
EPISODE 42
Suzy mendekati Ken yang tidak memperdulikan tentang dirinya. Meski orang-orang baru saja melemparinya dengan telur busuk, Ken tetap membereskan kekacauan yang terjadi di depan restoran Suzy.
"Ken,,,,,"
"Aku tidak apa-apa," ucap Ken cepat sambil memunguti kulit telur dan sampah lain yang berserakan di tanah.
"Mari bersihkan badanmu terlebih dahulu," Suzy merasa kasihan.
"Sebentar lagi, aku akan menyelesaikan ini terlebih dahulu," Ken menoleh dan tersenyum.
Suzy memperhatikan Ken. Ia yakin, perasaan pria itu sedang terluka. Namun tidak mau memperlihatkannya.
"Baiklah."
Suzy pergi ke dalam restoran dan keluar kembali membawa ember, sabun dan sikat. Karena Ken hampir selesai dengan sampah-sampah yang ada, Suzy mulai membersihkan dinding yang dipenuhi coretan.
Begitu lapisan luarnya bersih, Suzy kembali pergi ke dalam dan mengambil cat tembok sisa beserta kuas yang diperlukan.
SRET
Ken mengikat plastik-plastik sampah dengan erat dan meletakkannya di kotak sampah besar. Semuanya sudah kembali rapi tinggal membenahi kekacauan yang ada di dinding. Ken melepas bajunya dan pergi ke dalam untuk mencucinya. Sebab, bau telur busuk yang menyengat itu lama-lama membuatnya mual.
Setelah menjemur pakaiannya, Ken kembali menemui Suzy sambil mengelap kedua tangannya yang basah ke sebuah kain lap yang ia bawa. Wanita itu tampak sedang berjinjit-jinjit dan melompat memegangi roller cat dan berusaha mengecat dinding bagian atas.
Ken tersenyum geli melihat kekonyolan Suzy. Bukankah bisa saja ia menggunakan kursi untuk pijakan?
Astaga! Merasa bahwa hal itu terlalu menggemaskan, secara mengejutkan Ken meraih paha Suzy dan menjunjung tubuh wanita itu untuk memudahkan pekerjaannya.
"Kau ini, seperti anak kecil saja," ucapnya.
"Eh? Apa ini? Bisakah kau menurunkanku?" Suzy kaget dan malu saat kedua tangan Ken melingkar di pahanya.
Ken yang memeluk kaki Suzy dari arah depan itu tidak mau menurunkannya.
"Tidak. Cepat selesaikan bagian atas itu. Aku akan memegangimu selama kau menyelesaikannya," jawab Ken sambil mendongakkan kepala.
"T tapi,, tapi,,," Suzy merasa deg-degan karena Ken menatapnya dengan posisi kepala yang menempel persis di anunya.
Suzy mengecat sebentar. Tapi ternyata, ia tidak mampu bertahan lama. Rasa malu dan risih lebih besar dari perasaan romantis yang ia rasakan.
Maka, dengan cepat ia berkata, "Hey Ken."
"Ya??"
"Bisakah kau turunkan aku?"
"Kenapa? Apa kau sudah selesai?" Ken yang sedari tadi terus mendongakkan kepala itu melihat bahwa Suzy belum menyelesaikannya.
"Ehem! Bagaimana aku bisa konsentrasi jika kau seperti ini?"
"Maksudmu?"
Suzy menunduk pelan. Ia melotot menatap Ken dan memberi isyarat bahwa keberadaan kepala Ken sangat mengganggunya.
Dengan polosnya, Ken menatap ke depan dan seketika itu juga ia baru menyadari bahwa kepalanya begitu dekat dan bahkan bersandar pada bagian penting milik Suzy itu.
GLEK!
Ken gugup dan dengan cepat melepaskan pelukannya hingga Suzy turun kembali.
"Em, itu, sungguh. A aku tidak sengaja. Tolong maafkan aku," Ken benar-benar gugup dan sedikit banyak gerak tanpa disadarinya.
