnya. Ia berdiri dengan sempoyongan sebab buru-buru menghampiri Suzy untuk bersama-sama mengikuti perlombaan.
Namun sial. Ia jatuh tersungkur ke arah pot besar yang ada di sudut ruangan.
"Woooo??? Senior Ken!!" Gorou dan Daisuki berseru saat menyaksikan Ken jatuh tersungkur menimpa tanaman di pot tersebut.
Mereka berlari untuk membantu, namun Ken cepat-cepat berdiri dengan sok, seakan dirinya baik-baik saja. xixixi...
"Okh! Aku baik-baik saja, kok," Ken tersenyum malu.
"Ken? Apa kau serius mau ikut lomba dengan keadaan seperti itu?" tanya bibi Tamako khawatir.
"S Serius. Aku merasa sudah sehat, bibi."
Puih!!
Padahal, ia berbohong!
Baik apanya? Untuk berdiri saja seakan bumi berguncang hebat ia rasakan. Matanya pun nampak berkunang-kunang. Bahkan, apa saja yang ia lihat, nampak menggembung dan meleyot ke sana kemari.
Ken memegangi kepalanya sambil tarik nafas dengan pelan. Ia berusaha menyeimbangkan diri.
"Ken??" panggil paman Akihiro.
"Yap?"
Ken menoleh, namun ke arah lain. Tiba-tiba saja ia kehilangan pendengarannya beberapa detik. Suara-suara mereka yang sedang mengajaknya bicara pun jadi tidak jelas ia dengar. Kadang hilang, kadang pula terdengar.
Di dalam kepalanya, terdengar suara "Nging" yang berisik sekali. Ken jadi merasa pusing.
Kelopak matanya yang sayu dengan bola mata yang terus bergerak membuatnya nampak jelas bahwa ia sedang menahan rasa sakit pada kepalanya.
Dengan tangan gemetaran, ia bergerak mundur selangkah. Ken bingung. Sesekali ia memejamkan mata dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Kau tidak apa-apa??"
Tanya mereka semua.
"Tidak. Aku sedang tidak ingin ke toilet," jawabnya ngelantur. Rupanya ia salah dengar.
Semuanya terbengong saat mendengar jawaban dari mulut Ken.
"Ken? Apa kau yakin mau ikut lomba memasak?"
Suzy datang dan menanyakan hal itu pada Ken. Sebab ia khawatir jika keadaan Ken belum stabil. Ken yang melihat Suzy datang padanya dan bertanya sesuatu, tidak mendengar jelas pertanyaan itu. Maka, lagi-lagi ia menjawab dengan tidak tepat.
"Tidak perlu. Jika mengganti pakaianku lebih dulu, aku takut kita akan terlambat mengikuti lombanya," jawabnya sambil berpegangan pada tangan Suzy.
"K Ken, kau??" Suzy merasa ada yang salah dengan Ken. Dipandangnya Akiyama dengan mengharap bantuan.
"Kakak??"
Mendapat tatapan serius dari Suzy, Akiyama yang memiliki inisiatif pun pergi mencari dokter untuk memeriksa kondisi Ken yang seperti itu.
Dokter datang dan menahan Ken agar tidak pergi. Setelah melakukan pemeriksaan pertama, dokter menyimpulkan ada sedikit gangguan di gendang telinga kanan Ken. Ia menyarankan agar Ken melakukan pemeriksaan lanjutan.
Namun Ken menolak. Ia bersikeras untuk pergi mengikuti perlombaan yang hanya ia temui sekali seumur hidupnya itu.
"Tidak. Aku akan tetap pergi mengikuti lomba. Ayolah, Suzy. Biarkan aku ikut bersamamu," kata Ken.
"Bagaimana dok?"
Dokter menggelengkan kepala, "Maaf nona. Sebaiknya kau tahan dia agar tidak ikut bersamamu. Kita harus memeriksa dan mengatasi gangguan yang sedang dialaminya dengan cepat dan tepat. Jika tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih serius pada telinganya."
Ketika mereka menuju ruang pemeriksaan lanjutan, Ken berlari dan kabur dari sana sambil menggandeng tangan Suzy. Tentu saja semuanya mengejar mereka hingga sampai ke area parkir rumah sakit.
Hosh Hosh...
"Ken!! Ada apa denganmu? Ayo periksakan dirimu lebih jauh. Kau tidak boleh seperti ini," Suzy mencoba menghentikan langkah dan menyadarkan Ken.
"Biarkan aku mengikuti lomba. Inilah satu-satunya harapanku," Ken memegangi kedua pundak Suzy.
"Tapi, jika tidak diperiksa sekarang. Takutnya kau melewatkan sesuatu yang penting dalam hidupmu," Suzy mencoba membujuk Ken.
"Percayalah padaku."
Suzy diam menunduk. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada pria yang ia sayangi itu. Akan tetapi, Ken bilang itulah satu-satunya harapan yang ia punya.
Maka, Suzy meraih tangan Ken dan menariknya masuk ke dalam mobil pickup milik Akiyama. Mereka berdua memutuskan untuk tetap mengikuti lomba memasak.
Selang dua menit, Akiyama, Gorou dan Daisuki berhasil mengejar mereka ke parkiran. Namun terlambat, mobil tersebut sudah berlalu dan mereka melihat Ken dan Suzy melambaikan tangan pada mereka.
"Kalian berdua! Berhentilah!!"
Akiyama berteriak keras. Namun apalah daya. Anak-anak nakal itu sudah pergi dengan keputusan mereka sendiri.
.
.
Bersambung ke Episode 38
.
.
Jangan lupa Like ya 🤗 👍🏻
❤️❤️❤️