Suzy mendengar dan tahu betul bahwa Ken sedang menjelaskan ketidaksengajaannya. Namun, matanya yang nakal justru fokus pada tubuh telanjang Ken. Karena bajunya sedang dicuci, Ken bertelanjang dada!
Oh astaga!
Suzy melongo untuk beberapa waktu. Ia benar-benar mendapat rejeki nomplok pada saat itu juga. Siapa sangka, imajinasi liarnya pun menciptakan sebuah adegan romantis di dalam benaknya.
Ken yang sedari tadi mengajak bicara Suzy, menyadari bahwa wanita itu justru terbengong. Tanpa pikir panjang, ia pun menyentuh pundak Suzy dengan perlahan.
SUZY?!
"Suzy!" panggilnya.
Rupanya, sedari tadi, tanpa sadar Suzy menggerakkan tangannya untuk mengecat kembali. Jiaah... Tapi, kali ini ia mengecat bagian yang salah! Bagaimana tidak?
Suzy mengusapkan roller cat itu ke muka dan dada Ken hingga belepotan cat berwarna putih. Ken yang menyadari Suzy melamun membiarkan hal itu terjadi.
Begitu sadar dari lamunan, Suzy terkejut karena muka dan dada Ken putih semua.
"Woohh! Ya Tuhan! A apa yang aku lakukan?" Suzy berteriak kaget sambil menatap Ken dan tangan kanannya yang memegangi roller cat.
"Kau melamun,,," jawab Ken dengan wajah datar.
"I itu,,,,"
Ken menghela nafas berat, "Terima kasih sudah mengecat wajah dan tubuhku dengan baik."
Mendengar perkataan Ken, Suzy mengerti bahwa itu adalah kalimat sindiran.
"Maaf. Aku tidak sengaja."
"Tidak apa. Aku bisa membersihkannya."
"Lagipula. Kau yang memulainya," Suzy mengajak ribut.
"Aku yang memulai?" Ken terkejut.
"Kau tidak mau mengaku?"
"Me mengaku?"
"Ya. Apa kau tidak sadar? Kalau tadi kau berbuat mesum?"
"Aaahh. Apa yang tadi?" Ken melirik Suzy pelan. Ia sadar bahwa Suzy membahas soal dirinya yang memeluk Suzy dengan posisi sedikit sensual.
"Menurutmu??"
"Bukankah aku sudah minta maaf? Apa kau masih marah?"
Suzy memonyongkan bibirnya sambil berkedip pelan, "Sudahlah. Lupakan saja. Anggap saja kita impas."
Suzy melempar roller ke tempat cat dan berlari ke dalam restoran. Perasaannya benar-benar kacau. Ia merasa Ken membuatnya kesal. Meski sebenarnya ia juga merasa senang. Halah?
Ken berdiri mematung menatap Suzy yang berlari ke dalam. Ia berpikir sesaat dan kembali membuang nafas. Diraihnya kuas roll dan mulai mengecat dinding yang belum selesai dikerjakan oleh Suzy.
SRAT!
SRET!
Dinding itu akhirnya selesai dicat sepenuhnya oleh Ken. Semua coretan bernada kasar pun tertutup rapi kembali dengan warna putih.
"Senior Ken?" suara Keiko.
Ken menoleh.
"Ya Tuhan? Apa yang terjadi padamu, kak?" Suri yang berdiri di samping Keiko pun tertawa cekikikan.
"Ah. Ini hanya,,," Ken mengusap wajahnya.
Keiko dan Suri memperhatikan tubuh senior mereka itu. Dalam hati, mereka menjerit-jerit kegirangan melihat keindahan yang ada di depan mata. Ah, nona Suzy benar-benar beruntung. Pikir mereka.
"Apa kalian mau menemui Suzy? Dia ada di dalam," kata Ken sambil mengangkat ember cat dan membawanya masuk ke dalam.
"I iya."
Keiko dan Suri mengikuti Ken masuk ke dalam restoran.
••••••
Setelah membersihkan tubuhnya dari cat, Ken memeriksa pakaiannya yang ia jemur di depan kamar mandi yang ada di restoran mereka. Karena pakaian itu masih setengah basah, akhirnya Ken membereskan barang-barang dapur untuk mengisi waktu luang.
Dari sisi lain, Suzy yang sedang berbincang dengan Keiko dan Suri, terus memperhatikan Ken dan teringat kejadian yang baru saja terjadi di antara mereka. Tanpa sadar, ia tersenyum-senyum.
"Nona Suzy, apa yang sedang kau pikirkan? Sepertinya kau sedang bahagia," kata Keiko ingin tahu.
Suri mengangguk setuju.
"Eh? Tidak," Suzy tersenyum lagi dan kembali menatap Ken.
Keiko dan Suri ikut melirik ke arah Ken. Sekarang mereka tahu, nona mereka rupanya sudah mulai jatuh cinta pada senior Ken. Suri menyenggolkan sikutnya pada Keiko. Mereka berdua tersenyum karena akhirnya memergoki perasaan Suzy yang sesungguhnya pada Ken.
Mereka berdua bertatapan dan saling mengangguk. Tiba-tiba Suri berdiri dan bekerja sama dengan Keiko untuk membuat semuanya jelas. Ia berlagak membantu Ken untuk mengeringkan tubuhnya.
"Senior, apa kau butuh bantuan? Sini, aku bantu mengeringkan punggungmu," kata Suri sengaja membuat panas Suzy.
"Eh? Tidak, terima kasih. Aku bisa melakukannya sendiri," jawab Ken cepat.
Benar saja. Suzy menatap keduanya dengan cemas. Karena Ken masih bertelanjang dada, ia khawatir Suri akan menikmati pemandangan indah itu juga.
Tidak bisa! Tiba-tiba Suzy merasa bahwa Ken sekarang adalah suaminya. Tentu saja tidak ada wanita lain yang boleh melihat tubuh suaminya tersebut.
Maka, ia berdiri dan mendekati mereka. Dengan cepat Suzy meraih baju basah yang sedang dijemur dan menutupkannya ke dada Ken dengan cepat.
"Hehehe, biarkan dia melakukannya sendiri, Suri. Aku rasa, bayi besar tidak perlu bantuan mengenai itu. Kita lanjutkan saja diskusi kita. Oke?" Suzy menggiring Suri kembali ke meja tempat mereka duduk.
"Tapi, senior Ken,,," Suri tahu bahwa Suzy mulai cemburu pada wanita yang mendekati suaminya.
"Husstt... tidak ada tapi-tapian."
Ketika Suzy melakukan itu, Suri dan Keiko saling mengedipkan mata. Mereka sudah yakin. Bahwa hati nona Suzy benar-benar sudah jatuh pada senior mereka. Itu kabar gembira!
Ketika akhirnya mereka selesai berdiskusi, Keiko dan Suri pamit pulang. Mereka meninggalkan Suzy dan Ken dengan senyuman.
Begitu di jalan,
"Apa kau bisa lihat? Nona Suzy cemburu padaku," kata Suri.
"Benar. Itu artinya, mereka sudah mulai tertarik satu sama lain. Menurutmu, apa mereka melewati malam pengantin dengan baik?" tanya Keiko penasaran.
"Aku sedikit ragu. Apa mungkin, nona Suzy membiarkan seseorang memeluk dan melakukan hal mesra padanya?" Suri terkekeh.
"Benar juga. Nona itu wanita yang sangat garang. Dan senior Ken juga terlihat tangguh. Berani taruhan. Mereka berdua pasti justru sibuk berkelahi alih-alih melakukan hubungan suami istri," Keiko tertawa geli membayangkan malam pengantin Suzy dan Ken.
"Kau bisa saja. Itu juga yang aku pikirkan," Suri menjitak kepala Keiko sambil terkekeh.
"Benar, kan?"
"Hemm. Benar sekali. Mereka berdua adalah pasangan luar biasa."
Keiko menoleh.
"Benar-benar luar biasa."
Keduanya melanjutkan perjalanan sambil tersenyum.
.
.
.
.
Bersambung ke Episode 43